Ranjau Kesetaraan Gender

Fenomena upaya penyatuan gender dan persamaan hak atasnya seakan-akan sudah menjadi barang baru kembali bagi penganut mazhab liberal, dan hal itu membuka kancah cakrawala dunia islam semakin terbelalak. Ketika seorang professor dari universitas di Virginia sebuah negara bagian di Amerika, menjadi seorang imam shalat jum’at tertanggal 18 maret 2005 di sebuah gereja anglikan dengan penuh pengawasan dan penjagaan ketat. Konteks epistemology dalam setiap kajian hermeneutic yang mereka dengungkan dalam menafsirkan apa yang dikatakan sebagai tafsir ayat-ayat suci menjadi merupakan suatu bias tersendiri, sebab apa yang mereka dengungkan selama ini adalah adanya kesepadanan kata yang satu; yaitu tidak ada perbedaan antara agama yang satu dengan yang lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama , bahwasanya mereka hanya mengupayakan tiga aspek bidang yang menjadi dasar titik tolak kebudayaan kebebasan berpikir yang mereka suarakan, antara lain adalah persamaan gender.

Sebagian besar dari tokoh-tokoh yang dikenal di Indonesia dengan acap kali disebut dengan sebutan –cendekiawan muslim- contohnya. Telah mampu merasuki pola pemikiran masyarakat awam, dan semakin mempengaruhi dengan adanya fatwa-fatwa yang menyesatkan. Sebelumnya di sekitar pertengahan tahun 2004 ada yang mereka lahirkan diantaranya adalah ‘Draft KHI’ atau ‘ yang sering mereka katakan ‘Counter Legal Draft’. Dengan pasal-pasal perubahan yang baru yang bersifat lebih menekankan adanya persamaan hak antara pria dan wanita dalam kasus hubungan pernikahan ataupun perceraian. Sebelumnyya dan hampir setiap tahunnya mereka pun mendapatkkan suntikan dana yang cukup besar dari The Asia Foundation atau Ford Foundation, misalnya. Dan dapat dibayangkan keuntungan tiap bulannya bagi seorang Ulil Abshar Abdalla adalah berkisar hingga 30 juta perbulan, hanya untuk membumikan paham teologi rasional.

 

Pada saat hari raya Id yang lalu sekitar tahun 2004 public Kanada di kejutkan oleh sesuatu yang baru dan ini lebih dahulu dibandingkan dengan gebrakan Amina Wadud menjadi imam sekaligus khatib shalat Jum’at. Seorang gadis berusia 20 tahun bernama Maryam Mirza menjadi khatib sahalat Id. Seakan bias dari equality gender ataupun gender mainstream telah sampai ke titik puncaknya. Maryam Mirza di hadapan 200 jamaah lainnya dengan lantang mengatakan “Kita semua, ujar Maryam, harus terus menerus mendidik diri dan memprakarsai perubahan di komunitas dan agama kita. “Dan semua hal ini dapat kita lakukan dengan tetap berpegang pada ajaran Quran,” tambahnya dalam khotbah 10 menit itu. Dan perkataan selanjutnya “”Demi kelangsungan hidup kita, manusia harus berubah sesuai gerak zaman, atau kita akan tertinggal,” katanya di depan 200an jamaah. “Hal yang sama dapat diterapkan pada agama. Saudara-saudariku sesama umat Islam, kita semua harus membantu agar Islam bergerak maju, dan saya yakin kita semua mampu melakukannya”.

 

Mungkin tolak ukur kesetaraan gender di Indonesia baru terjadi setelah adanya pemberontakan yang dilakukan oleh R.A Kartini pada tahun 1901, dimana ibu itu mendobrak kesetaraan gender pertama kalinya dalam sejarah islam di Indonesia. Di dalam buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang “ disitu ditegaskan dengan jelas bahwa apa- apa yang di inginkan oleh Kartini dalam menyamaratakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan tercapai sudah. Hingga berdampak sampai sekarang dimana era kebebasan persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria.tercapai dengan kenyataan yang sukses.

 

Tetapi mungkin tanpa disadari hal itu pun telah sangat jauh meninggalkan dari apa yang dinamakan kesetaraan, terlebih lagi dengan gagasan seorang Ahli Peneliti Utama DEPAG. Prof. Dr, Siti Musdah Mulia, MA. APU, yang memasukkan Draft KHI terbaru ke dalam tubuh DEPAG, dan berisikan akan kesamaan hak antara pria dan wanita di dalam hukum perkawinan. Draft yang kontoversial tersebut pun dengan cepat mendapat respon positif dari beberapa Ormas-Ormas Islam di Indonesia termasuk MUI, yang melarang dengan keras legalisasi pengesahan draft tersebut nantinya.

Sehingga dapat dipastikan bahwa upaya penyetaraan gender atau pengarusutamaan gender atau gender mainstream atau gender equality memang merupakan suatu kampanye tersendiri bagi penganut jargon liberal. Karena dalam memahami suatu ayat diantara mereka lebih mengutamakan ra’yu dan mengaitkan kesemuanya dengan konteks perkembangan zaman. Hal ini merupakan sebuah tantangan baru bagi para du’at dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan heterogenitas.

Terlebih lagi di suatu kampus yang terkenal dengan penghasil para intelektual muslim diberikan mata kuliah studi kesetaraan gender dan seringkali diadakan suatu acara seminar yang menampilkan para tokoh-tokoh gerakan feminisme dan penyeru emansipasi wanita. Sehingga tak ayal nantinya para calon penerus bangsa dibidang keislaman lebih suka merusakkan generasi berikutnya.

 

Dukungan dari sumber dana NGO asing pun menjadi suatu yang dinanti bagi para penyeru pembebasan hak-hak wanita untuk selalu berkreasi, berinovasi, dan melakukan upaya terobosan dalam bidang emansipasi wanita. Walhasil sebagian besar para kaum wanita di perkotaan lebih menjadi terbuai dengan perkataan mereka dibandingkan dengan petunjuk para ulama yang tsiqah dalam berpegang kepada Al Qur’an, As Sunnah, dan manhaj salaf. Dengan alasan “ mereka semua yang berbicara kan professor, doctor, intelektual islam, sekolahnya saja diluar negeri “ dalam memberikan fatwa dan komentar dalam suatu urusan sehingga timbulnya para ulama su’ yang menentukan fatwa diantara manusia dan mereka itu sesat dan menyesatkan.

 

Mereka merubah tafsiran Al Qur’an dengan tafsiran mereka sendiri yaitu hermeneutic (tafsir yang digunakan untuk menafsirkan bibble). Oleh karena sikap kita bagi yang telah memperolok-olokkan Al Qur’an seperti yang Alloh katakana “ Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat dmikian). Tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir didalam Jahannam. “ (QS An Nisa : 140 )

 

Dalam ayat yang lain Alloh menegaskan larangan untuk duduk bersama mereka yaitu “ Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). “ (QS. Al An’am : 68 )

Karena sesungguhnya yang menjadi landasan mereka dalam mengagas sebuah kamanya persamaan gender dan emansipasi wanita adalah tak lain melainkan hanya memperturutkan hawa nafsunya sendiri. Dan Alloh telah menegaskan “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas “ (QS. Al Kahfi : 28 ) di dalam ayat yang lain Alloh telah memperingatkan kembali “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. “ ( QS Al Jatsiyah : 23 )

 

oleh karena itu pada akhirnya upaya yang seharusnya kita lakukan adalah untuk mencari ilmu syar’i yang berlandaskan kepada Al Qur’an, As Sunnah, dengan bimbingan manhaj salafush shalih. Dan sebisa mungkin untuk mebebaskan belenggu saudara kita wanita muslim yang sudah terkena atau akan terkena syubhat emansipasi wanita dengan bekal ilmu yang telah kita miliki.

 

Wallahul Mustaan

 

2 thoughts on “Ranjau Kesetaraan Gender

  1. Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

    wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh

    Perkenalkan saya adalah seorang dosen perguruan tinggi swasta di Palembang.

    salam kenal pak, senang tulisan saya dibaca ma dosen euy..

    Saya sudah membaca tulisan bapak, dan saya sangat setuju bahwa persamaan gender itu akal-akalan dari pihak barat untuk merusak islam.

    duh saya masih pemuda pak, belum nikah lahir tahun 1987

    Kita juga tahu bahwa banyak ulama yang pendidikannya berasal dari barat, yang nota bene adalah kristen/katolik/yahudi sehingga mereka menysuokan paham-paham mereka melalui para ulama kita yang belajar di tempat mereka.
    Bukan berarti kita menganggap wanita itu lebih rendah dari kaum lelaki, tetapi tetap ada beda, bukankan Allah menciotakan dua jenis kelamin, pasti ada bedanya.

    setuju dengan opininya pak, karena Islam telah menempatkan segala sesuatunya dengan baik dan sempurna, termasuk permasalahan seperti ini..cukuplah kita dengan Islam yang telah sempurna itu. karena setiap kesempurnaan memiliki jaminan keamanan dan ketenangan

  2. pernah mendengar ttg konsep peran ganda perempuan yang diusung oleh feminis…peran domestik (rumah tangga) dan publik (kerja, karir, dlsb)…dilawan oleh teori sturktural-fungsional yg mengusung ‘wanita-pria sesuai fungsinya masing-masing’, sedikit mirip dengan Qur’an. Sebenarnya ingin membahas ini di sebuah karya ilmiah,,,,sayangnya suatu karya ‘ilmiah’ tidak diperbolehkan mngandung SARA dan Qur’an adalah bagian di dalamnya menurut mereka…padahal tidak ada teori dan solusi yang sempurna selain Qur’an …sayang sekali.

    yaa begitulah metodologi pendidikan, adakalanya bertentangan dengan apa yang diyakini. namun apa daya, kala wacana harus terbentur dengan syarat pelaksana. tidak bisa mengangkta di materi kuliah, namun kini mbak hana bisa mengangkatnya di blog mbak hana yang banyak manfaatnya lho. eksis berkarya mbak!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s