Masih Ada Harapan

Seorang pria dengan terkulai lemah disebuah rumah sakit elit milik pemerintah, di sebuah kamar VIP Room dikelilingi para pembesuk yang sedari siang hingga malam tak kunjung henti. Ada sebuah kehidupan yang masih punya banyak sisi disela kehidupan-kehidupan orang lain yang berada bersamanya. Sakit yang dideritanya membuat ia tatkala sebelum berada di dalam sebuah kamar tersebut menjadikannya orang yang punya kehidupan serba berada, kekayaan yang serba melimpah, kedudukan yang sangatlah nyaman. Namun kini sakitnya itu telah membuat hilang segala.

Ada segenggam asa yang terkadang banyak menyiratkan motivasi dan harapan tersendiri ditubuh orang yang sedang sakit. Harapan yang menggebu tuk segera kembali menikmati sebuah kesehatan. Kesehatan fisik bahkan lebih dalam lagi yaitu kesehatan jiwanya. Harapan-harapan tersebut seringkali dibisikkan kepada orang-orang yang membesuknya atau kepada keluarganya. “ Bila sembuh saya akan begini…., bila sehat saya akan segera begitu…, bila semua berjalan dengan baik dan sesuai apa yang diharapkan saya ingin…” dan macam ragam ungkapan-ungkapan harapan yang menjadi sebuah azzam (tekad) tersendiri. Bukanlah terjadi pada mereka yang sakit namun ini pun terjadi juga kepada mereka yang seringkali tertimpa bencana, nestapa, duka, dan lara.

Berbicara mengenai harapan, seorang ulama besar yang tidak diragukan lagi keilmuannya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah di dalam bukunya Al Jawabul Kaafi Liman Sa’aala ‘Anid Dawa’isy Syafi’ mengatakan bahwa sebuah harapan itu haruslah memenuhi tiga syarat. Pertama, syarat dari sebuah harapan itu ialah ia mencintai apa yang diharapkannya tersebut. Kedua, ia akan merasa khawatir dan gelisah bila harapan yang diinginkannya itu tak bisa didapatkannya. Ketiga, ia akan berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkannya tersebut dengan segenap daya dan upaya.

Itu adalah mahligai harapan yang digambarkan oleh seorang ilmuwan Islam murid seorang Syaikhul Islam. Sebuah harapan yang sejatinya hendaklah diniatkan untuk sebuah kebaikan, sebuah harapan tersebut hendaklah pula sesuai dengan kemampuan yang mengharapkan. Dan sebuah usaha maksimal untuk berusaha mendapatkannya.

Ada banyak sisi dari sebuah pengharapan yang bisa kita dapatkan. Sebab sebuah ibadah juga harus terlengkapi oleh dua hal, selain khauf atau takut apabila ibadah tersebut tertolak, dan raja’ atau pengharapan agar ibadah tersebut diterima. Keduanya harus berjalan selaras. Bila hanya memusatkan pada khauf saja maka tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum khawarij, sedangkan bila raja’ saja maka itu adalah persendian dari mereka para murji’ah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Wahai Anak Adam, Sesungguhnya selama kamu bermohon kepadaKu dan ber-raja’ kepadaKu, Aku pasti mengampunimu atas segala keadaanmu dan Aku tidak peduli. Wahai Anak Adam, kalaulah dosa-dosamu mencapai langit kemudian kamu memohon ampunan kepadaKu, niscaya Aku mengampunimu. Wahai Anak Adam, jika sekiranya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa atau kesalahan sebanyak isi bumi tetapi kamu tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan keampunan sebanyak isi bumi pula.” (HR. At Tirmidzi, hasan gharib).

Maka sudah sepantasnyalah harapan-harapan yang ada sebaiknya ditujukan kepada sebuah harapan yang memiliki nilai, harapan yang memiliki sisi manfaat. Bukan harapan hampa terlebih harapan yang memiliki substansi kemaksiatan.

Susunlah nilai harapan yang diinginkan, selaraskanlah dengan jalan-jalan menuju pencapaian dari harapan-harapan tersebut, bergegaslah untuk segera menggenggam hasil dari harapan itu, dan berdoalah agar dimudahkan mendapat apa yang diharapkan.

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59)

Iklan

3 pemikiran pada “Masih Ada Harapan

  1. aJii..

    maknanya mengena bgd.

    hmm gitu yaaa. walhamdulillah

    berharap lah. slama kita masih mampu tuk berharap.
    *kata ms syarif dulu waktu d Sby.

    hmm…

    waw ahmad syarif yaa.. bolehlah itu dengan perkataannya..

    moga orang yang di ceritakan aJi, diberi Alloh kemudahan
    disaat terakhirnya..

    orang yang dicerita hanyalah untuk memperkuat nilai sebuah tulisan.. cuma kalo ada di dunia nyata semoga sesuai dengan apa yang kau doakan.

  2. Assalamu’alaikum akhi, salam kenal.Ana zaki dr bekasi jg. Ana senang bahasa yg ant gunakan akhi..! Ada tulisan ttng “cinta” ndak?! Hmmm… Ana uhibbuka fillah..! Ana add ym nya ya…

    wa’alaykumsalam warahmatullah, wah salam kenal juga mas zaki. bahasa saya? makasih deh. tentang cinta, sebagian besar bisa kamu klik di web yang saya menjadi kontributor didalamnya, tapi Insya Allah akan saya pindahkan juga.

    webnya di klik aja ke: http://www.sobat-muda.com, ahabbakallohuladzi wa ahbabtani lahu, silahkan di add saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s