Hendak Kemana Kau Berjalan ??

Layaknya sebuah perjalanan panjang yang tak pernah henti, hidup senantiasa akan terus-menerus diisi oleh berbagai macam bentuk perjalanan. Sebuah perjalanan yang pada hakikatnya telah direntangkan sesuai dengan jatah usia yang telah di takdirkan. Hidup ini bagaikan kafilah panjang yang senantiasa pula berjalan dengan langkah dan derap penuh barisan dan seakan beriringan tanpa sadar.

Liku-liku yang penuh warna tentulah bagian dari sebuah nuansa kehidupan dimana sebuah gambaran panjang akan penuhnya sebuah jalan yang dapat berupa kesedihan maupun kebahagiaan. Seberapa jauhkah perjalanan yang kita tempuh selama ini ? dan seberapa banyakkah jalan-jalan yang telah kita lewati dan lalui, bisa berupa singgahnya kita ataukah mengindahkannya lantas terus berjalan, atau seberapa banyak jalan yang telah kita baca namun lupa untuk mencatatnya, sehingga kita lupa dimanakah letak sebuah warna yang dahulu pernah ingin kita tumpahkan dalam sebuah kehidupan, dan tanpa sadar ternyata kita teringat bahwa di dalamnya penuh dengan kebenaran dan kebaikan. Namun kembali tanpa sadar seringkali kita menganggap itu adalah sebuah kebaikan namun ternyata hal tersebut malah menghempaskan sampan yang kita gunakan dalam kesempitan justru makin membawa kita berada di tengah gelombang kehancuran dan keburukan, wal iyadzubillah.

Penunjuk jalan senantiasa akan seringkali kita temui di sepanjang perjalanan yang pada hakikatnya menawarkan berbagai alternatif tujuan, hal ini tergantung seorang tersebut, kemana dan dimana ia akan memberi keputusan dan mencoba jalan untuk melangkahkannya. Sebagaimana yang lain kehidupan pun senantiasa akan dipenuhi pula oleh dua hal yaitu kebaikan apatah sebuah keburukan.

Silaunya terhadap berbagai macam perhiasan yang menyelimuti kehidupan ternyata kesemuanya menjadikan kelalaian dan berakibat fatal bagi dirinya sendiri, hamba-hamba dunia telah rela menukar akhiratnya dengan kehidupan dunia yang fana. Ia lupa atau bahkan telah sengaja dilupakan untuk senantiasa mengingat Rabbnya. Ia tukarkan kesemuanya dengan kebendaan dunia hanya dengan harga yang sangat sedikit. Padahal seandainya ia mengetahui dan paham mereka pasti lari meninggalkannya bila saja mau sedikit membaca apa yang di firmankan Alloh azza wa jalla.

“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya? “( QS. Al An’am : 32 )

Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya, Ketika Shuhaib pergi menyusul Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam untuk berhijrah, ada beberapa orang Quraisy yang membuntutinya. Mereka berkata pada Shuhaib, “ Dulu kau datang pada kami dalam keadaan tidak punya apa-apa, kemudian kau hidup bersama kami dan mendapatkan harta yang banyak dan kau menjadi seperti sekarang ini. Tahu-tahu kau ingin keluar dengan membawa semua hartamu? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi “

Lalu Shuhaib turun dari tunggangannya, dikeluarkannya anak panah dari tempatnya, seraya berkata, “ Wahai kaum Quraisy, kalian sudah tahu bahwa aku termasuk orang paling pandai memanah diantara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan menyentuhku kecuali akan aku bidik dengan semua anak panahku, kemudian aku akan menebas dengan pedangku ini selama dia berada di tanganku. Ayo lakukan apa yang kalian inginkan ! “

Kemudian Shuhaib setelah itu berkata, “ Bagaimana bila aku tinggalkan semua hartaku untuk kalian, apakah kalian akan membiarkan aku pergi ? “

Mereka menjawab, “ Ya “. Maka Shuhaib pun meninggalkan hartanya untuk mereka. Dan bergegas untuk ke Madinah untuk menemui Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Lantas ketika berada di hadapan Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam, maka beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “ Telah beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya ( kuniyah Shuhaib bin Sinan ). Telah beruntung perniagaanmu hai Abu Yahya. “ dan turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. ( QS. Al Baqarah : 207 ).

Perhatikanlah apa yang telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah shallahu ‘alayhi wa sallam yang mulia ini, sungguh kita temui saat ini kesemuanya telah berbalik jauh.. bahkan sangat jauh sekali, dikala sebagian yang mengaku ummatnya berjalan bukan pada jalan mereka yang mulia ridwanallahu ‘alayhim jami’an. Akankah salah memilih jalan akan berlangsung selamanya, sehingga momentum hidayah yang telah kita miliki dan nikmati dengan cahaya yang bersandar di atas agama yang mulia ini menjadi pudar ketika jalan yang ditempuh itu tidak berada di atas jalan kebenaran yang sesungguhnya.

Sungguh sangat disayangkan sekali, diantara banyak pilihan ternyata episentrum dari sebuah gerakan itu bermuara dari kehendak dan tindakan. Ya !! sebuah kehendak dalam bertindak, dan tindakan dalam berjalan selaras diatas timbangan keputusan yang sesuai dengan keinginan.

“ Maka ( hendak ) ke manakah kamu akan pergi ? “ ( QS. At Takwir : 26 )

Wallahu ‘alam bi shawwab…

Dalam lantunan QS. Al Waqii’ah

Bekasi, 19 Dzulqa’dah 1428 H

Rizki Ibnu Heru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s