Kezuhudan Dalam Kelembutan

Dalam salah satu kutaib kecil berjudul Tazkiyatun Nafs karya Al Ustadz Ahmad Farid hafidzhahullah, beliau menukil sebuah kisah tentang seseorang bernama Abu Hazim. Sosok yang di masanya terkenal dengan kezuhudannya. Ia pernah ditanya, “Apa saja harta milik anda?” Beliau menjawab, “Hartaku ada dua. Aku tidak pernah takut menjadi fakir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Allah dan berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang dimiliki oleh manusia.” Kali lain beliau juga pernah ditanya dengan pertanyaan hampir senada, “Apakah anda tidak takut menjadi fakir?” Beliau kembali menjawab., “Bagaimana aku takut menjadi fakir sedangkan Tuanku adalah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi serta diantara keduanya, juga yang ada di bawah tanah?”

Sungguh kita tentunya mendapati masa ini adalah masa-masa yang tiap manusia dituntut untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya. Seseorang terkadang berhadapan dengan sketsa guratan realita maupun tindakan nyata fenomenologi dengan bungkusan lebih dari sekedar sebungkus makan ringan di supermarket. Hilangnya nilai-nilai merasa cukup terhadap nikmat halal yang Allah berikan mendorong tiap individu berjalan tanpa rambu-rambu syariat yang hanif.

Padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sosok mulia jauh sebelum Abu Hazim bahkan kita sekalipun dan tentunya tidak perlu bertanya akan sejarah panjang kehidupan beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajak agar ummatnya bersikap zuhud, yakni berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya atau dalam pengertian lain ialah berpaling dari sesuatu karena keremehan dan kehinaannya, serta ketidakpantasannya untuk diperhatikan. Ajaran zuhud bukanlah meninggalkan dunia dan menjauhkannya bahkan mencampakkannya jauh dari keseharian, ajaran zuhud bukan pula berlari kepada nilai-nilai akhirat tanpa landasan syariat. Ajaran zuhud itu sendiri telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam sabdanya ketika seorang mendatangi Nabi lantas bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekaian manusia? Dan Rasulullah pun menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya kamu dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).

Allah pun telah berfirman dalam Al Qur’an tentang zuhud yang bermakna bukan meninggalkan dunia jauh kebelakang, akan tetapi mengambil apa-apa yang bermanfaat di dunia bagi kehidupan di akhirat kelak. Allah mengatakan, “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash : 77).

Zuhud mengajarkan nilai-nilai kelembutan. Sebab darisanalah mata air kebijaksanan seseorang akan dapat memancar dalam memaknai hidup seimbang secara tepat dan proporsional. Zuhud tersebut tidak dipahami secara sembarangan sebagaimana kaum sufi memahami zuhud sebagai ajaran kewajiban untuk berlari dari nilai-nilai kenikmatan dunia. Sehingga sebagian diantara mereka menyiksa dirinya untuk tidak pernah mencuci pakaian, tidak pernah merasakan mandi dalam kesehariannya, memakan makanan yang berasal dari belas kasihan dan uluran tangan, atau justru menempuh jalan-jalan dengan tanpa alas kaki berdalih ingin bertemu Ilahi Robbi. Salah kaprah dalam hal zhud merusak eksistensi kemuliaan namanya serta mereka-mereka yang berada diatas sikap zuhud sebenarnya.

Lembut Dengan Zuhud

Salah seorang ulama besar bernama Yunus bin Maisarah berucap, “Zuhud terhadap dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Tetapi zuhud terhadap dunia adalah kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ditangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu. Juga keadan dan sikapmu sama, baik ketika ditimpa musibah maupun tidak, serta dalam pandanganmu orang lain itu sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran.” Pernyataan ini pun dilengkapi oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah saat ditanya oleh salah seorang tentang orang yang memiliki harta banyak lantas apakah orang tersebut dapat berzuhud? Maka Al Imam menjawab, “Apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud.”

Zuhud dapat menjadikan hati seseorang lembut ditengah zaman penuh kabut, kelembutan yang menentramkan banyak pihak serta menjadikan getaran energi positif penuh semangat bagi mereka yang melakukan dan menerima getaran manfaatnya. Kezuhudan kini telah sirna seiring dengan banyaknya tipu muslihat dan intrik cinta dunia. Seseorang lebih cenderung kepada dunia dengan menghalalkan segala cara. Ketika disudut dunia lain pun ada kehidupan ingin mendekatkan diri kepada Rabbnya namun dengan cara salah seenak hatinya menggelandang kesana kemari dengan dali menempuh jalan-jalan spiritualitas sufi. Tapi segala sesuatu akan lebih indah bila ia ditengah, ia dapat melihat dan menakarnya dengan lensa keseimbangan.

Apabila pintu kelembutan dari bagian zuhud telah berada dalam genggaman, niscaya kebaikan-kebaikan lain akan mengikuti beserta menimbulkan keberkahan bagi mereka yang senantiasa meniti jalan-jalan kezuhudan dengan syariat tepat dan sesuai dengan manhaj kebenaran. Kelembutan tersebutlah yang kelak akan mengantarkan seseorang kepada kepekaan terhadap sekitarnya. Dalam salah satu sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, beliau berucap, “Kelembutan itu adalah keberkahan dan kekerasan itu adalah kesialan. Apabila Alah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga maka Dia memasukkan kepada mereka pintu kelembutan. Sesungguhnya kelembutan itu tidak pernah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan sesunguhnya kekerasan itu tidak pernah ada pada sesuatu melainkan akan merusak keindahannya.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Hibban 2/310).

Muhamad Al Baqir berkata, “Barangsiapa yang diberi akhlak dan kelembutan, maka ia telah diberi seluruh kebaikan, kenyamanan, dan akan baiklah keadaannya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa tidak memiliki kelembutan dan akhlak, maka ia memiliki jalan menuju setiap keburukan dan malapetaka, kecuali orang yang dilindungi Allah azza wa jalla.” (Hilyatul Auliyaa wa Thabaqatil Ashfiya’ 3/186)

Mari zuhudlah, menjaga diri dari kehidupan dunia yang melalaikan namun tidak lupa untuk mengambil perbekalan. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al- Bukhariy no.6416). dan dalam riwayat lain, beliau shalalahu ‘alayhi wa sallam bersabda melalui riwayat Al Mustaurid bin Syaddad Al Fithriy yakni “Bila dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanyalah air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya ke laut.” (HR. Muslim).

Dalam Tazkiyatun Nafs pun dijabarkan tentang tingkatan zuhud. Pertama, seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya. Hatinya condong kepadanya. Jiwanya berpaling kepadanya. Namun, ia berusaha, bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid (seeorang yang berusaha zuhud).

Kedua, seseorang meningalkan dunia –dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala- karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa kehendak yang ingin dicapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud. Pun ia memperhitungkannya. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping.

Ketiga, seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara. Perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk memecah mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja. Begitulah, perumpamaan setan adalah bagaikan anjing menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah Ta’ala, menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja. Bagaimana mungkin masih membuat perhitungan lebih terhadap dunia. (selesai kutipan).

Maka bagaimana dengan roti yang Anda miliki? Apakah Anda memiliki roti tersebut dan memakannya habis hingga kenyang lantas ketika Anda memiliki keperluan dengan seorang raja dengan anjing didepan pintunya, Anda tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat mengelabui sang anjing dan justru diri anda sendiri berjudi dengan nyawa dan luka melawan seekor anjing galak terlatih milik seorang raja tersebut? Ataukah justru Anda memakan roti tersebut, menyimpannya pada kotak perbekalan dan mengeluarkannya suatu saat jika dibutuhkan menghadapi seekor anjing. Saudaraku, karena kita terkadang tak pernah tahu apa yang harus dilakukan dengan roti itu. Si tamak pasti melahapnya hingga ia kenyang tak mampu berjalan lantas menunggu gilasan, dan si cermat yang paham bagaimana mengelola apa yang dimilikinya dan memanfaatkannya secara tepat.

Kisah Para Mutazzahhid

Siapapun pasti mengenal tentang sosok keberanian seorang Jundub bin Junadah, pembegal nomor wahid saat masih jahiliyah. Si pemberani ulung yang berhasil mengajak kaumnya dan kabilah tetangganya masuk Islam. Kisah kepahlawanan dan keteladannya terukir jelas dalam ruang kehidupan para sahabat Rasulullah ridwanallohu ajma’in lainnya. Jundub bin Junadah yang tenar dengan nama Abu Dzar Al Ghifari. Pemuka kabilah ghifar yang gagah berani. Ia melalui masa-masa hidupnya dengan penuh nilai kearifan. Asy Syaikh Muhammad Mahir Al Buhairi dalam Mawaaqif Mubkiyah min Hayatir Rasuul shalallahu ‘alayhi wa sallam wa Ashabih memaparkan kisah mencengangkan diakhir hidup Abu Dzar. Masa-masa dimana ada banyak perbedaan pendapat hebat dikalangan para shahabat Rasulullah sepeninggal beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam.

Pada masa khalifah dzun nurain Utsman Ibn affan radhiyallohu anhu, Abu Dzar si pembela kaum lemah dan pengacaranya kaum dhuafa memiliki sebuah slogan “Gembirakanlah para penimbun harta yang menimbun emas dan perak dengan setrika dari api; dahi dan pinggul mereka disetrika dengannya pada hari kiamat.” Sebuah ungkapan kekecewaan Abu Dzar dikala menemui masa dimana para sahabat-sahabat lain menjadi kaya raya akan hal penaklukan mereka terhadap negeri-negeri berlimpah harta.

Sikap Abu Dzar membuat sahabat lain semisal Muawiyah khawatir dengan sikapnya yang berkata lantang kesana-kemari dipelosok desa dan negeri, dipenjuru lembah serta padang pasir luas. Muawiyah khawatir akan terjadi revolusi atas apa yang dilakukan Abu Dzar, dan tentunya kekhawatiran ini adalah bentuk amar ma’ruf antara satu sahabat dengan sahabat lainnya tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan. Sebab para sahabat satu dalam hal akidah serta manhaj.

Maka hal tersebut sampai kepada Utsman bin Affan yang lantas memanggil Abu Dzar, darisana terjadilah sedikit dialog diantara mereka berdua, sebuah sikap yang tepat antara Abu Dzar dan Utsman bin Affan. Tidak seperti sekarang di masa ini kala demonstrasi menjadi sarana apresiasi menghardik ulil amri. Lantas Utsman pun berpesan kepada Abu Dzar, “Tinggallah disini, didekatku. Kamu akan mendapatkan kenikmatan kapan saja.” Namun Abu Dzar tetap kokoh pantang surut dengan jawaban, “Aku tidak butuh kepada dunia kalian.”

Abu Dzar pun meminta izin agar Utsman membolehkannya pergi ke Rabdzah (suatu wilayah dekat dengan Madinah) lantas Utsman pun mengizinkan. Ternyata badai tidak begitu saja pergi dari seorang Abu Dzar, sekelompok provokator datang bertemu dengan beliau yang berasal dari Kufah. Mereka berusaha memberikan semangat agar Abu Dzar mengkudeta serta merevolusi kepemimpinan Utsman bin Affan, persis kaum munafiqin saat Rasulullah masih hidup yang menyebarkan berita panas ketika Aisyah dituduh berzina karena tertinggal oleh para kabilah. Sikap Abu Dzar pun tak bergeming, ia tetap hidup zuhud dan berkata kepada para pembual berandal tersebut dengan nada hardikan, “Demi Allah, sekiranya Utsman bin Affan menyalibku diatas tiang paling tinggi atau puncak gunung, pasti aku akan patuh, aku akan menurut, aku akan bersabar dan menaggungnya. Dan aku berpendapat itu lebih baik bagi diriku. Seandainya ia (Utsman) mengarakku dari ujung dunia ke ujung satunya lagi, aku akan senantiasa patuh dan taat, bersabar menanggungnya dan itu pendapatku yang terbaik. Seandainya ia mengembalikkan aku ke rumahku, maka aku pun akan bersikap sama sebagaimana apabila ia akan menyalib dan mengarakku sebab itu adalah pendapat yang lebih baik bagiku.”

Abu Dzar menghabisi sisa hidupnya di Rabdzah bersama seorang istri, disaat menjelang wafatnya. Ummu dzar mengatakan, “Ketika Abu dzar akan meningal, aku menangis.” Lantas Abu dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ummu dzar menjawab, “Bagaimana aku tidak akan menangis? Engkau mati dihamparan padang pasir, sedang aku tidak memiliki kain yang cukup lebar untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang membantuku untuk menguburkanmu.”

Abu Dzar menjawab dengan jawabannya yang disambung dengan perkataan sabda kekasih Allah yang ia cintai, “Gembiralah, jangan menangis. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada sejumlah orang yang ketika itu aku pun termasuk berada disana, ‘Pasti akan ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir dengan disaksikan oleh sekelompok orang mukminin.’ Tak seorangpun dari orang-orang tersebut kecuali telah meninggal disebuah desa atau dalam kelompok. Itu berarti yang dimaksud Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah diriku. Demi Allah, aku tidak berbohong dan tidak dibohongi. Awasilah jalan, mungkin ada orang lain yang lewat. Maka Abu Dzar yang mutazahhid wafat dan jenazahnya diurus oleh seklompok kaum mukminin yang melewati tempat tersebut. Abu Dzar, zuhudnya tidak membuat ia membangkang. Ia justru menyendiri dengan komitmennya dan mencukupi dirinya beserta istri dengan kehidupan seadanya. Maka sabda rasulullah shalallhu ‘alayhi wa sallam benar kiranya atas seorang Abu Dzar radhiyallohu ‘anhu, “Kamu berjalan sendirian, meninggal sendirian, dan dibangkitkan dalam keadaan sendiri pula.”

Semoga pembaca tidak bosan mengikuti alur tulisan ini dengan penuh rasa berat hati, sebab satu kisah berikutnya akan penulis sampaikan agar menunjukkan kepada para pembaca bahwasanya nilai-nilai zuhud itu adalah teladan kelembutan, akhlak mulia yang diwariskan secara indah. Tak ada satu pun orang yang menginginkan kelembutan akan kehidupannya sebelum ia sampai kepada nilai-nilai kezuhudan terhadap dunianya. Maka duduklah beberapa menit saja untuk menghabiskan artikel ini agar –semoga Allah memberikan keberkahan pada anda- anda dapat mendapatkan penuh dari keseluruhan tema singkat ini, Insya Allah.

Tahun itu, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkunjung ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Ia melihat sosok mulia dari keturunan mulia, cucu dari al faruuq Umar ibn Khaththab serta anak dari seorang perawi hadits sebelumnya di tulisan ini, Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallohu ‘anhuma. Sosok tersebut bernama Salim bin Abdullah in Umar bin Khaththab rahimahullah, seorang muara ilmu di masanya, tabi’in terkenal di zamannya, serta salah seorang yang mendapatkan perhatian istimewa dengan baik dari seorang pembunuh cucu sahabat Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yakni Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dengan julukan hebat dari para ulama “jika semua orang jahat dikumpulkan dari masa ke masa, maka tidak ada yang lebih jahat daripada Al Hajjaj.”

Kita kembali kepada kisah yang dinukil dari Suwaar min Hayati Tabi’in karya Abdurrahman Rifat Basya. Sulaimn bin Abdul Malik melihat sosok Salim bin Abdullah bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu, lidahnya bergerak membaca Al Quran dengan tartil, sementara air mata meleleh dikedua pipinya. Usai thawaf khalifah menghampiri dirinya dengan diberikan keleluasaan untuk bertemu dengan Salim di tengah kerumunn orang disekeliling Salim bin Abdullah. Namun Salim tidak menghraukan dan justru sibuk dengan dzikir dan bacaannya. Khalifah menunggu saat tepat atas Salim. Dan ketika ada kesempatan, khalifah pun menyapa,”Assalamu’alayka wa rahmatullah wahai Abu Umar (kuniyah bagi Salim).” Salim menjawab, “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Khalifah lantas berkata, “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan anda wahai Abu Umar, maka saya akan memenuhinya.” Salim tidak mengatakan apa-apa hingga Khalifah menyangka ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh khalifah, Khalifah merapatkan duduknya dan mengulangi perkataan sebelumnya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya dapat memenuhinya.” Lantas Salim menjawab, “Demi Allah aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin Aku sedang berada di Rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”

Khalifah pun malu, namun ia tak beranjak dari duduknya. Saat shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang mengejarnya dan bertanya akan banyak hal baik itu fatwa, hadits, dan ada pula yang minta di do’akan. Khalifah termasuk diantara kerumunan tersebut, orang-orang kembali menepi dan memberi jalan kepada sang khalifah yang akhirnya bisa mendekati Salim, lantas khalifah berkata, “Sekarang kita sudah berada diluar masjid, maka katakanlah kebutuhan anda agar saya dapat membantu anda. Maka Salim hanya menjawab, “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?” khalifah menjawab, “Tentunya dari kebutuhan dunia.” Salim pun membalas, “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang Memilikinya, bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”

Mendengar ucapan Salim, khalifah pun kembali malu, ia pun bergumam tentang Salim, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai Al Khaththab, alangkah kayanya kalian dengan Allah azza wa jalla. Semoga Allah memberkahi keluarga kalian.”

Padahal di kesempatan sebelumnya, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik un pernah dibuat malu oleh Salim bin Abdullah, peristiwanya pun sama ketika sang khalifah melaksanakan ibadah haji. Saat orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah menjumpai Salim bin Abdullah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdullah mengenakan ihram. Dan terjadilah percakapan disaat Al Walid mengucapkan salam dan doa kepadanya lantas melihat tubuh Salim terbuka dan tampak begitu sehat juga kekar bagaikan bangunan yang kokoh.

Al Walid lantas segera bertanya, “Bentuk tubuh anda bagus sekali, wahai Abu Umar, apakah makanan anda sehari-hari?” Salim hanya menjawab, “Roti dan zaitun serta terkadang saya makan daging jika saya mendapatkannya.” Al Walid lantas menyergah,”Hanya roti dan zaitun?”. Salim menjawab, “Benar.” Al Walid kembali bertanya, “Apakah kamu berselera memakan itu?” salim menjawab, “Jika kebetulan aku tidak berselera, maka aku tinggalkan hingga lapar dan aku berselera kembali terhadapnya.”

Pantaslah jika Al Imam Malik bin Anas mengatakan tentang Salim, “Tak ada pada zaman Salim orang yang lebih mirip dengan orang-orang shalih sebelumnya dalam hal zuhud, keutamaan dan rasa malu daripada Salim bin Abdillah.”

Maka Zuhudlah!

Saudaraku, maka zuhudlah agar hidupmu menjadi lembut, zuhudlah agar engkau menjadi tahu hakikat hidup, dan zuhudlah agar kau dapat melihat ada saudaramu dibelahan dunia lain yang butuh manfaat darimu. Zuhudlah dengan zuhud sesuai dengan syariat bukan dengan sembarang terka pelaksanaan. Dan zuhudlah agar dapat mewarisi akhlak para Nabi serta para ulama, sebagaimana berkata Ibnu Rajab Al Hanbali tentang ciri-ciri seorang ulama, “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)

Ibrahim bin Adham berkata, “Orang zuhud adalah yang paling dekat dengan Allah ialah orang yang kuat rasa tkutnya. Orang zuhud yang pling dicintai oleh Allah ialah orang yang paling baik amalnya. Orang zuhud yang paling utama di sisi Allah ialah orang yang paling besar keinginannya untuk mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya. Orang zuhud yang murah hati kepada-Nya ialah orang yang paling takwa kepada-Nya. Orang zuhud yang paling sempurna kezuhudannya ialah orang yang paling dermawan jiwanya dan paling bersih hatinya. Dan orang zuhud yang paling lengkap kezuhudannya ialah orang yang paling banyak keyakinannya.” (Hilyatul Auliyaa wa Thabaqatis Ashfiyaa 8/70).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah memiliki perkataan yang tepat untuk mengakhiri pembahasan ringkas ini, “Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala yang datang dari Allah.” Zuhud pula membawa nilai-nilai berawal dari merasa qana’ahnya seseorang terhadap apa yang dimilikinya, sehinga Al Imam menambahkan perkataannya dalam kesempatan lain, “Orang yang selalu qanaah adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang hakikatnya kaya. Barangsiapa yang memiliki sifat ‘yakin’ dan ‘percaya’ kepada Allah, ia akan tenang menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ridha kepada segala keputusan Allah baginya. Juga akan memutuskan’raja’’ dan ‘khauf’kepada makhluk serta meninggalkan usaha mencari kekayaan dunia dengan cara-cara yang dibenci. Maka, barangsiapa demikian keadaannya dia adalah seorang yang benar-benar zuhud dan orang terkaya –walaupun ia tidak memiliki sedikit pun harta dunia.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisaa’ : 134)

“Cukuplah berdosa bilamana Allah menyuruh kita berbuat zuhud terhadap dunia, sementara kita begitu rakus terhadapnya.” (Hilyatul Auliyaa 5/224)

Wallahu “Alam Bi Shawwab..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s