Masih Pake Celana Pendek?

Tentunya kamu sering deh nemuin mereka-mereka yang telah memasuki usia dewasa ataupun usia paruh baya pake celana pendek saat bepergian kemana-mana. Mereka sih bilang ngakunya Islam dan waktu sekolah pernah dapet pelajaran agama Islam. Pastinya dong di pelajaran itu ada materi pentingnya menutup aurat atau menjaga aurat. Namun faktanya berbicara, di kota besar sekelas ibukota negara yang klaimnya punya peradaban lebih maju ternyata eh ternyata malah kebalikannya lho dengan penduduk desa. Kalo di desa justru para bapak-bapak atau mereka yang menginjak usia dewasa ngerasa risih kemana-mana bepergian dengan menggunakan celana pendek seperti bendera berkabung alias setengah tiang. Bahkan hingga pergi kesawah pun kebanyakan lebih suka pake celana sebetis dibanding pake celana pendek.

Celana pendek yang nangkring diatas paha. Celana yang walhasil tidak hanya menyibakkan aurat namun juga pamer urat. Budaya pamerisasi memang lagi jadi trend mewah di kota yang akan menuju label megapolitan. Terlebih ada seorang pengusaha kaya yang kemana-mana sukanya pake celana pendek padahal dirinya udah tua. Dan pastinya suatu sejarah yang gak bakal dilupa kalo ternyata pernah ada lho disuatu negara ketika kepala negaranya dipimpin oleh kyai kharismatik namun di detik-detik sebelum lengsernya ia keluar dari istana pake ‘nana edek’ alias celana pendek.

Seperti yang dipahami bersama bahwasanya ajaran Islam (loh kok lagi-lagi ajaran Islam sih? Lha iya dong, khan ngakunya orang Islam..kecuali kalo di KTPnya udah diganti agamanya jadi atheis atau noni. Nah kalo ngakunya Islam yah semua-muanya dikembalikan pada ajaran Islam dunks, setuju gak?*yang setuju angkat tangan, yang gak setuju angkat kaki*) telah melengkapi ajaran-ajaran dari agama-agama samawi (langit) lainnya, Islam telah mengatur dengan tepat apa yang terbaik bagi para pemeluknya. Agama yang sempurna dan tidak lagi ada setelah kesempurnaan melainkan ulah manusia yang suka menambahkan dan mengurangi syariat telah ada. Bahkan soal pakaian ini Allah berfirman:

“Hai anak Adam, Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al A’raaf : 26)

Allah pun menegaskan bahwa nantinya setiap manusia baik ia yang berada di surga dan neraka akan tetap memakai pakaian, sebagaimana dalam firmannya :

“(bagi mereka) syurga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan Pakaian mereka didalamnya adalah sutera.” (QS. Al Fathiir : 33).

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al Hajj : 19)

Bagi setiap muslim sendiri batasan aurat pun telah ada yakni diantaranya kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari ‘Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami’il Ushul 5/451 : “sanadnya hasan”).

Nah seharusnya mereka-mereka yang suka memamerkan pahanya kemana-mana disertai bawahannya yakni dengkul alias lutut itu malu, sebab sudah ada larangan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam seperti hadist diatas. Jadi jangan juga kemana-mana memamerkan organ tubuh yang spesial itu. Cukuplah bagian tersebut untuk mahram (hubungan darah dan saudara yang diharamkan untuk dinikahi). Oleh karena itu teman, hendaklah seseorang muslim yang mengaku bahwasanya Rabbnya ialah Allah dan Nabinnya adalah Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam menjadikan hidupnya benar-benar konsisten untuk taslim (berserah diri) ketika syariat tersebut telah diputuskan. Tidak ada lagi sebuah pengingkaran dan pembangkangan seakan-akan agama itu adalah miliknya dan ia berhak untuk memodifikasi sesuka hati dan pas dengan kemauannya. Sesungguhnya Allah dan Rasulnya mengajarkan untuk menggunakan pakaian keindahan serta bagian dari keindahan itu ialah menutupi aurat yang telah dijelaskan dalam hadist diatas. Hendaklah seseorang membiasakan dirinya untuk menutup aurat dan para orang tua mengajarkan anak-anaknya baik pria maupun wanita sedari kecil untuk terbiasa menutup aurat.

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya:

Soal : Apakah boleh bagi anak laki-laki atau perempuan memakai pakaian yang pendek sehingga terlihat pahanya?
Jawab : Adalah perkara yang telah diketahui bahwa anak-anak yang belum berumur tujuh tahun tidak ada hukum aurat padanya. Akan tetapi, membiasakan mereka memakai pakaian yang pendek sehingga mudah terlihat auratnya, tidak diragukan lagi akan menyebabkan mereka meremehkan dalam membuka aurat pada masa yang akan datang. Bahkan, banyak dijumpai terkadang seseorang tidak merasa malu dan biasa serta tidak menghiraukan membuk aurat sampai terlihat bagian pahanya karena kebiasaan yang dilakukannya pada waktu kecil. Saat sekarang, manusia terbiasa malihat bagian paha sebagaimana melihat bagian wajah. Setelah saya melihat dan memperhatikan, maka janganlah anak-anak diberikan yang demikian (pakaian pendek). (Majmu’ah As’ilah).

Sekaranglah saatnya, yuk benahi cara berpakaian kita agar diridhai oleh Allah dan Rasulnya dan tidak memberikan para syaithan untuk masuk kedalam celah yang terlihat remeh ini namun menimbulkan dapat banyak kerusakan. Menutup jalan adalah lebih baik dibandingkan dengan menjaga sebuah jalan.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raaf : 27)

Wallahu ‘Alam

sumber gambar : http://beradadisini.dagdigdug.com/files/2008/02/pamantyo.jpg

Iklan

9 pemikiran pada “Masih Pake Celana Pendek?

  1. makin kesini orang kota makin aneh….

    ~ ada baiknya celana para olahragawan itu diganti sirwal saja yah?~

    begitulah realita kota kita, kota jakarta tercinta..

    –usul bagus diganti sirwal–

  2. waduh….
    saya harus sosialisasi ke temen-temen kost neh.
    klo maen futsal pake celana panjang aja.

    kalo mo efektif sosialisasinya via depkominfo aja hehe

    setelah itu di buat kuliah…Wakz.

    iya nih, hal-hal besar yang di anggap sepele oleh kita.
    barakallahu fiik

    na’am shahih. wafiika barakalloh

  3. kalau aku emang suka yang pakek sedengkul 😀 soalnya isis, kalo pakek yang separu tiang paling cuman dirumah takut bikin smput para hawa hahahaha…. 😆

    yaa berusaha mas.. biar dapat ridha dari Allah Ta’ala

  4. emang betul banget,orang-orang sekarang banyak yang terpengaruh dengan cara berpakain,dikota ja masih ada orang yang pake jilbab,tapi cara pakaiannya ketat.daripada seperti itu mending nggak usah pake jilbab.

    • pendapat anda ada benarnya ada juga tidaknya, soal mending tak usah sekalian pakai jilbab justru ide yang semakin menimbulkan banyak silang pendapat. sebagai pihak yang telah paham, maka dakwah jalan terus dan jangan lupa doakan agar hidayah menyapa mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s