Sakit, Jangan Ke Poliklenik!

Siapapun pasti pernah merasakan sakit dalam hidupnya, jangankan yang hanya manusia biasa, seorang Nabi saja bisa merasakan sakit. Jadi musykil bila ada orang mengaku sakti tapi pernah sakit. Sebab permainan kata antara sakti dan sakit sangat erat di negeri tercinta ini.

Sakit adalah ujian dari Allah Ta’ala kepada setiap orang, tidaklah ia miskin atau kaya, pria atau wanita, muda atau tua, pegawai ataukah pengangguran, amatiran ataukah profesional, dan berbagai macam perbandingan lainnya pasti merasakan sakit. Bohong pokoknya kalo ada orang ngaku gak pernah sakit. Sakit itu terbagi sama sebagaimana sehat, ada yang disebut sakit jasmani, rohani, bahkan perpaduan diantara keduanya.

Pembahasan kita kali ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari Insya Allah, berbicara soal tipologi antropologis bangsa Indonesia oke, bicara soal sosiologi dan diferensiasi pun jadi. Semua terangkum dalam judul tulisan ini yang bernama “Sakit? Jangan Ke Poliklenik!”.

Mungkin pembaca akan terheran-heran dengan judul yang tak lazim, seharusnya itu khan poliklinik bukan poliklenik tho? Tenang dulu, semua akan menjadi indah pada waktunya. Penulis membawakan judul dengan mengambil plesetan dari poliklinik karena bukan terinspirasi dari level lembaga kesehatan yang berada ditengah antara rumah sakit dan puskesmas, bukan juga karena si penulis punya aktivitas berhubungan dengan kesehatan. Bukan semua itu kok, melainkan penulis akan menarik benang merah antara poliklinik dengan poliklenik yang keduanya menjadi rujukan sesuai posisinya, keadaan yang fleksibel menjadikan dua nama ini incaran banyak orang. Bisa golongan atas maupun golongan bawah dari bangsa ini, bisa para penjabat maupun para penjahat.

Simpel sebenarnya mengapa mengambil judul poliklenik, selain alasan diatas tadi, ada beberapa alasan lain diantaranya ialah sebuah fenomena (huwaaaa..bahasanya membudaya sekali) dari sebagian kecil (jika sulit untuk dikatakan besar) dari masyarakat Indonesia, selain itu juga berasal dari katanya yang berarti poli adalah banyak, dan klenik adalah sesuatu yang bersifat metafisik belakangan mencuat dengan mengikuti perkembangan zaman yakni modernisasi. Ya, klenik kini telah berubah menjadi banyak pakaian, jika dahulu pakar dunia klenik menggunakan pakaian khas berwarna serba hitam, maka masa kini sesuai dengan jargon visit Indonesia, para pelaku dunia klenik lebih suka pakai batik. Jika dahulu hanya bermain dengan asap, maka sekarang bermain sampai level pulsa, jika dahulu dengan kartu maka sekarang bisa lewat kabel, dan ini juga menjadikan alasan mengapa klenik itu bisa jadi poli alias banyak. Karena banyaknya model, banyaknya gaya, dan banyaknya peminat dari jasa ini.

Bayangkan saja teman, seseorang tukang sayur bisa banting stir dengan mahalnya BBM menjadi seorang ahli dibidang cenayang, atau seorang yang mengalami depresi berat menjadi rujukan banyak orang dalam memperoleh peruntungan pasang judi buntut, ada pula seorang drop out dari sekolahnya karena bisikan ‘ilham’ menjadi pakar metafisik yang ahli tarot disebabkan sejak sekolah ia hobbi main gaple’. Dan berbagai macam bentuk peralihan profesi yang kini dapat disaksikan lagi-lagi di Indonesia dengan cepat sesuai dengan konteks kekinian yang ramai dibicarakan yaitu perubahan iklim, peralihan profesi yang terjadi karena bisa jadi tekanan kemiskinan, gila popularitas, cari sensasi,takut dengan masa depan, pengecut atas kehidupan, bahkan nafsu birahi.

Sakit, semestinyalah seseorang harus mengobati, sebab dengan berusaha untuk mengobati itulah terlihat ia masih memiliki kekuatan ikhtiar dalam berusaha mengobatinya di sisi Allah. Merupakan urusan Allah jika seseorang itu telah berusaha dalam menentukan hasilnya, bisa jadi ia sehat dan normal sehingga wajib mensyukuri nikmat yang demikian, atau bisa jadi ia malah bertambah parah sehingga membutuhkan kesabaran ekstra kembali dalam menghadapinya.

Apapun itu, namun hendaklah seorang muslim yang masih mengakui adanya Allah dan mengklaim dirinya mencintai Rasulullah membuktikannya dengan baik perkataannya. Hendaklah dalam masalah sakit ia senantiasa bersabar diatasnya sambil terus berusaha dan melakukan pengobatan sesuai dengan koridor syariat Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam.

Setiap penyakit pasti ada obatnya untuk menyembuhkan penyakit tersebut, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Allah tidak menurunkan penyakit pasti menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari No 5678). Dalam riwayat Imam Muslim dikatakan “Setiap penyakit pasti ada obatnya, jika suatu obat itu tepat unuk suatu penyakit, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah.”

Hendaklah sesorang memahami bahwa sakitnya tersebut bisa memberikan hikmah banyak bagi dirinya, yang memang tidak terlihat oleh kasat mata namun baik atas agamanya. Hendaklan pula seorang tetap bersabar diatas penyakitnya dan tidak memotong kompas disebabkan terburu-buru ingin mencapai kesembuhan, sedangkan kesembuhan tersebut berasal dari Allah Ta’ala dan akan terjadi sesuai dengan izin Allah Ta’ala pula. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“ Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al An’aam : 17).

Jika telah memahami bahwasanya Allah yang menurunkan penyakit dan Allah pula yang berhak untuk menyembuhkannya, sedangkan manusia diberikan otoritas dalam berusaha mengobatinya saja sebagaimana hadits diatas yang menjelaskan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya maka sebaiknya seorang muslim tetap berikhtiar jika ia menghadapi penyakit tersebut, ia pun seharusnya bersabar sepenuh hati terhadap apa yang dideritanya sambil melakukan introspeksi atas apa yang pernah dilakukannya. Ya, sebuah introspeksi yang dapat menuntut dirinya bahwa mungkin sakitnya ini terjadi karena ia sebelumnya lalai kepada Alah Ta’ala sehingga ia harus berkhusnudzhan bahwasanya Allah sedang mengingatkan dirinya, ia menyadari bahwasanya sekuat apapun seseorang pasti memiliki batasan dalam hidupnya dan batasan dengan penyakit ini merupakan peringatan akan adanya batasan lain yang menutup segalanya yakni kematian, ia juga seharusnya menyadari mungkin apa yang ia cari selama ini berada diatas keharaman sehingga Allah sedang membersihkan apa-apa yang haram tersebut bagi dirinya baik makanan, pakaian, perhiasan, dan lainnya.

Tidak disyariatkan seorang muslim untuk rujuk kepada seseuatu keharaman dalam melakukan pengobatan atas dirinya. Dilarang keras untuk berlari ke poliklenik sekalipun berbalut pemindahan penyakit ke makhluk lainnya seperti hewan yang akan berakibat mendzhalimi hewan tersebut. Namun disarankan untuk berlari ke poliklinik atas penyakitnya tersebut dan dikonsultasikan pada dokter berkaitan. Lari kepada poliklenik akan menyebabkan ia justru terjatuh pada keseatan aqidah bahkan amalannya bisa jadi tertolak selama beberapa saat. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang datang kepada orang pintar/dukun/paranormal/tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim 2230, Ahmad V/380). Dalam hadits lain bahkan dikatakan dengan peringatan yang sangat keras, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi orang pintar/dukun/paranormal/tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam.” (HR. Ahmad II/408).

Atau dalam riwayat lain dikatakan dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalalahu ‘alayhi  wa sallam bersabda, “Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung, dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikan, atau bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir dan yang meminta sihir untuknya, dan siapa saja yang membuat buhul-buhul dan barangsiapa yang mendatangi kahin dan membenarkannya apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam.” (HR. Ath Thabrani dan Al Imam Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956)

Jangankan untuk pergi ke poliklenik teman, seseorang berobat dengan sesuatu yang diharamkan saja dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana dalam beberapa hadits,

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan (obat) yang haram.” (HR. Ad`Daulabi yang dihasankan oleh Asy Syaikh Albani dalam Silsilah Ash Shaiihah no1633).

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan (dari penyakit) kalian pada apa-apa yang diharamkan.” (HR. Ibnu Hibban no 1397).

Jadi kembali lagi penulis ajak kepada mereka yang masih memiliki sedikit keimanan didalam dirinya, hendaklah ia menyerahkan segala urusannya kepada`Allah Ta’ala dan jangan tergesa-gesa sehingga mencoba mendahului takdir dengan berlari ke poliklenik. Tidaklah pelakon poliklenik itu dapat menyembuhkan penyakit dengan sebenar-benarnya melainkan hal tersebut terjadi karena mereka kaki tangan syaithan di muka bumi yang mencuri berita dari langit. Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam,

“Apabila Allah memutuskan perkara di langit, para malaikat memukulkan sayapnya karena tunduk mendengar firman-Nya, seolah-olah (suara firman-Nya) bak gemerincing rantai besi yang terlempar pada batu. Maka ketika rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya: “Apa yang telah dikatakan Rabbmu?” Malaikat lain menjawab: “Allah telah mengatakan al haq, sedangkan Dia Maha Tinggi dan Maha Besar. Maka disaat itu ada syaithan pencuri kabar yang mendengarkannya. Dan syaithan-syaithan itu seperti ….. sebagian yang satu naik keatas sebagian yang lain. Kemudian syaithan pencuri kabar tersebut berhasil mendengarkan kalimat (wahyu dari Allah), lalu ia sampaikan kepada syaithan yang berada dibawahnya, syaithan yang berada dibawahnya menyampaikan kalimat tersebut kepada syaithan yang dibawahnya lagi hingga akhirnya sampai ke lidah tukang sihir atau dukun. Terkadang syaithan tersebut menjadi sasaran terkena bintang api sebelum sempat menyampaikan kalimat tersebut, terkadang mereka berhasil menyampaikannya kemudian ditambahkan dengan seratus kebohongan bersama dengan kalimat kebenaran yang dicurinya tadi. Akibatnya orang-orang berkata, “Bukankah dukun itu telah berkata kepada kami hari begini dan begini (dengan tepat) demikian dan demikian?”. Maka dukun dipercayai karena satu kalimat benar yang didengarnya dari langit.” (HR. Bukhari 4800).

Sungguh suatu kebinasaan jika seseorang yang sakit fisiknya menambahkan kembali sakit dalam agamanya dengan sesuatu yang tidak berguna, sekalipun ketika itu sang dukun aktor poliklenik benar tidak lain ialah karena pengaruh syaithan dan campur tangan sugesti dari si sakit tersebut. Sekalipun ia benar saat berobat hal tersebut memang sebenarnya telah menjadi kehendak Allah bahwa ia memang telah ditakdirkan sembuh saat itu dalam catatan Lauhul Mahfudz sekalipun dirinya tidak datang ke poliklenik. Jadi tidak ada istilah sakti untuk para pembohong lakon poliklenik. Satu nusa satu bangsa satu budaya, jangan percaya dengan poliklenik berkedok agama. Poliklenik yang bermuka manis dengan embel-embel kata “bahwa yang menyembuhkan Allah, saya hanya sebagai perantara saja, namun semua pasien yang saya obati alhamdulillah sembuh ditangan saya!” bayangkan kekurangajaran lisannya atas takdir Allah hingga ia berani berkata demikian. Tetaplah istiqomah dalam upaya mencari kesembuhan, baik itu pengobatan secara hissiy (medis) ataukah syar’i.

Ditempat terakhir ini, penulis menyampaikan apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu Baaz dalam kitabnya Hukmul Sihir Wal Kahanah hal 5, beliau rahimahullah mengatakan: “Tidak boleh seseorang yang sedang sakit datang kepada dukun yang mengklaim mengetahui perkara ghaib untuk mengetahui jenis penyakitnya. Tidak boleh membenarkan apa yang disampaikan para dukun, karena mereka berkata atas dasar perkiraan dan kemungkinan terhadap perkara ghaib yang bahkan bisa jadi mereka mengundang jin lantas meminta bantuan terhadapnya dalam memnuhi segala keinginan si sakit atas diri dukun itu. Jika mereka mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka mereka berada dalam kekufuran dan kesesatan. (setelah itu syaikh membawakan hadits siapa yang mendatangi dukun shalatnya tidak akan diterima 40 malam serta membenarkan perkataan dukun berarti ia telah lepas dari syariat yang dibawa Muhammad, lantas syaikh melanjutkan kembali) Hadits-hadits diatas sebagai bentuk larangan untuk mendatangi para ahli poliklenik dan semisalnya. Bahkan memberi ancaman berat bagi orang yang bertanya apalagi membenarkannya apa yang disampaikan para pelaku dunia usaha poliklenik.”

Tidak ada orang sakti berkedok wali melainkan ia berada pada barisan kesesatan yang dibenci, tidak ada pengobatan dengan kebathilan dan keharaman melainkan pasti berujung kebinasaan serta kehancuran, tidak ada celah lagi setelah ini semoga untuk lari ke poliklenik melainkan larilah ke poliklinik. Kasihan para dokter itu yang telah menuntut ilmu lama demi dedikasi pada manusia namun kalah soal faktor biaya pengobatan untuk rakyat rendah strata oleh para pakar dunia nista. Bukalah sektor industri informal dengan keterampilan yang masuk akal tidak dengan keterampilan yang memutarbalikkan mental. Akankah masa yang akan datang mahasiswa FK (Fakultas Kedokteran) akan kalah dengan mahasiswa FISIP (Fakultas Ilmu Sihir dan Perdukunan)?

Semoga Allah mengembalikkan kejayaan Islam dengan menunjukkan kaum muslimin kepada jalan kebenaran dan keselamatan, dan semoga para musuh-musuh Allah yang lebih jahat dari nashrani dan yahudi itu segera mendapatkan kebinasaan dan kerugian.

Wa’llahu ‘alam bi shawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s