Kejujuran Yang Telah Hilang

Ada yang telah hilang dari sebuah budaya, ada yang telah lekang dari sekedar kebiasaan yang pernah menyapa, bahkan nilai itu telah sirna seiring-sejalan dengan banyak badai keterpaksaan yang mungkin kadang menerpa. Balutan baju kejujuran kini telah dinafikan, menjadi seonggok bagian yang dilematis tuk diterapkan dalam kehidupan di bumi pertiwi ini. Dalam benak orang kebanyakan hanya orang gila saja yang saat ini mau hidup dalam kejujuran, slogan siapa jujur menjadi mujur telah luntur dan berubah bersamaan dengan berganti siapa jujur dia tercebur..

Kebanyakan orang telah kehilangan sebuah talenta kejujuran yang dahulu mungkin diajarkan oleh seorang guru dibangku sekolah ketika pelajaran agama atau sekedar pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Keteladanan dalam nilai kejujuran menjadi hilang berganti krisis penuh kemunafikan. Dalam diam, dilorong sempit tak bertepi itulah tempat bagi kejujuran saat ini. Bukanlah dalam keramaian dan menjadi pembeda seperti dahulu saat kedustaan belum merajalela.

Dalam kehidupan ini keduanya; yaitu kedustaan dan kejujuran, sama-sama memliki teladan. Kita mungkin pernah mengenal siapa orang jujur itu yang kejujurannya diabadikan dalam Al Qur’an bahkan digelari Ash Shiddiq, kita juga seringkali melupakan ingatan tanpa sengaja bahwa ada pula teladan dalam kedustaan bernama Musailamah Al Kadzdzab, atau ternyata menutup mata dari sebuah fakta bahwa kejujuran hanya barang basi yang tak perlu implementasi di belakang kerah baju para orang-orang ‘penting’ di bumi pertiwi ini. Ketika kejujuran ditertawakan, ketika kedustaan diberikan tepukan maka inilah hakikat dari perubahan yang berganti secara regresif, polos namun dalam maknanya.

Padahal seandainya mau mengetahui dan memaknai banyak khasanah dalam Kitabullah dan Sunnah yang menekankan akan arti penting sebuah kejujuran sekaligus balasan dari kejujuran. Maka sebagian orang yang merasa hidup dalam kedustaan tiap harinya, tentulah akan lebih banyak berkemas tuk menyelamatkan dirinya dan menggapai seperti apa yang dikatakan oleh seorang yang mulia rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Umamah radhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah rumah dalam taman Surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan, meskipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun bergurau, dan rumah di Surga tertinggi bagi yang akhlaknya terpuji” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits yang lain beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan kebajikan menuntun ke arah Surga; seseorang senantiasa jujur sehingga ia tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Kedustaan itu menuntun kepada perbuatan dosa, sedangkan perbuatan dosa itu menuntun ke arah Neraka; seseorang senantiasa berbuat kedustaan sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari)

Ada kisah yang sangat menarik dalam lembaran sejarah apresiasi kejujuran, peranan ini dikisahkan oleh Abu Imran az-Zajaji. Ibunya yang telah wafat meninggalkan warisan padanya sebuah rumah, lantas rumah itu ia jual dengan harga lima puluh dinar untuk menunaikan ibadah haji. Tatkala dia berada disuatu tempat, seorang pembegal (perampok) menghadang dan menanyakan, “apa yang kamu bawa?“

Berkatalah Abu Imran dalam hatinya bahwa ‘jujur itu lebih baik’, lantas ia pun menjawab bahwa dirinya memiliki uang lima puluh dinar.

Pembegal tersebut mengatakan, “bawa kemari harta itu !!“. Abu Imran lantas menyerahkannya kepada seorang pembegal tersebut. Pembegal menghitungnya hingga sampailah pada sebuah perkataan benar dari Abu Imran yang hanya ada lima puluh dinar dalam kantong tersebut.

Namun pembegal justru memberikan kembali kantong berisi uang dan mengatakan “ambillah !! karena kejujuranmu telah menyentuh hatiku”. Pembegal pun turun dari kendaraannya dan mengajak Abu Imran tuk naik ke atas kendaraan tersebut, maka ia pun menjawab “tidak”.

Pembegal pun memaksa sembari mengatakan “anda harus naik” seraya mengisyaratkan matanya kepada Abu Imran untuk naik. Lantas ia pun menaikinya dan si pembegal mengatakan ”aku akan mengikuti jejakmu”. Abu Imran mengisahkan tatkala pada tahun depannya, ia (si pembegal) menemuiku dan selalu bersamaku hingga meninggal dunia. (Ithaf as-Saddah al-Mutaqin, yang dikutip dari Manajemen Hati, Dr. Muhammad Asy Syarif. Penerbit Darul Haq Jakarta).

Kejujuran yang menyentuh seseorang untuk berubah, ada moment yang sudah ditakdirkan bahwa segala sesuatu ternyata dapat juga berubah dengan sebuah sikap yang sangat mudah tapi sulit unuk saat ini. Hanya orang bodoh dan gila saja mungkin yang mau melakukan seperti Abu Imran diawal.

Sungguh sejatinya kejujuran bisa membuahkan teladan sekalipun yang melakukan tidak pernah mengecap bangku pendidikan, namun sungguh kedustaan akan semakin menjadi justru kebanyakan yang melakukan mereka-mereka yang dengan bangga memberikan gelaran tinggi tingkat pendidikan didepan maupun belakang sebuah nama.

Harga yang mahal untuk sebuah kejujuran dimasa sulit seperti ini, “ yang jujur tercebur, yang dusta dibangga “

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar). “ ( QS. At Taubah : 119 )

Tebet, 11 Desember 2007

“ satu jam lagi ada rapat antar konsorsium LSM “

Rizki Ibnu Heru

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s