Pemberdayaan Masyarakat dan Kroniknya

Pendahuluan

Berbicara mengenai Pengembangan Masyarakat ( PM ) atau lebih dikenal dengan Community Development adalah ranah keilmuan dan praktek yang sangat luas dan bersifat makro. Sebagai sebuah ilmu PM merupakan metode yang berada pada tataran praktek. PM juga merupakan khasanah praktek dan teori yang menekankan pada sisi seorang community worker dengan daerah binaannya. PM bekerja dengan memiliki program-program jangka panjang dan jangka pendek yang tersusun dalam draft-draft renstra (rencana strategis). Pelaksanaan program-program yang ada diarahkan nantinya untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat setempat, agar dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan lingkungannya secara mandiri dan berkelanjutan.[1]

PM meliputi berbagai pelayanan sosial yang berbasis masyarakat mulai dari pelayanan preventif hingga kuratif, PM juga mengarahkan mayarakat dengan metode bimbingan dan pelayanan yang bersifat aksi reaktif dan partisipatif yang nyata di lapangan. Pada makalah ini penulis menyoroti tataran PM dalam sebuah definisi, ilmu-ilmu yang menunjang berdirinya PM dan segala hal yang nantinya diharapkan bermanfaat bagi pembaca yang menginginkan sajian tersendiri tentang wawasan PM. Akhir kata penulis meminta maaf bila masih terjadi kekurangan disana-sini sebab pengerjaan yang sangat cepat dan memohon maaf pula bila adanya perbedaan antara teori yang dijabarkan dengan praktek yang ada di lapangan. Selamat membaca.

Sejarah Munculnya PM[2]

Pengembangan masyarakat telah menjadi suatu khasanah keilmuan saat ini yang bersifat implisit untuk diterapkan pada suatu komunitas masyarakat, atau juga terkadang bersifat eksplisit, menyentuh pada tataran usaha bersama, sebuah kemauan untuk hidup lebih baik, dan memiliki latar belakang sejarah secara keseluruhan untuk sebuah pengalaman.

Sejarah perjalanan khasanah keilmuan PM ini didasari oleh pemikiran dari Robert Owen ( 1771-1851 ) yang merupakan seorang pemikir sosial. Ia merumuskan sebuah gagasan yang mengacu kepada Perencanaan Masyarakat. Sebelumnya gagasan-gagasan tentang hal ini seringkali dihembuskan dan dikampanyekan oleh kalangan kaum utopis yang pernah pula melakukan perencanaan secara konsekuen dan penting pada masa tahun 1920 dan 1930 di Afrika Barat. Dimana gagasan-gagasan itu digunakan oleh kaum utopis yang ada untuk melawan kekuasaan mutlak pihak kolonial, sehingga menyebabkan dibutuhkannya sebuah usaha penguatan dan pengarahan yang menjadikan masyarakat terjajah menjadi memiliki jiwa perlawanan dan pengkoordinasiaan terhadap kekuatan-kekuatan yang ada saat itu.

Lantas, ide-ide ini diadopsi oleh Mohandas gandhi dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisasi Inggris saat itu dengan memperkenalkan sebuah pergerakan bernama Swaraj. Yang mengorganisasi kekuatan masyarakat untuk melawan ketergantungan elite di India, yang hingga akhirnya India mendapatkan kemerdekaannya dari tangan Inggris.

Hingga akhirnya pada masa kini format PM telah merambah kepada isu-isu yang bersifat global dan makrodisipliner. Semua tema-tema tentang kemiskinan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, kekerasan, dll. Merupakan objek ranah pekerjaan para community organizing.

Definisi dan Karakteristik PM

Pengembangan Masyarakat adalah salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial.[3]

PM dapat pula didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya.[4] Sedangkan menurut Twelvetrees, PM adalah usaha dalam membantu orang biasa untuk meningkatkan lingkungannya dengan melakukan aksi kolektif.[5]

PM juga diartikan lebih dari sekedar pengembangan ekonomi, melainkan PM adalah usaha untuk membangun lingkungan pada tingkatan lokal dengan penekanan pada peningkatan pembangunan ekonomi, penguatan dan pemantapan sosial, dan pengembangan sektor non-profit.[6]

PM juga didefiniskan dengan sebagaimana asal katanya, yakni pengembangan masyarakat, PM terdiri dari dua konsep, yaitu “pengembangan” dan “masyarakat”. Secara singkat, pengembangan atau pembangunan merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya.[7]

Definisi PM yang lainnya ialah sebuah terminologi yang bersifat luas pada tataran praktek dan di aplikasikan oleh para praktisi dan akademisi pemimpin sipil, aktivis, pembangun peradaban, para profesional, demi satu tujuan untuk melakukan penguatan aspek lokal yang dimiliki oleh masyarakat tersebut dengan penggalian potensi yang ada secara mandiri.[8]

Dengan menggunakan kerangka teoritis yang diajukan oleh James B. Cook (1994), konsep community development tetap memiliki karateristik utama, yakni:[9]

1. Fokus hanya kepada komunitas saja;

2. Kesadaran membuat dorongan perubahan struktural, bukan melawannya;

3. Menggunakan pekerja professional;

4. Diawali oleh grup/ kelompok, agen, atau institusi luar untuk unit komunitas;

5. Menekankan partisipasi publik;

6. Partisipasi dengan maksud untuk menolong diri sendiri;

7. Menumbuhkan ketergantungan untuk demokrasi partisipatif sebagai moda untuk pembuatan keputusan komunitas; dan,

8. Menggunakan pendekatan holistik.

Twelvetrees membagi perspektif teoritis PM ke dalam dua bingkai, yakni pendekatan professional dan pendekatan radikal. Pendekatan professional menunjuk pada upaya untuk meningkatkan kemandirian dan memperbaiki system pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-relasi sosial. Sementara itu, berpijak pada teori struktural neo-Marxis, feminisme dan analisis anti-rasis, pendekatan radikal lebih terfokus pada upaya mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial yang ada melalui pemberdayaan kelompok-kelompok lemah, mencari sebab-sebab kelemahan mereka, serta menganalisis sumber-sumber ketertindasannya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Payne sebagai sebuah model pendekatan dengan dukungan minoritas masyarakat, sebagai contoh penggambaran perhatian terhadap keseimbangan ketetapan pelayanan. Pendekatan profesional dapat diberi label sebagai pendekatan yang bermatra tradisional, netral dan teknikal. Sedangkan pendekatan radikal dapat diebri label sebagai pendekatan yang bermatra transformatif.[10]

PM juga memiliki definisi peningkatan kesejahteraan sosial, ekonomi dan kondisi budaya disebuah desa atau di kota kecil.[11] Atau juga dikatakan sebagai proses usaha dari beberapa orang dalam suatu komunitas untuk meningkatkan kondisi ekonomi, sosial dan kondisi kebudayaan dengan melalui campur tangan pemerintah untuk mencapai kesatuan kesejahteraan.[12]

PM dan Ilmu Pendukungnya

Tentunya PM bukanlah suatu khasanah wawasan dan keilmuan yang berdiri sendiri, namun PM adalah bagian dari penjabaran makro dan berasal dari multidisiplin keilmuan. PM ditunjag dengan ilmu-ilmu dasar yang menyumbang lahirnya dan berbagai konsep yang ada pun ditunjang dengan dukungan dari ilmu-ilmu tersebut. Ilmu-ilmu yang dimaksud diantaranya dijelaskan dibawah ini :

a. Sosiologi

Tak dipungkiri bahwa ilmu ini juga turut memiliki sumbangan besar bagi konsep PM ini. Sosiologi adalah ilmu yang memiliki disiplin intelektual yang secara khusus, sistematis, dan terandalkan mengembangkan pengetahuan tentang hubungan sosial manusia pada umumnya dan tentang produk dari hubungan tersebut (Hoult, 1969).[13]

Definisi sosiologi yang dapat diambil dalam konteks ke-Indonesiaan sebagaimana yang ditegaskan oleh Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, misalnya, mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok, serta lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama.[14]

Sosiologi sendiri memiliki definisi yang sejalan dengan masyarakat dan sangat berkaitan dengan aksi-partisipasi masyarakat sebagai konsep dasar PM, hal ini sebagaimana dalam artian bahwa sosiologi mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat, tidak sebagai individu yang terlepas dari kehidupan masyarakat. Fokus bahasan sosiologi adalah interaksi manusia, yaitu pada pengaruh timbal-balik diantara dua orang atau lebih dalam perasaan, sikap, dan tindakan.[15]

Korelasi yang pas antara ilmu sosiologi ini dengan PM adalah adanya sebuah keterikatan yang bersifat sinergis diantara keduanya. PM merupakan ranah praktek dari penerapan teori-teori yang dikemukakan oleh para sosiolog. Dikarenakan fokus bahasan sosiologi adalah perhatian pada hubungan timbal balik diantara manusia dan anggota masyarakat dilingkungannya.

PM memiliki tugas untuk menjaga hubungan timbal balik itu dan memberikan penguatan kepada setiap anggota masyarakat untuk memaksimalkan potensi yang ada dan lebih bisa memecahkan masalah yang ada antar komunitas tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Mayo bahwa masyarakat itu sendiri edapat diartikan dalam dua konsep[16] :

  1. Masyarakat sebagai sebuah ‘tempat bersama’, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan.
  2. Masyarakat sebagai ‘kepentingan bersama’, yakni kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus (anak cacat fisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan.

b. Antropologi

Kita sama-sama memahami bahwa antropologi merupakan khasanah keilmuan yang lebih memfokuskan perhatian pada tingkah pola manusia terhadap kebudayaan dan peradaban. Antropologi pun ternyata memiliki sumbangan yang signifikan dalam menjadi pondasi bangunan bagi PM.

Ilmu antropologi yang pada mulanya merupakan ilmu tentang evolusi manusia, masyarakatnya serta kebudayaannya, dan kemudian ilmu tentang sejarah persebaran kebudayaan-kebudayaan manusia di muka bumi, sering dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang bersifat praktikal.[17]

Ilmu antropologi di negara-negara yang sedang berkembang, baik yang diusahakan oleh para sarjana antropologi asing maupun para sarjana dari negara yang bersangkutan, tentu bisa merupakan suatu ilmu dasar yang meneliti masalah-masalah mengenai asas-asas kebudayaan dan masyarakat guna mengembangkan konsep-konsep, metodologi serta teori-teori baru yang lebih seksama dan tajam, tetapi bisa juga merupakan ilmu terapan yang meneliti masalah-masalah perubahan serta pergeseran kebudayaan dan masyarakat dalam masa transisi sosial-budaya.[18]

Antropologi mendasari ilmunya kepada PM lebih kepada permasalahan pembangunan yang dilakukn disetiap negara, contohnya Indonesia. Masalah-masalah yang ditemukan dalam antropologi dan relasinya dengan PM adalah masalah-masalah yang bersifat mendasar dan sangat penting penyelesaiannya, diantara masalah-masalah itu adalah :

  1. Masalah penduduk,
  2. Masalah struktur masyarakat desa,
  3. Masalah migrasi, transmigrasi, dan urbanisasi,
  4. Masalah intergrasi nasional,
  5. Masalah pendidikan dan modernisasi.

Dimana yang sama-sama kita ketahui bahwa kelima masalah itu juga merupakan fokus perhatian para community officer dalam menangani dan menyelesaikan kasus-kasus yang ada di masyarakat tersebut. Community officer mestilah memahami karakter penduduk setempat dalam tataran praktek penjalanan programnya, dan pengenalan karakter itu tentulah tak lepas dari pengamatan pola budaya, struktur sosial, adat-istiadat setempat, dan norma-norma yang berlaku di wilayah tersebut. Sehingga di sisi inilah peranan ilmu antropologi sangat menunjang dalam aplikasi program pemngembangan masyarakat.

Setidaknya antropologi juga memiliki pendekatan-pendekatan dalam memahami dan memecahkan suatu problema yang ada di masyarakat. Bidang antropologi tersebut, disebut juga dengan antropologi terapan. Metodologi pendekatan yang khusus itu adalah : (1) pendekatan masalah secara holistik, (2) pendekatan masalah secara mikro, dan (3) pendekatan masalah secara komparatif.

Pendekatan secara holistik selalu mencoba meneliti suatu masalah sosial budaya dalam rangka kehidupan masayrakat sebagai kesatuan menyeluruh. Metodologi holistik dikembangkan oleh ilmu antropologi, waktu ilmu itu masih dalam fasenya terutama meneliti masyarakat pedesaan kecil.

Pendekatan secara mikro adalah konsekuensi lebih lanjut dari penelitian-penelitian terhadap komuniti desa atau masyarakat kecil dalam waktu yang lama.

Sedangkan metodologi komparatif adalah metodologi pendekatan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan antropologi. Salahsatu metodenya adalah cross cultural method. Dalam hal nitu dipergunakan satu atau beberapa gejala sosial-budaya yang berkaitan erat dibandingkan dengan gejala-gejala yang serupa dalam suatu sampel yang cukup besar dari kebudayaan-kebudayaan suku-bangsa yang tersebar dimuka bumi.[19]

c. Hukum

Hukum pun memiliki sumbangan yang sangat besar bagi PM, ranah hukum memiliki andil besar dalam melakuakan pemberian advokasi kepada masyarakat. Sedangkan advokasi pun merupakan bentuk pelayanan dan bimbingan dari para community officer. Bentuk pelayanan advoaksi yang seringkali dilakukan oleh para community development officer adalah melakukan pembelaan terhadap rakyat korban penggusuran. Tentunya PM tak dapat melakukannya sendiri, melainkan mesti ada bantuan dari lembaga terkait yang bersifat netral dan memihak kepada keadilan dalam melakukan perlawanan dan pembelaan secara hukum.

Pemberian advokasi secara hukum sangatlah membantu kinerja seorang community officer. Dan biasanya pula beberapa lembaga bantuan hukum yang bersifat independen dan non-pemerintah memberikan advokasi sesuai dengan perundang-undangan yang ada, lembaga hukum yang independen itu juga membantu masyarakat untuk bersikap partisipatif dengan melalui perantara community officer.

Diantara wujud partisipasi yang diadvokasi oleh, dari dan untuk masyarakat ialah masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan pada salah satu peraturan perundang-undangan yang akan dibuat seperti terlibat dalam pembahasan rancangan undang-undang atau rancangan peraturan daerah. Dalam membentuk peraturan perundang-undangan partisipasi masyarakat sangat diperlukan. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan tersebut berkaitan dengan sistem, asas, tata cara penyiapan dan pembahasan, tekhnik penyusunan maupun pemberlakuannya.[20]

Demikianlah beberapa sumbangan ilmu-ilmu yang menunjang proses PM di masyarakat, dimana kita mengetahui ternyata terdapat beberapa keterkaitan antara proses PM dengan ilmu-ilmu penunjang lainnya yang mendasari lahirnya dan menjadikan asas tersendiri bagi PM.

Penutup

Pengembangan Masyarakat adalah suatu bidang ilmu yang masih tergolong baru khususnya di Indonesia ini, di usianya yang masih baru masih terlalu banyak konsep-konsep pengembangan masyarakat yang masih meraba untuk menemukan konsep yang sebenarnya dan tepat untuk konteks ke-Indonesiaan.

Terlalu banyak definisi yang diberikan terhadap ilmu baru ini. PM merupakan aspek wawasan makro dan multidimensional. Kajian yang dilakukan PM dalam masyarakat sangat bersifat grounded. Sehingga para community officer dapat belajar lebih di masyarakat tersebut. Setidaknya PM dapat memberikan warna tersendiri pada wacana aspek pemberdayaan masyarakat yang lebih kongkret dan memiliki kepastian. PM merupakan penguatan masyarakat untuk menggali potensi dan minat yang ada, PM memberikan penguatan, pelayanan, pendampingan dan motivasi bagi masyarakat yang dijadikan garapan objek tersebut.

Penulis merasa sangat kurang sekali dalam penyusunan makalah ini terlebih sumber rujukan yang terkesan sangat kurang dan jauh dari harapan, namun semoga setidaknya tulisan ini dapat bermanfaat lebih bagi yang membacanya.

Daftar Pustaka :

Koentjraningrat (penyunting), Masalah-masalah Pembangunan; Bunga rampai Antropologi Pembangunan, Jakarta: LP3ES, 1982

Suharto, Edi. Ph.d, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Bandung: Refika Aditama, 2005

Suhartini, Rr, dkk, Model-model Pemberdayaan Masyarakat, Jogjakarta: Pustaka Pesantren, 2005.

Suyanto, Bagong dan J. Dwi Narwoko (ed), Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta: Kencana, 2006

Hermansah, Tantan dan Asep Usman Ismail. Mengintegrasikan Proses “Community Development”, http://www.tantanhermansah.co.nr

Hadimulyo dan Erfan Maryono (penyunting), Bekerja Bersama Mereka, Jakarta: JARI, 1989.

Berita LBH Jakarta, Nomor 12/ Desember/ 2006.

http://en.wikipedia.org/wiki/Community_development

http://envision.ca/templates/profile.asp?ID=56

http://home.ica.net/~drw/glossc-d.htm

www.polity.org.za/html/govdocs/white_papers/social97gloss.html


[1] Rr. Suhartini, dkk. Model-model Pemberdayaan Masyarakat, hal. 11

[2] Penjelasan ini lebih banyak disadur dari http://en.wikipedia.org/wiki/Community_development

[3] Edi Suharto. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, hal. 37

[4] AMA. Local Authorities and Community Development: A Strategic Opportunity for the 1990s. dalam Edi Suharto. Ibid, hal. 38

[5] Edi Suharto. Ibid, hal. 38.

[6] http://envision.ca/templates/profile.asp?ID=56

[7] Edi Suharto. Opcit, hal. 39

[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Community_development

[9] Tantan Hermansah dan Asep Usman Ismail. Mengintegrasikan Proses “Community Development”, http://www.tantanhermansah.co.nr.

[10] Edi Suharto, Opcit, hal. 40

[11] http://home.ica.net/~drw/glossc-d.htm

[12] www.polity.org.za/html/govdocs/white_papers/social97gloss.html

[13] J. Dwi Naryoko & Bagong Suyanto, ed. Sosiologi; Teks Pengantar dan Terapan, hal. 3

[14] J. Dwi Naryoko & Bagong Suyanto, ed. Ibid, hal 4

[15] J. Dwi Naryoko & Bagong Suyanto, ed. Ibid, hal 4

[16] Edi Suharto, Loccit, hal. 39

[17] Koentjaraningrat (peny), Masalah-masalah Pembangunan; Bunga rampai Antropologi Pembangunan, hal. 3

[18] Koentjaraningrat, Ibid, hal. 6

[19] Koentjaraningrat, Ibid, hal 7-8

[20] Berita LBH Jakarta, Nomor 12/ Desember/ 2006.

3 pemikiran pada “Pemberdayaan Masyarakat dan Kroniknya

  1. terimakasih infonya……
    ini merupakan refleksi bagi semuanya
    agar memanusiakan manusia……….

    sama-sama mas..moga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s