“ Ah Khan Cuma Sunnah… “

 

 

sekilas kata ini sangat remeh dan mungkin biasa saja. Tapi dibalik itu sebenarnya memiliki nilai hukum syar’i yang sangat berat bagi yang mengatakannya, terlebih lagi bila yang mengatakannya itu telah mengenal ilmu dasar-dasar agama. Disebagian para pemuda yang memiliki nilai ghirah yang sangat tinggi, bila dikatakan kepadanya “ mas jenggotnya jangan dicukur dong, itu kan sunnah Rasulullah yang mulia…” atau juga bila dikatakan “ mas celananya itu disunnahkan diatas mata kaki…” atau ketika dikatakan tentang sunnah-sunnah yang lainnya banyak sekali diantara mereka yang dengan enteng menjawab “ jenggot ini kan hukumnya sunnah…”

 

terlebih lagi sebagian besar orang saat ini menganalogikan sunnah hanya sebatas pada definisi dari sisi fiqh saja yaitu dikerjakan dapat pahala tidak dikerjakan ya tak apa-apa. Padahal dalam banyak hadist Rasulullah sangat menekankan untuk mengikuti sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam . Diantara hadist yang mengatakan demikian adalah “ Sesungguhnya saya telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan pernah tersesat kalian sesudahnya yaitu kitabulloh dan sunahku ” (diriwayatkan Al Hakim di dalam Mustadraknya 1/93).

 

Jadi dengan jelas bahwa indikator seseorang dalam kehidupannya sesat atau tidak ialah selain mengikuti Kitabullah (Al Qur’an) dan juga otomatis Sunnahnya. Sebagaimana yang telah Alloh firmankan “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.” (QS Al Hasyr: 7).

 

Rasululloh sangat menegaskan untuk mengembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah, begitu pula di dalam sabdanya “ Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin mahdiyin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shohih)

 

Dengan kata lain setelah mengetahui beberapa dalil yang diutarakan diatas akan pentingnya sunnah. Oleh karena itu semua perbedaan yang terjadi saat ini dalam menilai sunnah adalah tidak lain karena berbedanya pemahaman di dalam memahami sunnah tersebut. Tetapi lebih bijaknya bila kita mengambil perkataan dari shahabat yang mulia dan sudah dijamin masuk surga yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq yang mengatakan : “Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun yang dulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wassalam kerjakan kecuali aku pun mengerjakannya. Sesungguhnya saya benar-benar takut jika aku tinggalkan sesuatu dari perintahnya, aku menjadi menyimpang dari kebenaran” (Ta’dzhimus Sunnah, saya copy perkataan ini dan sebagiannya dari artikel tulisan di http://www.muslim.or.id )

 

Jadi memahami sunnah bukan hanya sekedar dikerjakan dapat pahala, tidak dikerjakan ya tak mengapa. Bukan hanya itu, ketentuan itu berlaku pada beberapa definisi sunnah menurut ‘ulama ilmu fiqh yang sering diambil oleh sebagian besar umat muslim saat ini. Tetapi alangkah bila sangat wajarnya jika kita memasukkan definisi sunnah menjadi bila dikerjakan mendapatkan pahala karena mengikuti Rasulullah dan bila tidak dikerjakan rugi.

Oleh karena itu perkataan “ ah kan Cuma sunnah…” tersebut pun dapat dilihat dengan dua pandangan.

 

Pertama, ia telah mengetahui bahwa hukum tersebut sunnah berdasarkan definisi yang bila dikerjakan dapat pahala dan bila tidak rugi. Maka dapat digolongkan ia adalah orang yang terkena dengan hadist “ barangsiapa yang membenci sunnahku bukanlah golonganku. “ ( HR. Bukhari 5063 dan Muslim 1401 ).karena bisa jadi ia telah meremehkan sunnah, dan bila meremehkan sunnah berarti ia telah menganggap sunnah sebagai sesuatu yang tak penting.

 

Kedua, ia adalah orang awwam yang belum mengerti tentang hakekat sunnah yang lebih dalam selain dari definisi para ulama fiqh yang sering diucapkan. Hal seperti ini merupakan yang paling banyak di masyarakat saat ini. Dan biasanya diantara mereka bila tidak taqlid terhadap ustadznya atau kyainya atau murabbinya lebih mudah untuk diajarkan ilmu syar’i kepadanya. Dan merupakan suatu kewajiban bagi yang ber’ilmu untuk menjelaskannya.

 

Dilain tempat syaikh DR. Said bin Wahf Al-Qahtani mengatakan : “ sunnah adalah benteng Alloh yang kuat, yang bila dimasuki seseorang, orang itu akan aman. Sunnah merupakan pintu Alloh terbesar, yang barangsiapa yang memasukinya akan termasuk diantara mereka yang menyambung silaturahmi dengan Nya. Ia akan tetap menegakkan pemiliknya meskipun sebelumnya terduduk karena amal perbuatan mereka. Cahayanya akan berjalan di hadapan mereka, ketika cahaya ahli bid’ah dan kemunafikan sudah sirna. Ahlusunnah adalah orang-orang yang diputihkan wajahnya, ketika wajah ahli bid’ah dihitam-legamkan.” ( terjemahan ‘Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah’. Pustaka Darul Haq Jakarta. )

 

Sementara Asy Syaikh Nashr bin Abdulkarim Al-Aql menyebutkan makna sunnah berdasarkan definisi ulama’ aqidah : “ sementara sunnah menurut istilah ulama’ aqidah islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para Shahabat beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan : si fulan termasuk Ahlusunnah. Artinya ia orang yang mengikuti jalan yang lurus dan terpuji.”

 

Wallahu ‘alam bi shawwab.

 

Iklan

Satu pemikiran pada ““ Ah Khan Cuma Sunnah… “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s