Perbandingan Paradigma; Barat Vs Islam

Pendahuluan

Pada pembahasan kali ini kita akan membahas satu judul yang dalam pengerjaaannya cukup rumit dalam pencarian sumbernya, sebab dalam judul ini tidak ada buku khusus yang mengkaji secara mendetail dalam pemaparan bab ini. Judul yang saat ini dipaparkan adalah berjudul ‘Perbandingan Paradigma; Kritik Barat terhadap Barat, dan Kritik Islam terhadap Barat’.

Semoga pemaparan kali ini dapat bermanfaat dan memiliki nilai tersendiri, dan menjadi suatu muhasabah bagi kita untuk kembali memajukan kejayaan Islam sesuai dengan paradigma tetapnya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kami mohon maaf bila ada kekurangan dalam makalah ini karena alasan satu dan lain hal.

Perbandingan Paradigma. Kritik Barat terhadap Barat

Sejak beberapa abad yang lalu pasca runtuhnya peradaban Islam, tampillah peradaban Barat yang saat ini menjadi sebuah hegemoni terbesar di dunia yang telah memadamkan musuh-musuhnya dari kalangan komunis-sosialis yang hampir pernah berjaya beberapa tahun silam. Mencermati perkembangan paradigma barat pun seringkali selalu keluar paradigma-paradigma baru khususnya di bidang sosiologi yang seringkali meruntuhkan paradigma sosiologi pula sebelumnya.

Setelah sebelumnya Emile Durkheim mencoba melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan yang mempengaruhinya yaitu filsafat dan psikologi. Durkheim yang didasarkan atas hasil penelitian empirisnya terhadap gejala bunuh diri sebagai suatu fenomena sosial di dalam bukunya Suicide (1951), dan The Rule of Sociological Method (1964) yang berintikan tentang konsep dasar metode empiris yang dapat dipakai untuk melakukan penelitian dalam bidang sosiologi. Lantas paradigma-paradigma sosial muncul satu demi satu dan tumbuh dan runtuh sesuai dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman yang terpaksa menyebabkan terjadinya perubahan paradigma.

Kritik pertama, tercatat dalam Paradigma Fakta Sosial dengan satu cabangnya yaitu teori Fungsionalisme-struktural pernah mengalami kritikan yang dianggap dan dituduh mengabaikan variabel konflik dan perubahan sosial dalam teori-teori mereka dikarenakan terlalu menekankan kepada perilaku keteraturan (order) yang akhirnya seringkali dicap sebagai golongan konservaitif dan terkesan status quo hingga akhirnya muncullah teori konflik, walaupun akhirnya hal ini dibantah lagi oleh Parson sekaligus perwakilan dari teori ini yang kembali mengembangkan teori ini menjadi lebih modern dengan dilengkapi dengan konsep fungsi, dis-fungsi, fungsi laten, dan keseimbangan telah banyak kembali menjuruskan perhatian para sosiolog kepada persoalan konflik dan perubahan sosial. Sehingga akhirnya Parson berpendirian bahwa orang tidak dapat berharap banyak mempelajari perubahan sosial sebelum memahami secara memadai struktur sosial.[1] Sebaliknya setelah teori Fungsionalisme struktural dikritik teori konflik pun dikritik pula dikarenakan teori ini ternyata selalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat disamping konflik itu sendiri. Masyarakat bagi teori ini selalu dipandangnya dalam kondisi konflik.[2]

Kritik kedua, terjadi antara dua paradigma yang dikritik oleh satu teori. Adalah Blumer yang menyatakan bahwa organisasi masyarakat (fakta sosial) merupakan kerangka di mana tindakan-tindakan sosial mengambil tempat, bukan faktor penentu dari tindakan sosial. Pengorganisasian dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu hasil dari kegiatan unit-unit tindakan dan bukan karena kekuatan-kekuatan yang terletak di luar perhitungan unit-unit tindakan itu. Interaksional-Simbolik teori ini yang menolak pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma perilaku sosial dengan alasan yang sama yaitu keduanya tidak mengakui arti kepentingan individu.[3]

Kritik ketiga, kritik yang dilakukan oleh Skinner dalam memandang kedua paradigma sebelumnya yaitu fakta sosial dan definisi sosial yang dikatakannya sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti tidak dapat diterangkan secara rasional dimana kritik tersebut berdasarkan substansial dari kedua paradigma tersebut yakni eksistensi obyek studinya itu sendiri. Khususnya di dalam bukunya Beyond Freedom and Dignity, dimana secara terang-terangan Skinner menyerang secara langsung paradigma definisi sosial dan secara soft power menyerang paradigma fakta sosial.[4]

Kritik keempat, Ritzer menyerang paradigma perilaku sosial dimana ia mengatakan pada paradigma ini perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Baginya tanggapan yang diberikannya ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya, jadi tingkahlaku manusia lebih bersifat mekanik dibandingkan dengan menurut pandangan paradigma definisi sosial.[5]

Masih banyak kritik-kritik yang tertuju pada keseluruhan paradigma ini, disebabkan adanya rasa saling ingin merasa paling unggul diantara para ahli sosiolog dalam rangka memaparkan kevaliditasan teori yang diusungnya. Tapi masing-masing ahli yang dikritik pun dengan segera membantah kritikan-kritikan yang ditujukan kepada dirinya dengan penjelasan lebih lanjut aspek-aspek idenya yang sebelumnya masih dirasa sebagian ahli yang lain membingungkan. Contohnya adalah Parsons sebagai sosiolog yang paling banyak diserang dengan kritikan tajam karena fungsionalisme-strukturalnya, namun Parsons menanggapinya dengan pernyataan bahwa teori miliknya yang acapkali di klaim sebagai status quo dan terkesan konservatif dijelaskannya dengan nada bahwa teori miliknya hanya bersifat teoritis dan bukan bersifat ideologis. Selanjutnya terdapat pula nama James Coleman (kubu fakta sosial) yang memaki buku Harold Garfinkel ‘Studies in Ethnomethodology’ yang notabene ia adalah seorang penganut paradigma definisi sosial.

Yang terakhir dan terpenting, kritik yang dilancarkan oleh penganut paradigma yang berbeda dapat membantu menunjukkan kepada pengarangnya bahwa premis-premis dari paradigma lain dapat memberikan sumbangan yang berharga terhadap pemikirannya sendiri. Namun sayangnya sumbangan yang demikian penting itu dalam prakteknya jarang muncul. Justru yang ada karena kefanatikannya terhadap salah satu paradigma yang diyakininya menimbulkan pertentangan yang hebat terhadap paradigma yang tak sepaham dengannya.

Kritik Islam terhadap Barat

Setelah pertemuan sebelumnya kita mengetahui dan memahami apa itu paradigma islam dan merumuskan kembali format paradigma Islam[6]. Maka secara langsung kami akan menanggapi bagaimanakah kritik yang dilancarkan Islam terhadap Barat. Sebagai suatu bahan untuk mengulas kembali bahwa inti dari ajaran islam adalah Tauhid ( mengesakan Alloh dalam ber-ibadah ). Selain itu ini juga merupakan sebuah kritik terhadap Dr. Kuntowijoyo yang mengkategorikan Tauhid tidak dibawah bimbingan kitab ‘ulama yang shahih[7], hakikat pembagian Tauhid yang haq adalah seperti dibawah ini[8] :

  1. Tauhid Rububiyyah : berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Alloh subhanahu wa ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Alloh adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. Dalilnya : QS. Al A’raaf : 54, QS. Al Fathir : 13, QS. Yunus : 31-32, QS. Az Zuhruuf : 9, QS. Al Mu’minuun : 84-89, dll.
  2. Tauhid Uluhiyyah : berarti mengesakan Alloh melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Alloh tabaraka wa ta’ala apabila hal itu disyari’atkan olehNya, seperti berdo’a, khauf, raja’, mahabbah, dzabh, bernadzar, isti’anah, istighatsah, isti’adzah, dan segala apa yang disyari’atkannya dan diperintahkan Alloh azza wa jalla dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah tersebut harus dilakukan hanya kepada Alloh semata dan ikhlas karenaNya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh. Dalilnya QS. Al Baqarah : 163, QS. Ali Imran : 18,QS. Al Hajj : 62, QS. An Nisaa : 48 dan 116, QS. Al Mukminuun : 32, dll.
  3. Tauhid Asma wa Shifat : berarti menetapkan dan wajib meyakini terhadap Sifat-Sifat Alloh, baik yang terdapat di dalam al Qur’an maupun As sunnah tanpa takwil, takyif, ta’thil, tahrif, dan tamtsil. Dalilnya Qs. Asy Syuuraa : 11

Kembali kepada topik bahasan makalah ini, Barat telah melukai sekian miliar juta masyarakat Islam dari dulu hingga saat ini pasca runtuhnya khalifah terakhir. Dan terakhir yang paling sangat menghebohkan Barat telah berhasil menginfiltrasi pemahaman racunnya kedalam sarjana-sarjana muslim yang bergelar ‘intelektual muslim’, dari mulai pemahaman equality gender, tafsir hermeneutika, Liberalisme dan re-aktualisasi Islam, Sekulerisasi, Inklusivisme, Pluralisme, kajian orientalisme, dll.[9]

Umumnya, dipahami bahwa kalangan orientalis (yang dianggap pihak Barat) memahami Timur (mayoritas adalah Islam) sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak berimbang, cenderung menyudutkan pihak yang kedua. Turner[10] mencoba menjelaskan di mana letak ambiguisitas antara keduanya (Islam dan Barat), mana yang menjadi persamaan dan perbedaannya. Kita pernah diguncangkan oleh bukunya Samuel Huntington, yang berjudul The Clash of Civilization and the Remaking of world Order. Buku ini menjelaskan bagaimana Barat dan non-Barat (Timur) adalah dua wilayah yang saling berbenturan. Menurut Huntington, pasca runtuhnya Komunisme maka Islam memiliki peluang untuk berbenturan dengan Barat. Konflik yang terjadi lebih pada kebudayaan yang berbeda antar keduanya. Lebih lanjut Huntington menyatakan :

 

“Dalam dunia baru tersebut, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, antara golongan kaya dengan golongan miskin, atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda”.

 

Tesis Huntington inilah yang oleh beberapa ahli dipegang oleh presiden US, saat ini dalam melakukan invasi keberbagai Negara Islam, dengan dalih terorisme tetapi tak bias menutupi kedok aslinya yaitu ‘war and crusade with me or with terorist’ dengan doktrinnya stick or carrot.

 

Penutup

Sekalipun Barat saat ini telah memegang tampuk peradaban dunia tetapi dikalangan mereka kritikan terhadap Barat dari tubuh Barat pun seringkali bermunculan. Contoh diatas hanyalah disajikan sebagai kritikan Barat oleh Barat dalam tinjauan ilmu paradigma sosial, sedangkan dalam perjalanan peradabannya Barat tak pernah lepas dari kecaman berbagai pihak yang tak menyetujui kebijakannya yang saat ini menjadi jargon Barat sendiri yaitu human right.

Sedangkan kritik Islam sendiri terhadap Barat tak akan pernah ada habisnya, dan tidak sepantasnya kritikan tanda kekecewaan terhadap Barat dilakukan dengan cara-cara model Barat[11]. Maka sebagaimana layaknya seorang muslim sejati hendaklah kita mengembalikkan Islam sesuai dengan prinsip dasarnya yaitu Tauhid terlebih dahulu, sebagaimana nasehat Imam Malik rahimahullah yang dinukil oleh Al Imam Asy Syathibi rahimahullah di kitabnya Al-Itishom “ Tidak akan baik generasi akhir umat ini, selama tidak kembali kepada apa-apa yang membuat baik generasi awal ummat ini ”

 

Daftar Pustaka

Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda ( penyadur : Drs. Alimandan ), CV. Rajawali, Jakarta: Januari 1985

Jawwas, Yazid bin Abdul Qadir, Prinsip Dasar Islam, Pustaka At Taqwa, Bogor: Rabi’ul akhir 1427 H.

Susanto, Happy, Membongkar Hegemoni Wacana Sosiologi Barat dalam Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September2003. terbitan International Institute of Islamic Thought Indonesia download http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/book3.htm

 

 


[1] Sosiologi, Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (dengan sedikit perubahan), hal. 29.

[2] Ibid, hal 34.

[3] Ibid, hal.63

[4] Opcit, hal 82

[5] Opcit, hal. 85

[6] Lihat kembali makalah dua pertemuan sebelumnya

[7] Sebab di dalam buku beliau Paradigma Islam; Intepretasi untuk Aksi. Penyusun makalah tidak menemukan daftar pustaka kitab ‘ulama yang mu’tabar dan mu’tamat dalam buku beliau, yang ada hanyalah buku-buku karya orientalis barat yang berbicara dengan Islam sesuai dengan kehendak hatinya. Semoga Alloh menunjukkan Dr. Kuntowijoyo kepada kebenaran!

[8] Penjeasan ini saya ( abu yahya ) ambil dari kitab guru kami Fadhilatu Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas yaitu Prinsip Dasar Islam, bacalah kitab tersebut karena sangat bermanfaat dan berfaedah. Penjelasan ini saya ringkas dari hal 34-46. adapun masih banyak karya ‘ulama ahlusunnah lain yang tak bisa saya sebutkan disini karena akan menambah panjang halaman makalah ini.

[9] Walhamdulillah banyak saudara kita dari kalangan muslim yang telah membantah pemikiran dan pemahaman teologis semacam ini, tak kurang seperti al-akh Adian Husaini, MA yang saat ini menjadi kandidat Doktor di ISTAC-IIUM Malaysia di dalam bukunya Islam Liberal, Wajah Peradaban Barat, Pluralisme Agama,dll. Ada pula saudara kita yang lain semisal al-akh Adnin Armas, MA, dan juga kita mengenal al-akh Hartono Ahmad Jaiz yang seringkali membongkar kedok JIL, dan selainnya. Wal’iyadzubillah

[10] Dalam bukunya : Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat, Bongkar Wacana atas Islam vis a vis Barat, Orientalisme, Postmodernisme, dan Globalisme. Dalam resensi yang dilakukan oleh Happy Susanto dengan judul Membongkar Hegemoni Wacana Sosiologi Barat, transkrip hal 9

[11]Saya telah menguraikan beberapa model-model barat di blog saya pribadi di www.adjhee.blogs.friendster.com ataupun di www.albykazi.blogspot.com khususnya tentang demonstrasi.

2 thoughts on “Perbandingan Paradigma; Barat Vs Islam

  1. Ass,
    Subhanallah…bergembira skali saya dapat membaca article ini.
    KAjian ilmiah yang berdasar bukan pada teori barat semata tetapi berlandasakan dengan Quraniyyah dan sunnah..
    berkaitan dengan ini saya mahasiswa program S2 berlatar belakang S1 science murni yg ingin mendalami sosiologi/psikologi lebih jauh . Saya mohon referensi artikel/buku/situs/dll lebih lanjut mengenai hal-hal mendasar tersebut (sangat menbantu dalam memahami kajian teori-teori abstrak)
    Jazakumullah khoir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s