Analisa Jurnal Islam & Good Governance.

Al-Islam adalah agama yang haq, agama yang diridhai oleh Alloh satu-satunya “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Alloh hanyalah Islam” (QS. Ali Imron : 19). Al Islam pulalah ad-din yang diturunkan secara sempurna, tidak akan ada penambahan di dalamnya lagi setelah sempurnanya risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam kecuali dilakukan oleh orang yang jahil dalam beragama, dan tidak ada pula pengurangan didalamnya kecuali orang yang beragama seperti berdagang. Karena Alloh telah berfirman “…Pada hari ini telah Kusempurnakan agama ini bagimu…” (QS. Al Maidah : 3)

Kesempurnaan Islam selain terdapat dalam Al Qur’an terdapat pula dalam beberapa hadist Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya :

  1. Dari Salman Radhiyallohu anhu. Beliau berkata, “orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallohu anhu menjawab, Ya!”[1]
  2. Dari Hudzaifah radhiyallohu anhu, beliau berkata, “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami (berkhutbah), tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan seseuatu pun juga di tempatnya itu (tentang peristiwa-peristiwa)yang akan terjadi sampai hari kiamat melainkan beliau menceritakannya kepada kami. Akan hafal orang yang hafal dan akan lupa orang yang lupa…”[2]
  3. Dari Abud Darda’ radhiyallohu anhu, ia berkata, “Sungguh Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya.“[3]

Dan masih banyak hadist lainnya yang menjelaskan tentang kesempurnaan Islam yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Adanya fenomena kekerasan dan perlakuan kekasaran dalam beragama saat ini seperti yang terdapat dalam jurnal “ Para pelaku kekerasan keagamaan selalu menandaskan tujuannya dalam kerangka agama, seperti memerangi maksiat, membela Tuhan dan menghancurkan kemusyrikan ”[4]. Dalam artikel tersebut bisa diambil kesimpuan bahwa hal itulah yang dapat memotivasi terjadinya kekerasan/sifat radikalisme dalam beragama, disamping ketiga hal itu terdapat pula faktor kesalahpahaman dalam memahami ajaran yang benar tentang Islam. Kesalahpahaman dalam memahami ayat dan hadist itupulalah yang juga secara tidak langsung menjadikan sebagian kelompok Islam mendapatkan seakan-akan mendapatkan legitimasi dan legalitas seakan hal perbuatan mereka dibenarkan. Padahal yang dimaksud dengan ayat dan hadist yang mereka pakai tidak demikian tafsirannya, sehingga sebagian diantara mereka terjerumus dalam kesalahan penafsiran. Seperti pada syair arab “ semua mengaku mencintai Laila, tetapi yang Laila inginkan hanya satu ”. kesalahpahaman itulah yang terjadi pada beberapa kasus justru menjadi pemicu dan menimbulkan kerusakan bagi Islam. Kesalahan fatal lagi-lagi dalam menta’wilkan teks-teks Al Qur’an maupun menafsirkan hadist dari maksud sesungguhnya, yang membuat sebagian individu/kelompok menimbulkan sifat kekerasan dalam beragama.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari : (1) Tahriful Ghalin ( pemutar balikkan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang ). (2) Intihalul Mubthilin ( kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama ). (3) Ta’wilul Jahilin (penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil ).”[5]

Dari hadist diatas itu pulalah yang menjadi petunjuk yang sangat terang dan jelas seperti matahari bagi para jama’ah Islam yang bersifat keras (mutasyadidun) dan kasar dalam maksud untuk berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Bukanlah ayat dan hadist yang mereka gunakan salah, tetapi kaifiyah yang mereka gunakannya. Dalam sebuah syair terdapat perkataan “kalimatul haq, bihi uridha bathil” (kalimat kebenaran yang digunakan untuk melegalkan kebathilan). Lihatlah para pelaku pengrusakkan tempat maksiat dan pelaku pengeboman disana-sini dengan dalih apa mereka melakukannya? Pastilah mereka menjawab dengan tujuan amar ma’ruf nahi munkar dan melindungi izzah Islam, mereka tak peduli bahwa tempat yang mereka rusakkan (sekalipun salahnya pengelola tempat maksiat, dan jelas salah orang muslim yang bekerja di tempat maksiat) tetapi tempat tersebut legal dan dilindungi negara dan kita masih memiliki aparat yang berwenang dalam melakukan tugas itu. Hendaknya para jama’ah Islam jangan tergesa-gesa dalam berbuat dan bertindak. Selain itu pihak pengeboman kepada tempat kaum kafir mu’ahad yang jelas terikat perjanjian damai dengan pihak pemerintahan Indonesia mereka bunuh dan berangus dengan nama Islam dan Jihad. Apakah diantara mereka tidak membaca dan memahami hadist dari Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam “ Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka dia tidak akan mencium aroma harum al-jannah. (padahal) sesungguhnya aroma harum al-jannah itu sudah tercium sejauh jarak perjalanan 40 tahun!.”[6]

Suatu kekerasan yang bersifat publik seperti dalam jurnal tertulis “ Jenis tindakannya bisa berupa intimidasi, pengekangan, penyerangan, atau pembunuhan atas kelompok yang tidak sama dengan dirinya. ”[7]. Benar sekali, hal ini menjadikan indikasi yang sangat valid dan akurat bahwa dalam setiap kelompok atau komunitas yang memiliki tujuan berbeda akan terjadi hal seperti itu. Sebagai contoh paling ekstrim adalah seorang yang jelas muslim dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim bisa jadi di cap seenaknya oleh suatu komunitas dengan perkataan “kafir” hanya karena si muslim ini tidak bergabung dengan kelompoknya. Tingkah polah inilah yang membuat kelompok yang mengaku Islam itu seperti apa yang terjadi pada khawarij “anjing-anjing neraka” di masa awal slam. Dengan langsung menghukumi pelaku dosa besar KAFIR.

Sedangkan dalam lingkup domestik, kasus kekerasan yang lebih sering terjadi disebut dengan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) padahal bila dilihat dari data dan menilai secara objektif dalam timbangan agama Islam bila kekerasan tersebut hanya karena si korban dipukul oleh pelaku dengan maksud untuk mendapatkan kebaikan dan menuruti perintah Alloh, dan peaku yang memukulnya hanya ingin mengingatkan bukan dipukul dengan sengaja dan merusakkan fisik, seharusnya hal itu bisa dimengerti dan dipahami sehingga jangan di masukkan kedalam kasus KDRT. Setidaknya Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda “ perintahlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah untuk shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka. “[8]

Tetapi bila kekerasan itu dilakukan denagn sengaja dan tanpa memiliki landasan syar’I maka hal itu dilarang dan tidak diperbolehkan. Terlebih terjadinya kekerasan itu dilakukan hanya karena misalnya si suami menyuruh isteri menjadi seorang pelacur dan menyuruhnya bermaksiat kepada Alloh. Maka itu diharamkan seperti dalam hadist “ laa ta’ati li makhluq fii maksiatil khaliq “

Adanya tindakan kekerasan dalam beragama baik dari sisi publik maupun domestik akan memacu dan menimbulkan dampak yang sebagian besar negatif, diantaranya :

1. aspek politik : kasusu kekerasan dengan menumpang pada agama di sisi publik dapat menimbulkan kekacauan stabilitas politik, kepercayaan pihak asing (notabene kafir) akan mempengaruhi hubungan diplomasi dan kerjasama dengan pihak Indonesia

2. aspek social : hilangnya social trust (kepercayaan sosial) dan prasangka di kalngan kaum muslimin itu sendiri. Bahkan dampak yang paling dapat dirasakan adanya pendiskriminasian, pengkotak-kotakan, menimulkan stigma dan stereotype ngatif terhadap sejumlah kelompok Islam yang jelas tidak melakukan suatu kekerasan. Sedangkan untuk lingkup domestik menyebabkan kerenggangan interaksi social antara keluarga KDRT dengan masyarakat sekitar bisa berupa malu dan lain-lain.

3. aspek psikologis : dalam intern umat Islam sendiri terjadi kebingungan dengan adanya tindakan kekerasan tersebut, adanya perasaan was-was takut terror bom dan korban perusakan, hingga adanya umat Islam yang merasa phobia dengan Islam. Sedangkan dalam lingkup domestik KDRT dapat menimbulkan tertekan jiwa si korban ataupun pelaku, selalu dihantui ketakutan, hingga titik yang paling ekstrimnya menyebabkan mental illness (gangguan mental) bahkan bunuh diri.

4. aspek ekonomi : jelas sekali dengan adanya kekrasan dalam beragama menimbulkan sikap antipati pihak investor luar negeri dalam melakukan kerjasama ekonomi karena keamana Indonesia yang tak stabil hingga banyaknya ancaman disana-sini. Sedagkan dalam lingkup domestik bisa menyebabkan perekonomian keluarga berantakan.

Demikian telaah ilmiah kami pada artikel Islam & Good Governance. Kami yakin masih banyak memiliki kekurangan disana-sini dalam menaggapinya. Satu hal permasalahan kekerasan beragama ini akan terus ada dan berkembang seiring dengan perkembangan jaman, peradaban, dan pola pikir. Dan lihatlah kerusakan yang ditimbulkan lebih besar, sehingga apabila keputusan pemerintah untuk membekukan organisasi yang cenderung anarkis dan illegal maka kami dukung sebab dalam kaidah amar ma’ruf yang berlaku “ Dar’ul Maslahah Muqaddam ‘ala Jalbil Maslahah” (mendahulukan mafsadat lebih awal dibandingkan dengan mengambil maslahatnya).

Sehingga kami katakan pada kelompok mutasyadidun cukuplah ayat ini buat anda semua. Alloh berfirman “ Dan bila dikatakan kepada mereka. “janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi.” Mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. “ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. ( QS. Al Baqarah : 11-12 ) dan bila kalian mutasyadidun berada dalam kebaikan dan kebenaran kami katakan “ … Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar “ (QS. Al Baqarah : 111)




[1] HR. Muslim no 262 (57), Abu Dawud no 7, At Tirmidzi no.16. dinukil dari kitab “Prinsip Dasar Islam” karya Yazid Abdul Qadir Jawas hal 166 cetakan revisi penerbit pustaka At Taqwa.

[2] HR.Bukhari no.6604, Muslim no.2891.& lafazh ini milik Muslim. “Prinsip Dasar Islam” hal 167.

[3] HR.Ath Thabrani dalam Majmu’ Az Zawaid (VIII/264) “Prinsip Dasar Islam” hal 165.

[4] Artikel Jurnal hal 1, paragraf 1 kalimat terakhir.

[5] HR. Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil I/145-148. dishahihkan oleh Asy Syaikh Muhaddist Nashiruddin Al Albani dalam Misykatul Masabih, dinukil dari kitab “Mereka Adalah Teroris” karya Al Ustadz Lqman bin Muhammad Ba’abduh, cetakan revisi. Penerbit Pustaka Qaulan Sadida. Hal 104.

[6] HR. Bukhari no 3166 & 6914, lihat Meeka Adalah Teroris hal 237.

[7] Jurnal hal 2, paragraf 2 kalimat terakhir.

[8] HR. Abu Dawud no 490 sanadnya hasan ; Ahmad 2/180,187 ; Daruquthni dan Al Hakim, 1/197. lihat pula di kitab “Bgini Seharusnya Mendidik Anak “ karangan Said Al Maghribi. Terj Darul Haq Jakarta, hal 282.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s