Mengapa Menolak Sekularisme?

Sekulerisme bukanlah paham yang baru hadir belakangan ini. Sekulerisme merupakan paham pemikiran yang menjadikan adanya pemisahan antara agama dengan Negara atau hubungan social diantara warga satu negara. Menurut World Assembly Moslem Youth atau WAMY ketika mengartikan sekulerisme ialah sebuah gerakan yang menyeru kepada kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama. Sehingga agama tidak memiliki akses dan kewenangan dalam mengatur tata system ataupun proses keberlangsungan politik, social, ataupun budaya di masyarakat. Agama hanya ditempatkan oleh gerakan atau pemahaman sekulerisme berada pada menara-menara gereja, kubah masjid, pelataran kuil, maupun rumah-rumah individu pemeluk setiap agama.

Sekulerisme lahir jelas bukan dari Islam, melainkan lahir dari Barat. Dimana saat ini Barat sedang menjadi new age paradigm atau sebagai salah satu acuan peradaban modern bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Sehingga, ekspansi kebarat-baratan muncul di berbagai belahan dunia termasuk Negara dunia ketiga seperti Indonesia. Pengaruh inilah yang dikenal sebagai westernisasi. Melacak dari akar sejarahnya sebagaimana yang diteliti oleh WAMY dan dibukukan oleh mereka dengan judul Al Mausu’ah Muyasarah fii Adyan wal Madzhabil Mua’shirah ialah sekulerisme tumbuh berkembang di Eropa sebelum Revolusi Perancis 1789 M. mulanya gerakan ini dirancang untuk memusuhi kekuasaan dan kediktatoran gereja, sebab gereja telah berlaku secara sewenang-wenang dan menutup rapat pintu informasi yang dapat mengusik ketetapan maupun pendapat pihak gereja seperti pendapat yang dipaparkan oleh Nicholas Copernicus. Namun seiring dengan berjalannya waktu, gerakan sekulerisme ini juga memusuhi agama-agama apapun. Untuk lebih lengkapnya bisa membaca buku hasil penelitian WAMY tersebut yang kini walhamdulillah sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Mengapa Islam menentang dan menolak sekulerisme? Hal ini disebabkan, sejatinya ajaran Islam adalah ajaran dengan penuh kesempurnaan, ajaran yang tentunya sudah ada syariat yang mengiringi dalam setiap aktivitas seorang hamba Allah Ta’ala. Sehingga, ketika telah ada ajaran yang lengkap dan ajaran tersebut merupakan ajaran yang turun dari sisi Allah, wajib bagi setiap muslim untuk menerimanya, atau apabila ia belum mampu untuk melaksanakannya maka ia menahan diri untuk tidak mengejek, mencela, ataupun meremehkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah dan diturunkan oleh Allah Ta’la. Karena tidaklah Nabi wafat melainkan ia telah meninggalkan semua ajarannya secara lengkap, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, “Demi Allah, sungguh aku telah meninggalkan kalian diatas hujjah yang putih bersih, malamnya sama dengan siangnya.”

Islam mengatur dengan seksama hajat hidup pemeluknya, sehingga tak ada ruang bagi pemahaman sekulerisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan manusia. Justru Islam ada dan hadir untuk memberikan keseimbangan dengan ajaran-ajarannya. Dari sisi pemerintahan, Islam mengajak ummatnya untuk senantiasa berlaku jujur sebab dengan kejujuran akan menumbuhkan kepercayaan dimata manusia dan mendapatkan ganjaran serta balasan kebaikan dari sisi Allah Ta’ala. Kala seorang muslim dituntut untuk meringankan beban muslim lainnya, maka Allah pun kelak akan memberikan pahala atas kebaikan yang diberikan. Dan tak bisa tidak, bahwasanya Allah senantiasa mengawasi, sehingga hamba yang beriman kepada Allah akan merasa hidupnya dalam penjagaan Allah dan juga berada dalam pengawasan Allah. Sedangkan sekulerisme tak dapat menghadirkan secuil manfaat sedikitpun bagi seorang muslim. Orientasi yang ditawarkan oleh sekulerisme adalah orientasi keduniaan, fokus yang diinginkan ialah fokus arogansi individu, dan parahnya kebinasaanlah yang akan merajalela serta keserakahan sebagai pemimpinnya.

Mereka-mereka yang meyakini sekulerisme sebagai jalan hidup adalah orang-orang yang merugi, sebab mereka menjalani kehidupan berada jauh dari keridhaan Allah Ta’ala. Islam adalah solusi, di dalamnya berisi aturan dan tata kehidupan yang damai. Dan ini pernah dibuktikan serta terjadi masa keemasannya di jaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, khalifah yang empat, serta dinasti-dinasti Islam yang memerintah dengan keadilan dan menjadikan agama sebagai pedoman. Berbeda dengan sekulerisme yang menjadikan hawa nafsu serta akal pikiran manusia dengan keterbatasan sifatnya sebagai pedoman. Karena kebenaran adalah kebenaran, dan tak adalagi setelah kebenaran Islam melainkan itu pasti kesesatan, sebagaimana firman Allah, “…. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (QS. Yunus : 32).

Sehingga sudah barang tentu, sebagai seorang muslim, cukuplah Islam sebagai pedoman dan jalan hidup, bukanlah sekulerisme yang penuh halusinasi dan faham megalomania yang dituruti. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan ancaman keras bagi seorang muslim yang mengikuti atau mengambil pemahaman-pemahaman dalam beragama dari agama lain. Dalam salah satu sabdanya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tesebut” jika sudah demikian, maka Allah dan Rasulnya berlepas diri atas orang tersebut. Lantas kepada siapa seorang akan meminta pertolongan dan pengampunan atas dosa jika ideology yang dianut adalah sekulerisme. Terlebih MUI sudah memfatwakan dengan tegas bahwasanya pluralism, sekulerisme, dan liberalism agama diharamkan dalam munas MUI beberapa waktu silam. Wallahu ‘alam bii shawwab. (abu usamah rizki)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s