Review: Sisi Gelap Perkembangan Kota

Sisi Gelap Perkembangan Kota

Resistensi Sektor Informal dalam Perspektif Sosiologis

Buku ini merupakan buku karya Dr. Ir. H. Alisjahbana, MA. Beliau adalah alumni Program Doktor bidang ilmu sosial di Universitas Airlangga (UNAIR). Buku ini memiliki bobot ilmiah tentang sebuah kemajuan dan perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Dalam studi kasus ini penulis mengambil studi kasus di kota Surabaya. Tinjauan yang dilakukan oleh penulis baik secara teoritis dan aplikatif, tertuang di buku yang berjumlah 202 halaman ini.

Berbicara tentang masalah perkembangan sebuah perkotaan, ada baiknya bila sebelumnya kita mengenal masalah-masalah sosial yang dimiliki dalam pembangunan oleh kota-kota besar di Indonesia. Prof. Dr. Prijono Tjiptoherianto menegaskan :

“ penduduk yang tinggal di daerah perkotaan akan semakin banyak. Urbanisasi yang merupakan momok kota-kota besar sepeti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya, akan menyebar pada kota-kota kelas menengah, seperti Semarang, Malang, Palembang, dan banyak lagi lainnya. Persoalan slum, kepadatan, kemacetan, kesempatan kerja, dan berbagai persoalan kota besar akan mengubah kota-kota tersebut. Bukan mustahil bermunculan urban poor consortium yang pasti akan memusingkan kepala para pengelola pemerintahan kota. “[1]

Masalah-masalah di perkotaan tersebutlah yang saat ini menjadi sebuah teror tersendiri bagi kota besar di Indonesia, terlebih masuknya kaum urban yang terus berdatangan dan menjadi jadwal rutin setiap tahunnya (pasca lebaran) dari berbagai daerah yang berusaha dan berlomba-lomba dalam mencari lapangan pekerjaan. Meskipun terkadang hal tersebut seringkali tidak diiringi dengan skill yang memadai dari para pendatang.

Hal ini pulalah yang menyebabkan tumbuh suburnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat tidak formal, atau disebut dengan sektor informal. Sektor informal inilah yang terkadang menjadi musuh-musuh baru bagi pelaku kebijakan di perkotaan. Dari sektor informal inilah suasana ketertiban dan keteraturan kota semakin semrawut. Tak jarang para pelaku sektor informal yang lebih dikonsentrasikan pada sektor perdagangan melanggar rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Pemerintah Kota (PEMKOT). Tak jarang mereka (pelaku sektor informal) menggelar dagangannya di trotoar dan hampir menghabiskan setengah dari badan jalan yang seharusnya digunakan untuk kendaraan justru dibuat berdagang. Namun ketika dilakukan penertiban diantara mereka justru menolak untuk di alokasikan ke tempat yang di sediakan oleh PEMKOT dengan alasan kurang strategis. Tak jarang setiap diadakan penertiban banyak yang melakukan perlawanan dan kembali lagi ketempat sekitar, hal inilah yang sering disebut dengan resistensi sektor informal.

Secara garis besar, buku ini memusatkan perhatiannya kepada faktor penyebab, bentuk-bentuk, fase-fase, dan dampak resistensi masyarakat urban khususnya pelaku sektor informal di perkotaan. Secara lebih khusus buku ini oleh penulisnya, ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Mengapa sektor informal melakukan berbagai tindakan resistensi terhadap kebijakan Pemerintah Kota? Ketidakpuasan atau kekecewaan-kekecewaan sosial seperti apa yang telah menjadi sumber dari kelahiran gerakan resistensi sektor informal? Bagaimanakah fase-fase atau proses terjadinya gerakan resistensi sektor informal terhadap Pemerintah Kota? Dilihat dari perspektif teori resistensi, bagaimana bentuk-bentuk resistensi yag dilakukan sektor informal oleh Pemerintah Kota? Bagaimana dampak yang terjadi akibat dari resistensi yang dilakukan oleh sektor informal.[2]

Membaca buku ini bagaikan mendapat makanan bergizi yang baru bagi para akademisi, masyarakat umum, maupun peneliti sekalipun, yang memiliki interest terhadap studi-studi tentang perkembangan kota dan tinjauan sosiologi mengenai kehidupan sektor informal. Namun, sangat disayangkan hampir sebagian besar buku ini mengambil studi kasus di Surabaya. Sehingga unsur resistensi yang sangat melekat adalah kasus-kasus lokal dan tidak bersifat variatif. Selain itu dengan membaca buku ini kita dapat mendapatkan gambaran yang sangat besar dan banyak rincian dari para ahli-ahli sosiologi dalam dan luar negeri yang telah dirangkumkan oleh penulisnya dan dibuat perbandingan antar teori-teori dan definisi tersebut, sehingga kita tak perlu terlalu banyak menghabiskan waktu mencari teori-teori yang kita inginkan tentang perkembangan kota besar di dunia umumnya.

Daftar Pustaka

Alisjahbana. Sisi Gelap Perkembangan Kota. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2005

Tjiptoherijanto, Prijono. Kependudukan, Birokrasi, dan Reformasi Ekonomi. Jakarta: Rineka Cipta, 2004


[1] Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto, Kependudukkan, Birokrasi, dan Reformasi Ekonomi (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2004), h. 16.

[2] Dr. Alisjahbana, MA, Sisi Gelap Perkembangan Kota ( Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2005), h. 24

Iklan

Satu pemikiran pada “Review: Sisi Gelap Perkembangan Kota

  1. Tulisannya bagus, dimana saya bisa dapatkan bukunya. di gramedia di Bali tidak ada saya temukan. tims.

    Dulu saya dapatkan bukunya waktu kuliah di kulakan buku bekas mas.. coba aja di toko buku online.. mungkin masih ada..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s