Result Oriented Leadership

PENDAHULUAN

Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan menurut Kreiner, adalah proses mempengaruhi orang lain dimana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela untuk berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan menurut Hersey adalah usaha untuk mempengaruhi individu lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Menurut House, kepemimpinan adalah kemauan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Sedangkan Richards & Eagel memaparkan tentang kepemimpinan ialah cara mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan guna mencapai sesuatu.

Burns menjelaskan bahwa kepemimpinan dilaksanakan ketika seseorang memobilisasi sumberdaya institusional, politis, psikologis, dan sumber-sumber lainnya untuk membangkitkan, melibatkan dan memenuhi motivasi pengikutnya. Penjelasan tersebut hamper semakna dengan apa yang dikemukakan oleh Drath & Palus, yakni proses untuk membuat orang memahami manfaat bekerja bersama orang lain, sehingga mereka paham dan mau melakukannya.

Banyak teori mengemukakan tentang kepemimpinan. Teori-teori tersebut merumuskan beberapa hal seperti karakteristik kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dimensi dan pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja bawahan, dan aspek lain yang berhubungan dengan kepemimpinan. Salah satu teori kepemimpinan yang hingga saat ini masih menjadi elemen dasar sifat dari seorang pemimpin ialah teori yang dikemukakan oleh Gordon. Ia memaparkan beberapa aspek kemampuan yang harus dimiliki oleh pemimpin, aspek-aspek tersebut adalah :

  1. Kemampuan Intelektual
  2. Kematangan Pribadi
  3. Pendidikan
  4. Status Sosial Ekonomi
  5. Hubungan Antarindividu
  6. Motivasi Intrinsik, dan
  7. Dorongan untuk maju

Kepemimpinan adalah hal krusial dalam setiap organisasi, sebab kepemimpinan adalah factor penting sejauhmana tujuan organisasi dapat terealisasi, seperti yang dipaparkan oleh Bernard Montgomery, Kepemimpinan adalah kemampuan serta kemauan untuk menggalang orang mencapai sebuah tujuan, serta karakter yang membangkitkan kenyataan.

Hal-hal diatas mendorong para ahli dalam bidang manajemen untuk meneliti dan menyimpulkan berbagai formula terkait kepemimpinan. Pada banyak dimensi, kepemimpinan memiliki berbagai macam jenis dan model. Beberapa diantaranya ialah kepemimpinan transformasional, kepemimpinan laissez faire, kepemimpinan demokratis, otoritarian, kepemimpinan berorientasi kepada tugas, kepemimpinan dengan orientasi hasil, kepemimpinan situasional, dan model-model kepemimpinan lainnya.

Kepemimpinan Ber-orientasi Hasil

Beberapa peneliti merumuskan salah satu model kepemimpinan yang cukup menarik, kepemimpinan itu melandaskan pada kinerja pegawai dengan orientasi hasil. Model kepemimpinan ini menjadi unik, sebab setiap bawahan diberikan keleluasaan untuk mengapresiasi ide dan gagasan bagi kemajuan organisasi. Kepemimpinan seperti ini bukan tanpa cacat, sebab model kepemimpinan ini menuntut tiga buah prinsip dalam pelaksanaannya. Prinsip tersebut ialah:

Kepercayaan. Untuk  membangun kepercayaan manajer perlu menunjukkan bahwa mereka jujur​​, dapat diandalkan, dan setia. Ini berarti setiap pemimpin mampu menjaga janji mereka dan memberikan  integritas contoh setiap saat. Mereka juga perlu mendorong karyawan untuk mandiri dengan mendukung keputusan mereka kapan pun mereka bisa. Setiap karyawan dituntut untuk melakukan pengambilan keputusan mereka dengan penuh rasa tanggung jawab, bahkan ketika kesalahan dibuat, kepemimpinan berorientasi pada hasil menuntut setiap elemen organisasi untuk dapat menjelaskan alasan mengapa keputusan tidak bisa dilakukan, sehingga menciptakan lingkungan belajar dalam membangun sebuah kepercayaan.

Kredibilitas. Kredibilitas dibangun ketika seorang karyawan tahu seorang pemimpin dapat membuat mereka lebih baik dalam  melakukan pekerjaan. Kepemimpinan berorientasi pada hasil  tidak melakukan semua tugas secara sendiri, melainkan mengajak seluruh pegawai untuk berpartisipasi, saling memberi dukungan, dan membimbing tim mereka. Mereka mendorong anggota tim untuk berpikir, mempertimbangkan alternatif, dan menilai risiko dan manfaat. Mereka menyediakan karyawan dengan alat yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Seorang pemimpin yang berorientasi pada hasil senantiasa mengajak  untuk memperluas pembelajaran, wawasan, dan pemahaman anggota tim dengan membekali mereka kemampuan yang mampu menciptakan kredibilitas individu dan organisasi.

Rasa hormat. Manajer membangun hormat ketika mereka menunjukkan penghargaan mereka untuk perspektif yang unik dari karyawan dalam kontribusinya terhadap organisasi. Adakalanya karyawan cenderung ingin memiliki pekerjaan maksimal daripada sekedar kewajiban biasa mereka dalam bekerja. Mereka benar-benar ingin berkontribusi secara optimal. Mereka ingin menunjukkan apresiasi untuk melakukan pekerjaan mereka. Ketika mereka merasa dihargai, diterima, diakui, dan diperlakukan dengan hormat, mereka lebih cenderung untuk tampil di tingkat yang lebih tinggi dan tetap dengan organisasi.

Tiga prinsip dasar itulah yang mesti muncul dalam kepemimpinan berorientasi hasil. Sehingga kebebasan karyawan dalam bekerja akan lebih maksimal dengan mendapatkan dukungan dari organisasi ketika proses pengerjaannya. Karyawan diberikan kesempatan untuk berkontribusi secara lebih dan pemimpin tidak menghargai, justru memberikan rasa hormatnya terhadap apresiasi mereka.

Kepemimpinan berorientasi hasil, sangat tepat bila dipadukan dengan komitmen pegawai yang afektif dan gaya kepemimpinan transformasional. Pada berbagai hal, situasi tersebut sangat mendukung pencapaian-pencapaian dan target organisasi secara prima.

Lantas bagaimana ketiga prinsip itu dapat bekerja secara optimal? Prinsip tersebut dapat berjalan dengan baik jika setiap pemimpin memperhatikan beberapa langkah tepat. Langkah tersebut ialah; Pertama, setiap bawahan akan senantiasa memperhatikan kinerja pemimpin. Sehingga dalam kepemimpinan berbasis hasil, setiap pemimpin dituntut untuk mampu menempatkan dirinya dihadapan bawahannya dengan baik. Sebab setiap bawahan akan meniru kinerja dan produktivitas pemimpinnya.

Kedua, seorang pemimpin dituntut untuk banyak memperhatikan dan membimbing bawahannya dengan baik. Pemimpin tidak hanya memberikan visi dan misi secara gamblang, namun pemimpin dituntut secara penuh untuk memberikan peran sertanya dalam membantu bawahan. Pemimpin juga memberikan harapan kepada para bawahan secara baik.

Ketiga, seorang pemimpin pada model kepemimpinan berorientasi pada hasil, mestilah menempatkan dirinya di dalam tim dengan pola pikir ‘kita’ bukan ‘aku’. Seorang pemimpin dituntut untuk memahami kebiasaan kerja timnya. Ia memberikan ruang yang luas bagi tim dalam memberikan ide dan gagasan, dan tidak mengambil alih semua pekerjaan secara individual. Hampir setiap tugas di-share kepada para bawahan dan memberikan pengembangan kepada tim untuk merealisasikan tujuan.

 

Fungsi Kepemimpinan Ber-orientasi Hasil

Kepemimpinan berorientasi hasil senantiasa memberikan pedoman bagi bawahannya untuk melaksanakan kinerja pencapaian tujuan dengan beberapa rangkaian proses, sebagaimana yang akan di jelaskan dibawah nanti. Namun ada beberapa hal yang menjadi fungsi kepemimpinan dalam result oriented leadership, fungsi penting itu ialah sebuah pelayanan. Sejauhmana seorang pemimpin dapat memberikan iklim pelayanan terbaik bagi bawahannya dalam memberikan dukungan hasil secara paripurna.

Pelayanan ialah hal sangat penting, seperti yang dipaparkan oleh Eugene B. Habecker, bahwa pemimpin sejati melayani: melayani orang lain dan kepentingan mereka. Ketika melakukannya, mereka takkan selalu popular atau membuat orang terkesan. Namun karena para pemimpin sejati dimotivasi oleh pengorbanan yang penuh kasih dan bukannya oleh keinginan untuk menerima pujian bagi diri sendiri, mereka rela untuk membayar harganya.

Pada dasarnya, ada beberapa hal mendasar dalam sebuah proses kepemimpinan berbasis orientasi hasil. Langkah-langkah dalam proses itu terdiri dari:

  1. Merumuskan tujuan organisasi berjangka (set the target)
  2. Mentransfer ide, gagasan, dan hasil yang diinginkan oleh organisasi kepada seluruh elemen organisasi (translating the goals)
  3. Membuat kesepakatan dengan seluruh komponen organisasi tentang hasil yang akan dicapai (result oriented agreement)
  4. Mengimplementasi dengan cara melakukan, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi setiap kinerja elemen organisasi (Implementation)
  5. Melakukan penilaian kinerja secara periodik, memberikan kontrol, dan melakukan pengaturan (periodic appraisals).

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

 

Perbandingan dan Perbedaan

Pada pembahasan bab ini, penulis mencoba untuk membandingkan antara kepemimpinan berorientasi hasil dengan kepemimpinan suportif. Sekilas antara kepemimpinan berorientasi hasil dengan kepemimpinan suportif memiliki kesamaan. Persamaan tersebut bialah daya dukung yang diberikan oleh pemimpin untuk memaksimalkan potensi bawahannya dalam mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan Suportif

Dalam berbagai teori, kepemimpinan supportif acapkali disebut juga sebagai teori jalan tujuan (part-goal theory). Kepemimpinan suportif memandang kepemimpinan merupakan pencapaian bersama, bukan kemajuan secara personalitas. Gaya kepemimpinan suporti senantiasa memberikan dan memperlakukan bawahan sebagai kerabat dengan hubungan komunikasi penuh kedekatan antara satu dengan lainnya, kepemimpinan suportif senantiasa menunjukkan eksistensi perhatian, motivasi, simpati, dan memahami apa yang diinginkan para bawahan.

Gaya kepemimpinan suportif beregang pada nilai-nilai yang mengedepankan bawahan seperti:

  1. Integritas
  2. Altruism (mengutamakan kepentingan orang lain)
  3. Wisdom (kebijaksanaan dan kerendahan hati)
  4. Empati
  5. Pengembangan dan peningkatan kinerja bawahan
  6. Keadilan
  7. Pendelegasian yang tepat

Karakteristik yang dimiliki oleh kepemimpinan suportif acapkali disebut sebagai employee centered atau juga leader-consideration, dengan karakteristik antara lain:

  1. Memotivasi bawahan
  2. Mengusahakan keharmonisan
  3. Mau melakukan perubahan
  4. Imbalan sebagai sebuah alat ukur
  5. Bersahabat dan dekat
  6. Tidak menuntut diluar kemampuan
  7. Sanksi-sanksi yang diberikan senantiasa diupayakan sepositif mungkin

Ada beberapa hal yang menjadi perbedaan antara kepemimpinan suportif dengan kepemimpinan berorientasi hasil

Suportif

Orientasi Hasil

Perhatian dan pengertian Memberikan gambaran perencanaan dan proses awal
Membantu mengembangkan pengikut dan mendorong untuk terus berkarir Membiarkan bawahan berapresiasi dan memberikan imbalan karir sesuai dengan usahanya
Percaya dan hormat Egaliter
Ramah dan inovatif Dukungan dan koordinatif terhadap faktor pekerjaan
Bersimpati dengan masalah diluar pekerjaan Melihat masalah bawahan secara keseluruhan
Senantiasa mendampingi bawahan secara optimal Melihat progress hasil yang dicapai dan mekanisme proses
Berbagi imbalan sesuai dengan tingkat penghargaan yang sepantasnya diberikan Imbalan sesuai dengan apresiasi dan efektivitas bekerja

Faktor Efektivitas dan Prospek Kepemimpinan Ber-orientasi Hasil

Setiap pemimpin harus memiliki karakter tersendiri, ia akan mampu memberikan motivasi bawahan apabila seorang pemimpin dapat dengan cakap mengatur bawahannya dan mencapai target tujuan organisasi dengan efektif. Tidak ada organisasi tanpa kepemimpinan yang memiliki karakter. Karakter-karakter tersebut muncul karena tuntutan kepemimpinan. Tuntutan tersebut ialah terdiri dari berbagai faktor-faktor yang mendasari, antara lain:

  1. Tingkat energi dan toleransi terhadap tekanan, penelitian mengemukakan bahwa tingkat energy, stamina fisik, dan toleransi terhadap tekanan, berhubungan dengan efektivitas manajerial sebagaimana yang diungkapkan oleh Bass (1990), Howard dan Bray (1988).
  2. Rasa percaya diri, sebagai suatu hal yang di definisikan secara umum untuk memasukkan berbagai konsep yang saling berhubungan seperti harga diri dan kemajuan diri. Rasa percaya diri berhubungan secara positif dengan efektivitas dan kemajuan diri sendiri (Bass;1990).
  3. Pusat kendali internal (locus of control), mereka-mereka yang memiliki pusat kendali internal dengan baik akan merasa yakin bahwa sebuah keberhasilan dicapai dengan rangkaian usaha, bukan sekedar duduk dan menanti kebetulan. Sehingga, mereka-mereka dengan pusat kendali internal optimal akan menerima lebih banyak tanggung jawab atas tindakan mereka dan atas kinerja organisasi mereka. (Rotter, 1966).
  4. Kestabilan dan kematangan emosional, seseorang yang matang secara emosional data menyesuaikan diri dengan baik dan tidak menderita kekacauan psikologis, orang yang matang secara emosional memiliki kesadaran yang lebih tepat mengenai kekuatan dan kelemahan mereka, dan mereka berorientasi kearah perbaikan diri bukannya menolak adanya kelemahan dan memanfaatkan keberhasilan. (Yukl, 2002).
  5. Integritas pribadi, berarti bahwa perilaku seseorang konsisten dengan nilai yang menyertainya, dan orang tersebut bersifat jujur, etis dan dapat dipercaya. (Yukl;2002).
  6. Motivasi kekuasaan, orang yang memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan mencari posisi otoritas dan kekuasaan, dan lebih besar kemungkinannya bagi mereka untuk membiasakan diri dengan politik kekuasaan organisasi. (Yukl, 2002)
  7. Orientasi kepada keberhasilan, termasuk sejumlah sikap, nilai dan kebutuhan yang saling berhubungan: kebutuhan akan keberhasilan, keinginan untuk unggul, dorongan untuk berhasil, kesediaan untuk memikul tanggung jawab, dan perhatian terhadap sasaran tugas. Berbagai penelitian telah dilakukan dan melihat adanya sebuah hubungan efektivitas antara orientasi kepada keberhasilan dengan kemajuan dan efektivitas manajerial. (Bass; 1990).

KESIMPULAN

Kelebihan dan Kelemahan Kepemimpinan Ber-orientasi Hasil

Tentunya sebagai sebuah teori yang aplikatif, kepemimpinan berorientasi hasil memiliki dua sisi yakni kelebihan dan kelemahan. Sebagaimana teori dan gaya kepemimpinan lainnya. Kelemahan dan kelebihan hadir untuk melanjutkan daya dukung, eksperimen, dan penelitian berkelanjutan. Hal tersebut dimaksudnka agar tercipta sebuah teori dengan aksioma yang tepat guna.

Pada kepemimpinan berorientasi hasil, kelemahan-kelemahan tersebut antara lain:
1. Senantiasa mengacu pada apa yang dilaksanakan oleh bawahan.

2. Menanti sebuah proses yang terkadang memiliki jangka waktu tak terduga.

3. Proses yang kadangkala diluar cara dan perencanaan awal.

4. Permasalahan yang diselesaikan lebih banyak ketika proses sedang berjalan.

Sedangkan untuk kelebihan dari kepemimpinan berorientasi hasil ialah:

  1. Bawahan senantiasa memiliki gaya bekerja dengan apresiasi mereka masing-masing.
  2. Mereka merasa memiliki pekerjaan dengan komitmen afektif.
  3. Bawahan menjadi bebas untuk berekspresi dan beinisiatif terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.

Daftar Pustaka

  • Antonio, M. Syafii. 2009. The Super Leader Super Manager. Jakarta : Tazkia Publishing
  • Charpentier, Claes. 1998. Budgetary Participation in A Public Service Organization. Working Paper Series in Business Administration. Stockholm School of Economic : Stockholm.
  • Maxwell ,John. C.. 2000. The 21 Indispensable Qualities of A Leader. Surabaya : MIC.
  • Schouten, Jan, Wim van Beers, 2005. Explanation of Result Management. Available_at:http://www.12manage.com/methods_result_oriented_management.html
  • Sensenig, Kevin J. Results-Oriented Leadership:Trust, credibility, and respect are the foundation. Available at http://www.trainingmag.com/article/results-oriented-leadership
  • Yulk, Gary. 2010.Kepemimpinan dalam Organisasi. PT. Indeks : Jakarta.
  • Zang, Suting, Jerry Fjermestad adan Narilyn Tremaine. 2005. Leadership Styles in Virtual Team Context : Limitations, Solution, and Proportions. Proceeding of the 38th Hawai International Conference on System Sciences.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s