Masih Sama Saja Ramadhanmu?

Ramadhan telah datang menghampiri kita, sudah selayaknya momentum ini disambut keharuan dan kebahagiaan juga kesungguhan. Tentunya setelah perjalanan hidup yang cukup panjang dan melelahkan selama 11 bulan. Disepanjang kehidupan itu kebisingan, kegundahan, kecemasan, kebahagiaan, dan bahkan mungkin kelalaian telah mengisi hari-hari kita.

Ramadhan merupakan sebuah bentuk pelatihan yang sangat memiliki manfaat besar bagi mereka yang berusaha mengambil manfaat darinya. Dibandingkan dengan pelatihan-pelatihan yang sebelumnya kita kenal dan kita lakukan mungkin. Seperti halnya sebuah pelatihan yang tentunya sebuah keseriusan dan penuh sesak dengan kesibukan, pun demikian halnya dengan Ramadhan semua aktifitas anak muslim dalam mengingat Allooh juga, dimana mereka pada bulan ini akan senantiasa mengibadahi Rabb yang memegang hati-hati manusia dan yang membolak-balikkannya diliputi dengan segala kerendahan hati dan harapan yang penuh dengan penggantungan asa akan diampunkan dosa dan kesalahannya maupun sebuah permintaan dan permohonan akan apa yang ia inginkan.

Fitrah setiap manusia ialah ia condong kepada sebuah kebaikan dan berharap berada dalam kebaikan tersebut, kebaikan itu sesungguhnya akan ia temukan dimana ketika ia menyembah Rabbnya dengan sebenar-benarnya tanpa ada noda dan kotoran dalam mengibadahi-Nya, sebagaimana yang Allooh firmankan Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ ( QS. Ar Rum : 30 )

Beda !!. Ya beda, seharusnya itu yang menjadi motto setiap muslim ketika Ramadhan menghampirinya dari tahun ke tahun. Beda disini dalam hal seorang muslim harus memiliki peningkatan dalam ibadahnya dan kesungguhannya, memperbaiki niatnya dengan benar dan mengarahkannya diatas kebenaran dibandingkan Ramadan sebelumnya.

Namun sungguh disayangkan sekali ternyata justru beda kali ini kita rasakan sangat berbeda. Disepanjang jalan kita tak lagi melihat pemandangan yang sepi ketika masuk waktu shalat tarawih. Di setiap rumah kita tak lagi kembali melihat bahkan mendengarkan suara lantunan Al Qur’an yang ketika kecil kita sering mendengarkannya di lorong-lorong gang ataupun rumah tetangga, tetapi kini berganti dengan riuh tawa dan cercaan kepada sebuah benda hiburan ( televisi ) baik ketika tarawih tiba ataupun saat-saat yang seharusnya mereka memohon do’a ( sahur dan berbuka ).

Sungguh kita sangat rindu sekali akan masa-masa dimana antusias dalam berlomba menuju masjid ketika kita kecil berganti pemandangan menjadi shaf-shaf yang terbengkalai dan nasihat para penceramah yang dahulu penuh dengan seruan semangat dan penyejuk hati, namun kini berganti hanya menjadi bumbu tertawa dan pengantar tidur.

Sungguh kita pun juga sangat menanti masa-masa penuh kesedihan disaat kita lalai ketika melewati suatu ibadah sewaktu kecil dahulu dan kini justru berganti menjadi masa-masa yang biasa dengan bulan-bulan dan waktu yang lainnya.

Berapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa haus dan lapar belaka.” (Shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh). Itulah yang dipesankan baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Sebuah nasihat yang benar-benar mencerminkan dirinya shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai al jawamiiul kaliim.

Benar sekali saat ini kita bahkan dengan mudahnya melihat akan manusia-manusia muslim yang digambarkan dan dikatakan oleh sabda Rasululloh tersebut, terlebih di zaman sekarang bukan hal yang tabu lagi bila kita melihat seorang muslim tanpa udzur meninggalkan apa-apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya. Kita dapat merasakan betapa dengan mudah dan murahnya akses-akses menuju kemaksiatan terbuka lebar, kita pun tak jarang melihat pemandangan-pemandangan yang mengarahkan dan dapat menggoyahkan diri menuju sebuah perbuatan keharaman terbuka lebar, kita pun tak jarang merasakan nuansa-nuansa berbeda di setiap Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dalam fase hidup kita yang menggambarkan betapa banyak sekali penyelewengan dan penyimpangan atau bahkan penurunan dalam optimalisasi ibadah yang penuh berkah ini. Sungguh sangat disayangkan sekali…hawa nafsu yang diikuti dan sebuah hiasan dunia yang melenakan telah menjadikan mereka ( saudara-saudara kaum muslimin yang tidak ta’at atau justru kita ?? ) benar-benar silau dan lupa akan hakikat penghambaan diri yang belum tentu tahu ia akan menemukannya di tahun-tahun berikutnya.

“ Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui “ ( QS. Al Ankabut : 64 ),

dalam firmannya yang lain Allooh subahanahu wa ta’ala menjelaskan “ Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti ? “ ( QS. Al An’am : 32 ).

Sungguh terlalu banyak ibadah-iabadah yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan yang belum tentu di bulan-bulan berikutnya kita bisa melaksanakannya dan mendapatkan ganjaran dari Alloh sebesar-besarnya sebagaimana di bulan Ramadhan ini. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih tentang keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan ini “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaihi). Ya, betul sekali sebuah keimanan yang dimaksud diatas ialah berusaha Ikhlas dan dengan sungguh-sungguh hanya mengharapkan Ridha dan balasan dari Alloh azza wa jalla saja.

Maka saudaraku mengapakah engkau menjadi malas untuk bersegera menunaikan kewajiban ini dan justru menyianyiakan dan mengotori ibadah shaummu dengan sesuatu yang tak bermanfaat dan sia-sia ?? berbekallah saudaraku untuk menghadapi perjalanan jauh kembali setelah bulan ini, apakah engkau termasuk hamba-hamba Alloh yang yakin bahwa di tahun depan engkau akan kembali bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini ?? mengapa pula justru saat ini kau malah menjadi orang-orang yang kikir dan bakhil dengan sangat sulitnya kau mengeluarkan sedikit rezeki yang kau miliki tuk kau sedekahkan ?? bertakwalah saudaraku.. bertakwalah kepada Alloh, raihlah ampunan Alloh dan keberkahan yang Alloh tebarkan dengan banyaknya dibulan ini. Ataukah engkau termasuk orang-orang yang tak mempercayai janji dari Alloh azza wa jalla…

“ Wahai manusia ! Ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu. Adakah pencipta selain Alloh yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi ? Tidak ada tuhan selain Dia, maka mengapa kamu berpaling ( dari ketauhidan ) ? “ ( QS. Fatir : 3 )

“ Wahai manusia! Sungguh, janji Alloh itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Alloh “ ( QS. Fathir : 5 ).

Semoga kita tidak termasuk hamba-hamba Alloh yang mendustakan nikmat dari-Nya dan tidak pula dihimpunkan sebagai hamba-hamba yang ingkar akan kewajiban terhadap Rabbnya…

wallahul musta’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s