Ketika Lari Dari Kekuatan

Sakit bagi sebagian orang memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Terlebih bila muncul anggapan bahwa sakitnya itu merupakan bentuk penyiksaan dengan siraman tidak adanya rasa keadilan dari sang Tuhan. Seringkali saya menemui atau masuk kedalam ruangan dengan aura yang gelap, murung, membisu, dan terdengar suara lamat-lamat televisi disertai tayangan bergonta-ganti.

Dalam setiap bimbingan, banyak para pasien justru lebih terdiam sepi, bengong, melamun, mengkhayal, berangan-angan, bahkan tak jarang mereka merasa dirundung oleh ketakutan yang membahana di dinding jiwa akan sakitnya dengan kekhawatiran akan merembet ke seluruh penjuru organ tubuh. Jika sudah demikian, tak ayal sakitnya menjadi berubah dari sekedar sakit perut bisa menjadi sakit kepala. Padahal ketakutan itu hanya nol besar belum terbukti dan tak sesuai realita melainkan sekedar katanya dan kecemasan saja.

Banyak hal yang dikeluhkan atas sakitnya tersebut, perih, mual, sebah, kembung, ngilu, cekot-cekot, kliyengan, pusing tujuh rupa, ketindihan, dan berbagai aneka ragam rasa serta aroma penderitaan, bahkan seseorang yang sedang hamil sejatinya adalah kebahagiaan tetapi masuk rumah sakit dan diopname dengan tulisan sakit hamil (?). Namun yang terkadang membuat saya agak miris hati ialah ketika sesi dialog dengan mereka setelah banyak menguraikan tentang hikmah dibalik sakit.

Terkadang saya bertanya, apakah ketika sakit mereka tetap mengingat Allah, apakah mereka tetap beribadah seperti biasa, apakah mereka masih shalat, dan apakah mereka masih menerima takdir Allah atas penyakitnya. Banyak jawaban yang tersedia, ada yang bilang masih shalat, shalat jika ingat, shalat ketika sehat dan tidak shalat ketika sakit, tidak shalat sama sekali ketika sakit maupun sehat, tidak tahu bagaimana tata cara shalat dan bersucinya ketika sedang sakit, shalat pas diingatkan, shalat ketika membutuhkan, shalat karena ingin pulang, tidak shalat karena tidak punya efek atas shalatnya, tidak shalat karena shalat atau tidak sama saja tetap sakit dan tak punya duit, tidak shalat karena tak tahu arah kiblat, tidak shalat karena kotor, dan sekelumit ilmu mengelak bagi mereka yang tidak shalat.

Itulah realita yang tersaji didepan mata, terkadang ada rasa bingung ingin memulai darimana, tahapan apa yang tepat, namun ketika sudah terkena tepat, tak jarang diantara mereka simpati, menitikkan air mata, menjabat erat terima kasih, sekedar basa-basi tanda mengerti, atau berupaya memberikan amplop dan sedikit uang hasil kunjungan orang, (walaupun Sahabat Pasien diharamkan menerima ini) atau tak jarang yang sebelum berucap banyak sudah tertidur duluan seakan saya seang berdongeng didepan ratusan anak, atau malah pernah anggota dewan yang terhormat mengkritik uslub saya padahal sejatinya ia yang wajib saya kritik habis sampai naik bis walaupun diakhirnya ia memberikan nomor contact pada saya dan jika ada apa-apa hubungi saja dia.

Seharusnya sakitnya seseorang itu adalah sebagai suatu wasilah bagi dirinya untuk mengingat kembali untuk apa ia diciptakan, jika Allah mengatakan dan tidaklah ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahnya saja, atau dalam ayat lain Allah bertanya “Apakah mereka mengira diciptakan hanya untuk bermain-main saja, dan mereka tidak akan dikembalikan” atau dalam beberapa ayat bahwasanya eksistensi kehidupan adalah pengabdian kepada Yang Maha Menghidupkan.

Bagaimana mungkin seseorang bisa berpaling dari Allah disaat mereka seharusnya berada pada titik-titik Allah mengabulkan doa dan harapan mereka. Disaat seandainya mereka paham atas penyakitnya niscaya akan terampuni dan terhapuskan dosa serta kesalahan mereka oleh Sang Ghafiru Dzambi wa Qaabiluu Tawbii. Jika demikian bagaimana mungkin seseorang bisa berkata ketika sakit ia tidak shalat dan ketika sedang sehat ia shalat, bagaimana pula jika Allah melakukan permainan hitung-hitungan seperti dirinya, jika ia sehat dan shalat maka diberikan nafas sepanjang hari dan jika sedang sakit karena tidak shalat lantas Allah memberikan ia waktu bernafas setengah hari dengan alokasi setengah hari laginya ia mencari nafas sendiri. Subhanallah Walhamdulillah ternyata Allah tidak pernah perhitungan sebagaimana hambanya tersebut perhitungan, sekalipun ia tidak shalat ia masih bisa merasakan kenikmatan.

Bisakah seseorang yang seharusnya ia lebih dekat kepada Alah justru malah meninggalkan Allah, justru berpaling dan tak jarang secara tidak sadar menggugat takdir Alah. Mengapa ia bisa meninggalkan kewajiban sedangkan Allah masih senantiasa memberikan kemudahan dirinya untuk bernafas, masih diberikan penglihatan terang di pagi itu, atau dimudahkan merasakan sesuap makanan dari mulai mengangkat sendok hingga ia mencernanya menjadi feses. Benarlah apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallohu Anha, “Tidaklah seorang hamba minum air yang jernih kemudian masuk ke tubuh tanpa kesulitan dan setelah itu keluar kotoran penyakitnya, kecuali wajib baginya bersyukur.” (Asy Syukr no 192, Ibnu Abi Dunya).

Renungkanlah wahai saudaraku, mengapa kalian rela meninggalkan Allah disaat sakit sedangkan Allah tidak meninggalkan kalian, sudahkah kita membalas kebakan yang Allah berikan sebagaimana Allah katakan, wa ahsin kamaa ahsanalloha ilayk (dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik untukmu). Terkadang jika sudah sampai taraf akut apa yang mereka rasakan, maka senjatanya ialah; bapak-ibu boleh tidak beribadah kepada Allah, boleh juga kok melupakan Allah, mencela Allah, berpaling dari Allah, bahkan mau saya tunjukkan dimana tempatnya? Diantara mereka tersenyum maka saat itu juga enaknya dihantam dengan statement, dua tempat untuk merealisasikan itu, pertama ialah silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak dimiliki oleh Allah dan kedua silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak diawasi oleh Allah. Jika sudah tahu tempatnya segera kabari saya. Mau tinggal di Matahari juga punya Allah, tinggal di Bulan juga punya Allah, Venus, Mars, Jupiter, Segitiga Bermuda, Kota mati yang 10 itu, atau Dibawah laut paling dasar, Black Hole, Antartika, Lubang Semut, dll silahkan cari. Kesemuanya juga milik Allah dan ada pengawasan Allah disana. Jadi tidak ada tawar menawar lagi selain tawaran terakhir jika bapak-ibu ingin yaitu bukan tawaran tempat melainkan tawaran keadaan, seseorang boleh melepaskan ibadahnya terutama shalat jika ibu-bapak ingin dalam keadaan, gila, pingsan atau tak sadarkan diri, dan terakhir mati.

Jadi siapa yang tak adil, Khaliq ataukah makhluk? Padahal Allah telah memberikan kenikmatan lain atasnya namun pengingkaran itu ada, benarlah yang Allah katakan “innal insana khuliqaa halu’a, idza massahu syarru jazu’a wa idza massahu khayru manu’a”. Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu.

Itulah sedikit yang bisa dibagi hari ini, jika memang kita tidak punya tempat dan tidak ingin keadaan seperti itu maka kita tetap mendapatkan beban untuk senantiasa mengingat Allah, menyembah Allah, dan terus dekat dengan Allah. Ini Bumi Allah, milik Allah maka wajib bagi kita untuk terus mengabdi kepadanya. Jika seorang kontraktor (pengontrak rumah) saja akan ditagih terus dan bisa jadi diusir jika tidak memenuhi kewajibannya bagi kepada pemilik lantas bagaimana dengan kita. Kesadaran diri adalah hal yang penting disaat banyak nikmat gratisan yang kita miliki. Nafas yang bebas, pandangan yang luas, pendengaran yang tenang, lisan yang punya wewenang, dan semua itu diatur dengan sekat batas. Batasan dan aturan yang telah Allah turunkan kepada setiap hambanya.

2 thoughts on “Ketika Lari Dari Kekuatan

  1. Assalamu’alaykum..,
    Na’am orang jaman sekarang lebih gaswat daripada jaman jahiliayah dahulu.,
    Orang jahiliyah dahulu..,
    jika terkena bencana mereka minta pertolongan Alloh tapi dikala senang mereka lalai..,
    sedang jaman sekarang mereka lalai dikala sedih dan bahagia..,
    Salam kenal shofiyah

    http://utrunjah.wordpress.com/2009/02/12/tentang-takdir/

    wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh, khayr.. ada dalam Al Maarij kok ukht, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan disifati mudah gelisah serta berkeluh-kesah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s