Harusnya Ada Malu Dalam Dirimu

Ada sebuah batu yang hilang dari tingginya nilai kemuliaan seorang muslim kini, disaat setiap orang berpadu-padan menyesuaikan keinginannya sesuai dengan ambisinya, disaat manusia kini lebih suka menanti apa-apa yang dapat membuatnya menjadi lebih baik lagi dalam setiap jengkal hidupnya akan tetapi kebaikannya itu hanya sebatas untuk dirinya bukan untuk yang lain. Semua pun tercurah dari sisi usaha, harta pun tertumpah dari sisi materinya, serta mulut pun penuh sumpah serapah bagi kehausan ego pribadi miliknya.


Ya, kehidupan akan selalu berputar dari atas ke bawah selayaknya roda para pedagang mi ayam di pinggir jalan. Berputarnya kehidupan terkadang tidak selalu menjadikan yang kaya akan menjadi miskin, dan yang miskin pun bisa menjadi kaya. Tidak disana nilai yang terlalu luas itu tersematkan. Berputar sendiri bisa jadi yang saat ini anak maka kelak ia akan memiliki anak, yang saat ini hidup kelak ia akan wafat, hidup lagi dan mempertangung jawabkan kehidupan sebelum wafatnya karena memang kehidupan bukan hanya milik dunia saja. Sebelum alam dunia pun Allah telah menghidupkan makhluk penuh salah dan dosa ini terlebih dahulu, sebagaimana Allah pun pernah bertanya saat seseorang hidup sebelum di dunia ini, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, (QS. Al A’raaf : 172).

Batu kemuliaan yang kini hilang ia adalah sebuah batu besar yang keberadaannya sangat menentukan sejauhmana pola hidupnya, bagaimana aktivitasnya terlaksana. Nah, batu tadilah sebuah cerminan tinggi dari nilai yang luhur sebagai bagian dari warisan mereka-mereka para Nabi terdahulu dan juga generasi pewaris Nabi yang shalih saat hidupnya maupun saat wafatnya.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah :  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.” (HR. Bukhari no. 6120)

Batu itu bernama malu, cita rasa warisan para Nabi terdahulu yang kini setelah jauh ditinggal Nabi-nya, justru pudarlah semakin lama batu besar yang sekarang sedikit demi sedikit keropos sebab hilang pula hakikat ketahuan menjadi ketidaktahuan.

Dimasa sekarang, masa penuh dengan sana-sini bernilai pameran yang masa lalu tidak terbayangkan terjadi, hilangnya malu telah menjadi sebuah budaya, adat, serta kebiasaan. Norma kesusilaan dan etika sejatinya pernah mengajarkan soal malu, akan tetapi semua menjadi layu lantas tersapu. Semua ingin menjadi apa yang diinginkannya sekalipun harus mengorbankan kehormatannya. Semua disingkap dari tabir hanya sebuah ambisi.

Bahkan terlebih saat ini kala semua mata tertuju pada satu titik untuk menjadi penguasa dan berkuasa, sekalipun ia sendiri tidak dapat menguasai dirinya apatah lagi keluarganya. Padahal setiap orang memiliki alat kemaluan, maka yang tidak malu ialah mereka-mereka yang ragu akan alat kemaluannya. Alatnya ialah pria tetapi bergaya wanita dan menyukai pria, ada pula alatnya wanita namun berlagak bak pria yang juga menyukai wanita padahal ia bukan pria. Mereka-mereka itulah yang ragu dengan alat kemaluan pemberian dari Rabb-nya, dan melampaui batas dari apa-apa yang telah menjadi ketetapan Rabb-nya. Malu telah hilang, dan batu itu pun kini bukan lagi sebuah bongkahan besar yang dapat menahan angin kencang kala terpaan melanda. Batu tersebut kini telah menjadi serpihan keropos nan tak kokoh pula.

Padahal Malu adalah bagian dari agama sebagaimana perkataan Rasul mulia shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah (no. 4181), Shahiih Ibni Majah (II/406 no. 3370). Dan lebih rinci lagi yakni malu merupakan kebersamaan dari sebuah keimanan, “Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1313). Atau dalam sabda Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah: “Iman itu ada tujuh puluh sekian1 cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah’, yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)

Menuai Hikmah Dengan Kisah

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallohu anhumma, ash shidiqqah bintu ash shiddiq, sosok yang dicintai Rasulullah dari kalangan wanita setelah baoaknya menjadi sosok yang dicintai Rasulullah dari kalangan pria, mengisahkan: “Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam berbaring dirumahku dengan menyingkap paha atau betis beliau. Lalu Abu Bakar datang meminta izin untuk menemui beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Lantas beliau (Rasulullah) lantas mengizinkannya sedang ia dalam keadaan demikian (tersingkap paha atau betisnya) lalu ia berbincang-bincang dengannya.

Lalu Umar ibn Al Khattab datang dan meminta izin untuk bertemu dengan beliau, lantas Rasulullah pun mengizinkan dalam keadaan yang sama sebagaimana sebelumnya menerima Abu Bakar tadi, dan berbincang-bincang pula diantara mereka.

Datanglah Utsman bin Affan meminta izin untuk menemui beliau. Maka Rasulullah pun lantas duduk dan membetulkan pakaiannya tadi. Dan Utsman pun masuk serta terjadilah bincang-bincang diantara mereka.”

Hal inilah yang mendorong Aku (Aisyah) untuk bertanya setelah Utsman keluar, “Tadi Abu Bakar masuk engkau kelihatannya tidak mempersiapkan untuknya dan tidak begitu memperhatikannya, lalu masuk Umar dan engkau juga tidak mempersiapkan untuknya dan tidak begitu memperhatikannya. Kemudian ketika Utsman masuk engkau merapikan pakaianmu?”

Lalu Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun menjawabnya, “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang malaikat malu atasnya” (HR.Muslim no 2401) atau dalam riwayat lainnya dikatakan: “Sesungguhnya ‘Utsman itu orang yang pemalu. Aku khawatir, jika aku mengizinkan dia masuk dalam keadaan seperti tadi, dia tidak akan bisa menyampaikan keperluannya kepadaku.” (HR. Muslim no. 2402).

Bahkan Rasulullah pun disebutkan dalam sebuah hadits sebagaimana dituturkan oleh Abu Said Al Khudri bahwasanya “beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

Mendudukkan Nilai Malu

Sahabat, nilai malu sangat memiliki arti nan mulia, didalamnya berisi kebaikan yang sangat banyak nilainya. Tidaklah seseorang yang malu memiliki kerugian selain malu untuk menyampaikan kebenaran atau bertanya soal hal yang dapat mendatangkan kebenaran. Malu ialah kebaikan, sebagaimana Rasulullah pun bersabda: “ Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” (HR. Al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37 (60)), dari Sahabat ‘Imran bin Husain Radhiyallahu ‘anhu).

Malu pun memiliki arti ialah akhlak yang dapat membawa seseorang untuk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegahnya dari mengurangi hak yang lainnya. (Al-Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin, Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi.). Atau malu juga dimaknakan dengan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan. (Fathul Bari, 1/102)

Malu pun asalnya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, malu yang berasal dari tabiat dasar seseorang (self character). Ada sebagian orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahi sifat malu, sehingga kita dapati orang itu pemalu sejak kecil. Tidak berbicara kecuali pada sesuatu yang penting, dan tidak melakukan suatu perbuatan kecuali ketika ada kepentingan, demikian itu terjadi karena dia pemalu. Kedua, malu yang diupayakan dari latihan, bukan pembawaan (character building). Artinya, seseorang tadinya bukan pemalu. Dia fasih dalam berbicara dan tangkas melakukan apa pun. Lalu dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan baik sehingga dia memperoleh sifat itu dari mereka. Malu yang bersifat pembawaan itu lebih utama daripada yang kedua ini. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 234), sehingga pemaparan Asy Syaikh Utsaimin tadi bermakna bahwasanya ada malu karena faktor internal yaitu pembawaan dirinya, dan ada juga malu berasal dari faktor eksternal yakni lingkungan temat ia berada yang tersesuaikan dengan situasi juga kondisinya.

Malu, Kini…

Malu saat ini sebagaimana pemaparan sebelumya tadi. Telah hilang terhempas dari sebuah asas kehidupan seorang muslim. Baginya sebutan “yang penting tampil” sekalipun dengan cara tabrak lari alias sana-sini yang penting aksi, menjadi sebuah hal yang sangat biasa. Tidaklah masa kini ditemukan dengan banyaknya sebagaimana masa-masa terdahulu. Disaat pria menggunakan pakaian wanita ada sanksi sosial yang kelak akan diterimanya seperti pengkucilan dan cemoohan. Sehingga penggunanya jera. Akan tetapi kini seorang pria berpakaian wanita atau sebaliknya dikatakan trendi dan nyata punya gaya. Tidaklah dahulu, segala sesuatu dijaga sekuat tenaga bahwa hal tersebut tak sesuai dengan budaya melainkan saat ini segala sesuatu diumbar tanpa harga dengan jargon estetika sekalipun menyampingkan etika yang tak lama lagi akan dikatakan sebagai sesuatu hal biasa dan membudaya.

Dan tidaklah dahulu setiap orang yang ingin berbicara senantiasa diukur dari kapasitas dirinya jikalau kelak salah-salah ucap tidak mengundang malu atasnya, melainkan kini semua orang berbicara lepas tanpa pernah mengenal malu yang menjadi karibnya saat sekolah dahulu. Dimanapun kini berada, suguhan yang sebelumnya hal memalukan menjadi sebuah pembiasaan. Hal yang dahulu ditabukan kini menjadi sebuah kewajaran. Begitu cepatnya roda mi ayam itu berputarkah? Sehingga untuk melariskan dagangan, kualitasnya baik rasa dan pelayanan tidak lagi dijaga dengan berganti hanya menjadi sajian pelepas saat lapar melanda, hambar tanpa rasa dan gurih penuh paksa.

Malu, ialah sebuah batu dan hilangnya rasa malu berarti juga hilangnya sebagian dari keimanan. Sebab malu sebagaimana kata Rasulullah shalallhu ‘alayhi wasallam, “…Malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35) telah lenyap tanpa bekas dari kehidupan masyarakat millennium ini.

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga….”

(HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s