Demokrasi Hanya Janji

Seorang orator berteriak lantang didepan para hadirin yang datang disiang terik, ia menyampaikan ratusan visi dan misi yang terselip dalam riuh-rendah suara.Ya, hari itu adalah sebuah ritual layaknya pesta demokrasi. Hari itu adalah kampanye terakhir bagi pasangan calon pemimpin yang punya janji untuk membenahi, membangun, dan tidak lupa satu kata ‘membohongi’.

Demokrasi, takkan pernah dilupakan oleh banyak orang yang telah memahami agama ini dengan sebenar-benarnya. Sistem yang sangat tidak seimbang seringkali beradu dalam tataran realita. Janji manis, hiburan sesaat, makan gratis, hingga pembagian penuh syarat juga menjadi sebuah label tersendiri bagi sistem ini.

Para pemulas bibir berada diatas panggung dengan memegang segenggam microphone yang berharap bayaran atau jatah sekedar uang lelah atau posisi nyaman ketika pasangan nanti terpilih. Ikhlas ?? jangan pernah bertanya tentang arti ikhlas dalam sistem ini, semua bekerja karena kepentingan pribadi yang ditambah dengan seribu mimpi dan janji.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang sebuah realita, sekup yang besar untuk dibahas ditempat yang terbatas. Janji, ucapan yang tepat untuk menggambarkan semua ini. Masih terlihat jelas dan seharusnya mereka yang berfikir dapat mengambil pelajaran dari apa yang pernah terjadi dijalankan. Bak roda berputar dalam sebuah pergulatan politik di negeri kita ini, terlebih arus reformasi menderu jadi satu dan menyesuaikan agar semua seragam. Anggaran yang lebih besar senantiasa disediakan yang kadang memunculkan tema perhelatan rakyat yang rakyat tak banyak terlibat. Sudah menjadi biasa memang momentum seperti ini. Tapi bila kita menilik lebih jauh, ada sisi yang sangat mahal untuk dilupakan bagi mereka sang pemenang.

Janji adalah perkara yang sangat berat, terlebih lagi ketika sebuah janji digunakan untuk meraih massa agar simpati. Memang para pemimpin bukanlah sang penyelamat yang bisa membawa dari keterpurukan kearah fajar baru perubahan. Tapi tidaklah selayaknya menebar janji untuk meraih simpati.

Sebuah ungkapan yang bernama janji, ditengah arus slogan semua calon yang siap berlaga, masing-masing membawa pencerahan padahal menjadi pelajaran ditempat lain bahwa semua itu adalah fatamorgana. Janji adalah hutang, dan cukuplah ia di cap sebagai seorang munafik bila tidak dapat menepati janji yang dulu diucapkan.

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim)

Tepatilah janji engkau saudaraku yang menjadi pemenang sebab Allah berfirman,

“… dan penuhilah janji, Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 34).

Berhati-hatilah dalam berjanji terlebih itu merupakan sebuah hak antara engkau dengan saudaramu muslim yang lain, jangan terlalu mudah mengumbar perkataan janji sebab janji-janji itu akan dimintai pertanggungjawabnya. Jika seorang ibu terhadap anaknya menjanjikan sesuatu dan tidak menepatinya dianggap sebuah kedustaan, lantas bagaimana engkau yang menuliskan janjinya di setiap pamflet, stiker, baliho, dan media reklame lainnya. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Abdullah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: “Pada suatu hari ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan: ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada ibuku: ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan.” (HR. Abu Dawud).

Janganlah menghembuskan janji semu dalam membawa slogan perubahan, berniat melakukan segala perubahan tapi terbatasnya waktu membuat saling menyalahkan. Dengan dalih sebuah kesejahteraan bagi rakyat namun berapa banyak kegagalan yang didapatkan. Tahun demi tahun terus berganti dalam kehidupan sebagai pemimpin. Namun satu langkah pun yang disebut perubahan hanya sampai dipengeras suara lapangan sepak bola empat tahun lalu. Apakah akan datang pertolongan dari Allah sedangkan visi dan misi tidak mengajak rakyat untuk menolong agama Allah, sedangkan janji yang diutarakan tak satupun mengajak para rakyat kepada ketaatan kepada Allah. Bertakwalah saudaraku wahai calon pemimpin yang telah memiliki nomor pilih.

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. “ (QS. Al A’raaf : 96).

“ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. “ (QS. Muhammad : 7).

Maka apakah para calon pemimpin tersebut dapat menjanjikan perubahan terhadap rakyatnya jika ternyata janji yang dihembuskan hanya usai di lisan, jika janji yang dikatakan hanya habis ditulisan sebuah media, jika janji yang dihembuskan tidak karena dasar ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah perlu menunggu 100 hari pertama yang lebih banyak menuai bencana, tidak juga setahun pertama, bahkan hingga habis masa jabatannya semua hanya isapan jempol. Sebab mereka bersiap kembali tuk pemilihan berikutnya.

Siapapun itu terlebih bagi mereka yang membawa label partai Islam dalam mengusung calonnya, hendaklah mereka mencermati bagaimana uswah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berada diatas kepemimpinannya kali itu. Tidak memperkaya diri sendiri bahkan terkadang lebih kekurangan dibandingkan rakyatnya.

Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi penegasan tersendiri yang memberikan manfaat untuk meninggalkan sistem demokrasi tersebut. Mengembalikkan kehidupan kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban. Sedangkan masuk ke bilik suara adalah kemudharatan.

Wallahul Musta’an…

Semoga tidak di cap menyerukan kepada golput

Bukankah dalam demokrasi

Tidak memilih juga merupakan pilihan..

(Bekasi jelang Pilkada, 10 Muharram 1429 H)

Rizki Ibnu Heru

Iklan

4 pemikiran pada “Demokrasi Hanya Janji

  1. Bismillah..
    ”Mengembalikkan kehidupan kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban. Sedangkan masuk ke bilik suara adalah kemudharatan..”
    sebuah kata2 yang bijak…
    tapi bisakah demikian???
    yang sebentar lagi mau pada ikut coblosan pilkada/pilbup…
    baca dulu deh tulisan saudaramu ini….
    barakallohufiikum…

    wafiikum, insya Allah bisa ukhti.. yakinlah terhadap janji Allah terhadap mereka yang istiqomah diatas Al Qur’an dan As Sunnah dengan manhaj yang haq. wallahu ‘alam bi shawwab

  2. “kampuus demokrasi” bicara “demokrasi” yaak ???

    ya lebih baik daripada partai islam bicara demokrasi khan…

    mmmmm…….mmm…mmm…

    coba kalo kasih komentar jangan sambil mengunyah makanan..!

  3. kalo cm di kembalikan kapan mo revolusi???

    hmm…kapan yaa? abisnya dari dulu slogannya revolusi bahkan sekarang berubah jadi reformasi, tetep aja yang miskin tetep miskin, yg kaya tetep kaya..

    buat q gak ada progres tanpa pergerakan!!!

    berapa banyak gerakan yang terjadi tapi hasilnya begitu lagi..

    yg gak ridho ma demokrasi, pahami lg tu demokrasi dan demokratisasi kalo ky gus dur tu mah tirani boz,…… DEMOKRASI HARGA MATI.

    nah salah satu bentuk demokrasi adalah, menghargai aspirasi dan apresiasi seseorang, salah termasuk tulisan ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s