Penyakit Islamofobia

levi-clancy-Y2oE2uNLSrs-unsplash (1)Memang disadari bahwa Islamofobia itu tetap ada sampai sekarang. Ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kekurangan pengertian terhadap Islam, dan kedua, karena dengan sengaja mengucilkan Islam. Gejala Islamofobia ini mulai muncul sejak zaman Orde Lama dulu. Kita masih ingat, Bung Soekarno mengatakan, bahwa kita jangan terkena komunistofobia, sebagai upaya mengintroduksi komunisme ke dalam masyarakat, tetapi bersamaan dengan itu ia menumbuhkan Islamofobia. Memang fobi itu dapat sengaja ditumbuhkan oleh pihak yang tidak menyukai Islam.
 
 
Kedua faktor itulah yang menjadi sebab mengapa umat Islam sering dituduh sebagai ekstrem kanan atau ekstrem-ekstrem lain, yang sekarang ini sering digunakan secara latah. Ada anggapan bahwa kalau orang percaya sepenuhnya tentang Islam sebagaimana diajarkan dalam Quran dan Sunnah, dituduh fanatik. Kalau organisasi masih “mewarnai” dirinya dengan Islam dituduh “anasional” dan bahkan tidak setia pada Pancasila, sehingga perlu dikucilkan. Hal ini jelas lebih bersifat sebagai opini (yang dibuat orang) daripada fakta atau kenyataan. Ungkapan bahwa: “Masih ada orang yang belum sadar atau masih ada orang yang belum memercayai dan menghayati Pancasila karena masih memakai embel-embel Islam, atau Kristen, atau yang lain-lain,” adalah contoh pembinaan opini tersebut.
 

Lanjutkan membaca “Penyakit Islamofobia”

Kepemimpinan Spiritual Dalam Manajemen Organisasi

SpiritualLeadership-400x400Dalam era globalisasi ini, orang mencari pemimpin yang lebih baik, lebih etis untuk memimpin mereka. Oleh karena itu, mencari gaya kepemimpinan yang lebih baik telah menjadi prioritas utama untuk organisasi yang menyadari dampaknya dalam jangka panjang. Sebuah gaya yang harus tertanam dalam kepemimpinan, adalah mengakui dalam diri batin pemimpin memiliki semangat dalam membimbing mereka untuk bertindak baik bagi orang lain dan organisasi secara keseluruhan.

Sebagai literatur kepemimpinan spiritual muncul, konsep ini sebenarnya menjawab panggilan masyarakat untuk seseorang yang dapat membantu mereka dalam kelangsungan hidup rohaniah mereka. Kepemimpinan spiritual adalah tentang menciptakan nilai bagi organisasi, melalui karyawan (Fry, 2003). Lanjutkan membaca “Kepemimpinan Spiritual Dalam Manajemen Organisasi”

Mengenal Organizational Citizenship Behavior (OCB)

pengertian-masyarakat-madani-secara-umum-dalam-islam-dan-menurut-para-ahli-2007026OCB merupakan kontribusi individu yang melebihi tuntutan peran di tempat kerja. OCB ini melibatkan beberapa perilaku meliputi perilaku menolong orang lain, menjadi sukarelawan untuk tugas-tugas ekstra, patuh terhadap aturan-aturan dan prosedur-prosedur di tempat kerja. Perilaku-perilaku ini menggambarkan nilai tambah karyawan. Organ (1997) mendefinisikan OCB sebagai perilaku individu yang bebas, tidak berkaitan secara langsung atau eksplisit dengan sistem imbalan dan bisa meningkatkan fungsi efektif organisasi. Lanjutkan membaca “Mengenal Organizational Citizenship Behavior (OCB)”

Pancasila Dikhianati!

pancasilaMentari mulai menuju peraduannya, Senja itu, Bandung benar-benar kuning. Suasana yang sangat memanjakan, ditambah dingin yang menyergap badan, sungguh melenakan. Tapi tidak bagi mereka. Mereka yang berkumpul di rumah H. Isa Anshary di Buah Batu. Ramah ala Belanda, besar, dengan perabot  antik lengkap. Tak disangka, para tokoh berkumpul, mulai dari Pak Rum, Pak Sjafruddin, Pak Natsir, Prof. Kahar Muzakir. Malam nanti, mereka bersiap menuju Gedung Merdeka, “bertempur”.

Gedung Merdeka, baru tiga tahun lalu Ir. Sukarno menamainya, sangat anggun. Jantung Kota Bandung. Menjelang gelap, mobil-mobil jeep nan antik sudah berjejer di bibir Jalan Braga, samping kiri bangunan. Para pedagang mengayuh se- peda, menuju Masjid Agung di Alun-alun Bandung, bersiap melaksanakan shalat Maghrib. Delman tua berseliweran, siap kembali ke pangkalannya. Mentari bersiap bersembunyi, berganti cahaya bulan.

Kali ini giliran Prof. Abdul Kahar Muzakir, sedang menceritakan tentang perjuangan umat Islam masa silam, lahirnya Pancasila tangga 22 Juni. Lanjutkan membaca “Pancasila Dikhianati!”

Bung Hatta, Dalam Pusaran Tujuh Kata

HattaRamadhan 1364 H bertepatan dengan Agustus 1945. Bulan Agustus menjadi bulan terkelam bagi Jepang. Setelah Hiroshima hancur lebur, beberapa hari kemudian tanggal 14 Agustus, Tentara Sekutu memuntahkan bom atom ke Kota Nagasaki. Kepulan asap mahadahsyat sepanjang sejarah saat itu tak terelakkan. Dari jalan berkilo-kilo, gumulan asap bak tangkai mawar itu terlihat. Ratusan ribu umat manusia dalam sekejap lenyap. Kota yang penuh denyut kehidupan itu kini berhenti berdetak.

Tokyo menyerah Kepada Sekutu! Jepang mengaku kalah dalam Perang Dunia II yang sampai di ujungnya. Berita-berita Jepang menyerah Kepada Sekutu menjadi ulasan paling penting di media internasional. Memang tak mudah mendapatkan berita tersebut, apalagi pihak Jepang di Indonesia menutup-nutupinya.

Sukarno dan Hatta yang masih menanti harapan dan janji kemerdekaan pada jepang seakan masih tak percaya mendengar simpang siur kekalahan Jepang. Memang, setelah dibubarkan BPUPKI, Jepang membentuk Panitia Pelaksanaan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebelum Sukarno dan Hatta menemui Jenderal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengabarkan bahwa Kaisar meresstui Kemerdekaan Indonesia. Lanjutkan membaca “Bung Hatta, Dalam Pusaran Tujuh Kata”