Dan Ia Pun Kembali

Suatu ketika William James berkata dalam bukunya Varieties or Religious Experience yang dikutip oleh Fritjof Capra dalam buku populernya The Turning Point:

Kesadaran normal pada waktu kita terjaga, yang kita sebut dengan kesadaran rasional, tiada lain adalah jenis kesadaran khusus, meski menjadi satu tetapi sebenarnya terpisah oleh sekat yang sangat tipis; terdapat bentuk-bentuk kesadaran potensial yang sama sekali berbeda. Kita bisa menembus kehidupan tanpa menyangka keberadaan bentuk-bentuk kesadaran itu; tetapi kita dapat menggunakan rangsangan bersyarat, dan dalam suatu sentuhan muncullah bentuk-bentuk kesadaran itu dengan segala kelengkapannya.

Tidak ada catatan tentang alam semesta dalam totalitasnya yang dapat disebut final tanpa memasukkan bentuk-bentuk kesadaran ini. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana melakukannya…. Bagaimanapun juga, bentuk-bentuk kesadaran itu tidak memungkinkan kita mengakhiri terlalu dini catatan kita tentang realitas.

Pagi 25 Rajab 1429 H/28 Juli 2008 alam memberikan sebuah kehangatan tersendiri dalam balutan cita rasa kedamaian. Langit yang tidak menampakkan kecerahannya dengan sangat dan tidak juga menghadirkan berawan yang menggumpal membuat saya harus tidak melanjutkan lagi tidur setelah subuh. Usai membaca beberapa lembar ayat Al Qur’an dan menyiapkan materi qashais (kisah) apakah yang nantinya akan saya berikan kepada teman-teman di Rumah Sakit Jiwa kelak. Ya, semenjak aktivitas saya bertambah dan ditunjuk menjadi penanggung jawab sahabat pasien di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, memungkinkan saya untuk senantiasa mencari ide-ide segar untuk model bimbingan yang tepat bagi saudara-saudara muslim yang menjadi marginal dengan sengaja oleh lingkungan masyarakatnya.

Koordinator sms saat saya sedikit membuka email pagi dari mereka-mereka yang akan mendukung saya pada pencalonan pilpres 2009 nanti. beliau mengatakan “ki, ente nanti ke RSJ bareng sama mbak emma”. Maka saya balas “oh, kalo gitu saya nggak ke kantor lagi tapi langsung dari bekasi naik motor”. Dan koordinator saya menjawab dengan dua kata hebat seperti sebuah lagu, “Ok”.

Jam 07.00 seperti biasa jadwal mengantarkan adik menjadi tugas saya sebelum berangkat menuju catatan sejarah kehidupan dalam keseharian yang akan penuh pengalaman berpadu pelajaran. Pastilah setiap pengalaman itu menggoreskan sebuah kesan, sebab bagi saya sejarah itu adalah sebuah kisah yang harus terukir dalam pikiran sekalipun kita tidak berusaha dengan sengaja menyimpannya. Namun senantiasa kehidupan yang penuh simbol akan mengantarkan kita kepada tempat penyimpanan yang tanpa sadar sudah tersimpan dengan sendirinya dan terbuka tanpa sengaja bahwa ternyata otak yang hebat sudah menyimpan tanpa berusaha keras menyimpannya. Seperti yang dikatakan oleh William James diatas.

Saya tiba lebih awal, selain naik motor yang mempercepat waktu tempuh dengan bergoyang di antara mobil-mobil penyebab macet. Dengan angkuhnya mereka membuat macet Jakarta dan merusak tata kota yang sudah berserak. Satu orang satu mobil, bukan sekedar sedan melainkan kelas SUV, Van, dan semisal Limou pun tampak berjejer menunggu antrian lampu merah layaknya akan buang hajat. Ya, begitulah ibukota. Butuh tinta yang anti refill untuk menuliskan kisahnya, dan butuh kertas seluas ratusan hektar hutan yang di logging demi menulis sejarah kesemuanya. Tapi saya tidak akan bercerita itu, biarlah setiap tempat menduduki posisinya, dan setiap waktu menduduki momentumnya.

Saya bergegas menuju masjid saat hitungan jarum berada pada posisi 09.00, lagi-lagi karena berangkat sendiri saya tiba tepat waktu, bahkan bukan sekedar tepat waktu melainkan memang masih sepi. Saya beranjak mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunnah. Istirahat sejenak melepas penat yang menggelayut sejauh jarak tempuh satu jam. Sedikit membaca buku dan mencoba menggabungkan beberapa materi sejenis untuk saudara-saudara tercinta saya nanti. Saat demikian, saya teringat pasien saya dikisah sebelumnya yakni Abdul Rosyid. Karena saya naik motor, maka besar kemungkinan saya akan home care kerumah beliau. Lembaga kami memberikan fasilitas home care kepada setiap pasien yang perlu ditindak lanjuti spiritualnya. Tanpa ragu saya pun menelepon rumahnya. Sayup terdengar suara setelah saya memberikan salam pada suara diujung sana “wa’alaykumsalam, ini dari siapa ya?”. Saya jawab, “Rizki bu”. “Rizki siapa?”, dengan nada penasaran maka wajib bagi saya untuk menjawab dengan nada kejelasan, “Rizki Aji Hertantyo dari Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa Republika yang mendampingi Rosyid saat jadi pasien di RSJ”. Maka si ibu menjawab “OoooOhh, sebentar yaa”. Saya mendengar suara jauh si ibu memanggil anaknya itu, “Rosyiiiiiiiidddddddd, sini sayang ada telepon dari Rizki katanya”. Abdul Rosyid menjawab, “waaaaawwwwhhh, pak ustadz Rizki…”. terdengar ia meraih gagang telepon yang saya tidak tahu bentuknya.”Masyaaaa Alloh pak ustadz Rizki mau main ini ke rumah Rosyid?”. Saya jawab dengan persetujuan dan mengajaknya untuk bawa helm sebab saya bawa motor jadi bisa goncengan kelak. Ia pun berkata “iya pak ustadz, Rosyid juga mo kesana nih pak ustadz…Rosyid tutup yah udahan dulu mau berangkat…”. nah lho, dalam hati saya ini siapa butuh siapa? Ditelpon malah dia yang kebanyakan bicara, giliran saya mau jawab sudah ditutup telponnya..

Perut pun terasa lapar dan nampaknya sedikit sarapan pagi tidak memuaskan aspirasi urusan bawah yang senantiasa sinergi dengan sistem syaraf pusat bila mendapatkan ketenangan tersendiri. Saya sempatkan ke kantin dan memesan makanan. Kali ini makan besar, sepiring penuh nasi ditambah beberapa lauk yang cukup segar dimakan pagi hari. Urusan makan selesai, dan mengistirahatkan sejenak pergulatan bersama piring yang hebat. Tak lama salah satu yaa bisa dikatakan sebagai mantan pasien namun telah menjadi koordinator RSJ dengan gaji 500.000 sebulan datang. Tak segan bagi saya untuk menyapanya karena memang saya mengenalnya. Ia memesan makanan dan duduk persis dihadapan saya. Penampilan yang trendi sekalipun belum menikah dan bukanlah juga sebagai eksekutif muda terpajang didepan saya. Tidak bisa dikatakan jelek, sebab nuansa ketampanan serta merta menyergapnya.

Sebut saja Yudi namanya, ia kini menjabat sebagai koordinator pasien. Bukan karena punya kharisma apalagi fisiknya yang memang tidak seperti preman pasar. Bukan itu semua, akan tetapi ia disegani karena track record di rumah sakit selama menjadi pasien itulah yang membuat semua pasien dipaksa takluk karena kehebatannya. Ia bercerita sudah dua kali masuk ke RSJ dengan dua kasus yang berbeda. Kasus pertama karena narkoba, dan kasus kedua karena fitnah di tempat kerja. Seringkali saya menemukan kasus fitnah yang menyebabkan depresi ini dalam RSJ. Entah mengapa masalah tersebut cukup banyak mendasari pasien disini, fitnah dan waham/halusinasi. Dua kata yang paling banyak idola.

Ia bercerita bahwa pernah menyebabkan ulah, dari mulai kabur memanjat dinding di bagian belakang lantas memberhentikan taksi sampai kerumah, kasus ia membakar kasur dengan rokok, berkelahi dengan pasien karena masalah hutang-piutang, dan beberapa kasus lainnya yang dengan beraninya ia mengatakan, “serius, gw waktu jadi pasien sampe sekarang disayang ma dokter fidi”. Dokter Fidiansjah, wakil direktur RSJ.

Yudi meminta pendapat kepada saya soal akan menikahnya ia dengan anak tokoh agama disekitar Jakarta Barat. Ia akan menikah bulan Syawal nanti. Namun ia banyak bercerita panjang lebar soal kisah masa lalunya yang penuh membuat saya bertebaran senyum. Dari mulai pacarnya yang sangat amat mengerti dengan dirinya begitupun sebaliknya, hingga kisahnya yang masih menggunakan ajimat pelet untuk sekedar mengganggu wanita saja. Menarik memang, tapi entahlan bagi wanita hal itu menarik atau tidak. Padahal saya amat yakin, sekalipun tanpa pelet-pelet dan berbagai macam ajian-ajian bertuah lainnya, dengan modal fisik atletis dan wajah baby face bukanlah hal yang sulit untuk lebih dari sekedar kata menaklukkan.

Saatnya Masuk

Ya..ya entah mengapa selalu ada getaran dan nuansa yang berbeda saat awal saya ingin mengisi materi disini. Sangat penuh dengan nilai historis dan tentunya butuh persiapan lebih. Saya memiliki ritual khusus untuk meliuhat satu per satu wajah pasien yang akan saya bimbing nantinya dengan penuh konsntrasi. Sehingga setidaknya saya bisa mendapatkan alur lepas saat memberikan materi.

Setelah membantu menurunkan semua persiapan konsumsi sebagai bekal usai pengajian nanti. maka saya menyerahkan urusan acara ke mbak Emma. Bukan karena saya tidak mau jadi pembuka, tapi biarlah saya menjadi pengisi mentoring saja dengan beberapa cerita yang kali ini saya bawakan secara senada. Ada tiga cerita untuk mentoring hari ini. Disertai tiga hikmah yang bisa dipetik dari perkataan saya serta bentuk aktualisasi selama di rawat pun saya sertakan.

Kelompok pun dibagikan. Karena saya satu-satunya pria, maka dengan sangat hebat saya menghandle kurang-lebih 20 orang pasien. Yang jelas akan sangat sulit jika dibayangkan, tapi walhamdulillah semua jadi mudah jika dikerjakan. Itulah hidup kawan, sama halnya dengan memilih pasangan. Akan banyak kriteria pilihan dalam pikiran dan penyesuaian perasaan. Tapi setelah dijalankan semua akan mudah sekalipun pasangan tak seindah impian. Dan itulah juga nilai hidup, tak jarang apa yang dibayangkan sejalan dengan apa yang dilaksanakan. Selalu punya misteri yang senantiasa menyiratkan arti. Sebagaimana seorang calon presiden menukil sebuah pepatah kaum proletar “if there is a will, tehere is a way”.

Wajah-wajah dan tatapan kososng itu seakan berbicara dalam hati, kegelisahan nyata terlihat mengukir tajam dalam lubuk sanubari mereka. Ada pak Irianto, pak Panjang, mas Imam, pak Joni, pak Tekad, pak Bahrudin, dan mas Kitri -yang di pekan kemudian saya jumpa dengannya dan izin pamit dengan saya karena sudah dibolehkan pulang, saya masih ingat akan janjinya “pak ustadz, tar saya kangen sama pak ustadz Rizki..tapi saya gak mau balik lagi kesini..saya gak mau balik lagi” saya tanya sebabnya ia dirawat, “ia mengatakan mendapatkan banyak bisikan sangat tajam sehingga lidahnya menjadi cacat tak bisa kembali pada posisi semula.” Hal ini sangat berbeda dengan analisa Abdul Rosyid pekan lalu atas mas Kitri yang menyangka ketergantungan narkoba. Darisana saya berfikir, orang dalam kategori abnormal ditengah persepsi orang normal saja masih tidak ingin kembali ke lubang yang sama, sehingga heran jika ada manusia normal yang telah diberi kesempatan hidup oleh Rabbnya berkali-kali namun ia masih saja tetap kembali pada jurang lebih dalam dari sebelumnya.-

Sesi mentoring pun berakhir dengan sedikit bercakap-cakap ringan dengan para pasien lainnya. Saya sangat suka sesi ini, karena disinilah fitrah mereka keluar. Banyak bercerita dan seringkali arah pembicaraanya terungkap dengan penuh kejujuran. Yah, inilah fase yang harus saya lakukan untuk mengetahui bagaimana konsep bimbingan kedepan yang lebih efektif. Penanggung jawab memang berat kawan, gaji sama namun tugas cukup berat terasa.

Usai sudah

Iya, setelah bimbingan usai dan konsumsi pun dibagikan. Seperti biasa masjid akan dibersihkan oleh cleaning service posisinya. Saya agak lupa namanya tapi ia tinggal di Cengkareng, tak jauh dari tempat bimbingan saya di hari selasa. Cengkareng yang entah apakah disana masih memiliki kepala negara atau tidak. Tata kota yang tak tertata, rakyat papa yang sangat menderita, kawasan marginal setengah hati dengan penderitaan seluas bumi. Kami sedikit berbincang dengan pak cleaning service itu yang mengaku bergaji 30.000 sebulan. Tidak mungkin gaji segitu untuk sebulan, tapi ia lekas menjawab masih ada penghasilan sampingan. Bisa memijat dan ada satu penghasilan sampingan yang sungguh menakjubkan nanti di cerita ini. Kami berbincang soal pasien dan sedikit si bapak itu layaknya ahli terawang, mbak Nunung dan mbak Emma pun diterawang dengan membaca kepribadiannya. Ketika saya tanya tentang diri ini, “saya gimana pak?” maka si bapak menjawab nanti sajalah itu urusan lelaki…. sedikit tertawa dan sebuah tanya..”maksudnya??”

Soal baca membaca kepribadian ini membuat saya teringat dengan sahabat saya tercinta, Abdul Rosyid. Saat ditemui ketika itu ia berkata, “pak ustadz, saya bisa membaca pak ustadz”, dan saya memang sangat amat senang sekali kalau dibaca-baca kepribadiannya. Pikir saya yah namanya juga baca, baca itu khan beda dengan paham..butuh cara yang berbeda dalam menanggapi antara membaca dan memahami, tentunya pun sebuah proses yang tak sebentar. Abdul Rosyid memaksa membaca saya hingga ia berkata, “saya tahu pak ustadz pakai baju orange” sebelum diteruskan saya sudah memotong dengan tertawa lepas, “hahahahahaha semua orang juga tahu kalau saya pakai baju orange sekarang”. Lantas Abdul Rosyid tak mau mengalah dan segera menyanggah, “bukan guru, maksud saya ialah berarti guru senantiasa ceria..”, saya tanggapi, “saya pakai flexi bukan ceria..” selesai urusan.

Usai urusan membaca (membacanya sertakan tanda kutip yaa) dengan pak cleaning service, kami bertiga segera menuju kantin lagi. Padahal belum ada tiga jam lalu saya makan berat. Semoga saya tidak tergolong sebagai kategori 5 peyakit hati versi Ibnul Qayyim, banyak makan dan minum, berkata, bergaul, tidur, dan bergantung kepada selain Allah. Namun namanya juga rezeki seperti kata Abdul Rosyid, “Masya Allah rezeki dari Allah..”. kami pun segera makan dan sambil menunggu saya kembali menghubungi Abdul Rosyid yang belum juga datang. Saya telpon namun orang rumahnya berkata bahwa ia sudah jalan sejak tadi, dan saya teringat bahwa hari senin itu waktu ia untuk kontrol.

Makan memakan beres dan segera ke masjid kembali untuk sholat dzuhur berjamaah. Usai sholat saya segera melihat hand phone. Ya kedua handphone saya yang dimintai nomor Abdul Rosyid tempo hari namun saya hanya memberikan no flexi saja. Ada sebuah sms bernada, “ini Abdul Rosyid pak ustadz jangan kemana-mana yah kita ketemu di masjid nih”. Saya pun senyum dan akan segera membalas, tak lama Abdul Rosyid datang dan berkata “gak usah dibalas pak ustadz nih Abdul Rosyid datang nih, pak ustadz telat” dengan nada yang keras.

Bersama dirinya

Yaa, akhirnya saya jumpa dengan Abdul Rosyid dan ia bersalaman dengan saya. Ia banyak bicara dan saya menangkap gelagat beda dari pekan sebelumnya setelah pulang. Ia menjadi lebih reaksioner dan aktif nampaknya. Pembicaraan sudah semakin banyak dan saya menangkap banyak kejanggalan. Ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku. Saya menemukan satu bait doa berbahasa arab dan terjemahannya yang bermakna agar Abdul Rosyid sembuh. Saya berasumsi itu adalah tulisan kakaknya. Namun bukan disana poinnya, ia segera membalik halaman paling belakang dan ternyata ada abjad dari a-z dengan posisi horizontal disertai nama-nama penjelasnya, misalkan A untuk Ahmad, B untuk Burhan, C untuk Chandra, D untuk Djafar dan seterusnya bernuansa Islam. Saya pun bertanya untuk apa dan maksudnya apa? Ia pun menjawab bahwasanya ia mendapatkan ilham lagi dari jin muslim yang mengatakan bahwa itu adalah rahasia dari namanya. Saya pun makin bingung banyak dalam posisi ini.

Tak lama ia mencari pulpen di tasnya. Kalian pasti tahu kawan, tas sejenis bermerk eastpack, tas dengan tempat buku dan saku pulpen didepan semacam tas Alpina saat kita masih berseragam dahulu. Saya melihat disaku depan yang seharusnya diisi dengan alat tulis tapi ia isi dengan sampah. Iya sampah, sampah yang membuat saya heran, ada kulit kacang, puntung rokok padahal saya yakin ia tidak merokok, dan tempat makanan wafer Tango. Saat ia bertanya, Abdul Rosyid buat apa ini sampah-sampah? Maka ia menjawab “untuk saya buang nanti” saya sergap dengan segera untuk membalasnya “kenapa tidak dibuang di tong sampah sana?” maka ia menjawab, “tidak pak ustadz, ini sampah saya..saya akan buang disuatu tempat” saya balik bertanya “dimana?” ia jawab dengan tersenyum saja. Saya tidak ambil pusing sebab sudah terjawab, mungkin ia ingin buang ditempat yang pas atau ada tempat sampah khusus dirumahnya atau juga ia sedang diajarkan disiplin da bertanggung jawab kembali oleh keluarganya, namun jawaban saya tentunya tidak mengarah kepada save our earth from global warming. Apapun itu saya berfiikir positif dan berbaik sangka terhadapnya.

Ia masih shalat!

Inilah yang sangat saya suka dari Abdul Rosyid, ia menebarkan energi positif kepada sekitarnya. Ah seandainya ia normal maka ia akan lebih baik dari orang normal yang di dalam hidupnya telah mati. Ia segera memperlihatkan isi tasnya yang berisi Al Quran terjemahan dan sebuah buku Yassin Hard Cover semacam Harry Potter. Sebelumnya ia menggunakan kalung dari tasbih dan gelang dari tasbih. Di kalung berjumlah 33 butir, sedangkan di gelang berjumlah 11 butir. Saat saya bertanya, “kenapa pakai kalung?” abdul Rasyid menjawab, “sssssssstttttt ini bukan kalung tapi T-A-S-B-I-H” dengan nada sembari mengeja. Dan menambahkan perkataan, “sebelumnya saya memang dilarang oleh teman saya pak ustadz, tapi inilah syiar pak ustadz..” kurang lebih demikian ucapanya yang masih saya ingat.

Tak lama ia izin untuk wudhu dan mengeluarkan baju koko putih beserta sarungnya berwarna kuning dan sebuah peci nasional, ia juga menunjukkan pada saya kain sorban yang dalam perkataannya ia gunakan tiap kali shalat. Ia datang ke masjid bersama dengan ayahnya Halim bin Mawi. Lebih dahulu ia segera ke tempat wudhu, disana saya berbincang dengan ayahnya. Guratan keriput dan asa membara masih terpancar jelas di pelupuk matanya yang masih tanpa kacamata. Ayahnya pun bercerita, ia (Abdul Rosyid) semenjak 5 hari belakangan semakin parah kondisinya. Watak kerasnya semakin menguat ditambah emosi yang meningkat, tak jarang sampah dibawa kerumah hingga saat ini rumah semakin berantakan.

Bapaknya pun bercerita sejarah panjang sebelumnya ia normal. Saat seesai sekolah orangtuanya menawarkan untuk berkuliah, namun ia menolak dan ingin berbisnis. Abdul Rosyid sejatinya ialah orang yang beruntung, ada saudagar kaya yang mengangkatnya menjadi anak dan diberikan apa yang diinginkan. Hingga akhirnya ia berdagang pepohonan seperti bapaknya. Dan cukup laku keras, serta penghasilanya pun cukup besar. Entah mengapa peristiwa pada cerita sebelumnya yang membuat ia menjadi berubah total. Berawal dari perginya ia ke pasar dekat dengan rumahnya menggunakan motor. Di telpon ke handphonenya hingga dua kali masih menjawab. Hingga akhirnya sang bapak mendapatkan kabar bahwa Abdul Rosyid mengamuk di pasar sehingga dipukuli, dengan dugaan ia mabuk. Saya masih belum bisa menganalisa kasus ini hingga detik tulisan ini dibuat. Seperti ada yang ditutupi dari ceritanya. Namun bapaknya pun berkata bahwasanya ia memang sudah terkadang terlihat aneh bila diluar, namun bersikap kembali sopan ketika didalam saat masa-masa sebelum kejadian hebat itu tiba. Ada banyak hal yang bapak itu kisahkan pada saya, termasuk ketika beberapa hari pulang sang anak tercinta itu menaiki bis kota menuju masjid kubah emas yang masyhur. Padahal saya tahu jarak tempuhnya antara rumahnya dengan masjid itu bisa sekitar puluhan kilometer. Dengan alibi yang masih dapat saya terima dari perkataan bapaknya serta penguat dari kakaknya nanti, maka saya masih berpegang dengan bukti jika Abdul Rosyid sangat mencintai kakak-kakaknya. Dan Abdul Rosyid merasa sedih mungkin saat kakaknya yang dicintai belum juga menikah, serta satu alibi kuat lainnya ialah ia memiliki hasrat untuk berkuliah sebagaimana kakaknya dan adiknya yang akan kuliah. oleh karena itu belum lama ia mendaftar di salah satu universitas swasta tak jauh dari tempat tinggalnya.

Obrolan saya dengan sang bapak banyak dipotong oleh kehadiran Abdul Rosyid yang keluar masuk tempat wudhu. Sang bapak telah shalat dan kembali bercerita panjang lebar. Tentang sudah akan dibawanya ia ke orang pintar. Padahal perkataan Abdul Rosyid lalu masih teringat dipikiran saya “orang pintar itu masuk angin…”. abdul Rosyid berkata, “Pak ustadz, tolong sms kakak saya untuk jangan bilang ke keluarga kalo pak ustadz mau datang,.” saya pun mengambil handphone dan akan sms kakaknya dengan pesanan demikian. Kebetulan kakaknya sedang bersama dokter konsultasi di kantor. Lantas tak lama Abdul Rosyid keluar sembari berkata, “eh jangan di sms pak ustadz, biar aja biar surpriseeeeee…”. saya tersenyum dan segera mengajak ia untuk bergegas. Ia menjawab, “sabar pak ustadz, ini saya lagi bersihkan kamar mandi…kotor, rumah Alloh tak boleh kotor..”. apapula perkataan itu, yang orang normal pun tidak sanggup untuk mengatakan, namun ia telah sanggup untuk mengerjakan. Apakah harus menjadi gila dalam tanda kutip agar kita bisa menjadi luar biasa?. Yah itulah konklusi yang sampai saat ini masih saya pegang. Harus menjadi lebih gila jika ingin luar biasa. Harus merubah tantangan menjadi layaknya bola sepak menuju gawang lawan. Butuh perjuangan ekstra untuk membawanya dan ketika sampai didepan kita cukup tinggal melesakkannya ke gawang. Sepenuh hati itu pula kita menggiring bola, sekuat hati pula kita semangat dan penuh harap pada banyak kesempatan yang ada.

Tak lama ia pun keluar dari tempat wudhu untuk segera shalat, mengganti celana jeansnya dengan sarung dan mengenakan baju koko khas dengan sorban disampirkan di pundak. Seperti muballigh akan segera menyampaikan khutbah idul adha di salah satu tempat bernama Batavia. Ia meminta parfum dari saya, yaa parfum dengan wangi kesukaan saya yakni Prince keluaran Ar Rehab. Ada yang tahu dimana saya bisa dapat aroma Sulthan Brunei selai di Saudi?. Abdul Rosyid memboroskan parfum impor saya, sedikit kecewa karena saya belum membeli penggantinya. Tapi tak apalah, semoga ia senang dengan wangi seperti ‘ustadznya’ ini.

Ketegangan Pun Tiba

Setelah shalat maka Abdul Rosyid keluar sejenak dan duduk bersama saya juga bapaknya. Ia banyak cerita seperti biasa, dan sang bapak cukup menganggukan kepala. Pancaran kasih itu sangat terasa menyapa hati saya, saat si bapak terlihat pucat. Mungkin ada pesan dalam hatinya yang ingin disampaikan lebih dari sekedar kata maaf. Tapi apapun itu, itulah orang tua. Ya, sampai kapanpun ia akan senantiasa menemani anaknya dan sebuah curahan kasih akan berbekas dihatinya sekalipun mungkin sang anak lupa akan orangtuanya.

Saya jadi teringat kisah ibu Yuli, seorang pasien di rumah sakit ini juga. Saat itu ia berkisah bahwa, sangat sedih sehigga tidak bisa mengikuti bimbingan. Bu Yuli adalah pasien rawat jalan yang boleh keluar masuk dengan bebas. Ia menangis tersedu dengan ucapan, “sedih saya bu ustadzah (kepada mbak Emma) karena saya sudah 27 tahun tak berjumpa dengan anak saya.” Yaa saya sangat amat mersakannya apa yang diderita bu Yuli. Si anak adalah anak satu-satunya dan saat ini berada di Balikpapan, karena aselinya bu Yuli memang seorang transmigran.

Saya berbincang cukup sebentar hingga akhirnya seorang perawat pria tiba dan memanggil Abdul Rosyid, ia pun datang untuk mengajak ke Elang. Dasarnya saya tidak tahu ruangan-ruangan jadi akhirnya memahami. Abdul Rosyid ingin ke Cenderawasih tempat ia kemarin dirawat untuk jumpa dengan teman-temannya. Namun sang perawat mengiyakan untuk nanti ke Cenderawasih, tapi sekarang ke Elang dahulu. Ia meminta izin “tapi pak ustadz boleh ikut?” ucapnya kepada si perawat?. Dengan sedikit anggukan perawat mengiyakan. Dan saya pun mengikutinyta karena maksud saya memang hari ini ke rumah Abdul Rosyid, daripada ia menghilang lagi dari pantauan saya, dan saya hanya punya kesempatan kali ini sebab sudah izin ke kantor untuk home care ke tempatnya. Maka saya ikuti dari belakang, bersama dengan sang ayahnya tercinta.

Saya bertanya kepada perawat, mengapa diajak ke Elang. Da perawat berkata bahwa Abdul Rosyid akan dirawat kembali. Kaget dan sedikit haru mendengarnya, kaget karena saya telah menunggu lama, dan haru karena dugaan saya tepat bahwa sikapnya yang agak berubah itu menjadi lebih aneh dibanding setelah ia pulang pekan lalu. Di depan ruang Elang terlihat si bapak yang membersihkan masjid setelah kami bimbingan. Ya, cleaning service yang dibayar 30.000 sebulan itu ada disana sedang duduk bersama satpam. Abdul Rosyid masuk dan sang cleaning service pun turut masuk. Sedikit catat mencatat administrasi oleh bagian administrasi ruangan. Elang merupakan ruang isolasi bagi setiap pasien baru masuk. Apakah ia baru datang ataukah masuk kembali, semua harus ke Elang untuk diisolasi.

Abdul Rosyid dipaksa membuka bajunya, dan tiba-tiba ia berdzikir sangat kencang dari biasanya. Jantung saya pun ikut berdetak lebih cepat seperti engkau tahu kawan film Speed yang didalamnya bis terdapat bom waktu, membuat penontonnya sangat gelisah dan deg-degan sangat cepat. Lebih hebat dibanding kau bermain Tornado puluhan kali di Dufan. Bahkan lebih hebat lagi saat tasbih itu ia pakai, semakin kencang dan semakin berubah suaranya. Maka ia berpesan, “pak ustadz…dzikir pak, ini waham..waham saya datang lagi.” Dan ia sempat berpesan kepada ayahya, “bapak jangan bengong pak, jangan ngelamun, dzikir pak dzikir….”. maka dengan serta merta si bapak cleaning service itu mengajaknya untuk patuh. Dan Abdul Rosyid masih berkata kepada saya, “pak ustadz..pak ustadz…pak ustadz…saya mau dibawa pak ustadz..” saya katakan “ikut saja.. nurut yah nurut” maka ia pun turut dan mengikuti bapak cleaning service tersebut.

Segera pintu isolasi dibuka, pintu kedua sebelum terakhir dari sebelah kiri. Karena disini hanya terdapat 5 pintu isolasi dan dua lainnya masih kosong. Saya sempat melihat kedalam dan hanya ada satu bantal kapuk, tempat tidur layaknya gardu hansip dari keramik, dan sebuah tempat dengan ukuran 1×2 mungkin untuk buang hajat. Maka ia langsung dijatuhkan seperti sapi yang akan disembelih untuk kurban. Kekuatan yang hebat dari pekerjaan sampingan sang bapak cleaning service. Saya menjadi bertanya dalam hati, apakah 30.000 itu satu kali men’jagal’ atau sebulan membersihkan masjid?. Abdul Rosyid elah rebah dan staf lainnya ikut membawakan tali dari kain. Ia terus memberontak dan sang bapak pun terlihat pucat diruang tunggu. Bapak cleaning service itu berusaha menurunkan tangan Abdul Rosyid yang menganggkat sembari memainkan tasbih tangannya, maka suara kencang pun terdengar “…plooookkkkkkkkkkkk…pyaaaaaaaaaarrrrrrr….” .bunyi tamparan ke tangan Abdul Rosyid hingga biji tasbihnya terburai dan jatuh berserakan. Tak lama kemudia tali diikat dan ia pun menjadi jinak. Sang suster berkata kepada saya, “sudah pak santai aja, duduk tenang sudah biasa kok seperti ini, gak akan terjadi apa-apa..” bagi saya ini bukan biasa, tapi luar biasa. Ketegangan yang mencekam dan sangat penuh dengan buraian haru. Saya tak menyangka secepat itu terjadi dan semua berlalu. Maksud saya ingin home care namun ternyata peristiwa yang tak biasa bagi saya dan juga mungkin anda yang membaca akan sangat terkesima.

Saya pun izin pulang kepada sang bapak setelah kejadian dramatis tersebut, sang bapak mengizinkan. Dijalan saya jumpa dengan pasien saya yang tadi tidak ikut bimbingan, pak Geni namanya, sedikit menyapa dan bertanya kabar. Namun saya bergegas pergi keluar untuk kembali ke kantor. Namun dikoridor panjang sebelum keluar saya jumpa kakaknya.

“pak ustadz Rizki” begitu sang kakak menyapa, “iya benar..” jawab saya. Maka ia bertanya, “itu tadi benar nomor pak ustadz?”, saya jawab “benar”. Dan ia pun segera mengatakan, “boleh sewaktu saat saya hubungi soal Abdul Rosyid ini?” ujar kakaknya. Saya jelas jawab, “kapanpun dan dimanapun silahkan hubungi saya. Insya Allah saya ada jika dibutuhkan.”

Maka saya bertanya kepada sang kakak tersebut perihal Abdul Rosyid, cerita yang sama juga saya dapatkan darinya secara cukup baik kali ini. Saya tanya soal hubungan cinta dengan pacar-pacarnya, maka ia menjawab tidak ada masalah, bahkan ia yang belakangan lebih banyak untuk memutuskan hubungan pacaran dengan pacar-pacarnya itu. Saya berfikir mungkin ini alasan akrena ia sangat tidak ingin berbahagia diatas penderitaan kakaknya yang belum menikah. Sehingga ia memutuskan pacarnya. Darisana banyak masukan muncul bahwa Abdul Rosyid diguna-guna oleh orang tua mantan pacarnya dan sebagainya yang berbau metafisik. Namun sang kakaknya tidak banyak mengambil pusing soal urusan itu. Sebab semua sudah terjadi, dan sang kakak lebih berfikir realistis. Dengan satu muara alasan sama dengan ayahnya. Abdul Rosyid begini mungkin karena ia depresi sang kakak-kakaknya belum menikah serta ia ingin kuliah padahal sebelumnya ia tak ingin kuliah.

Setelah bercakap panjang, saya pun menyudahi pembicaraan dengan kakaknya tersebut. Ia pun juga ingin segera ke ruang Elang bertemu dengan ayahnya serta melihat kondisi Abdul Rosyid. Semua terjadi diluar dugaan dan begitu cepat. Seakan sebuah mimpi junub, sangat nikmat dan sangat cepat berakhir. Sehingga akhirnya kita terbangun dan wajib mandi besar karena demikian. Itulah kehidupan, kita khususnya saya seringkali tidak dapat menerka semuanya menjadi apa yang diinginkan. Itulah rahasia yang punya kandungan hebat. Sebagaimana kata Anthony Giddens, “Kemampuan mengetahui manusia selalu terbatas,. Rangkaian tindakan terus-menerus menimbulkan akibat yang tak diharapkan oleh pelakunya, dan akibat ini pun adalah akibat tak disadarinya kondisi tindakan itu.” Sebuah pernyataan yang senada diuntaian buku milik Fritjof Capra yaki Turning Point, Capra menukil perkataan manusia China soal keterkaitan perbendaan dan interaksinya serta hasil dari tindakan, “Benda-benda berperilaku secara khusus yang tidak disebabkan oleh aksi-aksi sebelumnya atau dorongan benda-benda lain, melainkan karena posisi benda-benda itu di dalam alam semesta yang senantiasa berputar sedemikian rupa sehingga diberi sifasifat dasar intrinsik yang membuat perilaku tersebut tak dapat dielakkan. Jika benda-benda tidak berperilaku demikian maka benda-benda tersebut akan kehilangan posisi keterhubungannya dalam keseluruhan (yang membuat benda-benda sebagaimana adanya) dan berubah menjadi sesuatu yang lain.”

Man Proposses, God Disposses.

di pekan berikutnya saya bimbingan ada kunjungan untuk liputan Republika, sehingga koordinator kami pun turut datang. Setelah bimbingan kita bertolak menuju kawasan kebakaran di Bojong Kapling, Rawa Buaya untuk investigasi pelaksanaan TPA Ceria bagi korban bencana kebakaran tersebut. Sebelum kesana kami semua menyempatkan diri untuk makan di putaran balik ke arah Trisakti. Disana ada Nasi Uduk Kebon Kacang Zaeal Fanani. Kami makan disana, dan koordinator saya bercerita bahwa ia berjumpa dengan Abdul Rosyid dan sempat bercakap-cakap. Abdul Rosyid bertanya kepada koordinator saya tentang saya, “Ustadz Rizki mana? Duh saya kangen nih pak, pengen jumpa…” maka koordinator saya pun menjawab, “Ustadz lagi bimbingan disana, yah gimana mo ikut lha wong kamu masih di isolasi.” Maka ia menjawab, “tahu nih pak, saya Cuma gara-gara membawa sampah kerumah masa dibilang gila..”

—————– saya membagikan kisah ini kembali, setelah sebelumnya saya mengira kisah saya sebelumnya ialah kisah terakhir yang bisa menginspirasi. Namun Qadarallah wa masya’a fa’al kejadian itu kembali berulang. Abdul Rosyid masuk kembali ke RS dengan penyakit yang sama. Berbeda dengan Yudi yang dua kali masuk, karena narkoba dan karena depresi.

Semoga Allah memberikan kemudahan untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dan tentunya kemudahan untuk kita mensyukuri nikmat anggota tubuh yang masih dimiliki untuk kita manfaatkan terhadap sesama, sebelum satu per satu nikmat Allah yang diberikan akan diambilNya kembali secara bertahap. Wallahul Muwaffiq Ala Aqwamith bii Thariq..

gambar pada:

1. http://stikeskesosi.ac.id/images/rsj2.gif

2. http://www.vhrmedia.com/file_image/130111833746e0031856787.jpg

Iklan

9 pemikiran pada “Dan Ia Pun Kembali

  1. The 1st pak..^_^

    ternyata keduluan lagi ukht..sudah ada yang pertama tuh

    Subhanallah..
    Tak ada kata yang dapat melukiskan untuk segala “keistimewaan” seorang Abdul Rosyid..

    Semoga Alloh senantiasa bersamanya dan juga orang2 yg mengingatNya..

    Allohumma Amiin

    Terus dibimbing ya pak ustadz Rikzi..

    hanya pasien saya aja deh yang panggil ustadz…yang lain tetap panggil seperti biasa..dan yang benar itu Rizki bukan Rikzi hehe

  2. “Barakallah ya Abdul Rosyid..”

    Kasihan sendirian di Elang..Tadinya udah mau daftar bwt nemani pasien2 elang,tapi ternyata proposalnya ditolak sama petugasnya.. =(

    aneh… sudah dapat nikmat normal malah mau jadi abnormal, tar kayak norman yang di Cinta Fitri lho? (hayah)

    to be contineu tho akh..?Ditunggu kisah dan perkembangan selanjutnya dari “pasien spesial” yg satu ini..

    hadaw, ana ndak tahu pasti nih apakah bersambung atau tidak..lihat saja nanti di senin-senin berikutnya, dan bila ada peminatnya yaa ana tuliskan lagi pengalaman ana..namun nampaknya untuk sementara ana cukupkan aja deh soal ini..

  3. gk bs byk komentar di tulisan kali ini…

    hehehe, afwan nih ukht..kurang menarik mungkin yah? hhheee gapapa yang penting puasss buat membaginya

    byk hal yg membuat saya tercengang dan btanya-tanya..

    saya pun semakin tercengang dan bertanya banyak soal berbagai fakta terlebih saya merasakannya langsung

    barakallahufiik buat “pak ustadz” riski..

    wafiiki barakalloh, rizki bukan riski.. tanpa ustadz yah..jadi inget ada buku Mendadak Ustadz

  4. Iya neh pak..Ndak jadi the 1st tapi 2nd (selalu aja keduluan) .

    Ooww..Naming kagem pasien tho?Wah..Pun dados dokter..

    Inggih..Inggih, ingkang leres RIZKI sanes Rikzi utawanipun Riski.. (bu afra juga salah sebut ^_^ )

  5. ^_^ skali-kali nyicip jadi orang abnormal akh..biar jadi “luarrrr biasa”

    Hayah yg suka ngikuti cinta fitri..sampe apal pemainnya lagi.. (geleng-geleng kepala)

    Hoo..jadi ini judulnya “happy ending atw sad ending”?

    Semoga senin-senin berikutnya hadir dengan kisah yang lebih menyenangkan..

    Barakallohufiik..

  6. Kutip: “ Itulah hidup kawan, sama halnya dengan memilih pasangan. Akan banyak kriteria pilihan dalam pikiran dan penyesuaian perasaan. Tapi setelah dijalankan semua akan mudah sekalipun pasangan tak seindah impian”
    ———————————-
    Betul pak, nek pilih2 terus yo ra mbojo2 ampe dadi bujang lapuk lan perawan tua. kita hidup bukan untuk dicintai oleh orang yang sempurna tapi belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna…

    thayyib..layaknya disalah satu toko baju ketika kita ingin membeli sebuah baju, berada pada kondisi yang serba bingung karena banyaknya pilihan baju yang indah dan mempesona. namun akhirnya kita mengambil satu baju untuk dibeli walaupun ingin hati membeli banyak tetapi hanya satu yang kita mampu. berat rasanya meninggalkan toko karena ingin menjadi pemilik toko dengan ratusan baju indah dan beragam pilihan. tapi setelah kita sampai rumah dan mencoba memakainya pilihan tersebut, ternyata itu adalah pilihan terindah yang kita miliki… banyaknya baju indah tidak membuat seseorang lantas ingin memilikinya..sebab dalam keseharian sebanyak apapun baju, yang melekat di tubuh hanya tetap satu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s