Saudaraku, Inilah Dunia..

 

Jikalah arti kebahagiaan bagi seorang adalah dengan sukses dunia, tentu pastinya setiap orang akan mendambakan sebuah kebahagiaan yang sangat dinanti dan dicintai dengan berusaha untuk mendapatkannya dan lalai akan kewajibannya.

Tetapi sebuah kebahagiaan bukanlah diukur dengan standar hidup kemapanan yang bergelimang dengan kebendaan dan sebuah kebanggan di hadapan manusia.

Lebih dari itu melainkan sebuah kebahagiaan sejati akan didapat disaat kita menemukan kebenaran hakiki bersama dengan pasangan hidup yang dicintai dan dapat membuatnya merasakan ketenangan ketika berada di dekatnya.

Setiap orang menentukan standar hidupnya maing-masing, mau seperti apakah mereka nanti, akan memiliki apakah bila nanti, dan hidup ideal seperti apakah yang sangat dimimpi.

Semua itu merupakan etalase dari sebuah kehambaan yang merusak hati, dan tak lain hanya terdiri dari beberapa kata yang tersusun rapi menjadi suatu yang hina dikalangan teladan hidup shalih. Suatu kalimat yang tak lain adalah CINTA DUNIA!

Disaat kita sedang tertidur kecintaan terhadap dunia membuat semakin lelap dan tak berpikir bahwa hal itu merupakan fatamorgana belaka. Mengatakan “ malam masih panjang, terlalu awal bila kau bangun sekarang, karena besok kau akan bekerja … tidurlah kembali. Jangan kau siakan kenikmatan ini”

Tanyakan pada dirimu sudahkah engkau mempersiapkan bekal untuk sebuah perjalanan jauh yang sangat panjang. Seorang shalih mengatakan “ beramallah untuk duniamu sesuai keadaan tinggalmu disana dan beramallah untuk akhiratmu sesuai kadar kekekalanmu disana[1]

Perhatikanlah ! segala cita-cita menjadi berderai disebabkan kematian. Segala kekayaan yang telah diusahakan selama ini terpaksa ditinggalkan. Segala kesusahan dan kepahitan hidup pun tertanggal akibat kematian. Segala kemegahan dan kebanggaan akan ditinggalkan. Sadarlah diri siapa kita ini yaa ayyuhal muslimin.

Cinta dunia adalah jebakan yang sangat nyata, berapa banyak orang yang saat ini mengumpulkan segala kebutuhan untuk dunia. Tetapi berapa hitungan jarikah orang yang berpikir meninggalkan menjadi hambanya.

Bukankah Rasulullah mengatakan “Bukannya orang kaya itu orang yang banyak harta, akan tetapi orang kaya adalah orang yang kaya hati.”[2]

“ Beruntunglah orang yang Islam, diberi rezeki yang cukup lalu dia qana’ah (ridha dan menerima) atas apa yang Alloh karuniakan kepadanya.”[3]

“ Hai manusia, sesungguhnya janji Alloh adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Alloh.”[4]

-Sebuah cerita yang membuat hati agak terenyuh dan seakan ingin mengatakan siapa kita ini-

Tidak seperti biasanya, pagi itu orang-orang fakir Madinah tidak lagi mendapati bungkusan gandum di depan pintu rumah mereka. Mereka bertanya-tanya, apakah pelaku sedekah misterius itu telah bosan dengan apa yang dilakukannya? Atau, jangan-jangan ia sedang sakit atau ditimpa musibah? Atau ia meninggalkan mereka untuk selama-lamanya? Jika kemungkinan terakhir yang benar, siapakah gerangan yang meninggal dunia kemarin?

Semua pertanyaan itu terjawab ketika mereka mendengar kesaksian orang-orang yang memandikan jenazah seseorang yang meninggal kemarin. Orang-orang itu menyaksikan bahwa punggung bagian atas mayat terasa kasar saat diraba dan terlihat menghitam seperti punggung seorang kuli angkut di pasar Madinah. Kiranya orang itulah yang selama ini memanggul sekarung gandum lalu membagi-bagikannya kepada fakir miskin kota Madinah di malam hari. Pertanyaan yang sekian lama menggelayut di hati mereka pun terjawab. Orang itu adalah Ali bin Husein. Ya, Ali bin Husein bin Ali bin Abu Thalib, cicit seorang yang mulia Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.[5]

Rasululloh mengatakan “ Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Alloh akan melepaskan satu kesusahan di hari kiamat, maka Alloh akan melepaskan satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan, maka Alloh akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim niscaya Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Alloh senantiasa menolong hamba selagi hamba itu sudi menolong saudaranya.”[6]

“ Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.[7]

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.[8]

Hai orang-orang yang beriman, bertakwallah kepada Alloh, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…[9]

kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah kewajiban dengan disertai mengikuti jejak salafush sholeh, dengan pedoman itulah Insya Alloh kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki.


[1] Mawaidzh lil Imam Sufyan Ats Tsauri

[2] HR. Bukhari

[3] HR. Muslim

[4] QS. Fathir : 5

[5] Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu, h. 9

[6] HR. Muslim

[7] QS. Al Baqarah : 197

[8] QS. Al Kahfi : 110

[9] QS. Al Hasyr : 18

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s