Kapan Terakhir Kali Kita Mengingat Neraka?

Sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, atas beliaulah seseorang keluar dari kegelapan jahiliyah menuju kecerahan hidayah. Tuntunan beliau pula yang mengajak banyak manusia mengenal eksistensi kehidupan senyata-nyatanya. Maka, apakah pantas ada petunjuk lain selain petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bekal kehidupan kita hari ini dan nanti?

Seluruh manusia, semenjak datangnya Islam di muka bumi. Disatukan menjadi satu kekuatan tak terpisahkan. Kekuatan yang disegani dan kekuatan penuh arti. Persatuan itu nyata kokohnya sebab satu slogan dan semboyan. Semata-mata ikhlas kepada Allah Ta’ala dan mencintai Nabi yang diutus oleh-Nya.

Lama mungkin kita hidup dunia, menghitung itu jangan dikalkulasi dari jumlah usia. Tapi hitunglah dari momentum kebaikan yang pernah kita rasakan dan lewati. Kebaikan yang datang dari Allah Ta’ala sebagai medium untuk memfasilitasi kita berhenti dari kesalahan dan menambah bilangan kebaikan. Kebaikan-kebaikan tak terhingga banyaknya hingga mungkin lupa ialah, sudah berapa kali Ramadhan kita rasakan sepanjang perjalanan hidup ini, sudah berapa banyak jumlah kambing atau domba atau mungkin sapi yang telah kita persembahkan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Ta’ala di setiap Hari Raya Idul Adha, atau sudah berapa kali banyaknya bilangan kita mengikuti manasik haji atau umrah dengan berbagai institusi.

Memang sengaja kita lupa, sebab mengingatnya khawatir riya, memperbincangkannya ditengah khalayak ramai justru mengundang takabur, dan berkata pada persepsi berbeda khawatir mengundang hasad tetangga atau ‘ain as suu’ dari saudara. Baiklah, bagaimana bila kita mencoba mengingat sesuatu yang takkan mengundang hal-hal tersebut hinggap. Seperti, kapan terakhir kali kita mengingat akan dahsyatnya siksa neraka? Nah, mungkin hal tersebut justru takkan mengundang banyak kontra. Sebab, biasanya siapapun kala dikatakan soal neraka. Serasa adrenalin meluncur keras, jantung berdegup kencang, bayangan meninggalkan badan, serta pikiran terlampaui di hari-hari yang sebelumnya telah kita miliki. Pembicaraan soal neraka, adalah pembicaraan paling aman dari wabah riya, sum’ah, namimah, ghibah, atau hasad sekalipun.

Ya, kapan terakhir kali kita mengingat gejolak neraka dalam diri kita masing-masing. Gejolak api dengan bahan bakarnya para manusia dan batu. Panasnya ribuan kali lipat panas api di dunia, bahkan siapapun dan dimanapun seseorang yang merasa shalih tak kuasa menahan derai air matanya kala dibicarakan soal neraka.

Itulah yang membawa cerita kita kepada salah seorang tabi’in mulia. Penerus perjalanan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ditengah kaumnya pada masanya. Pria itu bernama Ar Rabi’ bin Khutsaim. Suatu ketika ia pergi dengan salah seorang sahabat Nabi termulia bernama Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu. Ar Rabi menyertai perjalanannya hingga perjalanan sampai pada sungai Eufrat di sekitar Basrah, mereka melewati suatu perapian besar tempat pembakaran batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara, percikan apinya, dan bunyi-bunyi gemeretak batu bata berpadu di dalamnya.

Tatkala melihat pemandangan demikian, Ar Rabi’ terpaku ditempatnya dan merasakan menggigil menjulur di sepanjang tubuhnya dengan hebat. Lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala,

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” [QS. Al Furqaan : 12 – 13].

Hingga akhirnya, Ar Rabi’ bin Khutsaim pingsan dan dibawa oleh kawannya menuju rumah untuk dirawat hingga sadar. Mungkin begitulah keimanan seseorang, mereka akan merasa jauh dari harapan akan kebaikan yang dimiliki ketika disampaikan soal neraka. Berbeda halnya dengan kita hari ini mungkin. Kita yang senantiasa menganggukkan kepala kala surga di kisahkan, kita yang merasa cukup dengan menggelengkan kepala kala neraka diperdengarkan. Sungguh, mengingat kematian adalah bagian penting untuk menyadarkan, akan tetapi mengingat perjalanan setelah kematian jauh tak kalah pentingnya. Berbekal dengan ketakwaan dan keimanan maka kita tingkatkan dengan mengingat lembaran-lembaran akhir dari setelah kehidupan.

Sungguh Ar Rabi ibnu Khutsaim adalah contoh nyata saat keimanan mendera di dadanya. Tak salah bila sahabatnya mengatakan tentang dirinya, “Andaikata engkau duduk bersama Rabi’ bin Khutsaim selama setahun lamanya, maka dia tidak akan bicara apapun kecuali jika engkau yang mulai berbicara dan akan terus diam bila tidak kau dahului dengan pertanyaan. Sebab dia menjadikan ucapannya sebagai dzikir dan diamnya untuk berfikir.” Sanjungan pun muncul dari salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta Ar Rabi’ menyertai perjalanannya yakni Abdullah bin Mas’ud, “Wahai Abu Yazid (kuniyah yang dimiliki oleh Ar Rabi’, ed), seandainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatmu, tentulah beliau mencintaimu.”

Mari menjadikan hidup ini lebih bermakna, lebih memiliki arti ditengah keasingan seseorang berpegang teguh dengan ajaran agamanya, ditengah cibiran dan pandangan negative atas atribusi agama, ditengah ketidaktertibannya tatanan pola dunia akibat ulah manusia. Ingatlah teman, bahwa ada banyak pelajaran bisa kita dapatkan. Bila seseorang berpegang dengan agamanya yakni Islam dan bersungguh-sungguh untuk menetapi jalan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tak ada masalah yang tak dapat dicarikan solusi, kecuali diri kita yang tertutupi oleh emosi dan ambisi syaithani. Wallahu ‘alam bii shawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s