Demam Berjaring-jaringan

Ada yang lebih hebat dikala tekhnologi telah menembus batas tanpa kenal lelah, ada banyak sajian dikala seseorang yang tadinya buta dapat melihat cahaya terang hingga menggandrunginya. Ya! Arus budaya sudah tidak lagi membuka sekat antara tetangga di samping rumah, bahkan arus budaya telah menjadi sebuah kamus trend tersendiri dan menjelma menjadi trend centre. Kala sebuah kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan, berawal dari keinginan dan diteruskan oleh kesenangan. Jejaring sosial pun sudah bukan lagi hubungan antara satu teman di sekolah, rekan bekerja, rekan satu kampus, dan kini jejaring telah membelenggu hingga dunia cakrawala tanpa batas bernama internetan ria.

Demam mengekor, itulah yang kini menjangkiti sebagian banyak kaum muda di Indonesia. Kala internet hanya sebagai sarana apresiasi yang punya landasan awal mencari makna, hingga berujung mencari cinta. Sangat mudah dalam menggunakannya, itulah asas yang dihembuskan jargon sosial para situs jejaring sosial. Disana setiap orang bebas mengapresiasikan makna hidupnya lebih dalam, memberikan catatan atas seseorang, dan menambahkan haluan untuk memperpanjang relasi serta pertemanan.

Lagi-lagi, tidak ada yang salah dalam pengadaannya, yang menjadi pangkal salah ialah biasanya pada penggunaannya. Maka hendaklah bagi mereka atau siapapun yang terjun menjadi relawan jejaring sosial di internet, menjadi bulan-bulanan hingga lupa makan, lupa daratan, serta lupa keadaan. Justru kehadirannya malah menjadi sebuah kedzhaliman atas dirinya. Para pengguna dan pecandu internet terkadang melupakan hak-hak tubuhnya, padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menegaskan ada hak di dalam diri tiap orang. Entah itu hak atas dirinya, hak atas tamunya, bahkan jika telah beristri pun ada hak atas dirinya. Sebuah hadits yang indah bila kita mau mengambil faidah atasnya sebagaimana sabda Rasulullah berikut ini:

Dari Abdullah Ibnu Amru Ibn Al-Ash radhiyallohu ‘anhu., “Aku berpuasa setiap hari dan membaca Al-Quran setiap malam. Berita apa yang aku lakukan itu sampai kepada Rasulullah. Beliau berkata kepadaku, ‘Aku mendengar bahwa engkau puasa setiap hari dan membaca Al-Qur’an setiap malam?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Nabi Allah. Dan aku, dengan melakukan itu semua hanya mengharapkan kebaikan.’ Beliau berkata, ‘Sebenarrnya cukup bagi kalian puasa tiga hari dalam setiap bulan.’ Aku berkata, Wahai Nabi Allah, Aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya istrimu punya hak, tamu-tamumu punya hak dan tubuhmu punya hak. Puasalah seperti puasanya Nabi Daud. Dia adalah hamba yang sangat rajin beribadah.’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Bagaimana puasanya Daud itu?’ Beliau menjawab, ‘Daud berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. Bacalah dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan satu bulan satu kali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Aku mampu melakukan lebih dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah dua puluh hari sekali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah setiap tujuh hari sekali saja dan jangan tambah lagi. sesungguhnya istrimu punya hak atas engkau dan tubuhmu punya hak atas engkau.’ Aku tetap mendesak untuk berbuat lebih, namun aku ditekan. Beliau berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi umurmu akan panjang (dan engkau menjadi tua).’ Kemudian aku melaksanakan petunjuk Nabi kepadaku. Ketika aku sudah tua dan lemah, aku merasa beruntung menerima kemurahan (rukhsah) Nabi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika dalam sesuatu hal saja, seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dicegah untuk tidak melampaui batas, hatta dalam hal yang ibadah sunnah untuk dirinya diberikan batasan agar tak melanggar hak seorang dengan lingkungannya. Namun diakhirnya sebuah hikmah pun dikatakan oleh sahabat itu sendiri, senyatanya cegahan dari sang Nabi membawanya menikmati hari tua dengan penuh keberuntungan.

Sungguh arus yang memang tak lagi dapat dibendung disaat seseorang sudah gandrung, hanya kebiasaan yang lebih baik serta menyenangkanlah yang bisa mengalihkan perhatian seseorang atas kebiasaan yang dijalaninya berjejring sosial tanpa batas. Ya jaring sosial tanpa batas itulah yang telah memupus semua hak-hak kehidupan orang-orang disekitarnya. Bayangkan, ia lebih senang untuk berdiam diri seharian didepan layar monitornya, mencari relasi yang punya kegemaran serupa atas dirinya. Tak ayal adakalanya merambah menuju hal-hal yang membuat ia semakin penasaran atasnya. Dan tanpa terasa, shalat pun telah rela ditangalkan. Ini nyata dan ini fakta adanya, realita jejaring sosial kini telah membuat pemuda bangsa menjadi terlena. Ia rela membeli paket panjang di tiap warnet tengah kota dari tengah hari hingga pagi buta. Ia sudi mencari teman baru, melakukan interaksi komunikiasi, dan lupa bahwasanya kapasitas otaknya telah menuntutnya untuk beristirahat.

Dalam ranah kehidupan sosial, sejatinya tidak ada penyakit kecanduan bergaul. Namun jejaring sosial telah menghebatkan dirinya menjadi ide baru untuk penyakit baru yang lebih menular. Label tidak trendi jika belum punya akun di salah satu jejaring sosial menjadi momok tersendiri. Maka tak heran, seorang anak kecil berusia beranjak remaja sedang asyik mengedit halaman akun jejaring sosial tempat ia menjadi anggota didalamnya. Berlebihan dan menyebabkan kelalaian.

Maka kaum muslimin pun kini sedang berada diambang kekalahan. Disaat tentara kuffar membombardir tanpa henti melalui berbagai cara dan sarana, para pemuda kaum muslimin asyik menikmati ajang saling lihat kepribadian saudaranya yang lainnya. Sungguh budaya hidup yang apatis telah menjadi kesadaran hidup tanpa kenal perasaan. Sejatinya pun jejaring sosial akan ia tinggalkan dan tak jarang darisana petaka besar kehancuran dimulai secara berdiam-diam. Tak ada yang salah dengan internet ataupun jejaring sosial memang, namun yang salah ialah praktek penggunaannya. Kala digunakannya telah salah, maka kala itu pula menuai sebuah masalah.

Wallahu ‘alam bi shawwab

Iklan

8 pemikiran pada “Demam Berjaring-jaringan

  1. wah…aku banget neh….!!! Online terus tiap hari, kadang sampe lupa makan saking asyiknya…

    Wah…alhamdulillah akhi, dah diingatkan

    hehe, syndrom berjaring-jaringan.. nanti juga lama2 bosan sendiri kok bu, yaa sama-sama

  2. Fb menurunkan produktivitas kerja… berdasar sebuah survey ( lupa survey dr mana), pegawai di kantor pd jam2 kantor lebh sering connect ke FB ketimbang jam2 ia melakukan pekerjaannya…

    Hmmm,,,Alhamdulillah sih saya msh bisa bagi waktu..Kalo udh kerja, ngga mungkin onlen..

    benar, itulah salah satunya mungkin Nahdhlatul Ulama Jawa Timur sempat mengeluarkan fatwa Facebook haram.. yaa internet khan pedang bermata dua, tergantung bagaimana menyikapinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s