Bom Bali dan Islam; Menyoal Keterlibatan Elite Politik dan Agama dalam Tragedi Bom Bali

“ Sampai saat ini, kami meragukan bahwa musibah Bom Legian dilakukan oleh kelompoknya ( Imam Samudera, cs- pen ), kecuali oleh suatu sebab sebuah pengakuan yang hanya dilandasi oleh semangat berjihad dan rasa militansi yang tinggi. Hal ini bukan tanpa alasan. Secara profesional, pengungkapan fakta persidangan perkara di atas, jauh dari pembuktian aspek pelaku tindak pidananya, melainkan hanya terbatas pada pengungkapan banyaknya jumlah korban dan kerugian materiil semata. Sementara, pembuktian terhadap pelakunya relatif minim. Hanya Alloh yang Maha Tahu atas segalanya. Kita serahkan segalanya ke hadapan- Nya,

Wallahu A’lam bish-shawab. “

( Achmad Michdan, Tim Pengacara Muslim )[1]

Hampir 5 tahun tragedi Bom Bali terjadi atau yang lebih dikenal dengan Bali Black Bombing. Kejadian yang hampir setiap tahunnya diperingati di tugu yang telah dibuat oleh pemerintah setempat untuk memberikan bentuk apresiasi bagi para korban pengeboman yang lebih banyak menewaskan para tamu asing atau ex-patriat.

Kejadian yang memiliki banyak penafsiran (multi tafsir) dari berbagai kalangan, ada yang menganggapnya itu bagian dari konspirasi asing, ada pula pernyataan bahwa tragedi itu merupakan ulah kelompok Islam Garis Keras (Baca : Ekstrimis, Radikal, Fundamentalis) yang muak dengan segala kemaksiatan dan ingin diberlakukannya secara menyeluruh syariat Islam di bumi Indonesia ini, ada pula pernyataan bahwa itu merupakan adzab dari Alloh tanpa menyebutkan dasar pembuktiannya, bahkan ada pula yang berkomentar bahwa hantu atau roh halus penjaga tempat kejadian itu meminta tumbal, dan banyak lagi tanggapan-tanggapan heboh pasca ledakan tersebut dengan sangat marak dilansir di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Kapolri Jend. Pol. Dai Bachtiar[2] menegaskan, ledakan bom di Diskotek “ Sari Club “ Legian, Kuta Bali yang menewaskan 187 orang dan 281 luka-luka, Sabtu (12 / 10) malam lalu merupakan ulah sindikat terorisme asing dan terorganisir secara rapi. “ Ledakan bom ini merupakan kepentingan pihak-pihak asing hanya saja kejadiannya di Indonesia,“[3] urainya.[4]

Sedangkan respon berbeda paska tragedi tersebut muncul dari Menteri Pertahanan[5] Matori Abdul Jalil yang menuduh Al Qaidah berada dibalik serangan Bali itu.[6]

Sedangkan menurut Ketua Tim Investigasi Peledakan Bom Kuta, Inspektur Jenderal ( Pol.) I Made Mangku Pastika memastikan jenis bom yang diledakkan di Sari Club Kuta Bali 12 Oktober, baru pertama kali ditemukan di Indonesia “ Bom itu belum biasa. Baru pertama kali ini kita ketemu, nggak tahu kalau di negara lain “. Pastika pun ikut membantah teori bahwa pelaku adalah orang asing. Bom di sari Club, kata dia, tidak dibawa kedalam seperti bom di Paddys karena klub ini akan mencegah pribumi masuk. “ Kalau orang asing, meski dia orang Asia, bisa masuk. Jadi, kesimpulannya, ( yang meledakkan diluar itu ) orang Indonesia, “ katanya.[7]

Said Zainal Abidin[8], mengatakan sehubungan dengan itu, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengungkapan peristiwa 12 Oktober 2002 tersebut oleh pemerintah Indonesia. Pertama, alternatif kemungkinan sumber atau asal pelaku terorisme harus dilihat seluas mungkin. Artinya, alternatif kemungkinan tidak boleh dibatasi. Membatasi alternatif ( misalnya dengan menganggap kemungkinan hanya berasal dari kalangan yang selama ini dipandang radikal saja ), berarti mempersempit wawasan untuk menemukan identitas-identitas baru. Tindakan demikian sama dengan memperbesar kemungkinan melakukan kesalahan.[9]

Kedua, salah satu kriteria yang dapat dipakai diantara berbagai kriteria lain adalah, siapa yang paling menguntungkan dari tindakan teror itu ? Keuntungan itu boleh jadi bersifat ekonomi seperti penghancuran saingan (wisata), penguasaan sumber alam, atau bersifat politik, seperti perluasan pengaruh, pemojokan lawan, pembentukan opini untuk pembenaran teradap sikap yang telah diambil pemantapan kekuasaan dan sebagainya. Bersifat agama, seperti sentimen agama, picik dan lain-lain. Bahkan juga dapat bersifat kejiwaan seperti pelampiasan rasa cemburu, putus asa dan sebagainya. Karena itu kemungkinan pelaku atau dalangnya, tidak terbatashanya dikalangan orang-orang kecil, tetapi juga terutama boleh jadi kalangan para pengusaha, penguasa, dan politisi kelas dunia.[10]

Sebagaimana yang dijelaskan diawal bahwa peristiwa terhebat yang pernah terjadi di Indonesia ini memiliki banyak tangapan dan reaksi dari berbagai pihak, tidak hanya dari kalangan POLRI sebagai aparatur negara yang paling berwenang untuk menjaga stabilitas keamanannya melainkan dari para pakar politik dan para tokoh agama.

Penjelasan ini semakin berbeda bila melihat apa yang dijelaskan oleh sang pengebom sendiri dan sudah mengakuinya, yaitu Imam Samudra alias Abdul Aziz alias Qudama. Dalam bukunya sendiri ia mengatakan, “ berdasarkan niat atau rencana target, jelas Bom Bali merupakan jihad fii sabilillah, karena yang jadi sasaran utama adalah bangsa-bangsa penjajah seperti Amerika dan sekutunya. Ini semakin jelas dengan adanya pembantaian massal terhadap ummat Islam di Afghanistan pada bulan Ramadhan tahun 2001 yang disaksikan oleh hampir seluruh umat manusia di segala penjuru bumi. Bangsa-bangsa penjajah membantai kaum lemah dan bayi-bayi tak berdosa itulah yang disebut kaum musyrikin (kaum kafir) yang berhak diperangi sebagaimana tersebut dalam firman Alloh (lantas ia mengutip QS. At Taubah : 36)”.[11]

Para tersangka yang terdiri dari Mukhlas alias Ali Ghufron, Ali Imron, Imam Samudra, Amrozi, memiliki beberapa catatan tersendiri atas apa yang dilakukannya. Diantaranya mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad fii sabilillah dan meyakini amalan mereka akan dibalas di surga oleh Alloh azza wa jalla. Sekalipun menewaskan beberapa orang dari kaum muslimin yang disebut oleh Imam Samudra sebagai bagian dari ‘human error’.

Salah seorang ustadz Ahlu Sunnah wal Jama’ah Salafiyyin dari Indonesia menyebutkan dan memberikan catatan atau nasehat tersendiri tentang apa yang dilakukan oleh Imam Samudra, dkk. Nasehat tersebut tertulis di dalam buku beliau hafidzahullah berkata “Saat Anda (Imam Samudra, pen) memutuskan untuk merencanakan peledakan itu –setulus apapun niat Anda- dengan inisiatif sendiri, dalam sandaran hukum yang Anda sendiri sudah mengaku masih samara-samar –bahkan pada hakikatnya adalah keseatan belaka- Anda sudah keliru, dan untuk itu, Anda membunuhi turis-turis asing, setelah para ulama Ahlusunnah jelas-jelas melarangnya, Anda telah berbuat kekeliruan lagi. Keyakinan Anda bahwa para turis asing itu pasti bukan orang sipil, juga rancu, hanya sebatas dugaan. Kemudian, setelah peledakan itu sebagian kaum muslimin mati akibat ledakan bom, Anda kembali melakukan sebuah dosa besar”.[12]

Tentang apa yang dilakukan oleh Imam Samudra, cs akan aksi bombingnya ditegaskan oleh MUI melalui Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin. Beliau mengatakan bahwa ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia dalam fatwanya tahun 2003 tentang bom bunuh diri sudah menegaskan. Di dalamnya dinyatakan harus dibedakan antara bom bunuh diri dengan amaliyatul istisyhad (tindakan mencari kesyahidan). “ Jadi kalau mau perang silahkan ke Palestina sana, “ katanya. MUI kembali menegaskan bahwa bom bunuh diri yang dilakukan di negara damai seperti Indonesia hukumnya haram karena merupakan bentuk tindakan keputusasaan (al yas’u) dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain (ihlak an nafs). “Jadi dosanya dobel”, kata Ma’ruf.[13]

Setidaknya bom Bali telah menceritakan tersendiri dan ternyata ada cerita indah dibalik kejadian tersebut. Selang beberapa waktu setelah terpenjaranya sang Imam Samudra dan ia telah berhasil menuntaskan sebuha buku yang berjudul ‘Aku Melawan Teroris’ sebuah diorama catatan perjuangan seorang Imam yang diterbitkan oleh Al Jazeera, maka terbitlah sebuah buku yang berjudul ‘Orang Bilang, Ayah Teroris’ sebuah catatan harian Paridah Abas, istri dari salah satu tersangka Bom Bali tersebut, lantas muncullah buku bantahan yang berjudul ‘Mereka Adalah Teroris’ karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh yang membantah buku milik Imam Samudra, lantas keluar sebuah buku yang membantahnya kembali berjudul ‘Siapa Teroris, Siapa Khawarij’ karya Abduh Zulfidar Akaha, lalu keluar sebuah buku yang berbicara bijak dalam masalah ini dengan judul ‘Teroris Melawan Teroris’ karya Abu Umar Basyir, dan terakhir ditahun 2007 ini buku bantahan dari Luqman bin Muhammad Ba’abduh kembali keluar untuk membantah Abduh Zulfidar Akaha dengan judul ‘Menebar Dusta, Membela Teroris Khawarij’

Setidaknya fenomena yang terjadi pasca ledakan Bali 2002 telah banyak menceritakan sejarah panjang, dan belum tuntas hukuman yang dijalani oleh para pelakunya, kembali muncul aksi ledakan di Bali berikutnya pada tahun 2005 lalu yang terjadi di Raja’s Cafe.

Umat Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Dibantai habis oleh pemerintah kolonial Belanda dan Jepang, ditekan oleh rezim Orde Lama Presiden Soekarno, dicurigai dan diperalat oleh rezim Orde Baru Soeharto, dan dijadikan kambing hitam teror bom oleh penguasa era “Reformasi”. Sampai kapan?[14]

Daftar Pustaka

Kumpulan Guntingan Koran/Kliping: Masalah-Masalah Aktual Di Bidang Politik, SUBAG HUMAS Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2002

Samudra, Imam, Aku Melawan Teroris, Solo: Jazeera, 2004.

Basyir, Abu Umar, Teroris Melawan Teroris, Solo: Mawazin, 2007

Ba’abduh, Luqman bin Muhammad, Mereka Adalah Teroris, Malang: Qaulan Sadida, 2005.

H. Usep Romli, H.M ( wartawan senior HU Pikiran rakyat Bandung ), Beban Sejarah Umat Islam Indonesia, http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0904/18/0802.htm.

( Makalah ini dipaparkan pada presentasi Sejarah Dakwah Islam di kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. )


[1] Pengantar TPM pada buku Imam Samudra, Aku Melawan Teroris !, hal 7-8.

[2] Ketika marak tentang isu ini muncul banyak statement tentang nama Dai ini bahkan beredar selentingan ‘Dai menangkap Da’i’.

[3] Pernyataan ini kembali menimbulkan kontroversi tentunya bagi penulis, bila Dai Bachtiar selepas kejadian mengatakan seperti itu, lantas mengapa kemudian hari pihak kepolisian justru menangkap para aktivis Islam dan tentunya orang Indonesia bukan justru pihak asing yang dituduhkan, bahkan hingga sempat terjadi kejadian salah tangkap dan tetap saja citra kepolisian bahwa polisi tidak pernah memiliki rasa salah. Sehingga tidak perlu meminta maaf secara khusus kepada orang yang salah ditangkap atau secara umum kepada pihak-pihak yang telah merasa ketakutan dengan tuduhan dan pandangan sinis dari masyarakat.

[4] Teror Terbesar dalam Sejarah Bangsa; Sindikat Teroris Asing “ Bermain “, Harian Pelita, Senin 14 Oktober 2002 / 7 Sya’ban 1423 H, hal 1

[5] Masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri.

[6] Terorisme Agama Terorisme Negara Versus (mungkin yang dimaksud adalah Terorisme Agama Versus Terorisme Negara, namun seperti itulah yang tertulis di Kliping), Tempo 27 Oktober 2002, hal 5

[7] Bom Bali Belum Pernah Ada di Indonesia, Tempo 26 Oktober 2002, hal 8.

[8] Alumni University Of Pitsburgh USA, dan Mantan Asisten Menko Wasbangpan

[9] Terorisme, Siapa Dia ?, Said Zainal Abidin, Harian Pelita, 25 Oktober 2002, hal 14

[10] Ibid, Said Zainal Abidin, hal 14

[11] Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, hal 109

[12] Abu Umar Basyir, Teroris Melawan Teroris, hal 186

[13] Abu Umar Basyir, Ibid, hal 107-108

[14] H. Usep Romli, H.M ( wartawan senior HU Pikiran rakyat Bandung ), Beban Sejarah Umat Islam Indonesia, http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0904/18/0802.htm. akses tanggal 15 Juni 2007, 18.45 WIB

2 pemikiran pada “Bom Bali dan Islam; Menyoal Keterlibatan Elite Politik dan Agama dalam Tragedi Bom Bali

  1. “ Sampai saat ini, kami meragukan bahwa musibah Bom Legian dilakukan oleh kelompoknya ( Imam Samudera, cs- pen ), kecuali oleh suatu sebab sebuah pengakuan yang hanya dilandasi oleh semangat berjihad dan rasa militansi yang tinggi. Hal ini bukan tanpa alasan. Secara profesional, pengungkapan fakta persidangan perkara di atas, jauh dari pembuktian aspek pelaku tindak pidananya, melainkan hanya terbatas pada pengungkapan banyaknya jumlah korban dan kerugian materiil semata. Sementara, pembuktian terhadap pelakunya relatif minim. Hanya Alloh yang Maha Tahu atas segalanya. Kita serahkan segalanya ke hadapan- Nya,

    Wallahu A’lam bish-shawab. “

    masak si…..mau berkelit……dasar sok bersih lu…..

    saya hanya mengutip kang

  2. Hari ini 6 tahun peringatan bom Bali I.
    Turut berduka cita atas korban teroris pada bom Bali, terutama dari kalangan umat Muslim yang tak berdosa yang dikorbankan demi ego picik, ketololan, kesesatan, kesetanan dan kekafiran dari para teroris atas nama Allah dan Islam yang suci itu. Semoga para korban jadi pahlawan syahid di syurga, dan para pelaku pemboman dititipkan di panti neraka selamanya. Amiiin.

    Paragraf terakhir tulisan di atas :
    “Umat Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Dibantai habis oleh pemerintah kolonial Belanda dan Jepang, ditekan oleh rezim Orde Lama Presiden Soekarno, dicurigai dan diperalat oleh rezim Orde Baru Soeharto, dan dijadikan kambing hitam teror bom oleh penguasa era “Reformasi”. Sampai kapan?”

    Kenapa pikiran dan reaksi inferior alias rendah diri yang menyatakan seolah2 jadi korban dengan mengatasnamakan seluruh umat Islam masih tumbuh subur?
    Saya enggak gitu2 amat tuh tanggapannya. Itu kan perbuatan oknum segelintir umat Islam yang bermulut besar, usil dan jahil n so pasti gak punya kerjaan lain, Jadi pikirannya kalo gak ngeres ya jadi tukang ngerusak kayak penjajah Belanda n Jepang dulu. Gitu kok ngatain orang lain kafir, padahal mereka sendiri sama bejatnya.

    Ciri2 mental inferior alias minderan alias rendah diri : selalu gerombolan, senang mengekor, suka debat kusir, tertutup terhadap pembaruan n nilai kebenaran , gak suka damai alias suka ribet, kalo lagi terpojok mengemis2 minta simpati n dikasihani mengatasnamakan seluruh golongan besar jadi korban, padahal cuma itu2 aja yang suka bikin onar yang lagi kena batunya, tapi kalo lagi gerombolan sok merasa menang n di atas angin, tapi begitu ditegasin merunduk2 kayak tikus got.

    Mereka mengungkapkan iman dengan cara2 kasar, suka gertakan, tapi sebenarnya pengecut, persis tong kosong. Ya bagi mereka begitulah cara beriman. Ya, maklumlah, otak mereka ditaruh di dengkul.

    Kalo gini jangan harap segelintir oknum itu bisa maju. bahkan mereka sedang melakukan pemunduran, peliaran, kejumudan, keegoisan bahkan bunuh diri berjamaah, dengan mengatasnamakan seluruh umat Islam. Bahkan tak segan membunuh sesama Muslim seperti pemboman di Bali itu. Sungguh memalukan!!

    Ayo sebagian besar Umat Muslim yang masih beriman dan berakal secara sehat, mari kita berjuang mendirikan peradaban yang maju dan mulia, sadar iptek, menjaga perdamaian, junjung tinggi kesantunan dan tanggung jawab n disiplin, n so pasti teteeuuup rajin sholat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s