Menjadi Hebat, Banyak Memuat!

Tentunya kita pernah mendengar soal cerita kehebatan, betapa banyak kita menyaksikan kehebatan di kehidupan kita yang silih berganti datang tanpa henti. Setiap kehebatan terkadang membuat kita menjadi terkejut tanpa pernah menyadari bahwasanya kita pun pernah mengalami sebuah kehebatan. Hebat adalah sebuah kata yang mudah dipahami, namun budayanya adalah setiap kali kata tersebut mudah dipahami, maka setiap kali itu pula hal demikian tak terdefinisi. Rumusan bakunya ialah keumuman apa yang biasa terlontarkan soal hebat dan kehebatan ini.

Jangan dikira bahwasanya sebuah kehebatan muncul dari pribadi seseorang itu dengan begitu saja, jangan pernah mengira pula bahwasanya kehebatan itu muncul karena adanya sekedar kebiasaan, sebuah kebiasaan tanpa dikembangkan pun hanya akan kandas tanpa jejak begitu saja. Kehebatan orang-orang yang kita anggap hebat tersebut selain berasal dari usaha yang dilakukan, sesuangguhnya ada faktor lain yang mengantarkannya. Kehebatan bukan hanya soal seseuatu yang diluar kebiasaan. Bahkan kehebatan itu sendiri berada dalam sebuah kebiasaan. Mendahului sesuatu yang belum terpikirkan oleh kebanyakan orang pun adalah suatu kehebatan.

Kunci Pertama, Kesempatan

Tidak akan ada sebuah kehebatan tanpa sebuah kesempatan, itu kunci yang pertama. Semua orang hebat menjadi hebat berawal dari adanya nilai-nilai kesempatan di depan mata yang tidak ia sia-siakan. Mendasari dengan niat yang lurus serta melacak tanpa henti setiap momentum dalam penerapan kehidupan, sebagai kunci meyakini nilai kesempatan bernama peluang. Betapa usaha akan sia-sia tanpa adanya kesempatan untuk menggenggam kesuksesan. Lihatlah berapa banyak orang hebat itu hidup sukses dengan kesempatan yang mereka genggam erat tanpa lepas bahkan mengikuti kesempatan itu hingga ke muaranya. Betapa Saichiro Honda berhasil meracik mesin pistonnya sendiri dengan cermat dan akurat secara mandiri setelah penawarannya kepada perusahaan tempat ia bekerja tidak menerima piston yang ia buat dan nyatanya ia sukses.

Bagaimana pula Islam menghargai sebuah arti dari kesempatan melalui sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.” (HR. Bukhari).

Lihat pula bagaimana seorang Hudzaifah bin Yaman menggunakan kesempatannya dalam bertanya bersama Nabi shallahu ‘alayhi wa sallam, sehingga menjadi sebuah pelajaran penting hingga hari ini. Lihatlah perkataan Hudzaifah bin Yaman yang diabadikan oleh Al Imam Bukhari di dalam Shahihnya, “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.”

Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.” Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian .. ..?” Ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Hendaklah senantiasa mengikuti jama’ah Kaum Muslimin dan pemimpin mereka .. .!”, Lantas aku bertanya lagi (Hudzaifah) “Bagaimana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin ….?” Maka Rasulullah lantas menjawab, “Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian …!”

Ada kesempatan yang memilihkan untuk berada diluar kebiasaan. Karena kesempatan bukanlah milik kebanyakan orang, kesempatan adalah milik mereka-mereka yang tergugah untuk lebih mencapai hasil lebih dalam. Diatas batas apa yang belum terpikirkan oleh orang lain, namun memiliki kekuatan mengguncang penuh nilai dan makna bertahan lama. Begitulah kesempatan menjadi penting dalam setiap perhelatan. Karena disetiap usaha pasti ada peluang, dan di setiap hasil pasti ada kesempatan yang tak terkira sebelumnya.

Sudah sepantasnya mereka-merka yang muslim untuk melacak jejak kesempatan dalam berbekal kebaikan diatas kebenaran di dunia. Bukan seperti lamunan kosong dan jeritan hampa kaum kafir yang berharap dikembalikan ke tanah padahal bagi mereka telah terang dan nyata kebenaran Islam serta ancaman hari akhir, namun kesempatan tersebut mereka buang dari dalam hati jauh-jauh. “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah.” (QS. An Naba’ : 40)

Kunci Kedua, Kecepatan

Kunci berikutnya selain kesempatan ialah kecepatan, kecepatan yang tepat dan terus berada dalam koridor kecermatan. Cepat tanpa cermat pun tak berguna, yang pasti adalah kecepatan bersama kecermatan. Kecepatan inilah yang merangkai kesempatan tadi. Kesempatan tanpa kecepatan pastilah hilang tanpa berbekas.

Mereka-mereka yang terdidik dalam pembinaan terbaik senantiasa bergegas lepas mengarungi batasan yang menjadikan sekat keleluasaan. Mendobrak pintu kayu kebuntuan dalam berpikir dengan menyajikan ide-ide brilian tanpa kenal lelah dan henti. Selalu ada alternatif yang menjadikan tumpuan dalam kesederhanaan pikiran. Tidak tepikir besar sebelum mengawalinya dengan hal kecil untuk permulaan kemudahan.

Kecepatan identik dengan kemudahan, sesuatu yang dibuat mudah, niscaya cepat pula menyelesaikannya. Begitulah yang mendasari niat besar Umair bin Al Humam dengan potongan kurma kecil yang ia tidak tunggu habiskan demi menyongsong surga seluas langit dan bumi, disana di barisan siaga tanpa kenal lelah bekerja dan mengejar momentum ada seorang Umar bin Khattab ketika melacak perburuan sosok yang terkabulkan doanya atas ucapan Rasulullah. Ya, sosok yang lekat-lekat bernama Uwais Al Qarni.

Kecepatan adalah episentrum keunikan, kecepatan selalu bergerak mengikuti pikiran yang senantiasa terasah dan jiwa yang selalu basah dengan gagasan. Kecepatan menggandeng kecermatan untuk memotret kunci pertama tadi yakni kesempatan. Kecepatan memberikan ilham untuk senantiasa mengejar, bukan menunggu. Sebab dibalik mengejar hasil akan lebih cepat terdapatkan dibandingkan menunggu berpangku menggantung asa dan membeku gerak.

Lihatlah kecepatan yang mengajak para putri Kaisar Yazdajurd pembesar Kisra saat pemerintahannya telah tumbang ditangan khalifah Umar bin Khattab. Maestro hebat bernama Ali bin Abi Thalib memasang harga tinggi untuk ketiga putri kaisar. Janganlah ditanya bagaimana fisiknya para putri kaisar itu. Namu kecepatan menjawab, saat harga putri-putri tersebut bernilai tinggi, tetapi para putri tersebut justru melakukan pilihan. Salah satunya menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar sehingga lahirlah pembesar tabiin bernama Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, satunya menikah dengan putra kebangaan Al Faruq yakni Abdullah bin Umar atau lekat dengan nama Ibnu Umar sehingga dari benihnya lahirlah pendekar wara’ bernama Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab, dan putri satunya memilih anak Ali bin Abi Thalib yang mengangkat gandum di tiap malam gelap kedepan pintu para penduduk dhuafa yakni Al Husain bin Ali bin Abi Thalib cucu kebanggaan Rasulullah dan lahirlah darisana Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Kecepatan menyisakan mozaik untuk lebih melengkapi sebuah aryi dari kenyataan hidup. Sebab kecepatan mengajak otak untuk bergegas menakar keseimbangan keputusan dan menyadurnya menjadi untaian tolok ukur kesuksesan. Sebagaimana kesempatan, kecepatan pun mengajak pelakunya untuk melirik sesuatu yang belum dilirik orang lain. Waktu terbatas, tiap orang hanya memiliki skema jadwal tentu 24 jam dalam sehari. Maka siapakah yang ingin beruntung. “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minuun : 61)

Kunci Ketiga, Harapan

Dan yang terakhir ialah harapan, harapan inilah yang melengkapi kedua kunci usaha tadi. Takkan mungkin seseorang berburu kesempatan dan mengejar momentum kecepatan jika tidak berharap sesuatu. Namun harapan bukanlah hasil yang menentukan. Harapan adalah penghibur untuk melaksanakan lebih baik lagi. Sebab bisa jadi usaha belum sesuai dengan hasil yang dicapai. Maka disanalah kunci harapan untuk memuaskan usahanya. Memuaskan agar tetap lapang dan belajar lebih sempurna dalam memperbaikinya.

Sebagaimana kisah Abu Mihjan Ats-Tsaqfi radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang tidak bisa melakukan apapaun bila tidak ada perjamuan khamr sebelumnya, tak heran cambukan seringkali diterimanya. Semua orang mengetahui kehebatan Abu Mihjan dalam medan laga membela agama Allah. Namun hanya satu kendalanya, ia masih membanggakan khamr dan menenggaknya, bahkan dalam syairnya ia mengatakan, “Jika aku mati, kuburkan ke batang Anggur. Agar getahnya menyegarkan tulang belulangku setelah kematian. Jangan kuburkan aku di dalam pasir. Karena aku takut jika kematian tidak bisa kunikmati”

Maka Saad bin Abi Waqqash pun memenjarakannya saat tertangkap dalam pertempuran di Al Qadisiyah sebabnya lagi-lagi soal khamr. Ditengah penahanannya ia berharap untuk membantu kaum muslimin dalam berjihad di kancah laga. Maka ia meminta keringanan kepada Salma istri Saad bin Abi Waqqash untuk memberikan kemudahan dengan jaminan. Bila ia masih hidup maka ia akan kembali ke hukumannya asalkan ia dibolehkan untuk berperang, dan bila ia terbunuh niscaya kalian (mereka yang risih dengan polahnya Abu Mihjan bersama khamrnya) dapat beristirahat dengan tenang. Salma pun mengizinkannya maka ditunggangilah Al Balqa’, kuda perang hebat milik Saad bin Abi Waqqash. Lantas Saad bin Abi Waqqash memuji apa yang dilakukan Abu Mihjan bersama Al Balqa’. Dan Saad bin Abi Waqqash mengatakan, “Serangan hakiki adalah serangan Al Balqa’ dan pukulan yang mematikan adalah pukulan Abu Mihjan.”

Setelah pasukan musuh terkalahkan, maka Abu Mihjan tetap hidup dan kembali menjalani hukumannya. Disanalah Salma sang istri tercinta Sa’ad bin Abi Waqqash menceritakan perihal pembebasan berjaminan Abu Mihjan. Maka Abu Mihjan kembali dipanggil dan dilepaskannya belenggu yang mengikat kakinya serta berkatalah Saad kepadanya, “Berdirilah, demi Allah aku tidak akan mencambukmu selamanya jika engkau minum khamr lagi.” Lantas apa kira jawaban sang penyair untuk khamrnya? Bagi sekarang ini tentunya rukhsah demikian sangat menyenangkan hati. Diberikan kebebasan melakukan kesalahan adalah sebuah kenyamanan melakukan kesalahan tersebut tentunya. Namun tidak bagi Abu Mihjan, ia justru mengucapkan, “ Wallahi aku tidak akan meminum khamr lagi.”

Perhatikanlah, Abu Mihjan mengajarkan untuk meninggikan sebuah harapan. Menjaminkan semuanya dan melakukan segalanya dengan kemudahan. Pendekar laga mulia merasa tak pantas bila kemuliaan jihad terkotori dengan lacurnya khamr. Maka harapan mengajarkan agar lebih menghargai sebuah nilai usaha yang dijejaki. Harapan mendukung sisi sunyi untuk memotivasi lebih berdaya guna bagi keramaian massa. Dorongan untuk bertindak bukan fungsi sedikit bekerja sedikit pula bicara atau sedikit bicara banyak bekerja. Akan tetapi harapan mengajak untuk memperkaya kesedikitan itu demi menyederhanakan aksi selanjutnya lebih banyak lagi.

Itulah kesempurnaan yang mengantarkan seseorang mencapai puncak kehebatan. Jadi, jangan dianggap orang-orang hebat itu menjadi hebat tanpa sebab, tapi adanya sebuah kesempatan yang ia lihat sehingga ia membaca kesempatan itu dengan cepat berdasarkan harapannya untuk menjadi seseorang yang hebat. Hebat tanpa kata dahsyat, sebab cukuplah hebat bisa jadi melalaikan terlebih lagi bagaimana dengan dahsyat?

Jadilah hebat tanpa batas dengan cepat membaca kesempatan dan mengharap keberhasilan setelahnya. Ingat, hebat bukan hanya kuat. Akan tetapi hebat juga bernilai cermat.

Wallahu ‘Alam bi Shawwab

Iklan

2 pemikiran pada “Menjadi Hebat, Banyak Memuat!

  1. HEBAT : Kesempatan, Kecepatan, Harapan.

    wah..hebat tulisannya!!

    penjelasan dari tulisan “jadilah hebat!” bukan?

    hehehe, iya ukht penjelasan dari tulisan tersebut :), kok tahu tulisan itu darimana? blogdetik saya yah?

  2. Hu’uh..Dari “Berbagi Rizki”
    tulisannya keren-keren. Kok ndak di update lg tho?

    berbagi rizki di blogdetiknya itu hanya pilot project, nah cetak birunya ada disini. mencoba menuangkannya dengan lebih luas ber-arti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s