Paket Lengkap Bernama Cinta

Cinta, sebuah kata yang tentunya penuh warna, penuh rasa, dan memiliki nuansa berjuta selera. Sang pecinta senantiasa berada dalam balutan asmara penuh kasih mesra bila bersama seseorang yang dicintainya. Serasa waktu hampa bila bersama dengan yang dicinta, cuaca pun tak lagi berlaku bagi mereka, bahkan hanya mereka saja yang kini hidup di dunia. Ungkapan cinta banyak mengisi di berbagai media dan sudah menjadi komoditi komersil bagi banyak umat manusia kini.


Perkataan cinta bukanlah sebuah barang yang baru lagi, sebab sebelumnya di masa lalu terkadang ucapan cinta adalah masalah tabu. Namun kini siapapun bebas berkata cinta dan mengumbar cinta dimana saja. Tak jarang seseorang dapat mudah menemukan akses-akses tempat untuk saling melakukan percintaan di muka bumi ini.


Namun, cinta tak selamanya indah, cinta pula tak selamanya penuh bahagia serta suka. Terkadang cinta membutuhkan sebuah nilai pengorbanan. Pengorbanan tersebutlah yang menjadi nilai cinta luhur dan mulia sebagai sebuah pembuktian bahwa cinta itu ada. Akan tetapi yang patut disadari adalah tidak sedikit mereka yang memiliki perasaan cinta memiliki kesamaan rasa yang saling menerima dan saling memahami. Adakalanya ditemukan bahwa pasangan tidak sesuai dengan impian sebelumnya setelah perjalanan cinta telah berlangsung lama.


Paket Cinta

Ternyata baru kini disadari pasangan tersebut adalah seseorang yang malas, tidak peduli, rasa sensitifnya kurang, serta berbagai macam kekurangan. Hal demikian terkadang dijumpai pada sebagian wanita terhadap pasangannya, entah itu telah berumah tangga atau yang sedang merenda masa depan dengan sosok yang dicinta. Wanita terkadang lebih cepat melihat sisi kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya dibandingkan dengan kelebihannya. Terkadang pula wanita lebih cepat pula memukul rata kekurangan tersebut dengan mengajak menduga-duga perasaannya terhadap kekurangan pasangannya. Padahal sejatinya kehidupan cinta adalah saling mengisi dan mengoreksi.

Sedangkan bagi pria ternyata ketika berumah tangga menemukan istrinya adalah sosok yang berbeda ketika belum satu rumah dahulu, istrinya tidak pandai memasak makanan kegemarannya, tidak tahu apa yang menjadi favorit suaminya, dan tak jarang banyak menuntut ini-itu kepada suaminya dengan secara berlebihan bagi pribadi sang suami.

Disaat cinta telah diproklamirkan, atau ketika cinta telah berjalan mengarungi bahtera rumah tangga, ketahuilah tidak selamanya yang dijumpai saat sebelum menjejaki fase selanjutnya senatiasa diisi oleh rasa suka tanpa duka. Karena suka dan duka berjalan bersama, adakalanya suka terhapus oleh duka dan duka lenyap dengan suka. Pun demikian halnya dengan bahagia serta nestapa. Ada kebersamaan yang berjalan diantara kedua kondisi tersebut, dan satu sama lain saling beriringan.

Maka disaat cinta telah berpadu kedua insan semestinya dapat saling berbagi terhadap apa yang dimiliki pada sisi-sisi berbeda. Bukan justru malah mengoreksi tiada henti hingga timbul benci. Harus ada saling menerima adalah kata yang tepat untuk itu semua, disaat kita telah memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya, mestilah ia harus menerima paket lengkap orang yang dicintainya tersebut. Bukan dengan setengah hati ataupun seperempat porsi. Melainkan secara keseluruhan sebagai paket utuh teman mengarungi kehidupan bersama. Karena anda, kita telah memilih seseorang yang saat ini menjadi pasangan hidup. Karena kita pun juga mengetahui hidup adalah sebuah proses perjalanan menuju kebaikan. Dan setiap kebaikan adalah sebuah jalan menuju kesempurnaan. Yakinlah, tidak akan ada nilai-nilai kesempurnaan apabila seseorang hanya melihatnya dengan kacamata arogansi tanpa melihat dari berbagai sisi.

Bukankah di halaman depan undangan yang dicetak dulu tersematkan sebuah ayat Al Qur’an yang sangat mulia dan semua orang seragam menggunakan ayat itu sebagai penghias undangannya, apatah yang mengundang itu dapat membaca Al Qur’an ataukah tidak, yang jelas ada sebuah penghayatan nilai-nilai Islam diatas altar suci mempelai. Ayat Al Qur’an tersebutlah yang seharusnya dapat menjadikan barometer kehidupan berumah tangga dengan konsep saling menerima bukan saling memaksa, tanpa arogansi dan tidak penuh ego diri.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

Abdurrahman As- Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini dalam kitabnya Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, “Diantara tanda-tanda kekuasaannya” maksudnya adalah menunjukkan rahmat dan perhatian Allah atas hamba-hambanya, hikmah-Nya yang sangat agung dan ilmu-Nya yang sangat luas, adalah “Dia menciptakan kalian dari jenis kalian dengan berpasang-pasangan,” yang mereka serasi dengan kalian, dan kalian pun serasi dengan mereka. Sesuai dengan bentuk kalian dan kalian sesuai dengan bentuk tubuh mereka. “Agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Allah jadikan diantara kalian rasa kasih dan sayang,” sebagai buah dari pernikahan tersebut. Dengan adanya istri seseorang dapat bersenang-senang dan merasakan kenikmatan, mendapatkan manfaat dengan adanya anak-anak, mendidik mereka, serta merasakan ketenangan bersamanya. Sehingga kebanyakannya, engkau tidak mendapati sebuah kasih sayang dan rahmat yang menyerupai apa yang dirasakan antara suami dan istri. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Maksudnya ialah yang menggunakan pikirannya dan mentadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala serta berpindah dari satu ayat kepada yang lainnya.

Karena hakikatnya sebuah ketentraman dan kecendrungan membutuhkan rasa cinta penuh arti nan dalam tanpa tepi, rasa cinta diantara kedua insan tersebut hendaknyalah benar-benar menjadikan komitmen untuk senantiasa berada dalam kebersamaan, baik kala kekurangan maupun kelebihan yang ada.

Sewajarnyalah seseorang bisa belajar banyak dari sebuah perjalanan kehidupan yang baru, saling menyesuaikan dan saling membangun kesadaran diantara kedua belah pihak bahwasanya saat ini sudah tidak seperti dahulu lagi. Belajar adalah kunci yang tepat untuk bisa menggunakan dengan baik paket yang ada. Bukankah dahulu kita pun tidak bisa mengerjakan semua soal yang ada di buku paket pelajaran sekolah dahulu saat masuk sekolah pertama kali, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan proses belajar maksimal membuat kita menjadi mudah dalam menguasai pelajaran tersebut bahkan hafal halamannya. Begitupun dengan cinta, harus ada proses belajar tanpa henti dan tanpa bosan demi keutuhan dan kebahagiaan bersama, cinta bukan soal tepukan sebelah tangan dan ayunan satu kaki. Lebih dari itu semua, keselarasan akan tercapai jika ayunan dan tepukan secara kompak dilakukan bersamaan. Pastinya lebih meriah bukan?

Janji diantara kedua insan sudah terpatri dalam hati, bahtera sudah berlayar sekalipun menyusuri sepi, gelapnya malam tak jadi aral melintang bila dalam sebuah kebersamaan, serta onak duri hanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kekuatan dan keabadian. Tak adalagi ikatan kokoh selain pernikahan sebagaimana sabda Nabi yang mulia shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Tidak terlihat hubungan yang demikian dekat diantara dua orang yang saling mencintai yang bisa menyamai hubungan yang terjadi karena pernikahan.” (HR. Ibnu Majah, di shahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Silsilah Ash Shahihah).

Lantas jika demikian, sudah saatnyalah anda menerima pasangan anda, menghentikan pertengkaran, mengorientasikan kembali arah serta tujuan, membuat semuanya dengan belajar lebih seimbang, dan yakinlah bahwasanya pasangan yang saat ini ada adalah sebuah anugrah terbaik yang telah Allah berikan bagaimanapun keadaannya ia kini. Hargailah dalam sebuah perbedaan, dan betekadlah untuk mengarungi kesempurnaan, karena surga adalah sebuah tujuan.

Rasulullah pernah berbincang dengan para sahabatnya dalam hadist yang diriwayatkan oleh Kaab bin Ujrah, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang para lelaki penduduk surga?“ Mereka menjawab:”Ya, Wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Nabi dalam surga, syahid (orang yang wafat dalam medan laga jihad) dalam surga, shiddiq dalam surga, anak yang dilahirkan (wafat ketika masa kecilnya) dalam surga, seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah kampung (menjaga hubungan silaturahmi) dalam surga. “Maukah aku kabarkan kalian tentang wanita ahli surga?” Mereka menjawab: “Ya, Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Wanita yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia mendzhalimi atau didzhalimi, maka dia (wanita tersebut) berkata:”Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku).” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir dihasankan oleh Albani dalam Shahihul Jami’)

(gambar diambil dari : http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2007/12/menunggu-kereta-lewat.JPG)

Iklan

3 pemikiran pada “Paket Lengkap Bernama Cinta

  1. Wah..Postingnya tentang rumah tangga lagi..
    Jazakallohu khayr sharingnya akh..
    Benar! Mau menerima kelebihan tentu harus bisa menerima kekurangan..

    waiyyaki ukht, na’am insya Allah..karena posisi keseimbangan adalah dengan menerima kekurangan serta kelebihan.

    Besok dipraktekannya kalau berumah tangga, insyaALLOH 🙂

    na’am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s