Saatnya Meng-audit Maulid

Bismillah

Dengan memohon ridha dari Alloh subhanahu wa ta’ala dan semata-mata untuk menjelaskan kepada masyarakat umum, akan suatu hal yang bersangkutan dengan kebiasaan dan kegiatan yang telah menjadi darah-daging di kalangan masyarakat muslim. Khususnya di pihak para muslimin yang masih awwam tentang hakikat dien ini.

Insya Alloh kali ini kita akan membahas sisi lain dari sebuah kegiatan Maulid Nabi yang disebut telah menjadi sunnah dan sangat kurang rasanya bila tidak diamalkan oleh kaum muslimin setiap tahunnya. Tidaklah tulisan kali ini akan membahas apakah benar bahwa Maulid Nabi itu penuh dengan kebid’ahan, kesesatan, dan tidak pernah dijalankan oleh para Sahabat Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu adalah anggapan sebuah sunnah, maka mengapa para sahabat ceroboh hingga masa mereka tidak ada satupun yang melakukan peringatan Maulid Nabi. Orang yang mereka (para sahabat radhiayallohu ‘anhum) selalu cintai dan tidak mungkin mereka menyia-nyiakan suatu amal yang oleh masyarakat muslim saat ini dianggap agung, tapi satupun sahabat tidak mengagungkannya pada saat itu. Tidak bukan itu semua, sebab penulis meyakini telah banyak yang menjelaskan tentang permasalahan ini dan dirinci di berbagai situs website muslim yang berjalan diatas kebenaran. Walhamdulillah.


Perayaan Maulid telah usai, ada yang bahagia karena acaranya sukses, ada yang merana karena panitia harus menalangi dana tak terkira dari penyelenggaraan yang bersifat bersama. Dari mulai perayaan mewah di aula, balai desa, lapangan warga, auditorium kerja, sampai menyewa tenda layaknya pesta, hingga di gang kecil sudut pemukiman kumuh yang memiliki tempat ibadah bernama Musholla. Semua ikut ambil peranan, ikut meminta bagian, berkontribusi mencari posisi, dan banyak kepentingan terselubung yang hanya Allah dan diri oknum pribadi yang mengetahui. Entah bisa bersifat momen yang sayang untuk dilewatkan, ataukah peluang kerjasama yang sungguh riskan bila tidak digunakan.

Saudaraku, perlu dipahami bahwa bila setiap kesalahan mesti selalu dikoreksi dan diluruskan kesalahannya, setiap kegiatan yang melibatkan banyak aktivitas dan menyita anggaran saja harus mendapatkan audit dan evaluasi, setiap kendaraan yang rusak mestilah di perbaiki di tempat yang mengeluarkan jenis kendaraan itu. Maka izinkanlah kita melihat sisi lain dari Maulid Nabi yang seringkali diperingatkan dan dirayakan dengan semarak dari tahun ke tahun, melalui kacamata penuh kesadaran dan pandangan penuh ke-arifan dalam menyikapinya. Izinkanlah tulisan ini menjadi suatu evaluasi tentang kegiatan rutin yang mestilah ada setahun sekali ini.

Penulis berharap dari tulisan ini manfaat yang banyak bagi kaum muslimin, penulis pun berharap bila terdapat kesalahan dari tulisan ini mestilah di koreksi kembali dan diluruskan oleh orang yang ahli dan lebih paham dari pada yang menuliskannya, dan penulis pun merasa meminta maaf bila nantinya terdapat kata-kata yang kurang sopan dan menyindir pihak-pihak tertentu dan merasa dirugikan karenanya. Tapi penulis sangat berharap bila pihak tersebut mau jujur dan mengakuinya maka tidaklah ada jalan lain selain kebenaran dan tidak ada alasan lain selain kembali untuk rujuk kepada kebenaran.

Pembahasan

Saudaraku yang semoga anda dirahmati oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, sudah menjadi sesuatu yang maklum dan terkenal di kalangan kaum muslimin khususnya di Indonesia. Berbagai macam peringatan-peringatan dan perayaan-perayaan keagamaan yang dimiliki oleh berbagai agama di Indonesia. Diantaranya adalah peringatan hari besar Islam, bahkan di beberapa kepanitiaan dan kepengurusan DKM di tiap mesjid mestilah ada bagian / divisi yang mengurusi masalah ini, lazim kita dengar dengan Seksi PHBI ( Perayaan Hari Besar Islam ). Kepanitiaan / seksi tersebut bertugas menjalankan fungsi mesjid menjadi sarana pusat kemajuan ummat dan basis silaturahmi ummat di suatu lingkungan masyarakat. Panitia tersebut memiliki job description yang bertugas untuk menyiapkan segala rangkaian acara yang berkaitan dengan Hari Besar Islam. Namun sayangnya seringkali kepanitiaan ini yang seharusnya memiliki tugas paling vital dan senantiasa berhubungan dengan masyarakat tanpa disadari justru lolos dari evaluasi dan follow up yang komprehensif pasca berlangsungnya sebuah acara Hari Besar Islam.

Diantara beberapa hal yang mesti di audit/evaluasi ialah perayaan Maulid Nabi (satu dari berbagai macam acara peringatan dan perayaan dalam Islam). Mestilah diketahui bahwa di setiap kepanitiaan terdapat agenda wajib tiap tahunnya untuk melaksanakan acara ini, namun sayangnya sebagaimana yang diutarakan sebelumnya lagi-lagi acara ini pun lolos dari evaluasi secara komprehensif. Sekalipun ada tidak lain melainkan rapat pembentukan panitia dan rapat pembubaran panitia, dan hal ini berlangsung setiap tahunnya. Sungguh sangat disayangkan dan mengecewakan.

Salah satu sisi dari Maulid ini yang diantara beberapa point yang ada nanti Insya Alloh adalah pemborosan. Mengapa hal ini dikategorikan sebagai pemborosan, padahal sebagian orang berprinsip bahwa ini merupakan suatu bentuk pengorbanan dalam beribadah yang ditujukan untuk mencintai Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam ??. Jawabannya adalah berapa banyak dana kaum muslimin tercurah hanya untuk kegiatan seperti ini setiap tahunnya. Namun yang terjadi adalah banyaknya biaya tidak seimbang dengan banyaknya ilmu yang diterima oleh kaum muslimin pada umumnya setelah kegiatan seperti itu. Berapa banyak pula susunan kepanitiaan dan sumbangan yang masuk kedalam kas masjid untuk perayaan ini. Berapa banyak pula pembicara-pembicara yang justru sebagian besar bukan dari bidang disiplin keilmuan agama yang mumpuni dan kredibel di undang tanpa hasil bagi warga sekitar yang jelas dan nyata pasca peringatan.

Sungguh sangat disayangkan. Perhatikan bila sesuatu yang berguna saja mestilah ditinggalkan, bagaimana bila itu tak berguna bahkan mendatangkan kemubadziran. Padahal Rabbuna Azza wa Jalla telah berfirman :

“ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” ( QS. Al Isra’ : 27 )

Evaluasi berikutnya adalah, adakah peningkatan ibadah yang dimiliki oleh para jama’ah yang menghadirinya. Na’am tidak dipungkiri para ustadz, kiyai, mubaligh, khathib, dan para penceramah yang seringkali diundang ke dalam sebuah majelis Maulid tersebut selalu menekankan pentingnya mencintai Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam namun apalah yang terjadi sesudahnya setelah usai perhelatan, kaum muslimin kembali ke rumahnya dan menjalani hari-harinya dengan tanpa penambahan yang signifikan pada peningkatan kualitas ibadah mereka terlebih dalam apa yang mereka lakukan secara komprehensif setelah acara peringatan, dan sudahkah sunnah Rasululloh mereka lakukan.

Bukankah kita mengetahui suatu hadist yang mulia yang disabdakan oleh orang yang dicintai kaum muslimin, yaitu Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya. “ ( HR. Tirmidzi, Hadist Hasan. Terdapat pula di dalam Arbain An Nawawiyah, hadits ke-12 ).

Maka sepantasnyalah bagi seorang muslim melihat suatu kegiatan khususnya dalam beribadah kepada manfaat yang dihasilkan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu apakah perbedaan dan kesalahan ini terjadi pada sang penceramah yang menyampaikan ceramah ?, ataukah para jamaah yang menghadirinya dengan harapan taqarrub ilallah ? namun ternyata apa yang ia dapatkan tidak dipraktekkan, atau bisa jadi kedua-duanya tidak memiliki nilai substansif yang pantas untuk dilakukan. Sungguh mestilah hal ini wajib dilakukan evaluasi bagi setiap panitia seksi PHBI.

Sebagai indikator kecil ketika penceramah mungkin menyampaikan tentang indahnya shalat berjamaah, maka hitunglah berapa banyak hadirin yang bertambah ketika shalat berjamaah. Apakah masih diisi oleh golongan tua dan lanjut usia, ataukah pemuda yang sering menjadi panitia sebagai bagian dari remaja masjid yang produktif dalam hal usia?, atau justru lebih berbahaya lagi arus feed back antara hadirin yang menerima ceramah dengan penceramah tidak lain hanya penuh canda dan gelak tawa seperti pemeran komedi dalam layar kaca?

Evaluasi selanjutnya adalah berapa banyak perkataan kecintaan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diucapkan, berapa banyak syair-syair diperdendangkan hingga menitikkan air mata, berapa banyak untaian-untaian mahligai perkataan pujian dari para khatib, muballigh, da’i, habaib, ustadz dan yang lainnya dalam setiap peringatan yang diadakan. Namun keyataannya ialah mengapa hal itu hanya terjadi pada saat peringatan itu saja ?? bukan, bukan berarti tuduhan ini memvonis bahwa penulis tidak memahami hakikat dari para da’i-da’i peringatan tersebut sungguh bukan. Namun yang disoroti ialah mengapa perubahan itu tak kunjung datang setelah 60 tahun bangsa ini merdeka ?? bukan pula ini kalimat pesimis tetapi apakah layak kalimat kecintaan yang diucapkan sementara hal yang demikian tidak memberikan dampak positif yang membawa kepada kemajuan dan perubahan.

Sehingga yang terjadi ialah kehidupan beragama bangsa Indonesia tidak memiliki kemajuan di hati rakyatnya. Yang ada hanya setiap setahun sekali terdiri dari beberapa peringatan dan perayaan, bersiap mengumpulkan dana dan membentuk kepanitiaan. Tidak ada kecendrungan untuk memegang syariat Islam secara kaffah disebabkan sebagian da’i telah berlaku malpraktek dalam berdakwah.

Tak jarang da’i santer menyerukan syariat Islam kepada jamaahnya, namun ia sendiri yang berada di garis terdepan meninggalkannya. Melalaikan kewajiban dengan mengundur waktu, dan meninggalkan sunnah (tak sedikit juga menghujatnya karena ketidak tahuan mungkin), serta mengejek mereka-mereka yang berbeda pendapat karena ingin meluruskan bahwa perayaan-perayaan tersebut salah adanya.

Sungguh semua itu haruslah diluruskan, tujuan harus senantiasa digariskan, dan sasaran mestilah harus tepat untuk ditegaskan. Jangan hanya membuang biaya, waktu dan tenaga. Namun semua itu menjadi hilang sirna hanya sekedar menjalankan sebuah ritual kebiasaan saja. Serasa ada yang hilang ketika tidak menyelenggarakan dan akan bersalah bila tidak memperingatinya.

Ambillah pelajaran dari setiap kegiatan tentang adakah manfaat yang banyak bagi penerima, pelaksana, dan yang menyampaikan. Sebab salah satu ciri seorang muslim ialah ia senantiasa mengambil manfaat dari apa yang ia kerjakan dan membuahkan maslahat terhadap setiap kejadian. Tidak akan baik generasi akhir dari ummat ini sebelum mereka mengembalikan apa-apa yang menjadikan generasi awal ummat ini baik, itulah yang di nasehatkan oleh Al Imam Malik bin Anas rahimahullah. Juga sebuah nasihat dari Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat disela-sela pelajaran Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari beberapa tahun silam, “Berusahalah agar ummat ini layak ditolong oleh Allah, dan tidak akan datang pertolongan Allah melainkan kita kembali kepada ajaran Islam dengan sebenar-bearnya”

Mari benahi bersama setiap kekeliruan yang ada, dengan merumuskan kembali orientasi dasar tentang setiap kegiatan. Jangan hanya sekedar kuantitas yang ditekankan tapi kualitaslah yang mesti dikedepankan. Kembali kepada ajaran Islam yang benar itu adalah sebuah keharusan. Mengembalikan segalanya kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat ridwanallohu ‘alayhim jami’an adalah kepastian. Bukankah seseorang pernah berkata “Tegakkan daulah Islam terlebih dahulu pada dirimu, maka daulah Islam akan tegak di wilayahmu”

Wallahul Musta’an..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s