Jalin Ukhuwah Untuk Kejayaan Ummat

Pendahuluan

Islam adalah sebuah agama yang berada diatas kebenaran, sebuah agama yang menawarkan dan memberikan kemudahan bagi para pemeluknya. Islam pula adalah agama yang telah sempurna sebagaimana yang Allah firmankan :

“….Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah : 3).klik selanjutnya biar tidak membingungkan

Dari ayat tersebut dengan serta-merta menegaskan bahwa kesempurnaan Islam adalah mutlak, dan Allah telah mengutus Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah nubuwwah yang mulia, risalah yang telah disempurnakan dan tidak ada lagi risalah setelahnya. Sehingga semua urusan seorang muslim telah dijaga dan diatur oleh Islam sampai urusan buang air, seandainya setiap muslim mau mengembalikan kehidupannya kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan terang benderang, malamnya bagaikan siang, tidak ada orang yang sesat darinya melainkan orang yang binasa.” (HR. Ahmad).

Begitulah Islam, sebuah agama yang berbeda dengan agama lainnya. Agama yang telah sempurna dan berada diatas kebenaran. Jika hal yang dalam skala kecil pun diatur oleh Islam tak terkecuali dengan hal yang besar seperti ukhuwwah. Tanpa disadari bahwa nuansa kejayaan Islam yang pernah ada hingga mencapai masa keemasannya banyak menorehkan nilai-nilai pelajaran berharga. Kejayaan dan keemasan yang sungguh sangat memberikan kehebatan di muka bumi dan membuat ciut nyali para musuh-musuh Islam ketika itu. Masa yang juga membuat ukhuwah antar sesama kaum muslimin terikat erat dalam satu barisan, dalam satu manhaj, dan dalam satu pemahaman diatas satu kebenaran. Masa-masa itu adalah masa generasi tiga kurun waktu yang utama yaitu mereka yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadist, “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam memberikan keterangan tentang lafadz zamanku tersebut, penulis kitab Lau Kaana Khairan Lasabkuunaa Ilaihi memberikan komentar bahwa yang dimaksud ialah yang hidup di zaman para Shahabat, kemudian generasi kedua Tabi’in dan generasi yang ketiga Taabi’ut Taabi’in, inilah generasi terbaik dari umat ini yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan sebagai sebaik-baik manusia dan mereka inilah yang kita kenal dengan nama salafush shalih. Kaum muslimin apabila ingin memperoleh kebahagiaan, kebaikan dan kemenangan dunia dan akhirat wajiblah bagi mereka di dalam beragama mengikuti tiga generasi terbaik diatas.[1]

Maka di pembahasan ini, pada makalah yang sangat sederhana dan jauh dari bobot ilmiah sebuah tulisan yang dapat memuaskan dahaga ilmu tentang hakikat sebuah ukhuwwah. Sebuah tulisan yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan karya tulis milik para ‘ulama dan orang ‘alim lainnya. Namun penulis berharap makalah ini dapat memberikan sebuah manfaat tersendiri bagi kaum muslimin yang membacanya. Tema yang diangkat adalah Ukhuwwah Membangun Kemandirian Ummat, semoga tulisan ini setidaknya dapat menjadikan pemberat bagi penulis di hari yang tak ada lagi pemberat melainkan amalan-amalan baik yang dikerjakannya.

Definisi Dan Makna Ukhuwwah[2]

Kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari akhun (أخو ) artinya berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya karena persusuan. Lalu kata ini dipakai untuk perserikatan, persaudaraan kabilah, agama, hubungan antar manusia, kasih sayang, dan keperluan lainnya. (Mufradat Alfazhil Qur’an, Al Allamah Ar Raghib Al Ashfahani, hal. 68).

Atau dengan bahasa lain ukhuwah menurut bahasa ialah saudara sekandung, sebapak, seibu, atau saudara persusuan. Lalu digunakan istilah ini untuk kepentingan lain, persaudaraan antar negara, antar suku, kabilah, desa, partai, dan desa lainnya.

Dalam Islam permasalahan ukhuwwah pun memiliki urgensi nilai tersendiri yang sangat kuat dampaknya bagi kejayaan Islam hingga keshalehan seseorang. Tentang hal ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat : 10 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata ketika menafsirkan ayat ini, yaitu ukhuwah disini adalah ukhuwah sesama mukmin, karena orang mukmin disifati oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan, “Perumpamaan orang mukmin di dalam kasih sayang mereka, belas kasihan mereka, kelembutan mereka seperti satu badan.” (HR. Muslim, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/419).

Penafsiran ini juga sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Jarir Ath Thabari di dalam Tafsir Jami’ul Bayan fii Tafsiril Qur’an, beliau rahimahullah berkata bahwa Alloh azza wa jalla menjelaskan bagi orang yang beriman kepada-Nya bahwa orang mukmin itu bersaudara karena agamanya, maka hendaknya mereka memperbaiki saudaranya bila mereka bertengkar dan hendaknya meluruskan mereka dengan hukum Allah.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan putus hubungan antara orang mukmin dengan orang kafir (bara’), demikian pula dalil sunnah memberi hukum yang sama. Sedangkan, Al Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata bahwa kata ukhuwah itu umum yang kadangkala untuk ukhuwah Islamiyah seperti surat tersebut. (Ahkamul Qur’an 1/273 dan Al Mabsuth oleh As Sarakhsi 7/68).

Lihatlah, betapa agungnya ukhuwah yang dilandasi dengan semangat ukhuwah Islamiyyah, namun yang perlu diperhatikan disini hendaknya belumlah cukup dia sebagai seorang muslim (bukan berarti mengeluarkannya dari Islam) dalam bersama menjalin ukhuwah tanpa memperhatikan kriterianya. Tetapi yang harus dan sangat penting untuk ditekankan disini ialah seseorang harus mentauhidkan Allah dengan benar yang dalam artian membersihkan dirinya dari segala noda-noda kotoran perusak akidah, ia pun juga haruslah orang yang memahami dan menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya dan cara yang benar sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, yang dengan mereka-mereka itulah kita harus bahkan wajib bila terdapat kesemua tersebut bagi seorang muslim lainnya untuk menjalin ukhuwwah dengannya, bukan dengan seorang muslim yang lebih cenderung kepada kekufuran dan dapat membawa saudaranya kepada keburukan dan kerusakan. Mereka-mereka yang shalih itu adalah sebagaimana yang Allah firmankan :

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang Mengetahui.” (QS. At Taubah : 11).

Itulah selayaknya makna dari ukhuwah yang harus ditekankan oleh setiap muslim, sepantasnyalah mereka saling bersatu dan tolong-menolong diatas kebaikan, saling bersama diatas ketakwaan, sebagaimana yang Allah azza wa jalla berfirman :

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah : 2)

Menyatukan Ukhuwah Diatas Sunnah

Setelah di beberapa pemaparan sebelumnya kita membaca tentang definisi dan makna ukhuwah yang dijelaskan oleh penjelasan para ‘ulama, maka sudah sepantasnyalah pula menilik lebih dalam dan lebih jauh lagi tentang sebuah ukhuwah dan hakikatnya. Sebuah ikatan ukhuwah antar sesama muslim yang khair (baik) bukan muslim yang fajir (buruk).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau tidak sedap” (HR Bukhari dan Muslim).

Itulah sebuah bentuk ukhuwah yang terjadi diantara satu orang muslim dengan muslim lainnya, tergantung bagaimana dan dengan siapa kita menjalin tali ukhuwah tersebut. Belumlah disini membahas tentang ukhuwah diantara kaum muslimin dengan konteks yang lebih luas dan lebih besar. Namun ada hal yang perlu dipetik dari hadits diatas bahwa, inilah hakikat ukhuwwah yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dengan penuh peringatan dan nasihat yang harus dicamkan kepada setiap muslim.

Sejarah telah mencatat kisah-kisah hebat tentang ukhuwwah, kisah-kisah tersebut lebih diantaranya seperti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatukan suku Aus dan Khazraj setelah pertikaian sengit dan konflik diantara mereka yang sampai ratusan tahun, peristiwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, kisah tentang ikatan hati yang didorong rasa persaudaraan seorang Abu Bakar ketika membebaskan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhuma, kisah seorang Abu Thalhah radhiyallohu ‘anhu yang rela keluarganya menahan lapar untuk tidak makan semalaman karena harus menjamu tamu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga Allah menurunkan sebuah ayat tetang hal tersebut. Dan masih banyak lagi torehan yang dapat dibaca dengan seksama di dalam kitab-kitab sejarah dan perjalanan para ummat terbaik dalam menggalang ukhuwwah Islamiyyah.

Wajib bagi setiap muslim untuk menyandarkan seluruh hidupnya tunduk dan patuh terhadap syari’at Islam, tunduk terhadap kitabullah dan sunnah dimana apabila berpegang teguh dengan keduanya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang selama-lamanya kamu tidak akan pernah tersesat selama kamu berpegang dengan keduanya (yaitu): Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik). Maka perhatikanlah bahwasanya asas bagi setiap muslim adalah mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dalam berbagai perkara kehidupan. Tak terkecuali ukhuwwah. Sebab ukhuwah yang terbaik adalah ukhuwwah Islamiyah diatas akidah ash-shahihah sehingga menjadikan nantinya ukhuwah imaniyah diatas sunnah.

Hendaknyalah bagi setiap muslim mencontoh generasi terbaik dalam merapatkan tali ukhuwwah diantara mereka dengan berlandaskan akidah yang shahih dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan disertai pemahaman para shahabat ridwanallohu ‘alaihim jami’an.

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Bila dalam hal sholat dan haji saja Rasulullah menekankan setiap ummatnya untuk mengikuti beliau sebagaimana hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Contohlah cara manasik hajiku” (HR. Muslim). Sedangkan hadist lainnya menjelaskan “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Itulah dalam bentuk kecil bahwa segala hal ada sunnahnya dan hendaklah kita menyandarkan kesemuanya kepada hal-hal yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dengan kata lain dapat kita ambil sebuah perumpamaan “jalinlah ukhuwwah diantara sesama kaum muslimin sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjalin ukhuwwah diantara muslimin kala itu.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud dari “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Nasa’i, “… hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.”[3]

Shalat Berjama’ah Rekatkan Ukhuwah

Ada sebuah sunnah yang hampir hilang dari kehidupan kaum muslimin umumnya dalam keseharian, sebuah sunnah yang sangat tinggi nilainya terlebih bagi siapa saja yang menginginkan persatuan dan kesatuan ummat. Bukanlah sebuah sunnah tersebut sangat sulit untuk dijalankan, namun yang ada adalah sunnah tersebut sangat malas untuk dilaksanakan oleh kebanyakan orang masa ini.

Sunnah tersebut bernama shalat berjama’ah, seandainya kaum muslimin mau mengerti dan memahami kandungan dan nilai-nilai dalam shalat berjamaah niscaya kebanyakan orang akan berusaha untuk melaksanakannya demi sebuah persatuan. Shalat berjamaah mengajarkan nilai-nilai ukhuwah kaum muslimin yang dimulai dengan panggilan adzan tanda kepatuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hingga berada dalam barisan dengan satu komando oleh imam.

Lihatlah dari mulai merapatkan shaf sebelum memulai shalat sampai gerakan yang bersamaan tersebut untuk bersama menyembah Allah subhanahu wa ta’ala telah membuktikan bahwa shalat berjamaah merupakan miniatur ukhuwah Islamiyyah. Bukankah seringkali kita mendengar ada perkataan “seandainya jumlah shalat subuh kaum muslimin sama dengan jumlah shalat jum’atnya, maka kaum kafir tinggal menunggu kehancurannya”

Dalam shalat berjama’ah terjalin sebuah sarana komunikasi antar satu muslim dengan muslim lainnya, bertemu dan bersua sekaligus bersilaturahmi bersama, dengan tidak membawa atribut kekayaan dunia semua melebur menjadi satu tanpa pembeda. Namun sayang hal ini telah ditinggalkan dan seakan hanya menjadi foto dalam sebuah album kenangan.

Padahal shalat berjamaah yang rajih (kuat) merupakan sebuah kewajiban bagi setiap pria, bukanlah fardhu kifayah. Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits akan membakar rumah orang yang tidak berjamaah, seorang buta yang tidak memiliki penuntun namun ia mendengarkan adzan, tidak ada satu pun sahabat yang meninggalkan shalat berjamaah dan cap munafik bagi mereka yang meninggalkannya, bahkan pendapat yang paling keras dari madzhab dzhahiriyah adalah ia tidak diterima shalatnya karena tak berjamaah. (silahkan membaca kitab Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz).

Perhatikanlah hadits tentang merapatkan shaf ini, sebuah hadits yang memiliki nilai sangat tinggi bagi ikatan ukhuwah kaum muslimin, Dari An Nu’man bin Bisyr radhiyallohu ‘anhu ia berkata: Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan shaf-shaf kami seolah-olah beliau meluruskan tangkai anak panah sampai kami melihat kami diikat padanya. Kemudian pada suatu hari, beliau berdiri hampir memulai takbir, lalu beliau melihat dada seorang sahabat yang menonjol dar shaf, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian, atau (kalau tidak), Allah benar-benar menjadikan wajah-wajah kamu berbeda-beda.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Sungguh itulah sebuah potret ukhuwah dari hal yang kecil yakni shalat berjamaah, dalam hadits lain disebutkan. Dari Umar radhiyallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tegakkan shaf-shaf, luruskan antara bahu-bahu, penuhilah yang kosong, dan bersikap lemah-lembutlah kepada saudaramu, janganlah kamu biarkan celah-celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menjalin hubungan dengannya dan barangsiapa memutus shaf, tentu Allah memutus hubungan dengannya.” (HR. Abu Daud).

Nilai-nilai yang agung dalam shalat berjamaah hendaknya dilestarikan dan dikerjakan oleh seluruh kaum muslimin yang menghendaki kejayaan ummat, persatuan ummat, apalagi kemandirian ummat. Nilai kemandirian yang sangat besar sangat terlihat bahwa ketika itu seorang muslim hanya bergantung terhadap Allah subhanahu wa ta’ala di saat ia memulai takbiratul ihram hingga salam di bawah komando imam. Bukanlah persatuan dan kesatuan yang mengumpulkan massa untuk berdemonstrasi namun lupa dan lalai terhadap menegakkan shalat berjamaah yang menjadi sunnah. Bukankah kita senantiasa berkata galang persatuan, namun mengapa ucapan tidak sesuai dengan perbuatan yaitu meninggalkan aspek yang paling utama shalat berjamaah. Bukankah kita tidak ingin Allah memutuskan hubungan dengan kita ?

Maka apakah nantinya kita dapat menyatukan barisan ukhuwah yang telah terkoyak sedangkan kita pada hakikatnya tidak pernah berkeinginan bersama, bukankah senantiasa kita mengelu-elukan kejayaan ummat sebagaimana kaum yang pernah jaya tapi pada hakikatnya kita malah menjadikan ummat ini dalam kemunduran. Sungguh sangat indah perkataan Al Imam Malik rahimahullah yang dikutip oleh Al Imam Asy Syathibi rahimahullah di kitabnya Al Itisham, yaitu “tidak akan baik generasi akhir ummat ini, sebelum mereka mengembalikan apa-apa yang membuat baik generasi awal ummat ini.”

Mulai Dari Rumah

Tidak dapat disangkal lagi bahwa awal pendidikan seseorang itu berasal dari rumahnya, ia akan tumbuh berkembang pertama kali dan mengenal hal yang belum dimengerti dari rumahnya. Pendidikan rumah memang memiliki tempat yang sangat urgen dalam perkembangan keagamaan dan kepribadian seseorang, bahkan ibu yang bertanggung jawab terhadap anaknya akan senantiasa mendidiknya dengan pendidikan terbaik sebagaimana perkataan “ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya”.

Begitupun dengan kerekatan tali ukhuwah, semestinya harus dibina dan dipupuk sedini mungkin kepada setiap anak-anak muslim, pengajaran yang baik tentang al wala’ (loyalitas) dan bara’ (anti loyalitas) haruslah ditanamkan agar anak memahami kepada siapa harus berafiliasi dan kepada siapa harus menjauhkan diri. Sebab hal ini adalah sesuatu yang sangat penting, adalah tugas seluruh anggota untuk memulia menjalin dan merekatkan tali ukhuwah dalam sekup terkecil dahulu, sesama saudara dan sanak familinya. Juga turut serta berdakwah di lingkungan sekitar dan memakmurkan masjid di setiap hari. Maka bila memulai dari hal yang kecil dan tidak menganggap remeh urusan demikian, konteks ukhuwah akan dapat digapai.

Maka kepada para orang tua hendaklah mendidik keluarganya dengan pendidikan yang terbaik, sebab akan dimintai pertanggung jawaban dari setiap yang dilakukannya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dipinta pertanggungjawabannya.” (HR Bukhori dan Muslim)

Ukhuwah Membangun Ummat

Sudah menjadi sebuah berita yang sangat umum sekali, bahwasanya kaum muslimin telah terpecah dan tercerai-berai dalam banyak bagian dan kelompok. Dan ini merupakan sebuah kepiluan dimana hendaknya mereka yang masih memiliki sedikit saja keimanan di dalam hatinya merasakan kesedihan dan bertekad untuk mengembalikan kejayaan Islam. Kaum muslimin kebanyakan lebih senang untuk meniru adat dan kebiasaan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan kuffar dan musyrikin penyembah selain Allah. Dan ini juga sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kamu akan mengikuti cara-cara orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang dhab (hewan sejenis biawak), pasti kamu akan mengikutinya.” Kami (para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nashara?’. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Maka siapa lagi (jika bukan mereka).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ummat Islam kini sudah menjadi bahan tertawaan, cacian, celaan, dan olokan ummat-ummat lain yang pada hakikatnya mereka adalah ummat yag dimurkai oleh Allah azza wa jalla dan para ahli neraka. Namun disebabkan mereka bekerjasama dengan para syaithan maka senantiasa dapat membuat makar kepada kaum muslimin, menipu kaum muslimin dengan kesenangan-kesenangan dunia hingga lalai dari persatuan ummat dan eksistensi keutamaan Islam. Inilah sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya. ” Salah seorang sahabat berkata; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?” Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. “,bertanya para sahabat: “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati. “ (HR Abu Daud dan Ahmad).

Oleh karena itu kaum muslimin selayaknya harus bangkit, bersegara dan bergegas untuk menyongsong kembali kejayaan Islam. Menyambut era kejayaan Islam dengan menyingkirkan ambisi pribadi, partai, kelompok, suku, dan kebudayaan adat yang telah mengungkung dan memenjarakan ummat dengan pengkotak-kotakan dan klaim-klaim yang sangat jauh dari substansi ke-Islaman. Melainkan sebaliknya bahwa kaum muslimin harus kembali kepada bagaimana ummat di masa kejayaan Islam merapatkan ukhuwwah diantara mereka dan menjadikan Islam jaya diatas segalanya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya.” (HR. Bukhari). Dan ini adalah sebuah pertanda bahwa diantara kaum muslimin harus merapatkan barisannya diatas Islam, diatas kebenaran yang dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan kembali kepada apa yang disebutkan sebelumnya yaitu Kitabullah dan Sunnah.

Dalam riwayat lain disebutkan dari Nu’man bin Bisyr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling cinta dan sayang mereka laksana satu tubuh, jikalau ada satu anggota tubuh yang mengeluh, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan bergadang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah bagaimana sebuah ukhuwah dapat menghadirkan nuansa yang sangat kuat, Rasulullah melakukan perumpamaan dengan menggambarkan sebagaimana bagian-bagian tubuh, yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

Ukhuwah akan dapat berjalan bersama dan meraih kejayaan ummat bila setidaknya di dalam ukhuwah tersebut melengkapi beberapa syarat, diantaranya :

  1. Semua aktifitas hendaknya bertujuan ikhlas mencari ridho Allah sebagaimana dalam QS. Al Bayyinah : 5
  2. Mengikuti manhaj atau cara yang berasal dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lihat surat Ali Imraan : 85
  3. Menjauhi segala bentuk cara baru khususnya dalam hal mendakwahkan ummat kepada Islam, mengembalikan hakikat dakwah bahwa dakwah merupakan taufiqiyyah bukan area ijtihadiyah sehingga para da’i hendaknya jangan melakukan inovasi-inovasi yang tidak pernah disyariatkan, lihat QS. Yusuf : 108
  4. Senantiasa tolong-menolong dalam hal kebaikan dan ketakwaan, dan bekerjasama diatasnya. Bukan justru bersifat kebalikan, lihat QS. Al Maidah : 2
  5. Saling memberikan nasihat diantara kaum muslimin, sebagaimana dalam QS. Al Ashr : 1-3
  6. Bersabar terhadap saudaranya dan tidak menjauhinya bila terjadi sebuah hal yang patut di koreksi. Lihat QS. Adz Dzariyat : 55
  7. Mengembalikan semua perselisihan diatas kitabullah dan sunnah, sebagaimana dalam QS. An Nisa : 49
  8. Lebih mengedepakankan kepada Al Qur’an dan As Sunnah dalam memutuskan dan mengambil kebijakan urusan-urusan, sebagaimana dalam QS. Al Hujurat : 1
  9. Memaafkan saudaranya bila memang salah dan telah bertaubat atas kesalahannya, lihat QS. Al Baqarah : 263

Itulah beberapa poin-poin yang setidaknya dapat memberikan sebuah semangat bagi kaum muslimin untuk mengembalikan ukhuwah diatas sunnah nubuwwah. Sebuah jalan yang apabila dikerjakan dengan kesadaran kolektif demi cita-dita memperjuangkan Islam dan kaum muslimin. Ukhuwah yang dapat membangun kemandirian umat sebagaimana umat-umat terdahulu pernah mengecap manisnya kemenangan, kesejahteraan, dan kejayaan. Sebuah nilai yang lebih tinggi dari sekedar kemandirian. Suatu hal yang merekatkan karena satu kesepahaman dengan berjalan diatas satu kebenaran yang diwariskan oleh seorang tuntunan.

Kembalilah kepada Islam, lepaskan baju-baju yang mengungkung diatas kebodohan, kepartaian, ketokohan, dan kelompok-kelompok lain yang sama sekali tidak disyariatkan. Kembali kepada sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman generasi yang pertama dan utama maka niscaya kemandirian, bahkan kemenangan akan kembali direngkuh ketangan ummat Islam. Tolonglah agama Allah bukan menolong kelompok yang tidak pernah di ridhai oleh Allah, maka kelak pertolongan Allah akan datang. Sebagaimana yang Allah firmankan,

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).

Menuju Masyarakat Rabbani

Panjang memang perjalanan yang akan ditempuh untuk kembali membangun sebuah bangunan yang sudah goyah dan rapuh, butuh banyak usaha dan tenaga yang dapat menyatukannya kembali agar dapat berdiri tegak dan kembali menjulang, namun semua itu akan sia-sia bila kaum muslimin tidak lagi merapatkan kembali barisannya dengan secara bersama. Terciptanya masyarakat rabbani yang banyak didambakan butuh perjuangan dan tidak instan seperti ajang pencarian bakat. Semua kembali kepada ummat muslim secara keseluruhan menegakkan Islam kembali, mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada agamanya yang telah sempurna ini dengan kebenaran mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan amar ma’ruf dengan cara yang tidak mungkar dan melakukan nahi mungkar dengan cara yang lebih mungkar. Maka bersatulah untuk melaksanakan itu semua agar tidak ditimpa adzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak satupun kaum yang terjadi kemaksiatan di tengah-tengah mereka, meskipun mayoritas mereka tidak melakukannya namun juga tidak mencegah kemaksiatan itu, kecuali Allah akan menurunkan adzabnya secara merata kepada mereka.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ada banyak langkah untuk menjadikan suatu kondisi masyarakat ataupun ummat agar maju dan mandiri lantas menjadi masyarakat Rabbani, cara-cara tersebut diantaranya tidak berbeda jauh dengan syarat-syarat menjalin tali ukhuwah sebagaimana paparan diatas. Karakteristik yang dimaksud adalah[4] :

  1. Kemurnian nilai-nilai tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah azza wa jalla, sebagaimana dalam firman Allah “Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (QS. Al Anbiyaa : 25).
  2. Penghambaan diri yang murni kepada Allah, yang menyangkut niat ikhlas lillah semata dan mengikuti tuntunan yang disyariatkan Allah azza wa jalla dan diterangkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnah beliau. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr : 7 )
  3. Saling mengasihi dan menyayangi, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling cinta dan sayang mereka laksana satu tubuh….” (HR. Bukhari dan Muslim)
  4. Saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam “Agama itu adalah nasihat.” Mereka berkata: “Bagi siapa, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi rasul-rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin dan orang umum mereka.” (HR. Muslim).

Itulah beberapa karakteristik masyarakat Rabbani yang merupakan citra ideal masyarakat Islam, sebuah susunan masyarakat yang memiliki keistimewaan berupa karakter rabbani yang melekat pada diri mereka. Adapun masyarakat yang tidak meiliki sebagaimana karakter tersebut maka tidak dinamakan sebagai masyarakat Rabbani, dan mereka tentunya tidak mendapatkan perlindungan maupun pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga sebuah ikatan ukhuwah yang benar dapat membentuk potret tersebut.

Penutup

Ukhuwah adalah sebuah ucapan yang sangat lazim dan acapkali sering disebutkan di banyak khutbah, di mimbar tabligh akbar, di tulisan artikel dan majalah Islam, bahkan kata ukhuwah sudah sangat menjadi hal yang melekat dan bentuk bahasa yang sudah biasa tidak seperti kata lain yang di adaptasi dari bahasa Arab.

Namun untuk merajutnya bukanlah hal yang mudah, harus ada kelapangan dada diantara kaum muslimin, rasa saling mencintai terhadap agama ini, dan berfikirian terbuka dalam menyikapi suatu permasalahan. Ukhuwah tersebut haruslah sesuai syariat, yaitu diatas timbangan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar. Pemahaman yang di dalamnya dipahami oleh para generasi di kurun masa terbaik yaitu tiga generasi pertama dan utama. karena merekalah yang merasakan manisnya kejayaan, merasakan nikmatnya dahaga yang telah tealiri oleh indahnya kehidupan bermasyarakat yang lebih dari sekedar mandiri yaitu Rabbani.

Harus banyak dukungan yang berdiri diatas tujuan yang sama diantara kaum muslimin, harus ada pelepasa rasa ego dan fanatisme golongan untuk kembali merapatkan keretakan kaca yang hampir pecah. Ummat ini masih bisa diselamatkan asal mereka mencontoh generasi yang pernah diselamatkan oleh Allah azza wa jalla. Tidak ada kata lain yaitu mengajak ummat agar kembali kepada Islam dengan cara tashfiyah yaitu pemurnian dari kotoran perusan nilai-nilai akidah dan ibadah, harus dilakukan tarbiyah setelah tashfiyah yakni mendidik ummat agar kembali kepada agama dengan sebenar-benarnya tuntunan. Itulah seperti yang seringkali di ucapkan oleh seorang Imam Besar Muhaddits Abad ini Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah.

Demikianlah pemaparan ringkas dan jauh dari kesempurnaan ini, penulis hendak menyajikan sebuah tulisan yang setidaknya dapat menghadirkan manfaat tersendiri khususnya bagi penulis yang dhaif ini. Bukanlah sebuah kekalahan dan kemenangan dari nilai sebuah substansi tulisan, tapi ada manfaat yang diberikan berupa setetes hidayah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi penulis. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallamMajulah ke depan dengan tenang. Sampai kamu tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Alloh Ta’ala yang wajib mereka tunaikan. Demi Alloh, sekiranya Alloh azza wa jalla memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh hal itu lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah (unta-unta yang terbaik saat itu-pen) “(HR. Bukhari dan Muslim).

Terakhir, penulis ingin menyampaikan sebuah nasihat indah penuh hikmah berupa pemenuhan tanggung jawab dari tulisan ini, perkataan tersebut yang diucapkan oleh salah seorang Imam besar, muara ilmu ketika masanya ialah Al Imam Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Khalaf Al Barbahari atau masyhur dikenal dengan nama Al Imam Barbahari rahimahullah. Beliau mengatakan di dalam kitabnya Syarhus Sunnah point no. 79, “Dilarang menyembunyikan nasihat untuk kaum muslimin dalam perkara agama, baik kepada yang shalih atau yang jahat. Barangsiapa menyembunyikan nasihat, maka ia telah menipu kaum Muslimin, dan siapa yang menipu kaum Muslimin berarti telah menipu agama, dan siapa yang menipu agama, sungguh ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman.”

Semoga tulisan ini bisa menjadi nasehat yang mendatangkan maslahat dan penulis terbebas dari tuduhan mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, serta kaum muslimin.

Wallahu ‘Alam bii Shawwab..

Daftar Pustaka

Buku :

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Lau Kaana Khairan Lasabakuuna Ilaih, Darul Qolam. Jakarta: Cetakan I, 1426 H / 2005 M

Al Khalafi, ‘Abdul Azhim bin Badawi, Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, diterjemahkan oleh Ma’ruf Abdul Jalil, Pustaka As Sunnah, Jakarta: Cetakan I, April 2006.

Barbahari, Al Imam Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Khalaf, Syarhus Sunnah (tahqiq, Kholid bin Qosim Ar Rodadiy). Edisi terjemahan oleh Zainal Abidin, Lc. Pustaka Imam Adz Dzahabi, Bekasi Timur: Cetakan I, 2006.

Nawawi, Al Imam Yahya bin Syarif, Syarh Matan Arbain An Nawawiyah. Darul Fikr: tt

——————————————-, Riyadhush Shalihin, Darul Ma’rifah: 2000 M

Ied, Ibnu Daqiqil, Syarh Matan Hadist Arbain An Nawawiyah, edisi terjemahan oleh Abu Umar Abdillah, At Tibyan, Solo: tt.

Syamsudin, Zaenal Abidin, Lc, Ensiklopedi Penghujatan Terhadap Sunnah. Pustaka Imam Abu Hanifah, Jakarta: Jumadil Awal 1428 H / Juni 2007 M (cetakan pertama).

Majalah :

Al Furqon, Edisi 2 Tahun V // Ramadhan 1426 // Oktober 2005

————, Edisi 8 Tahun VI // Rabi’ul Awwal 1428 H

As-Sunnah, Edisi 04/IX/1426H/2005M

————-, Edisi 05/IX?1426H/2005M

Website :

http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1180

http://darussalaf.org/myprint.php?id=1047

http://assalafy.org/al-ilmu.php?tahun4=17

http://darussalaf.org/stories.php?id=514


[1] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan Lasabakuuna Ilaih, hal 148-149 (cetakan pertama)

[2] Penulis banyak mengambil faidah dari tulisan berjudul Ukhuwah Islamiyah Atau Hizbiyah ? yang ditulis oleh Al Ustadz Aunur Rafiq Ghufron di rubrik Tafsir dalam majalah Al Furqon Edisi: 2 Tahun V // Ramadhan 1426 // Oktober 2005

[3] Ibnu Daqiqil Ied, Syarh Hadits Arbain, hal 83 – 85

[4] Penulis banyak mengambil faidah dari makalah berjudul Empat Krakteristik Masyarakat Rabbani, buah karya Abu Ihsan Al Atsary yang ada di dalam Majalah As Sunnah, edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M.

Iklan

3 pemikiran pada “Jalin Ukhuwah Untuk Kejayaan Ummat

  1. subhanallah akh…panjang amat tulisannya..

    iyaps alhamdulillah nih, melalui pengkajian tajam setajam-tajamnya

    gmn? menang gak?

    ana gak tw menang atau gak, lha wong pengumumannya aja gak ada ukht..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s