Lebih Baik Dahulu

Sobat-muda dimanapun berada, tentunya sobat-muda menyangka berapa banyak usia yang dihabiskan dalam kehidupan ini penuh dengan isi yang berbeda dan penuh warna. Bisa jadi ada suka dan duka maupun canda dan lara.. Hayoo, tanyakan pada dirimu kini lebih baik mana sekarang ataukah yang lalu dalam aktivitas ke-Islamanmu? Jika jawabnya lebih baik sekarang dibandingkan yang lalu maka alhamdulillah semoga tetap istiqomah. Jika lebih baik dahulu maka semoga Allah menunjukkan kamu kepada kebaikan dan petunjuk hidayah sebagaimana dahulu, allohumma amiin…


Pernah mendengar gak kamu, sebuah perkataan hari ini lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari sekarang? Sebuah perkataan yang sangat lazim terdengar atau terbaca di dinding sekolah, acapkali bagi kita dalam memotivasi agar hidup harus mencapai pada titik pusat keberhasilan dan kesuksesan dengan baik serta paripurna

Tapi, pernahkah berfikir bahwasanya semboyan tersebut kadang tidak pas bila diterapkan dalam kehidupan keseharian kita. Khususnya dalam hal yang menyangkut antara hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Sobat-muda, mungkin bagi kalian ini sebuah pernyataan ambigu yang bisa jadi sudut pandang tersendiri pada kali ini dibandingkan dengan apa yang sebelumnya kamu dapat. Namun semoga kita dapat menemukan contoh riil dalam membahas ini dengan timbangan yang tepat dan neraca standar penuh keseimbangan. Penulis hanya bermaksud untuk sedikit menggugah daya nalar dan mensinkronisasikannya dengan kenyataan sehari-hari. Jangan bingung dahulu jika belum dibaca dari awal sampai habis. Karena ini bagian tulisan yang utuh dan tak bisa dipotong. Membacanya mesti dari awal sampai akhir maka kamu akan temukan benang hijaunya dari maksud tulisan ini.

Baiklah, yuk kita ambil permisalan. Apa yang menjadi pembicaraan orang tua kita soal menyikapi masa sekarang, pastilah akan terdengar dari lisan mereka, “mendingan jaman pemerintahan dahulu, apa-apa serba murah, rakyat gak susah buat makan, buat sekolah muda, terus kemana-mana aman. Gak kayak sekarang, apa-apa mahal dan mau cari aman malah kena penipuan..”.

Atau pernah juga dalam pembicaraan, “Dih dahulu mah mo masuk ke kampus itu gampang bener asal lulus tes. Anak petani bisa jadi arsitek dengan biaya terjangkau, sekarang mah mo masuk ke kampus itu sebentar-sebentar uang sumbangan yang ditanya sanggupnya berapa! Gila aja, mo belajar aja perlu diperas tenaga dan biaya. Yang kaya makin kaya, yang miskin pada mati!”

Sadar atau tidak sadar jika kamu berjalan ke dalam hal ibadah kepada Allah melalui konteks shalat berjamaah misalnya. Mungkin ketika kita kecil dahulu betapa antusiasnya untuk bersegera mendahulukan panggilan Allah, namun semakin kesini justru seseorang semakin dewasa, ketika adzan tiba justru malah bersegera masuk kamar mandi atau ke warung kecil guna membersihkan diri atau beristirahat setelah lelah bermain sepak bola sejak ashar hingga isya menjelang. Jika demikian, lebih baik dahulu atau sekarang?

Ambil contoh lagi, seorang yang diberikan amanah untuk menjadi wakil rakyat di gedung besar hasil uang rakyat, ketika dahulu ia adalah seorang yang sangat gigih berjuang menyuarakan aspirasi rakyat dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama. Namun ketika ia ditunaikan harapannya masuk ke dewan rakyat justru menjadi menyuarakan aspirasi istri serta menjadikan kepentingan pribadi diatas segalanya. Jika demikian lebih baik dahulu ataukah sekarang?

Sebagian orang memasukkan perkataan hari ini lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari sekarang sebagai bentuk motivasi yang penuh tafsiran. Bisa dibawa menjadi salah arti bisa juga menjadi tepat guna. Namun kebanyakan orang menjadikan lebih banyak salah arti dalam beberapa posisi. Hari ini harus lebih banyak korupsinya dibandingkan kemarin dan esok harus lebih banyak lagi korupsinya dibanding sekarang. Hari ini baru bisa mencuri sepeda motor esok hari mesti lebih baik lagi yaitu mobil. Hari ini hanya sekedar dzikir berjamaah dan esok mesti ditambah lagi dengan nasyid penyentuh qalbu dalam acara tabligh akbar tersebut. Dan silahkan tambahkan contoh yang lain dalam hidup sehari-hari kamu.

Yang Lalu, Dahulu dan Kini

Namun dalam Islam, membaca sejarah yang pernah berlalu, meretas kembali butiran kisah penggugah jiwa. Akan banyak ditemukan realita betapa hari ini lebih buruk dari kemarin dan esok lebih buruk lagi dari yang akan datang ataupun hari ini. Hingga akhirnya Islam tersisa hanya tinggal shalat wajib saja.

Betapa banyak Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam berpesan akan semakin buruknya jaman yang akan tiba dan silih berganti manusia dilanda dengan harapan dihadapi mengikuti sesuatu yang disyariatkan. Sebagaimana Rasulullah pernah memesankan bahwasanya hari-hari ini dimasa sepeninggal beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam kita temukan hari yang penuh atasnya dengan kesabaran. Dari Utbah bin Ghazwan, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:”Sesungguhnya dibelakang kamu ada hari-hari penuh kesabaran. Pada saat itu orang yang berpegang dengan apa yang kalian pegangi akan mendapatkan ganjaran pahala sebanyak lima puluh orang dari kalian.” Mereka (para shahabat) bertanya: “Wahai Nabiyulloh, ataukah mendapt pahala sebanyak lima puluh orang dari mereka?” Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam menjawab:”Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian”(Hadits ini disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah 1/892 no 494).

Islam yang dipahami oleh generasi terdahulu tentunya lebih baik dibandingkan dengan apa-apa yang ada di masa sekarang. Namun Rasulullah ternyata memberikan reward terbaik bila dimasa sekarang ada diantara kita yang mampu menunaikan pemahaman dalam ber-Islam sebagaimana dipahami oleh generasi awal dahulu yang setara dengan 1:50, subhanallah..

Kenapa Harus Generasi Dahulu?

Lantas mengapa harus generasi dahulu bukan generasi sekarang? Bukankah apa-apa yang tidak ada di jaman sekarang tidak bisa terjawab dengan apa-apa yang dialami oleh mereka para generasi terdahulu, dari sisi akal perkataan itu terlintas benar dan bisa menjadi sebuah angin segar. Sisi akal bagi mereka yang mau kebebasan dalam Islam, benar bagi mereka yang jenuh dengan beban syariat dan kewajiban juga hak Islam atas dirinya, dan sebuah angin segar bagi para musuh Islam yang mendapat pintu udara untuk menghancurkan generasi akhir Islam ini. Mengapa harus dikatakan generasi dahulu lebih baik dari generasi sekarang kawan? Sebab Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sendiri telah menjawabnya melalui sabdanya:” “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Imran bin Husein dan Abdullah bin Mas’ud). Dalam penjelasan lainnya, Rasulullah menerangkan ketika ditanya, “Yaa Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?”, Maka Rasulullah menjawab, “Aku dan orang-orang yang bersamaku (yakni para shahabat beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam), kemudian orang-orang yang mengikuti jejakku dan sahabatku.” (HR.Ahmad, dihasankan oleh Albani dalam Ash Shahihah). Tuntas sudah mengapa kita harus mengatakan yang dahulu lebih baik dari sekarang.

Dan kamu perlu tahu sob, kenapa juga sih harus mengikuti mereka yang dahulu, apakah karena mereka hanya punya kebaikan-kebaikan aja? Soal kebaikan khan jaman sekarang juga ada, betul gak? Bahkan pintu kebaikan lebih banyak dimasa sekarang dibandingkan kemarin atau sebelumnya, sekarang jaman serba susah dan banyak orang susah. Jikalau hanya kebaikan jaman sekarang kita-kita yang hidup kini pun bisa kok lebih baik dari generasi terdahulu.

Lagi-lagi mengapa harus dahulu sih dan mengikuti mereka yang terdahulu? Jawaban ini pun tercatat dalam Kitabullah yang masyhur kita akrabi dengan nama Al Qur’an. Disana Allah Ta’ala telah menegaskan mengapa mereka-mereka yang terdahulu punya utama dibandingkan kita sekarang. Firman Allah, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100). Kita bawa lagi ayat ini dengan penjelasan tafsirnya. Nah Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan –yang lagi-lagi orang dahulu—dengan perkataan, Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).

Gimana? Masih mau menjawab bahwasanya dahulu Cuma begitu-begitu aja? Ternyata tidak kawan, nyatanya ialah kita yang tidak pernah membuka mata untuk mengikuti generasi sebelumnya. Dan bisa jadi ketidaktahuan kita itulah yang justru membawa kepada sesuatu yang menjadikan bosan dalam beragama. Agama bisa jadi hanya kita pahami sebatas pada ibadah wajib saja atau bahkan hanya sebatas KTP saya yaa Islam dan semua orang mengakui saya Islam, selesai deh urusan, gitu?

Apa Hubungannya?

Lalu kalau sudah paham dengan keutamaan dan mengerti bahwa yang dahulu lebih baik dari sekarang. Lantas apa yang harus dilakukan? Apakah hanya sekedar paham sambil menganggukkan kelapa eh kepala lantas esok hari lupa dan berlalu begitu saja? Ataukah apa yang harus dilakukan jika tahu yang dahulu yaa biarlah menjadi dahulu bagian sejarah indah yang sekarang susah buat dilaksanakan?

Nah untuk menjawabnya, ada baiknya jika kita kembalikan pada poin-poin yang bisa kamu cicil mungkin dalam berupaya menapaki menjadi orang yang mendapatkan reward dalam hadits sebelumnya. Ada beberapa hal sebenarnya ketika kini telah menyadari betapa pentingnya apa yang generasi terdahulu dapatkan dan betapa baiknya bila kita ingin menjadi bagian dari mereka dimasa sekarang.

1. Ikutilah jalan mereka, karena jalan mereka adalah jalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam banyak dalil diantaranya:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153].” (Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318))

2. Ikhlas tanpa mengharapkan apapun selain ridha dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam hadits qudsi :

“Allah berfirman. ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya’.” [Hadits Riwayat Muslim].

3. Mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

4. Menyelaraskan antara ilmu yang didapat dengan amal yang dilakukan, agar kelak dapat menjadikan hasil dari apa yang ditanam. Sebagaimana generasi terdahulu pun melakukan hal demikian. Sebab tidaklah ada bagian dari Islam melainkan hal demikian adalah mudah bila dikerjakan dengan kesungguhan, sebagaimana dalam sebuah hadits:

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan “Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : “Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga kamu dapat menemukan benang hijau mengapa terkadang apa-apa yang ada atau terjadi ketika dahulu lebih baik dari apa yang kita dapatkan, rasakan, atau lakukan sekarang. Dan hingga akhirnya bertemulah pada satu titik bahwasanya dalam Islam keutamaan mereka-mereka yang terdahulu ialah lebih baik dengan kita-kita yang hidup pada masa sekarang. Maka tetaplah hidup pada masa sekarang dengan melakukan amalan ketaatan-ketaatan sebagaimana apa yang dilakukan oleh generasi terdahulu dimasa Islam. Sejatinya yang demikian itulah yang disebut asing atau populernya kini ialah Al Ghuroba’. Sebagaimana ucapan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”

(HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Iklan

5 pemikiran pada “Lebih Baik Dahulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s