E-Learning; Implementasi, Peluang, dan Tantangan

Perkembangan tren globalisasi berjalan hingga menyebar ke seluruh lini kehidupan. Sektor-sektor vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak telah dipenuhi dengan alat-alat pendukung sebuah globalisasi. Sebagai sebuah cara pandang, cara berpikir atau proses masuk ke ruang lingkup mendunia, globalisasi merupakan era terbentuknya tata kehidupan baru dunia yang lebih baik. Semua bangsa dan negara di dunia menyatukan diri ke dalam masyarakat internasional.

Di Indonesia sendiri perkembangan globalisasi muncul pada periode pemerintahan orde baru masuknya berbagai instrument globalisasi yang mengedepankan kemudahan dan efisiensi waktu membuat banyak mata seakan tersihir untu menikmati berbagai fasilitas hidangan bawaan dari sebuah globalisasi. Ini menjalar bukan hanya pada sector perilaku hidup sehari-hari maupun gaya hidup, akan tetapi aspek pendidikan pun mendapatkan banyak sisi hasil dan efek dari globalisasi tersebut.

Salah satu dari efek tersebut ialah kemudahan untuk mendapatkan bahan ajar dan kemudahan untuk menyesuaikan pola pembelajaran. Globalisasi dengan konsekuensinya yakni menghasilkan manusia penuh imajinasi, inspirasi, apresiasi, dan lain-lain. Hal ini bukanlah sebuah efek negatif tentunya, selama suatu budaya dari globalisasi yakni menyatukan sebuah masyarakat secara satu ruang dan penciptaan tata dunia baru yang lebih baik,

Perkembangan Pembelajaran

Dewasa ini, pembelajaran menjadi sebuah jasa yang dengan serta merta mudah untuk diakses dan di manfaatkan. Kemudahan terus melakukan upaya-upaya reformasi. Ketika masa lalu kita belajar menggunakan dengan banyak pengetahuan model pembelajaran, seperti CBSA atau Cara Belajar Siswa Aktif, lalu ada model pembelajaran yang bersifat PAIKEM, ada pula yang menggunakan model pembelajaran dengan menggunakan cara CTL (Contextual Teaching and Learning), bahkan ada pula proses pembelajaran yang menggunakan model-model hasil adopsi dari beberapa negara berkembang semisal Active Learning, dengan pendekatan Multiple Intellegence, serta ada pula Quantum Learning. Bahkan belakangan tren perkembangan pendidikan perlahan mengikuti tren perkembangan metode yang diterapkan dalam dunia usaha atau di dunia kerja. Semisal adanya sebuah metode hypnotherapy maka di pendidikan diperkenalkanlah hypnoteaching dan hypnolearning. Sama halnya dengan metode quantum yang awalnya merupakan tren tersendiri, lalu menjadi sebuah metode yang coba diterapkan pula di dalam dunia pendidikan.

Hari ini pun tak hanya model-model pembelajaran yang senantiasa melakukan perubahan. Proses belajar mengajar dari sisi tempat dan ketersesuaian atas keadaan juga menuntut perkembangan. Dahulu ketika seseorang tidak mendapatkan ijazah secara formal maka diarahkan kepada pembelajaran informal seperti adanya Kejar Paket A, B, C. namun hari ini perkembangan juga sudah mengarah kepada customer based oriented, yakni menjadikan siswa adalah para konsumen yang harus dipenuhi pendidikannya dengan bentuk dan cara yang sesuai dengan yang diinginkan dan pola tumbuh kembang. Sehingga bermunculan model Sekolah Alam, yang mengajak setiap siswa dengan kurikulum yang telah di desain sedemikian rupa menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan tak lagi beraroma formal. Atau ada pula model belajar Homeschooling, ketika setiap siswa di manjakan oleh keadaan namun dituntut untuk menjadi sosok berpendidikan.

Semua hal diatas tadi tidak terlepas dengan adanya perubahan yang senantiasa berubah terus menerus silih berganti. Evolusi, inovasi, dan implementasi menjadi agenda untuk menjadikan pendidikan bukan lagi ranah menjemukan. Akan tetapi menjadikan sector pendidikan adalah usaha bersama dengan banyak kemudahan dan tujuan sesuai harapan, apatah itu mencerdaskan atau mendewasakan.

Tren Digital Dalam Dunia Pendidikan

Tidak disangsikan lagi bahwasanya pendidikan telah beranjak menjadi sebuah usaha sector jasa yang tidak bisa dianggap sederhana. Sehingga menuntut adanya perkembangan setelah di dahului oleh perubahan, baik berupa system yang senantiasa menyesuaikan, tenaga pengajar yang senantiasa ditingkatkan kemampuannya, hingga bergerak kepada sarana serta prasarana penunjang pendidikan tersebut. Hal tersebut erat kaitannya dengan menjaga mutu dan kualitas pendidikan untuk senantiasa menjadi yang terbaik dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Menjaga mutu erat kaitannya dengan sejauhmana pendidikan mampu melayani pelanggan baik internal (guru dan staf) serta eksternal (orangtua murid, dan institusi terkait). Mutu terus disempurnakan dengan tidak terlepas dari konsep akan mutu yang matang serta profesionalitas sumberdaya yang ada.

Salah satu perkembangan dalam dunia pendidikan ialah di adopsinya nilai-nilai digital dalam pembelajaran. Sebagaimana diketahui bersama, dengan dijembatani oleh teknologi. Pendidikan kini menjadi hajat hidup orang banyak. Pendidikan menyatukan jarak, waktu, dan tempat. Hal tersebut dipertemukan oleh hubungan-hubungan dan relasi yang saling terkait. Maka teknologi muncul menjadi media perantara untuk mempertemukannya.

Hari ini, mungkin guru tidak lebih pandai dari para muridnya dalam sisi kecakapan dan keahlian mengakses barang-barang baru. Para murid lebih cepat dalam mengakses informasi dan lebih cepat mengerti untuk menggunakan alat-alat teknologi. Sebab anak-anak hari ini adalah anak-anak yang lebih cepat dibentuk oleh lingkungan dibandingkan dengan bentukan sekolahan. Akan tetapi hal demikian lumrah adanya, mengingat pendidikan tumbuh secara dinamis dan menemukan bentuk-bentuk penyesuaian untuk mencapai gugus kesempuraan.

Institusi pendidikan memiliki kewajiban untuk membuat pelajar sadar terhadap variasi metode pembelajaran yang diberikan kepada mereka. Institusi pendidikan harus memberi pelajar kesempatan untuk mencontoh pembelajaran dalam variasi model yang berbeda. Institusi harus memahami bahwa beberapa pelajar juga suka pada kombinasi beberapa gaya belajar dan institusi harus mencoba untuk cukup fleksibel dalam memberikan pilihan tersebut. (Sallis; 2010).

Fleksibilitas itu yang kini menghasilkan pola pembelajaran yang sangat dekat bagi anak didik dan menjadikan pembelajaran menyenangkan karena adanya beragam eksplorasi yang dihasilkan. Salah satu yang sedang menjadi bahan perkembangan ialah dengan menggunakan metode pembelajaran e-learning. Bukan barang baru lagi e-learning telah mencapai kejayaannya di beberapa negara maju. Komunikasi dalam pembelajaran bukan lagi menjadi halangan dan pembatas. Koneksivitas itu menghasilkan long life education. E-learning digadang-gadang menjadi sebuah alternative pembelajaran yang membongkar paksa gaya belajar konvensional penuh dengan kejenuhan.

E-learning sesuai dengan definisinya memiliki makna usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah ke dalam bentuk digital dengan menggunakan teknologi internet (Purbo & Hartanto, 2002). Sedangkan definisi lain menjelaskan E-Learning sebagai sebuah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet , jaringan komputer,  maupun komputer stand alone. (Hartley, 2001). Pada definisi lainnya e -Learning bermakna sebagai sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi (Berman, 2006).

Mudahnya e-learning adalah cara pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan media elektronik (internet, intranet, satelite, tape audio/video, TV interaktif, CD ROM interaktif) untuk menyampaikan bahan ajar maupun interaksi antara siswa dan pengajar. E-learning kemudian hadir dengan membawa perubahan dan menjadikan metode pembelajaran tersier yang mengangkat jatidiri pendidikan baik itu pendidik maupun murid (Liauw, 2008 dalam Teo, 2010). Di negara maju konsep e-learning sudah bukan lagi menjadi barang baru, di Inggris pembelajaran dengan menggunakan e-learning telah ada pada tahun 2003 yang dikemudian hari mendapatkan banyak manfaat seperti efektivitas dalam pembelajaran dan menggabungkan banyak pengalaman (Bell, 2007). Kehadiran E-Learning diharapkan mampu mengubah paradigma pembelajaran dari guru aktif menjadi siswa aktif (Bryn & John, 2006 dalam Li, 2009).

Komponen Tujuan E-Learning

Sebagai sebuah paradigma pembelajaran, e-learning memiliki komponen terstruktur yang digunakan untuk melandasi tujuan-tujuan efektivitas yang diharapkan. Landasan tujuan tersebut harus disertai dengan mekanisme pelaksanaan dan tindak lanjut, diantaranya ialah:

  1. Proses penyampaian instruksi dan informasi, proses ini dibutuhkan untuk memastikan apa yang harus dilakukan oleh penguna e-learning.
  2. Berbagi sumber atau media pembelajaran, tidak hanya guru saja yang dituntut untuk berbagi pengetahuan, akan tetapi pelajar juga dituntut untuk saling berbagi terhadap pelajar lainnya. Sehingga proses pembelajaran merata hasil dan manfaatnya.
  3. Adanya interaksi dan diskusi di dalam proses e-learning, pada proses e-learning, pelajar dapat menggunakan forum diskusi untuk saling bertanya, bertukar penjelasan, debat, dan saling memberikan dukungan dan mengoreksi apabila dimungkinkan terjadinya sebuah kesalahan.
  4. Dalam proses e-learning akan didapati pertukaran interaksi social dan pemahaman akan emosi, darisana pembelajaran e-learning menemukan muaranya. Bukan hanya belajar dan saling berbagi, namun e-learning menjadi sebuah media untuk memahami psikologis dan kemampuan antar individu.
  5. Memudahkan proses pengerjaan tugas dan menghemat penggunaan bahan baku dari alam yang sulit untuk terbarukan, di e-learning. Dengan adanya e-learning dapat mengurangi limbah serta proses timbale-balik antara guru dan murid berlangsung efisien.
  6. Evaluasi pembelajaran, optimalisasi pembelajaran melalui e-learning akan lebih baik bila dilakukan dengan tindak lanjut adanya evaluasi. Dengan demikian akan terlihat kekurangan dan kelemahan serta kelebihan yang mesti dipertahankan dalam menjalankan aktivitas e-learning kedepannya.
  7. Melihat sejauhmana daya siswa yang mampu menangkap pembelajaran. Dengan adanya e-learning secara terpadu, diharapkan para pengajar mampu memantau aktivitas anak muridnya dalam mengetahui sejauhmana tingkat pemahaman yang di dapatkan. (Li, 2009).

Bila digunakan dengan baik, e-learning akan menghasilkan banyak manfaat. Manfaat tesebut tentunya bersifat efektif. Manfaat-manfaat tersebut juga bersesuaian dengan Renstra pendidikan Nasional 2005-2009, dari manfaat tersebut akan menghasilkan output yaitu Pendidikan bermutu, akuntabel, murah, merata, dan terjangkau oleh rakyat banyak. Manfaat tersebut yakni:

  1. Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan;
  2. Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing Pendidikan;
  3. Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik Pendidikan. (Djunaidy, 2009).

Implementasi Penggunaan E-Learning di Sekolah Dasar

Sebagai penunjang utama pendidikan di Indonesia, sekolah dasar yang terdiri dari jenjang terbawah yakni TK hingga SMP memiliki andil dalam membentuk karakter, disiplin, serta kecerdasan anak didik. Berbeda halnya dengan sasaran pendidikan untuk dewasa dari jenjang SMA keatas, tuntutan yang diberikan secara umum ialah mendewasakan dan menjadikan bijak dalam berfikir dan bertindak. Sekolah di tingkat dasar pun sangat memungkinkan untuk dilakukan model pembelajaran e-learning. Namun tentunya pembelajaran yang dilakukan tidak lebih hebat dibandingkan dengan jenjang lebih tinggi lagi.

Implementasi e-learning yang dapat diterapkan pada sekolah pendidikan tingkat dasar ialah dengan menggunakan metode pembelajaran interaktif. Digitalisasi dilakukan untuk memudahkan dan membuat anak didik nyaman dengan pelajaran yang diberikan, serta menjadikan anak didik paham dengan apa yang ia temukan nantinya. Bentuk-bentuk eksplorasi dan imajinasi menjadi titik mutlak dalam mengembangkan pola pendidikan tingkat dasar berbasis e-learning. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam model dan cara, dianataranya ialah:

  1. Membekali para pengajar dengan kecakapan dan pengetahuan serta kompetisi pelajaran yang diajarkan. Hal ini penting karena sebelum seorang guru menggunakan metode e-learning maka wajib atas dirinya untuk mengenali dan mendeteksi ejauhmana pola pembelajaran efektif melalui e-learning akan dicapai dengan maksimal. Agar siswa dan guru merasa nyaman dan e-learning memiliki andil dan peranan penting.
  2. Menyiapkan sarana pendukung baik teknis maupun non-teknis. Sarana pendukung teknis ialah tersedianya instalasi yang cukup dan mudah untuk diakses, sedangkan sarana non-teknis ialah fasilitas-fasilitas pendukung baik itu sumber belajar hingga tempat yang memadai demi terciptanya pendidikan e-learning berkelanjutan.
  3. Komunikasi internal dan ektsernal, sebagaimana disinggung di penjelasan sebelumnya. Bahwa institusi pendidikan adalah institusi jasa yang menjunjung tinggi pelanggan. Para pelanggan tersebut berasal dari dalam institusi seperti guru dan staf, sedangkan institusi eksternal yakni para wali/orang tua murid dan sebagainya. Perlunya institusi pendidikan menjalankan komunikasi dapat menjadi dukungan positif terciptanya pembelajaran e-learning yang berguna..
  4. Ketersediaan alat bantu pengajaran, e-learning bukanlah sesuatu yang sulit apabila ketersediaan media belajar memadai. Akan tetapi permasalahan yang kini ada ialah implementasi e-learning kekurangan alat bantu, terlebih hal tersebut arus dibeli dengan harga yang tidak murah.
  5. Koneksivitas, hal ini menjadi penting untuk menjadikan pembelajaran e-learning dapat dilaksanakan. Ketersediaan pasokan listrik yang optimal, media bantu dan pokok yang ditunjang dengan baik, serta adanya jaringan internet yang senantiasa stabil juga menjadi penentu keberhasilan pembelajaran e-learning tidak terkecuali untuk jenjang pendidikan dasar.

Jika poin-poin diatas dapat terealisasi maka implementasi penggunaan e-learning sebagai paradigma baru dalam pembelajaran takkan lagi menjadi hambatan.

Peluang dan Tantangan

Tentunya sebagai sebuah paradigma pembelajaran, E-Learning memiliki tantangan. Baik bersifat teknis seperti kurangnya dukungan fasilitas dan infrastruktur erta minimnya kecakapan dan kompetensi penggunaan oleh para guru. Sedangkan untuk tantangan non-teknis ialah masih adanya anggapan miring akan minimnya tingkat efektivitas pembelajaran e-learning terlebih di beberapa daerah, belum lagi penentangan dari kalangan masyarakat umum yang menganggap bahwa pembelajaran e-learning ialah paradigma pemborosan dan berdaya guna rendah.

Akan tetapi e-learning tetap memiliki peluang dan penerimaan yang besar, selain asas kemudahan dan efektivitas yang paripurna. E-learning mampu mengarahkan kultur maya para siswa yang sebelumnya hanya memiliki orientasi penggunaan internet sebatas permainan (game) maupun jejaring sosial. Diharapkan dengan adanya e-learning kelak para siswa akan dapat menemukan arah belajar di depan monitor komputer dan perangkat pembelajaran visual lainnya. Hal ini tentu akan berpengaruh ositif terhadap budaya positif bangsa.

Penutup

Paradigma pembelajaran yang senantiasa mengalami perubahan akan terus menuntut kreatifitas dalam melakukan pengembangan. Hal tersebut tidak terlepas dari dua subjek sector yakni adanya regulator dalam hal ini adalah pemerintah, serta operator dalam hal ini adalah pengguna dan objek yang bekerja. e-learning bukanlah barang baru di negara-negara maju. Penggunaan dan implementasinya terus mengalami kemajuan. Di Indonesia sendiri, pembelajaran e-learning sebelumnya telah ada, yakni di bangku universitas dengan dimulai oleh Universitas Terbuka melalui modul, CD interaktif, serta kini penggunaan jaringan internet. Beberapa kampus luar negeri pun menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar positif, sebagaimana yang ditempuh oleh Medina Islamic University yang menjadikan mahasiswanya berkuliah melalui jarring maya. Seandainya pemerintah fokus dan konsisten untuk menggarap pembelajaran melalui e-learning, kelak kedepan pembelajaran yang menjemukan dan menjenuhkan dengan system kelas dapat teratasi. Halangan dan rintangan bisa tersolusi. Dan terakhir visi Indonesia cerdas pada beberapa tahun yang akan dating bisa tercapai secara maksimal.

Daftar Pustaka

Bell, Jane. E-Learning: Your Flexible Development Friend, 2007. http://emeraldinsight.com

Djunaidy, Arif. Pemanfaatan TIK Untuk Meningkatkan Proses Belajar Mengajar, Makalah Seminar Nasional Perkembangan Teknologi Informasi & Komunikasi dan Pengaruhnya Pada Masa Depan Pendidikan. Klub Guru: 2009.

Li, Baomin. The Use Of E-Learning In Pre-Service Teacher Education, 2009. http://emeraldinsight.com

Sallis, Edward. Total Quality Management In Education. Ircisod : 2010

Teo, Timothy. Modelling The Determinants Of Pre-Service Teachers Perceived Usefulness Of E-Learning, 2010. http://emeraldinsight.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s