Karena Hidup Harus Berbagi..

A. Sepotong kebahagiaan Abu Thalhah

 

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah kedatangan tamu. Kelelahan terpancar di wajah tamu yang hanya seorang diri itu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang sahabat untuk menanyakan kepada istri-istri beliau, adakah sesuatu yang bisa dimakan. Nihil. Dirumah istri-istri beliau pun tidak ada makanan sedikitpun. Maka beliau menawarkan kepada para sahabat Muhajirin dan Anshar untuk menjamu tamu itu pada malam itu saja. Salah seorang sahabat Anshar itu yang tidak ingin didahului oleh sahabat yang lainnya dalam berbuat kebaikan angkat suara, menyambut tawaran itu, “Saya yang akan menjamunya, wahai Rasulullah.”

 

Setelah meminta izin kepada beliau, sahabat Anshar itu pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya.”kita akan menjamu tamu Rasulullah! Jangan kamu simpan makanan apapun! Keluarkan semuanya.” Katanya kepada istri yang dicintainya.

 

Sang istri terperanjat, seingatnya hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak mereka yang masih kecil-kecil, itupun hanya cukup untuk sekali makan. Kepada suami yang dicintainya itu, ia berterus terang.

 

Lalu ternyata solusi apa yang didapatkan oleh istrinya dari suaminya itu membuat sang istri makin terhenyak, katanya “ begini saja, kalau mereka ingin makan malam carilah cara supaya mereka tertidur. Apa saja terserah kamu.”

“dan sekarang tolong matikan lampu, dan tidak mengapa bukan…perut kita kosong malam ini.” Sambungnya.

 

Tanpa ragu wanita sholehah itupun melaksanakan perintah suaminya. Setelah semua siap, sahabat Anshar itu pun menjamu tamu Rasulullah dalam gelap. Tujuannya supaya tamunya tidak tahu bahwa ia hanya makan seorang diri, sementara tuan rumahnya yang ada didekatnya hanya pura-pura makan.

 

Keesokan harinya, sahabat Anshar itu menghadap Rasulullah . Beliau bersabda, “ Allah kagum dengan apa yang kamu lakukan bersama istrimu. Allah turunkan firmanNya,

 

“Mereka mengutamakan (saudara-saudara mereka)atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sangat memerlukan (yang mereka berikan itu)” (QS. Al-Hasyr :9)

Sahabat Anshar yang hatinya berbunga-bunga itu adalah Abu Thalhah.

B. Berikanlah Yang Terbaik

Subhanallah, betapa sangat mulia dan kedudukan bagi seorang yang mendermakan harta dan sebagian dari miliknya untuk diberikan kepada saudaranya.. Saat ini dimana semua orang telah banyak bersifat hidup apatis lebih senang budaya konsumerisme dan benar-benar jatuh cinta pada dunia (hubbud dunia). Membuat terlena pada kehidupan yang sangat sementara hanya singgah dan tidak merasa bahwa kita sebenarnya sedang antri dan menanti menunggu ajal. Lalu mengapa tidak kita lakukan dan memberikan apa yang terbaik yang kita miliki untuk bekal yang lebih abadi.

 

Dan apa yang terjadi disaat kita sekarang ini jangankan memberi, kita lebih banyak seringkali melakukan perbuatan yang lebih menyakitkan saudara kita sesama muslim sendiri dibandingkan dengan memberi dan perbuatan baik lainnya. Lalu benarlah seperti apa yang dikatakan seorang tabi’in dan seorang ulama dari kalangan salafus sholeh yaitu Al Qadhi Fudhail bin Iyadh., “sesungguhnya diantara cirri-ciri orang yang munafik adalah senang jika mendengar aib saudaranya.”

 

Yaa.. diantaranya kita lebih sering melakukan pembicaraan tentang saudara kita tanpa mengetahui bahwa diri kita ini tak berbeda dengan orang yang kita bicarakan. Sekalipun memberi kita pun lebih suka dan senang mengungkit-ungkit pemberian yang pernah kita berikan tak sedikit dan tak jarang pula orang-orang yang melakukan perbuatan hal seperti itu.

 

Belajarlah mencoba memahami situasi orang lain, belajarlah mencoba mengerti siapa kita ini, dan belajarlah mencoba memberi seberapa pun yang kita miliki. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS. Al-Hujuraat:10)

 

Begitu pun Rasulullah menegaskan “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu angota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya menanggungnya, tidak tidur malam dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Lalu perhatikan pula apa yang dikatakan oleh Rasulullah “ Tidaklah beriman seorang dari kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik )

 

Kalangan AhluSunnah adalah kalangan orang-orang yang mencintai dan menyayangi saudaranya. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum Wal Hikam hal 308 menyitir sebagian perkataan para salaf, “Orang-orang yang dipenuhi cinta karena Allah akan memandang dengan cahaya Allah. Mereka merasa kasihan kepada orang-orang yang selalu bermaksiat. Mereka mencela perbuatannya tapi mengasihi pelakunya. Untuk itu mereka menasihati pelaku maksiat itu supaya meninggalkan kemaksiatannya. Mereka merasa sayang jika tubuh-tubuh saudaranya itu sampai dilahap api neraka. Demikianlah, tidak dianggap sebagai orang yang memiliki iman yang hakiki apabila seseorang tidak meridhoi untuk saudaranya sebagaimana ia meridhai untuk dirinya sendiri.

 

Apakah kita masih belum juga memberi dan memperhatikan situasi di sekitar kita, teladanilah para generasi terdahulu yang membuat islam telah berjaya disegala bidang, memahami bagaimana mereka merajut tali ukhuwah yang sangat kuat merelakan dan memberikan apa yang mereka miliki ( itsar ).

 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Madarij As-Salikin, mengatakan bahwa itsar itu memiliki beberapa tahapan-tahapan. Barangsiapa mengaku telah ber-itsar sementara ia belum melewati tahapan-tahapannya, sungguh ia telah maghrur, telah tertipu. Adapun tahapannya adalah :

Pertama, Sakha’. Yaitu saat seseorang sama sekali tidak merasa keberatan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Berapa keperluannya ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Seperti yang dilakukan shahabat Sa’ad bin ‘Ubadah saat ia membebaskan hutang semua orang yang berhutang kepadanya.

Kedua, Juud. Yaitu saat seseorang memberikan sebagian besar miliknya saat saudaranya membutuhkannya. Kalaupun ia menyisakan untuk dirinya, ia sisakan sekedarnya.

Ketiga, Itsar. Yaitu saat seseorang memenuhi kebutuhan saudaranya padahal ia sendiri sangat membutuhkannya. Seperti ‘Aisyah yang memberikan beberapa keping roti kering yang sedianya untuk berbuka puasa-kepada pengemis padahal itu adalah roti terakhir yang dimilikinya.

 

c. tetangga sebagai saudara

 

Perhatikanlah dimana saat-saat kita harus memberi dan bagaimana kita memperhatikan saudara kita se-islam, sesama tetangga pun harus dapat se-maksimal mungkin kita pergauli dengan baik karena tetangga adalah saudara yang paling dekat dengan kita. Rasulullah pernah menasehati Abu Dzar :Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas. ( HR. Muslim no. 4759 ).

 

Di lain Sabdanya Rasulullah bersabda : “ Janganlah seseorang diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya.” ( HR. Bukhari no 2283 dan Muslim no 3019 ). Berkenaan dengan hadist diatas, Syaikh Saliem bin Ied Al-Hilali membawakan pelajaran yang berkaitan dengan hak tetangga. Yang pertama, saling membantu dan bersikap toleran sesama tetangga merupakan hak-hak tetangga ( yang wajib dipenuhi ), sekaligus merupakan wujud kekokohan bangunan masyarakat islam. Yang kedua, jika seseorang memiliki rumah, kemudian ia memiliki tetangga dan tetangganya itu ingin menyandarkan sebatang kayu di temboknya tersebut, maka boleh hukumnya bagi si tetangga untuk meletakkannya dengan izin atau tanpa izin pemilik rumah, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan mudharat bagi si pemilik rumah, karena islam telah menetapkan satu kaidah umum ladharara wa la dhirara.[1]

Allah pun berfirman tentang bagaimana cara kita dalam memperlakukan kerabat dan tetangga

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

( QS. An-Nisa : 36 )

Semoga sedikit muhasabah ini dapat membuat diri kita semakin peduli akan pentingnya berbagi, kemewahan dunia tidak membuat kita lalai dan satu hal yang perlu diperhatikan bahwa saat ini sesungguhnya KITA SEDANG ANTRI MENUGGU AJAL. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk dapat memberikan yang terbaik dan mempersingkat siksa kita di neraka.

Wallahu ‘Alam bi Shawwab


[1] Bahjatun Nazhirin bi syarh Riyadhus Shalihin, Asy Syeikh Salim bin Ied Al-Hilali I / 387

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s