Kembali Berlumut

rel ganda

Pergipagi ini adalah rumah singgah untuk menampung berbagai cerita saya, tidak mau terlalu muluk disini selain menorehkan sedikit momentum yang pernah saya jejaki.

Ini mungkin sudah sangat terlambat, sudah 9 bulan lalu postingan terakhir saya tuliskan disini. Membukanya kembali, artinya sama seperti mengulang sebuah romansa.

Baiklah, saya menuliskan apa yang telah tercecer sejak 9 bulan lalu. 2015, bagi saya meninggalkan banyak cerita manis, walhamdulillah.

Tahun 2015, khususnya pada bulan Juli. Anak kedua kami lahir dan berjenis kelamin laki-laki. Dengan demikian menggenapi sudah kebahagiaan keluarga kecil kami. Sebelumnya kami telah dikaruniai seorang gadis kecil bernama Haniina Hunafaa. Untuk yang kedua ini kami berinama; Salmaan Shaalih. Artinya? Salmaan hanya nama saja, adapun Shaalih itu adalah doa dan harap menjadi anak yang shaalih. Kami tidak ingin memberatkan nama anak dari awal kehadirannya, yang terpenting ialah bagaimana mendidik sebaik-baik sebuah amanah yang telah Allah berikan kepada keluarga kami.

Disusul kebahagiaan selanjutnya ialah, pertengahan tahun 2015 saya menyelesaikan sidang judul untuk studi pascasarjana di Unsoed. Hingga akhirnya ditutup dengan manis pada akhir 2015 setelah masa studi 5 tahun lamanya akhirnya resmi menjadi bertambah gelar dibelakang gelar yang telah disandang sebelumnya.

Masa studi yang lama itu, karena disela oleh berbagai kericuhan pada tempat saya mencari nafkah dan mengembangkan potensi. Sebagai sekolah baru, SMA Future Gate benar-benar membutuhkan perhatian yang serius khususnya dari orang-orang yang telah dipercaya oleh pihak yayasan dalam memperbaiki keadaan. Nama saya pun termasuk didalamnya.

Pergipagi sekali lagi hanya tempat menampung cerita keseharian saya, bisa jadi antara saya dan keluarga. Tidak ada yang istimewa disini. Jika anda membaca ini sebagai bacaan mula-mula kunjungan di blog ini maka saran saya ialah silakan tinggalkan. Sebab, anda tentu punya cerita yang lebih baik dari cerita yang saya miliki. Namun jika ada postingan yang berkesan, saya pun tak sanggup untuk melarang.

Oh iya, sebagaimana di postingan lain. Jika tertarik untuk membaca tulisan saya lainnya, silahkan bisa kunjungi ke web yang bersama teman-teman saya kelola. Disana sedikit saya menulis tentang keluarga di kolom Keluarga beratasnama Abu Haniina Rizki atau yang semisalnya. Nama websitenya saya tuliskan sekali lagi yakni; www.teduh.or.id.

Saya kira cukup, selamat datang 2016 walau agak telat namun harapan tak boleh ikut terlambat.

Purwokerto; Dan Segudang Kerinduan Bagi Penjejaknya

Andhang PangrenanKota ini selalu menyisakan kerinduan bagi mereka yang telah singgah dan pernah hidup didalamnya, kenangan manis soal dinginnya kota, sepinya jalan, dan jauhnya dari hiruk-pikuk pencari gemerlap kemewahan. Sunyinya kota dari riuh-rendah metropolitan menyebabkan banyak spot-spot menarik bagi pencinta pojokan yang berpasang-pasangan.

Inilah Purwokerto, sulit mencari wajah muram dan potret hamba-hamba sedih di ibukota Kabupaten Banyumas ini. Hampir semua bahagia muncul dengan auranya yang berbeda. Bagi saya yang pernah mendiami kota ini dan sebagai pemegang hak hidup akhir pekan atas kota ini, tentu kota ini selalu menjejakkan kerinduan.

Klik untuk melanjutkan

Tulisan Serius, Pindahan!

Lama sudah saya tidak menulis di rekam jejak PergiPagi ini, sebuah blog yang sudah berganti nama sebanyak beberapa kali ini bagi saya sudah seperti rumah kedua (awalnya, saat sebelum nikah dahulu). Sebagai sebuah tempat aktualisasi diri menuliskan hal-hal yang dikira penting, tabu, dan bisa jadi layak untuk dibicarakan. Wadah mencurahkan apa yang bisa dituliskan dari sebuah ide, wacana, dialektika, maupun sebuah catatan perjalanan.

Namun, adakalanya disini saya isi hal-hal yang bersifat serius, dibalik keseriusan-keseriusan yang tak santai itu maka adalah kiranya puluhan tulisan diabadikan rapi disini. Bicara soal agama, soal sosial sebagai basic ilmu saya, dan soal manajemen sebagai ilmu lanjutan yang saya ambil dan belum juga usai sampai hari ini.

Akan tetapi, khusus untuk soal tulisan serius dan gaya sedikit serius. Bagi pembaca yang mungkin pernah singgah dan sudah tak setia lagi menanti tulisan saya. Maka saya mendedikasikan menulis hal-hal serius dan bisa jadi tabu namun dibalut dengan bumbu agama. Bak sebuah pepatah, sekali dayung dua tiga putri duyung bisalah masuk karung.

Sehingga dengan demikian, khusus tulisan serius per bulan lalu di tahun ini saya pindahkan di sebuah website serius yang dikelola bersama dengan karib kerabat saya. Beberapa diantaranya ustadz, mantan jurnalis, akademisi pembaca setia jurnal ilmiah, dan satunya lagi aktivis pendidikan agama. Saya pindahan kesana karena diminta dan dirasa saya bisa menulis, Tak punya bekal apapun dalam menulis dan dunia literasi. Hanya modal kenal WordPress dan tahu caranya mengunggah tulisan kesana maka saya akhirnya diperkenankan untuk bergabung disana.

Inilah website serius hasil kerja bersama yakni www.teduh.or.id. Sebenarnya ini bukan perkumpulan pertama saya dalam dunia kepenulisan, dahulu saya bersama beberapa teman sempat menggarap http://www.sobat-muda.com dan http://www.keluargamuslim.com, namun sayang konsistensi itu harus berakhir tersebab intensitas awaknya yang padat dan non komersial. Di website Teduh pun saya hanya mengisi rubrik Keluarga dan Gaya Hidup serta Remaja, sesekali mengisi rubrik Aktualita.

Demikian, nampaknya PergiPagi hanya akan menuliskan kegalauan saya saja kala mencari ide dan mengkonsep lanjutan soalan apa-apa yang kiranya bisa saya tuliskan.

Tambahkanlah, Jangan Buat Sekedar Setengah Saja

https://i0.wp.com/b.dryicons.com/images/icon_sets/architecture_blueprint_icons_set/png/512x512/add.png

Hari ini tentu kita patut mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Alexander Graham Bell, atas dedikasinya yang cukup menakjubkan dalam mempertemukan orang diberbagai belahan dunia tanpa harus berjumpa. Ia telah membuat beratus-ratus milyar manusia mungkin saling berkomunikasi melalui perantara teknologi yang kini semakin maju dalam saku dan genggaman kita. Namun, sebagai seorang muslim kita juga harus meyakini dan tak perlu menyanjung berlebihan selain ucapan terima kasih. Sebab, biar bagaimanapun Alexander adalah seorang kafir.

Namun ternyata, Alexander juga menjadi penemu peranti lain yang menjembatani orang-orang dengan kekurangan pada indra pendengarannya. Alexander yang sangat mencintai dunia tumbuh-tumbuhan ini juga menjadi seorang penemu hearing-aid. Sosok yang menginspirasi dirinya menjadi penemu alat tersebut ialah mertuanya sendiri yakni Mabel Gardiner Hubbard seorang yang tuli.

Jadi, darisana mungkin kita bisa belajar bahwa untuk menjadi seseorang yang memiliki kompetensi dan kemampuan melebihi orang-orang pada umum dan biasanya harus ada sosok-sosok yang memaksa kita untuk melebihkan keadaan tanpa diduga dan disadari. Mungkin sudah sekian puluh tahun kita hidup di bumi, sudah cukup banyak mencecapi ujian dan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, dan tentu dari sekian banyak hal tersebut ada yang istimewa dan membahagiakan kita. Dan tentu kita sepakat pula bahwa bahagia adalah bukan hanya sekedar menjadi milik kita, namun bahagia alangkah sangat amat menjadi baik dan berdayaguna apabila bisa dinikmati oleh banyak orang dilingkungan sekitar kita. Tentu hal tersebut mudah bagi yang terbiasa menjalankannya, bagi yang sulit adakalanya dipaksa untuk mampu menghadapinya.

Lantas bagaimana kita bisa menjadikan keterpaksaan menjadi sebuah kebahagiaan? Ialah dengan cara meyakini hati kita bahwa sejatinya kita hanya berjalan diatas takdir yang telah Allah tetapkan, jika keterpaksaan itu adalah takdir yang harus kita ambil, maka bersegeralah memikirkan celah untuk menjadikannya ikhlas. Bukan karena perbuatan tersebut akan tetapi dengan cepat berfikir keterpaksaan ini harus menjadi nilai ibadah bagi diri kita.

Tambahkanlah, tambahkanlah keterpaksaan itu agar sekalian menjadi hal yang tak setengah-setengah dilaksanakannya. Tambahkanlah karena memang biasanya sesuatu yang setengah dan tanggung itu sungguh sangat menggantung. Maka jika kita tak suka dengan keterpaksaan sejatinya yang dipilih ialah bukan sekedar lakukan, akan tetapi ada dua hal yang bisa jadi ditinggalkan atau lebih baik ditambahkan. Seperti Alexander yang tak hanya cukup dengan menemukan telepon saja, akan tetapi juga menemukan alat yang memudahkan orang yang tak bisa mendengar justru bisa mendengar suara yang nun jauh disana. Anda, terlebih anda adalah seorang muslim. Jadilah lebih baik dari Alexander baik terpaksa atau karena sengaja.

Ada Banyak Kebaikan Untuk Ditularkan

Gambar dari: drtamtomo.blogspot.com

Gambar dari: drtamtomo.blogspot.com

Ada banyak kebaikan yang bisa kita tularkan. Jika setiap kehidupan itu adalah sebuah perjalanan, maka tentu setiap perjalanan akan diderai dengan banyak jejak. Seperti itulah kebaikan, sifatnya selalu menjejak dan membekas pada segala sesuatu. Kebaikan adalah episentrum yang tidak pernah punya titik jenuh. Sebab akan selalu dan senantiasa banyak orang-orang yang melakukan kerja-kerja kebaikan.

Seperti itulah hari-hari kita seharusnya, menyibukkan diri dengan sebenar-benarnya kesibukan. Tidak membohongi kesibukan dengan alasan yang semestinya terpaksa disematkan. Berkehendak berbeda dari apa yang dilaksanakan, sehingga berakibat melunturkan kerja-kerja kebaikan yang semestinya akan menuai keberkahan dari apa yang dilakukan.

Siapapun yang pernah membaca sejarah masa keemasan Islam tentu mengenal sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini, ia adalah Urwah bin Zubair. Sahabat Nabi yang termasuk kedalam 10 fuqaha (ahli fiqh-nya) Kota Madinah. Sahabat Nabi yang mengakrabkan dirinya dengan Al Qur’an sejak masa remajanya. Sahabat Nabi yang jejak kebaikannya dikenal oleh mereka yang saat itu hidup membersamai atau pergi mendahului.

Beliau menjejakkan kebaikan sebagai sosok yang ringan tangan, dermawan, dan memiliki keluasan dalam berbagai hal. Diantaranya ialah manakala ia memiliki sebidang kebun luas di Madinah dengan air sumur tawarnya, rindangnya pepohonan disertai lebatnya. Namun apa yang beliau lakukan? Ia justru membuat pagar untuk mengelilingi kebunnya dari anak-anak usil dan binatang. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.

Begitulah manusia saat itu, mereka keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang telah masak sesuka hati dan sepuas-puasnya, serta dibolehkan untuk membawa ke rumah masing-masing. Dan tiap kali Urwah masuk di kebunnya yang telah memberikan manfaat bagi banyak orang, ia senantiasa mengulang-ulang firman Allah yang termaktub dalam Al Kahfi di ayat ke 39,

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu,”Masya Allah, laa quwwata illa billah” (Sesungguhnya atas kehendak Allah itu semua terwujud. Tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)…”

Sudah semestinya kita meneladani kebaikan dengan kebaikan. Menyimak perjalanan sosok-sosok yang tak pernah menghitung kebaikan-kebaikan dan tak pernah lelah serta tersibukkan untuk menghitung dari setiap pengerjaan yang dilakukan.

Alangkah indah pesan yang tersampaikan oleh Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, “Wahai putera-puteriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang dia adalah orang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menimbulkan kejahatan selanjutnya”

Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan kerja-kerja kebaikan, yang dengan kebaikan-kebaikan perbuatan tersebut akan diletakkan jejak keberkahan bagi kehidupan kita dan orang-orang yang melihat serta turut serta menapaki kebaikan yang kita lakukan.

Wallahu ‘alam bi shawwab

(SMA Future Gate, 4 Februari 2014)

Wisata Keluarga Paling Istimewa

gambra diambil dari: flickr.com

gambar diambil dari: flickr.com

Majelis ilmu adalah sebuah ketenangan tersendiri, didalamnya terlihat banyak pancaran energi positif, di dalamnya pula terkandung lautan wawasan yang membuat seorang datang dalam keadaan hampa menjadi keluar dengan keadaan bernyawa. Bagi para perindunya, majelis ilmu merupakan sebuah rihlah jiwa, tempat rekreasi bagi hati, dan sebuah sarana tamasya untuk memahami nilai investasi yang tak pernah habis.

Benarlah sebuah hadits yang menyebutkan bahwasanya, “Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka mencari ilmu syar’i maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani). Belumlah sampai kita kedalam surga yang dinanti, belumlah pula tapakan kaki kita jauh melampaui para pencari ilmu yang lebih gigih. Namun sungguh sebuah keindahan bila kita mengamati lebih jauh lagi dalam sebuah majelis ilmu.

Klik untuk melanjutkan

Berlarilah Dari Popularitas

Gambari diambil dari: onmilawaukee.com

Gambari diambil dari: onmilawaukee.com

Al Hasan berkata bahwa ketika mereka sedang berada di Kufah, Abdullah bin Al Mubarak sedang membacakan catatan kitab manasik kepada Al Hasan (yang telah dicatat dari hasil pengajian kepada gurunya tersebut). Beliau tiba-tiba berhenti ketika sampai pada kalimat: “Abdullah yang mengatakan hal ini sehingga kami meriwayatkan dari beliau.” Lantas Ibnul Mubarak berkata: “Siapakah yang menulis kalimat ini dan mengaku berasal dari perkataanku?” Al Hasan berkata: “Penulisnya adalah orang yang menulis kalimat tersebut.” Maka Ibnul Mubarak terus berusaha untuk menghapus tulisan itu dengan tangannya sampai akhirnya hilang. Setelah itu beliau (Ibnul Mubarak) berkata: “Siapakah sebenarnya aku ini sehingga perkataannya sampai diabadikan?” (Shifatush Shafwah IV/135).

Klik untuk melanjutkan