Secarik Surat Dari Rumah Sakit Jiwa

Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol, Senin 11 Rajab 1429 H / 14 Juli 2008. matahari pagi disaat pukul 10.00 WIB menyapa dengan hangatnya. Hari itu merupakan kali kedua dalam jadwal bimbingan rohani pasien saya di RSJ. Setelah pekan lalu sempat mengisi dan tidak terlalu penuh kejutan melainkan penuh dengan deg-degan. Pagi ini saya berangkat sendiri yang biasanya kami bertiga menaiki taksi dari kantor. Para akhwat lebih dahulu berangkat untuk membeli keperluan bagi para pasien. Kami menggunakan sistem halaqoh selama 3 bulan, sebab masih dalam tahap observasi situasi dan kondisi sambil memikirkan konsep kedepannya bimbingan di RSJ tersebut. Pasien RSJ kami perlakukan beda dengan pasien normal di RS reguler lain. Tiap kali akan bimbingan disini, kami pasti membeli perlengkapan dan keperluan konsumsi bagi para pasien yang mengikuti bimbingan (para pasien bilang pengajian). Dalam istilah psikologi dikenal dengan nama reward, serta biasanya akan ada hadiah buku saku pasien untuk pasien yang aktif mengikuti pengajian.

Masih menunggu kedua akhwat teman kerja saya tiba (satu ibu muda dengan dua anak, dan satu lagi masih muda namun belum menikah). Saya berbincang sedikit dengan pak satpam sambil menunggu kedatangan kedua rekan tersebut. Saya bertanya “mengapa pembesuk tidak mengikuti aturan besuk yang tertera di jadwal? (sambil melihat papan bertuliskan jadwal besuk)?” lantas pak satpam menjawab, “tiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda atas keluarganya, sehingga khawatir pasien akan kecewa ataupun marah jika jadwal besuk keluarganya yang seharusnya telah ditentukan terpaksa tidak bisa memnuhi kebutuhan pasien tersebut..” mengerti saya mengapa terkadang ketika sedang pengajian, pasien sering adanya hilir-mudik keluar-masuk untuk izin jumpa dengan keluarganya. Satu pelajaran penting untuk pagi ini tentangsaudara-saudara kita yang terganggu jiwanya.

Selang beberapa menit taksi melintas di pintu gerbang, dua orang wanita berjilbab dan berseragam oranye sama seperti saya tiba. Bagasi pun dibuka dan kardus diturunkan. Ikut membantu membawa barang-barang tersebut menuju masjid tempat aktifitas. Sebelumnya saya telah melihat suster telah menggiring para pasien menuju masjid. Ada beberapa wajah yang masih saya ingat di bimbingan pekan lalu, kali ini pun turut serta. Sekitar 10 orang pasien dari ruangan Kutilang telah tiba didampingi oleh para suster yang sedang praktek atas kuliahnya.

Saat memasuki masjid tampak seseorang pasien sedang berusaha berdiri untuk membantu barang yang saya bawa, satu pasien (hallo pak Kitri) di bimbingan hari pertama lalu sedang mengintip ke ruangan para psikiater co-ass salah satu perguruan tinggi swasta di metropolitan ini dan seakan ingin mengikuti perkuliahan yang sedang berlangsung, namun sayang pakaian kumal dan celana pendek memaksanya untuk menjadi pasien RSJ ini. Lalu lalang orang berjas putih dan rupa wajah sebagian besar menarik penuh dominasi nuansa muka oriental pun tak jarang menyapa pasien yang sedang duduk menanti jalannya pengajian.

Kami pun lekas menuju masjid dan menunggu pasien lain sambil mendata nama-nama mereka. Selang kemudian para suster membawa beberapa pasien wanita dengan tatapan hampir sebagian besar kosong tak berujung, langkah gontai dan sebagian ceria saling tegur dengan pasien yang pria (perhatikan, padahal mereka menderita ganguan jiwa namun kesamaan itulah yang membuat mereka saling mengenal). Di ujung dekat wanita tempat saya duduk ada pasien yang terkadang teriak mengerang layaknya seorang menikmati hubungan seksual “oooooooohhhhh……” dengan penuh desahan. Jika didepan orang normal seperti kita mungkin akan tertawa, namun didepan teman-teman sesama pasien tak ada satupun yang tertawa. Seakan-akan pasien disana sibuk dengan urusan dunianya dan hanya diam bengong ngelamun membisu. Hendra nama pasien itu, pasien yang seringkali mendesah hingga akhir saya bimbingan. Suster menyarankan untuk menutup kuping ketika muncul bisikan kenikmatan seksual, namun ada salah seorang spesial bagi saya dari pasien tersebut menyuruh dirinya untuk istighfar. Pasien istimewa inilah yang membuat saya banyak mengambil pelajaran nantinya.

Hendra bertutur bahwa ia sempat mengalami paranoid. Sebab suatu ketika ia bercerita pernah belajar ‘ngelmu’ (menuntut suatu ilmu putih) kepada salah seorang kyai di tempat ia tinggal, namun ia menemui banyak kejanggalan atas diri kyai tersebut. Suatu ketika ia kerumah kyai tempat ia belajar dan menemukan banyak jarum bertebaran. Dari penuturannya hal itulah yang membuat ia paraniod. Hendra ketika saya temui untuk bergabung membawa 3 buah buku tulis. Tulisan arab yang unik bagi saya, ia bisa membaca Al Qur’an. Dan menulis huruf hijaiyah, tak heran ketika salah seorang rekan saya saat membaca doa menuntut ilmu dan memulai belajar. Hendra mencatatnya dengan tulisan Arab hijaiyah murni seperti di iqro 1 tanpa disambung. Bayangkanlah sendiri kawan. Memang sebab menuntut ilmu ‘putih’ yang seringkali dikatakan itu kalau tidak kuat akan berakibat fatal. Sebab kali lain teman saya yang melakukan bimbingan pertama kali, sempat mendapati pasien hafal 30 juz dan mampu melakukan i’rab setiap ayat dari mulai kaidah nahwu-sharaf hingga menterjemahkan perkata disertai insya’ dan balaghah yang tepat. Sungguh suatu keajaiban juga ketika kawan saya bilang jika si penghafal quran itu adalah pak haji. Ia masuk rumah sakit ini karena keberatan ‘ilmu’. Sudah dua fakta terbentang lebar di hadapan mata saya. Masih ada lagi satu pasien istimewa yang akan ceritakan setelah ini.

Satu pasien tiba, anak muda dan membawa sarung robek meminta izin untuk berwudhu. Saat menemui kami ia berseru dan berucap “Assalamu’alaykum pak ustadz dan bu ustadzah, saya Abdul Rasyid usia 21 tahun. Saya ingin belajar mengaji disini. Saya bodoh tak mengerti apapun.” Bagi saya dia adalah pasien istimewa, tidak tergambar bahwa ia mengalami gangguan jiwa sama sekali. Namun sepanjang acara ia paling banyak bicara dan kau tahu kawan dari cerita suster ia turut mendakwahkan temannya! Muncul keraguan pada awalnya namun semua keraguan itu sirna bagi saya dan rekan. Ikuti terus cerita ini.

Saya mencoba memfokuskan tulisan ini pada sosok Abdul Rasyid saja kali ini, sebab banyak hikmah yang diambil dari dirinya. Abdul Rasyid ialah anak Meruya asli. Keturunan Betawi kedua orang tuanya. Ia menyebutkan sebuah cita-cita mulia “Ingin menjadi kyai dan kuliah di Universitas Mercu Buana jurusan Tekhnik tapi ia tidak lulus paket C” sepanjang halaqah yang kami lakukan ia banyak memberikan bantuan atas materi yang saya sampaikan. Ketika di majelis datang seorang pasien tuna netra bernama Uyung, ia berkata (Uyung) dengan salam saat datang dan duduk sebelahan dengan Abdul Rasyid. Saat itu saya sedang memberikan bimbingan bersama rekan lain yang bersifat umum terlebih dahulu. Lantas Uyung meminta didoakan dan Abdul rasyid meruqyah Uyung dengan bacaan yang ada di Al Matsurat (dari pengakuan Abdul Rasyid, ia mendapatkan Al Ma’tsurat Sughra yang sebelumnya ia mengatakan Al Matsurat Surga sembari menambahkan..”Masyaaaa Allaah saya ini bawa Al matsurat Surga dan Surga tempat idaman saya…”). konsentrasi pun terpecah dan dengan berat hati saya katakan pada Abdul Rasyid untuk tidak melanjutkannya. Saya sempat teringat perkataan Abdul Rasyid saat ia tiba dan mencium tangan saya layaknya ajengan dan santrinya. Ia berkata “guru ajaaari aku guru, Abdul Rasyid bodoh dan memohon bimbingan guruku ini” nanti akan ada percakapan seru antara Abdul Rasyid dengan saya di tulisan ini Insya Allah.

Halaqoh pun dibagi, saya menghandle sekitar 15 pasien dan beberapa diantaranya sudah mengenal saya. Ada pak Ali yang dikatakan oleh sesama pasien lain belum mencukur jenggot dan mengatakan kalau kumisnya habis terbakar karena merokok, ada mas Abri yang berpakaian layaknya anak SMA, pak Said yang saya kira tinggal di Merak ternyata ia dirawat di ruangan Merak, ada pak Herman, pak Tekad, mas Yusuf, mas Pipin, dll dengan latar belakang beragam. Skizofren, paranoid, psikopat, halusinasi, obsesif kompulsif, dan si Abdul Rasyid yang dalam istilah psikologi terkena Psikotik Akut.

Saya teringat perkataan pak Asep Khairul Gani (tulisannya bisa dilihat di situs Portal NLP Indonesia) disaat beliau memberikan materi hypnosis atau hypnoterapi kepada kami beberapa bulan lalu. Ia memberikan trik dalam melakukan hypnosis kepada pasien gangguan jiwa dengan metode story telling. Sebab sebagian besar pasien dengan kondisi semacam itu menyukai cerita. Dibandingkan pakai My Brother is John atau metode lainnya. Yang bisa membawa pasien normal berada pada tahapan trance.

Jika pertemuan lalu saya membawakan kisah Juraij dan kejujuran yang dimilikinya disertai hikmah atas kisah tersebut. Maka kali ini saya mengangkat cerita soal kekuatan doa. Saya mengambil kisah doa yang dikabulkan sebab amalan yang pernah dilakukan. Kisah 3 orang terperangkap dalam goa yang tertutup batu besar. Sehingga masing-masing berdoa dengan amal baik yang pernah dilakukan dan Allah mengabulkan doa tesebut sehingga ketiga orang tersebut terbebas dari goa. Antusias pasien mendengarkan apa yang saya sampaikan. Diakhir cerita saya sampaikan fawaaiid atau faedah atas cerita demikian. Saya sampaikan bahwa seseorang hendaklah senantiasa berdoa dalam kehidupannya dan gunakanlah jika seandainya memiliki amalan yang pernah dilakukan, saya sampaikan pula bahwa dengan demikian hendaknya seseorang melakukan ibadah dan aktifitas bermanfaat bagi dirinya dan orang lain dalam keseharian, yang ketiga ialah hendaklah seseorang senantiasa berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya karena dengan demikian akan lebih memudahkan proses kesembuhan atas penyakit pasien.

Saya mempersilahkan pasien jika memiliki unek-unek. Ada sesuatu yang unik disini yakni soal si bapak yang bertanya tidak mengerti soal cerita yang saya sampaikan, baginya musykil mengapa pintu gua bisa terbuka tanpa digeser. Temannya menjawab bahwasanya pintu terbuka karena doa, alhamdulilah senang sekali akhirnya cerita tersebut bisa diingat dan menjawab pertanyan bapak tersebut, sebelahnya ada lagi yang bertanya apa hukumnya onani (ia menyebutnya coli) lantas saya katakan haram dan jangan dilakukan nah Abdul Rasyid menambahkan jawaban dengan perkataan “jangan kau lakukan saudaraku seseungguhnya itu adalah zina tangan..iya khan pak ustadz?” sambil menengok ke arah saya. Satu lagi bercerita bahwasanya seringkali didatangi permaisuri pelangi dan ia diturunkan ilmu pelangi, teman sebelahnya berseloroh sambil bernyanyi “pelangi..pelangi alangkah indahmu…” namun ia mengucapkan dengan lebih serius bahwasanya selendang permasiuri ada dirumahnya (saya teringat dengan kisah pasien bernama bu cantika pekan silam yang mengaku melihat malaikat dan meteor turun bersamaan). Saya pun berkata kepada yang bercerita soal permaisuri pelangi, jikalau si permaisuri turun harap minta kartu nama dan alamatnya, jangan lupa nomor handphone karena nanti saya mau smsan ma permaisuri pelangi itu. Dan teman-temannya pun tertawa si penanya pun tersenyum bahagia. Dan pertanyaan-pertanyaan unik lainnya namun terlalu banyak jika dituliskan disini.

Kembali lagi ke Abdul Rasyid

Saat mengisi materi, salah seorang suster mengirimkan kertas kepada saya bertuliskan:

Assalamu’alaykum ustadz, nama saya Deni dari AKPER Pertamina. Pasien saya Abdul Rasyid kali ini memiliki masalah ‘waham agama’. Dia mengira mudah kemasukan jin Islam bila ada yang melecehkan Allah. Berhubung kasus waham tidak boleh digunakan dalam ujian akhir. Mohon untuk diluruskan bahwa jin Islam itu memang ada, tapi tidak bisa masuk ke tubuhnya hanya karena Allah dilecehkan. Terima kasih.

Demikian isi surat tersebut, waktu sudah menunjukkan jam 11.00 lewat dan Abdul Rasyid masih terus banyak bicara soal agama kepada kawan-kawan lainnya saat saya sedang serius membaca surat tersebut. Maka saya cukupkan pertemuan kali itu dengan melakukan inetraktif soal tiga poin yang saya sampaikan tadi. Istirahat dimulai dan konsumsi dibagikan.

Abdul Rasyid masih ditahan oleh kami untuk banyak bercerita. Semangat agama yang membara tidak diikuti dengan bimbingan yang tepat, ternyata menghasilkan orang seperti dirinya. Sungguh semangat yang meledak dan niat dakwah yang kuat saya temui dalam dirinya, akhlak yang lebih baik dibanding orang normal dan senantiasa menebar salam kepada siapapun. Suster yang mengirim surat memanggil saya untuk membicarakan masalah tadi, raut wajah suster panik khawatir Abdul Rasyid akan mengungkit-ungkit soal jin muslim saat si suster akan ujian selasa esok harinya. Maka ia meminta saya untuk melakukan intervensi atas diri Abdul Rasyid. Saya mengiyakan untuk berjumpa setelah istirahat nanti di ruangan Cenderawasih tempat Abdul Rasyid merenda hari sekarang ini.

Abdul Rasyid banyak cerita soal anak dari keluarganya berjumlah 14 orang, anak pertama akan dijodohkan dengan salah seorang mantan pasien yang kini jadi koordinator pasien disana, dan satu orang akan diberikan kepada saya(?). setelah ia bertanya “apakah pak ustadz sudah punya istri dan anak?, saya punya kakak masya Allah berjilbab musimah alumni –salah satu PTN—belum nikah saat ini, mungkin pak ustadz mau?” halah pertanyaan berujung malang. Menjadi bahan tertawaan atas diri saya didepan rekan-rekan lain.

Saya banyak bertanya dan sedikit menggali tentang eksistensi dirinya untuk pendalaman nantinya. Sungguh nampak seperti orang waras. Ia berdoa dalam shalat tahajudnya agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya serta menjodohkan kakak-kakaknya yang belum menikah, ia juga berdoa agar pasien yang ada disini untuk bisa cepat sembuh dan pulang. Uniknya ia menegur pasien sedang merokok diserambi masjid, “wahai saudaraku matikan rokok itu, makruh hukumnya dan ini rumah Allah…jaga sikapmu hai saudaraku” tapi membuat yang merokok tak bergeming. Namun keanehannya ialah ia punya seorang kekasih anak pak haji ditempat ia tinggal, namun pak haji tidak merestuinya. Namanya mirip dengan nama suster pengirim surat tadi yang jadi pendamping atas dirinya. Ia berkata membolehkan pacaran asal hanya sebatas pegangan (?!).

Kami pun istirahat dan Abdul Rasyid dijenguk keluarganya, dua orang ibu cukup tua tiba dan menyerahkan kantong foto untuk dirinya. Abdul Rasyid mengatakan “lihat nih pak ustadz, ini keluarga saya. Baru di foto hari minggu kemarin buat saya biar gak kangen, nah ini salah satu kakak saya yang mau saya jodohkan dengan Rudi (mantan pasien sini)” dan dia pun lantas mencari Rudi dan berjanji untuk mengenalkannya kepada Rudi setelah pulang nanti.

Usai shalat berjamaah dan istirahat di kantin setempat bersama rekan. Maka saya bergegas untuk berjumpa dengan suster di ruang Cenderawasih, kedua rekan saya pun pamit duluan. Maka sesampainya di Cenderawasih, agak sedikit heran saat dilarang untuk masuk padahal saya adalah permintaan suster. Maka suster agak sedikit bernego dengan kepala ruangan. Selanjutnya ialah saya diperbolehkan menemui Abdul Rasyid sekalipun sebentar. Dan ia pun sangat gembira saat bertemu dengan saya. Sebab sebelumnya ia berpesan setelah selesai pengajian di masjid tadi, “Pak ustadz nanti keruangan saya..guru aku butuh ilmu…bimbing aku guru…”. agak berlebihan memang, tapi saat saya berdialog dengan dirinya akan lebih berlebihan lagi.

Bangsal Cenderawasih

Setelah makan saya lalu bergegas kesana teringat akan janji dengan seorang suster. Maka Abdul Rasyid denganw ajah yang sumringah setelah meminta izin dengan pegawai bangsal yang cukup alot. Ia menemui saya dengan wajah yang sumringah, mencium tangan saya dan segera tersenyum lepas. Saya ajak ia untuk duduk di sofa sembari memandang ke arah langit Jakarta yang menampakkan cerahnya hari. Saya bertanya banyak hal kepada dirinya termasuk ketidak tersinggungannya ia saat ditanya awal mulanya ia menderita seperti ini.

Ia mengatakan kepada saya bahwasanya kejadian itu berawal dari tanggal 26 Juni 2008, ia masih ingat persis bahwasanya ia merasakan ‘anugerah’ seperti ‘mimpi indah’ dalam kehidupannya. Abdul Rasyid yang bercita-dita ingin menyatukan porsi kehidupan dunia 50% dan kehidupan akhirat 50% ini bercerita bahwa ia kemasukan oleh jin muslim di suatu tempat yang disebut olehnya Masjid Jami Al Musyawarah. Ia pun mengatakan kepada saya jika ia pulang nanti, saya harap menyempatkan waktu untuk datang kerumahnya dan akan diajak ke Masjid yang dimaksud tersebut. Kehadiran saya disini ialah atas pesanan suster agar si pasien bimbingannya ini tidak bercerita aneh pada saat si suster akan ujian di kemudian harinya.

Saya ajak ia bercerita banyak, dan bukan suatu hal yang sulit untuk banyak bercerita bagi dirinya. Segalanya tampak berlebihan, namun ada cerita unik yang disampaikan soal jin muslim tersebut. Jin muslim akan masuk kedalam tubuhnya jika ada seorang yang menghina Islam. Semangat sangat besar dalam jiwanya, namun ia salah dalam mengarahkannya. Ia bercerita kejadian ini semua pun terjadi setelah sempat mengalami ‘mati suri’. Dalam ucapannya pihak keluarga pernah mengikat dirinya hingga memperlihatkan bekas itu dihadapan saya. Ia pun berujar bahwasanya pernah berkelahi di pasar baru karena sebab penghinaan Islam yang dilakukan oleh seseorang.

Saya mengajak ia berbicara soal Islam dan soal dakwah panjang lebar. Sebab suster mengatakan bahwasanya ia seringkali mendakwahi setiap pasien di ruangan tersebut alhamdulilah. Pada awalnya dimana kehadiran saya adalah karena permintaan suster tersebut maka setelah berbicara banyak saya pun mulai memberikan simpati lebih.

Saya beikan ia permen mentos yang memang kadang saya bawa untuk pengusir lelah dan kejenuhan. Saya tawarkan permen tersebut dan keluarlah kata-kata berlebihan dari mulutnya “guru, jangankan mentos..racun pun jika engkau berikan akan aku minum”. Saya terkejut dan berfikir sangat jauh sekali, dalam hati saya berkata sungguh ia benar-benar membutuhkan seorang pembimbing dalam mempelajari agama. Karena teringat pesanan dari suster tersebut maka saya berikan ia secarik kertas untuk mencatat beberapa pesan saya terhadap dirinya, dan ia pun berkata “alhamdulilah ada rizki maka saya terima..karena Allah..”. saya tuliskan dalam kertas tersebut 4 poin, 2 poin pertama saya masih ingat diantaranya. Ia tidak boleh memalukan ataupun membuat bingung suster Yuliana saat ujian keesokan hari dan berikutnya ialah ia jangan mengungkit-ungkit kembali perihal jin muslim. Soal jin muslim ini ia memiliki pernyataan tersendiri. Menurutnya jin muslim hanya ia ceritakan kepada orang-orang yang ia pandang pas untuk diceritakan, dan tidak diberikan kepada sembarang orang. Baginya kisah jin muslim itu adalah bagaikan ‘mimpi indah’ atau lebih tepatnya ‘anugrah’ hebat yang terjadi dalam catatan dirinya pada tangal 26 Juni 2008.

Saya banyak bercerita panjang lebar dengan dirinya dan mengajarkan ia falillahilhamd soal dakwah dan Islam, sehingga semangat yang ia miliki setelah keluar nanti tidak disalah gunakan. Saya menilai bahwa Abdul Rosid ini adalah pasien yang kuat, ia banyak bicara dan hiperaktif menandakan sistem kekebalan tubuhnya sangat baik. Terbukti ia memiliki luka yang cepat untuk sembuh kembali. Banyak hal yang bisa saya tuliskan disini. Dan terakhir yang menjadi catatan penting bagi saya dalam kasusu ini ialah, ada sebuah nilai inspirasi dari sosok Habib Rizieq Shihab selaku ketua umum Front Pembela Islam. Ia memberikan ruh tersendiri dalam kehidupan Abdul Rasyid ini sehingga menjadikan semangat tersebut meledah sampai mengguncangkan jiwanya. Ia pada hakikatnya tidak gila, sebab dengan tegas ketika pihak keluargnaya mengatakan gila. Dengan lantang Abdul Rasyid mengatakan “masak ada orang gila baca Al Quran dan shalat!!”

Secercah Hikmah

Ada beberapa hikmah yang bisa saya tarik kesimpulan disini, dan semoga tentunya bisa memberikan sedikit penjelasan atas nasib saudara muslim kita yang berada di belahan barat sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Barat. Sebuah contoh kasus fakta yang lebih banyak menjadi peti es, padahal mereka adalah bagian dari ratusan juta rakyat Indonesia yang wajib sejahtera. Mungkin masih banyak Abdul Rasyid lain diluar sana yang membutuhkan banyak perhatian dan bimbingan dalam memperdalam agama. Ia membutuhkan sebuah penerang jalan untuk menuntaskan nafsu semangat yang ada. Agar semangat tersebut tidak menjadi hilang namun tetap nyala bagaikan bara dengan penuh kebenaran. Psikotik akut tidaklah memerlukan obat dalam menyembuhkannya, hanya membutuhkan seorang psikaiter yang faham soal ilmu agama dengan sebenar-benarnya, maka Insya Alllah hal tersebut bisa menuntaskan pelipur lara, diantara hikmah tersebut ialah.

Pertama, bahwasanya kenikmatan sehat adalah sebuah nikmat terbesar dalam kehidupan setiap manusia. Tak terkecuali pasien luar biasa ini, ia masih senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang ada. Ia seringkali mengatakan “karena Allah…dari Allah…dll” dalam setiap kali bicara.

Kedua, sebuah semangat besar yang membara itu merupakan bukti nyata dalam kehidupan manusia, adakalanya seseorang memiliki butiran semangat namun dengan serta merta semangat yang membutir itu pecah diatas batu kedangkalan. Sehingga nuansa semangat mestilah dipupuk terus menerus. Semangat ketika hidayah telah sejatinya menyapa namun salah dalam penerapannya.

Ketiga, sebuah kekuatan tekad untuk bisa. Abdul Rasyid di pekan kemudian bertemu dengan saya dan nyala semangat itu masih ada. Ia berujar lupa untuk menelpon saya setelah pulang. Ia menuntaskan janjinya untuk pulang segera setelah saya nasehati bahwasanya tetaplah berlaku menjadi orang normal. Pekan kemudian saya masih memberikan bimbingan dan ia pun hadir bersama kedua orang tuanya sembari berkata bahwasanya ia telah mendaftar disalah satu Universitas dambaannya. Ia pun berpesan kepada teman-temannya untuk cepat sembuh dan cepat pulang. Ada 3 resep yang ia berikan, diantaranya ialah memperbanyak berdoa, mengerjakan shalat 5 waktu dengan tambahan tahajjud dan dhuha sebagai sunnahnya. Ia menarik pengalaman sendiri atas dirinya sebagai contoh kasus dari hasil ucapannya.

Keempat. Sebuah inspirasi yang berharga. Abdul Rasyid seperti yang diucapkan ialah terinspirasi dari berbagai penghinaan dan penghujatan terhadap Islam di 26 Juni 2008 ia menemukan selebaran berisi soal AKKBB. Ia mengaku sangat menyenangi figur Habib Rizieq Shihab serta mereka yang menjadi pendukungnya. Ia sangat ingin sekali berjihad dan palestina adalah negara dambaannya untuk menuntaskan dendam dalam dirinya atas penodaan terhadap Islam. Namun dalam kerangka manhaj, Abdul Rasyid terjebak pada pola pikir terbatas dalam kotak korek api. Baginya apa yang ia terima sudah dapat diaplikasikan, padahal sejatinya setiap kali ada sebuah penjelasan hendaklah lebih diperejlas lagi sehingga tak terjadi nilai penyalah gunaan. Namun ia mengaku akan berubah dan berusaha menjadi lebih baik. Berusaha untuk tidak seekstrim dulu sebagaimana ceritanya yakni pernah membubarkan paksa para penjudi di dekat masjid untuk bersama shalat berjamaah dengan dirninya. Sebuah semangat hebat yang sangat sedikit dimiliki oleh orang yang normal.

Saya akhiri tulisan ini, dan semoga kehadiran tulisan ini dapat memberikan sebuah portret soal waham keislaman yang ada pada diri seseorang, di pekan berikutnya setelah ia pulang dan kembali ke RS untuk kontrol. Ia masih menyempatkan saya untuk main kerumahnya dan memberikan nasihat kepada temannya yang sama-sama terkena waham atau halusinasi atau bisiskan dalam istilahnya. Ia berpesan kepada setiap temannya, jika bisikan itu kembali maka hendaklah membaca An Naas sebanyak 3x dan berusaha untuk sadar kembali agar tak hanyut dalam sebuah bisikan halus.

Wallahul walliyut taufiq

Altar Suci Pemuja Akal, Di Sela Seremoni Pergulatan

Ciputat, 19 Rajab 1429 H / 22 Juli 2008

gambar dari :

http://www.vhrmedia.com/file_image/189093124946e000042361b.jpg

22 thoughts on “Secarik Surat Dari Rumah Sakit Jiwa

  1. * pertama

    iya mas pertama ada apa yaa?? (lhoh??)

    barakallaahu fiik…

    wafiika barakalloh

    mungkin lebih baik jika anta menasihati Abdul Rosyid untuk ta’lim akh. Dengan sebelumnya anta memberitahu perihal keadaannya di masa lalu kepada ustadz tersebut…

    udah ana rencanakan akh..saat ini ana mengajak ia menggugah kesadaran berfikirnya dulu, kali lain mungkin bisa ana arahkan ditempat kajian terdekat dengan rumahnya

    semangat yang luar biasa jika digabung dengan ilmu yang luar biasa pula akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat insya Allah..

    tentunya kawan..semangat membara harus digunakan untuk kebenaran sesungguhnya

  2. akh..tolong jelaskan istilah ini dong..saya penasaran : Skizofren, paranoid, psikopat, halusinasi, obsesif kompulsif, dan si Abdul Rasyid yang dalam istilah psikologi terkena Psikotik Akut.

    apa itu skizofren? paranoid (sy th) : tp apakah sm dgn paranoid pd umunya? psikopat..? apakah sm dgn pngertian psikopat pd umumnya..? dst… jazakallah khairan..

    secara garis besar udah dijawab via YM yeh..kalo mo lebih asyik baca aja buku PPDGJ jilid 3 kalo gak salah.. waiyyaki

  3. waham agama tu apa ya akh..? ana tau nya paham🙄

    hehehe..kalo buka di Syarh Ushul Tsalatsah bakal bisa ditemuin deh insya Allah..dibahas kok ma Syaikh Utsiamin..

  4. “apakah pak ustadz sudah punya istri dan anak?, saya punya kakak masya Allah berjilbab musimah alumni –salah satu PTN—belum nikah saat ini, mungkin pak ustadz mau?” halah pertanyaan berujung malang. Menjadi bahan tertawaan atas diri saya didepan rekan-rekan lain.”

    —————————-

    rejeki jgn dtolak tuh dji…

    iyeeeehhhh rejeki mah rejeki buuu..tapi hati pan ogahan deh..bukan kenapa2 umurnya teh jauh ma ana si kakaknya itu hhe..afwan yee ocit (dia bilang ma ana, kalo sama akhwat namanya jadi ocit hehe)

  5. “guru, jangankan mentos..racun pun jika engkau berikan akan aku minum”.

    ———————
    *LOL*

    jangan anda manfaatkan untuk uji coba racun srangga ya… *lol*

    hieeeehhhhhh haaachiiiii….dikasih mentos aja udah bersyukur bu, apalagi dikasih racun?? (lhah??)

  6. Ia pada hakikatnya tidak gila, sebab dengan tegas ketika pihak keluargnaya mengatakan gila. Dengan lantang Abdul Rasyid mengatakan “masak ada orang gila baca Al Quran dan shalat!!”

    —————-

    subhanallah…

  7. ” Ada 3 resep yang ia berikan, diantaranya ialah memperbanyak berdoa, mengerjakan shalat 5 waktu dengan tambahan tahajjud dan dhuha sebagai sunnahnya. Ia menarik pengalaman sendiri atas dirinya sebagai contoh kasus dari hasil ucapannya.”

    ————————-

    Allahu Akbar…. smoga Allah melindungi dan snantiasa menjaga saudara saya Abdul Rosid…

  8. Berusaha untuk tidak seekstrim dulu sebagaimana ceritanya yakni pernah membubarkan paksa para penjudi di dekat masjid untuk bersama shalat berjamaah dengan dirninya. Sebuah semangat hebat yang sangat sedikit dimiliki oleh orang yang normal.

    ——————

    masya Allah…😥

  9. alhamdullillah..akhirnya selesai juga afra membacanya…

    Barakallahufiik akhyy…

    wafiiki barakalloh

    cerita yg begitu menggugah hati ana…😥😥😥

    semoga bisa mengambil ibrah dari dalam cerita ini

    smoga Allah senantiasa mengistiqomahkan kita dalam kebaikan… diatas Al-Haq… Al-qur’an dan As-Sunnah…

    amiin ya rabbal’alamiin…

    —-

    SMANGAT!!!

    yongkruu..allohumma amiin..semangadddhhh…

  10. ji, ceritanya menarik
    jazakalloh (khayr, red)

    emang abdul rosyid anggota FPI ya??

    waiyyaka..ooh bukan anggota FPI namun terinspirasi dari teman-teman di FPI

  11. Ga ada Kata lain bro…

    Saluutttt…..

    hehehe…..

    maKASIH-makasih (sambil ngedip-ngedipin mata)

    Barakallahufiik…..

    wafiika barakalloh

    Kalo adjie ma kakaknya, afra ma Abdul Rosyid ajah….

    hihihi…..

    *kabuurrrrr…….

    jangan lari dong, ga gentle ahh abis buang bom terus kabur hehe

  12. Saya akhiri tulisan ini, dan semoga kehadiran tulisan ini dapat memberikan sebuah portret soal waham keislaman yang ada pada diri seseorang, di pekan berikutnya setelah ia pulang dan kembali ke RS ….

    Potret ato portret akh?…

    Abey

    yang benar potret..detail banget antum membacanya hehehe..jazakallah khayr hal ini sekaligus sebagai koreksi

  13. #musafir kecil…

    iya boleh..sama smangatnya Abdul Rosyid.. bukan ama orgnya @_@

    Abdul Rosyid ganteng kok fra sumpee deh hehehe..serius ganteng, putih, tinggi..kayak arab2 gt deh..

  14. akhirnya….
    baca juga tulisan antum akh..walaupun nelat, hikz….
    (best reader tenan tho?)
    ngantri koen nomer berapa yah???
    padahal kan. yang request duluan fathy……..
    laa ba’sa…

    eum….
    mau coba jawab pertanyaannya Ukhty Afra…
    (sapa Afra dulu ah….”Afraaaaaaaaaaa……………..khaifa haluq?dah makan belom?ups….id Ymku dibajak niy, hikz..jadi gak bisa chat denganmu lagi..besok dah ku add lagi…ceritaku padamu belum selesai…hehehehe)

    yups…kali ini mencoba membantu pak psikolog (karena diminta?) untuk menjawab pertanyaan Afra di atas :

    – SKIZOFRENIA : salah satu bentuk gangguan jiwa yg mana ditandai dengan adanya penyimpangan fundamental dan karakteristik dari pikiran, persepsi serta afek (ungkapan emosi yang dapat dilihat) yang tidak wajar. biasanya orang2 ini memiliki waham (waham nya bersifat aneh) dan halusinasi, tapi umumnya kesadarannya masih jernih. kalo orang awam bilang itu “gila” istilah medisnya skizofrenia.

    – Paranoid : suatu bentuk gangguan kepribadian yang ditandai dengan adanya waham curiga,kejar,cemburu.org paranoid punya rasa dendam dan curiga yang berlebihan. terkadang mengalami halusinasi dengar dan visual. seperti misalnya merasa ada yang mebicarakannya padahal gada atau ada yang meilhat dan manatapnya dengan tatapan bermusuhan padahal tidak.waham pada orang paranoid cenderung bersifat logis

    -Psikopat : belum nemu bu…hehe

    – halusianasi : suatu bentuk gangguan persepsi dimana seseorang menangkap sesuatu (misal suara, gambar,) yang tidak jelas objeknya/tidak ada objeknya.

    -psikotik akut : ganggan psikosa (tekaitan dengan gangguan psikis) yang sifatnya itu akut biasanya dalam hitungan hari-minggu-bulan.

    – waham : isi pikir yang salah, yang di yakini dan diresapi oleh seseorang dimana hal itu tidak bisa dikoreksi oleh orang lain.
    jadi ya seperti kasus diatas..menurut dia benar…padahal kita tau, itu sama skali gak benar. tapi karena itu adalah waham jadi ya kita gak bisa bilang ke pasien kalo itu salah. karena itu sudah diyakinin dan diresapi oleh pasien dalam pikirannya. istilahnya “bener menurutku…”

    wallohuta’alla alam, masih banyak kurang dsana-sini
    ..sisa-sisa pelajaran psikitari kemaren…nyari buku simtopatolagi psikiatri ilang, hikz…..=(

    hmmm….
    jd pengen cepet2 main ke stase jiwa, ketemu sama beliau2…kaya apa rasanya akh?? menyenangkan (pastinya)
    beli PPDGJ III aja akh…lumayan..bsa buat diagnosis pasien2 antm…

    sampun nggih…
    pun kathah….
    menawi kurang kathah mbenjang dipun tambahi malih..(hayoh lho…apa artinya jal? ^_^)

    jazakallohu khair buat tulisannya….

    kalo ada pasien baru dengan diagnosis berbeda…kasih tau fathy yah??? hehe

    -dah mampir, dah ngisi buku tamu-

  15. kisah tentang abdul rosyid……

    pernah dengar dari psikiater ana..hampir sama….hanya berbeda versi dari nama, setting dan waktu…..waham agama..pikiran yang salah yang diyakini dan diresapi oleh seseorang terkait dengan agama yang dianutnya yang mana pemikiran itu tidak bisa kita koreksi (mereka bilang saking “fanatik”nya kepada agama) sering skali dijumpai di masyarakat..mengaku sebagai orang suci, mengaku sebgai nabi, mendapat wangsit agung dan teman2nya…..

    semoga ALLOH menjaga kita semua, amin.

    -bahagia sekali abdul rosyid punya banyak saudara….
    14 anak dalam 1 keluarga?? subhanallah…..d best mom!! jarak kelahirannya berapa tahun akh? ditanyain gak? ^_^

  16. wuiiih, panjang banget ceritanya, tapi betah loh bacanya, , ,
    h h h ..

    alhamdulillah..ini karya kisah nyata saya yang pertama kali dituliskan..sekali-sekali gak menulis soal wacana khan lumayanlah..

    bagus bagus, inspiring!

    alhamdulillah makasi-makasi bu thea

    btw, ko sampe ke RS dan jadi ustad segala? emangnya adji ni ustad psikolog ya?

    iyap di RS karena bergabung sebagai Shabat Pasien dari Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa Republika kebetulan linknya salah banyaknya ialah RSJ Grogol ini. ustadz psikolog? hhe gak dua-duanya..dibilang ustadz bukan dari ma’had, dibilang psikolog bukan mahasiswa psikologi..jadi ini ajalah enaknya ‘sahabat di kala senang dan susah’…makasih dah mampir bu thea yang makin lauuut aja (hlah??)

  17. ini ngingetin aku sama cerbung di majalah annida (yg jaman SMA dulu cukup rutin membaca). judulnya triple E. trio Triple E ini kerjaannya kaya aji gitu. dan cerbung itu lucu abis!!.

    masak? nah lho, ana mah kagak ngarti ma begituan ukht, kumcer, cerbung, cerpen, dan cer..cer lainnya..ana waktu SMA tahunya cuman Wakuncar (lah?)

    Dapat bekal materi psikiatri ga ji?. dulu kita dpt matkul psikiatri. tapi cuma teori aja. jd cukup ngeh dg istilah2 psikosomatik, schizophren, and obsesif kompulsif…

    hahaha sama skali ndak bu, ana bukan anak psikiater, psikolog, apalagi yg lain-lain berbau jiwa..belajar dari pengalaman aja ma ngutak-ngatik bukunya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah + Said bin Wahf Al Qaththani yg Illaj Ar Ruqo’.. waktu itu sih pernah bljr psikologi di kampus, tapi itu juga psikologi dakwah bukan psikologi umum…istilah-istilah itu ana dapet dari mbaca dan bolak-balik ngobrol ma temen sekos yg psikologi. sisanya upgrading dari kantor

  18. fathy nya abdulloh tu siapa ji?.kul jurusan apa?

    beliau mahasiswa fakultas kedokteraN unsoed purwokerto, akhwat kajian juga

    oia ada seseorang dari kalangan ASWJ yg saya rasa memiliki gangguan kejiwaan (jgn ketawa ini serius ji). eh, tar aja deh di YM. rahasia soalnya

    oh yaa? kok bisa? boleh-boleh kita jumpa di YM nanti yaa insya Alloh

  19. assalamu’alaykum,

    wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh

    subhanallah, tulisannya bagus akh,,, kayaknya perlu dijadikan buku hehehe

    haduh…ini baru bagian pertama ternyata akh, ana sedang merampungkan bagian kedua dan semoga ada bagian-bagian berikutnya dan mudah-mudahan juga pembaca tidak bosan menikmatinya dan mengambil pelajaran dari dalamnya…dibuat buku? ide bagus, siapa berminat menerbitkan..? saya bisa buat final release insya Allah

  20. tok..tok..tok..
    kulonuwun….

    nggih, monggo

    lhah..belum ada kelanjutan ceritanya pak?
    ditunggu bagian ke-2nya pak..segera…

    sedang dalam proses kie

    ~eh..gantian tanya..spesialclassmate niku sinten?salam kenal dari fathy nggih..~

    oh dia itu bu guru Devi Wulandari..saya sampaikan nanti insya Alloh

    maturnuwun..
    pareng…

    nggih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s