Awalnya Sejati Lalu Membanci

Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama kebiasaan dan kewajaran. Kesalahan sejatinya tetap tidak bisa dibiarkan apatah lagi kesalahan tersebut semakin melebar karena banyaknya dukungan. Padahal sebagai seorang muslim, sikap dasar dalam memahami suatu kebenaran itu ialah dengan memahami serta mengetahui ajaran sebaik-baiknya melalui neraca syariat yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala dan dilaksanakan dengan sempurna oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Sekali lagi, kebenaran acapkali kalah dengan banyaknya kesalahan yang mendapatkan dukungan dari faktor kewajaran dan kebiasaan.

Adakalanya realita selalu bergandengan tangan mesra dengan fenomena. Realita seringkali pula menuruti apa yang menjadi sebuah fenomena umum. Salah satu fenomena itu adalah munculnya generasi-generasi yang kuat badannya tapi lemah jiwanya. Kuat perkasa, akan tetapi kemayu gerakannya. Berjenis kelamin pria, namun menyukai seorang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Dalam istilah Arab dikatakan sebagai Al Mukhannats, yakni laki-laki yang menyerupai wanita dalam tingkah laku, ucapan, dan gerakannya (Syarah Shahih Muslim 14/163, Fathul Bari 9/404). Realita ini pun bukan terjadi dimasa sekarang ini saja, realita ini pun bahkan telah menjadi sebuah fenomena sebelumnya pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR.Bukhari no. 5885, 6834).

Mencong sebagai sebuah ekspektasi kehidupan masa kini adalah bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Seseorang yang mengalami kemencongan dalam hidupnya akan merasa nyaman apabila kehadirannya diakui dan menjadi pewarna rasa dalam setiap aktivitas acara. Aktivitas mulutnya yang latah, gaya bicaranya yang sangat diluar batas norma, kasarnya dalam bertindak fisik menjadi sebuah labeling tersendiri bagi ekstase mencong, adakalanya diantara mereka genit terhadap sesuatu hal yang tak pantas untuk dibanyak artikan, menerobos batas sekat dinding pemisah secara bebas tak terarah, serta berani menghadapi masalah dengan rengekan dan tangisan ala wanita kebiasaan, ataukah juga tiba-tiba bisa berlari kencang padahal tak menggunakan celana panjang lalu tersingkaplah bulu di betis yang kacau berantakan akibat salah cukur dan kesiangan. Maaf, mencong disini adalah sebuah bahasa halus untuk setengah pria dan setengah wanita, waria, banci, bencong, atau istilah-istilah lain yang mewakili keadaan dimana seseorang telah menyalahi tabiat fitrah jenis kelaminnya. Dibebarapa negara, komunitas seperti ini memiliki kesejajaran hukum yang sama dengan dua lapisan gender sebelumnya yakni pria dan wanita, bahkan di beberapa negara telkah terjadi pengesahan pernikahan antara yang mencong dengan si cukong. Namun di dalam agama, terkadang agak susah untuk menguburkannya, apakah ia seorang yang wanita ataukah ia seorang pria. Karena konsekuensi yang ada akan berkaitan dengan tatacara penguburannya.

Begitulah fenomena terus berjalan lebih cepat dibandingkan guliran zaman, para mukhannats atau waria telah menjadi suatu kewajaran tersendiri. Suara-suara lantang bahwasanya hak asasi manusia mesti dijunjung tinggi pun lantang menggema bagaikan sebuah jeritan kera yang dahulunya adalah desis ular berbisa. Segala sesuatu mesti dihormati sekalipun di jaman Nabi yang demikian sudah terlarang dan dibenci. Atas nama kewajaran, maka para pria yang sebelumnya lurus menjadi mencong semakin banyak jumlahnya. Atas nama luka hati karena cinta terhadap lawan jenis, maka mereka ber-trans seksual linear segaris dengan jenis kelaminnya. Gender sudah menjadi prasasti kemenangan bagi dialektika dogma kewajaran. Atas nama himpitan ekonomi maka jalan pintas lantas berhias di sudut jalan serta kamar dagang dan perumahan dilakoni, sekali lagi atas nama kebebasan mereka menjadi juru rias wanita yang mencintai pria. Karena dapat mengocok gurau canda maka penerimaan lebih pun diberikan kepada mereka, disertakan dalam label yang mesti selalu dihormati dan dijunjung tinggi eksistensinya. Sungguh Al Mukhannats telah berjaya untuk merusak simbiosis kehidupan beragama. Sebab tokoh agama adakalanya memaklumi apa yang telah diperbuat mereka dan ikut tertawa kala mereka bergelak ria.

Laknat Nabi jelas diberikan kepada mereka atas menyimpangnya mereka dan rusaknya kaidah yang dibawa oleh para Mukhannats, hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalih yang semestinya tak bias terbantah lagi dari bibir latah serta asal bicara seenaknya soal status mereka. Sebab teranglah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita  (mukhannats) dan wanita yang menyerupai laki-laki (mutarajjilah). Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”. Ibnu Abbas berkata: “Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah).” (HR. Bukhari no. 5886).

Sang mukhannats mesti terusir dengan sebab tiga syarat, yakni :

  1. Disangka termasuk laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita tapi ternyata ia punya syahwat namun menyembunyikannya.
  2. Ia menggambarkan wanita, keindahan-keindahan mereka dan aurat mereka di hadapan laki-laki sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita menggambarkan keindahan wanita lain di hadapan suaminya, lalu bagaimana bila hal itu dilakukan seorang lelaki di hadapan lelaki?
  3. Tampak bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mukhannats ini bahwa dia mencermati (memperhatikan dengan seksama) tubuh dan aurat wanita dengan apa yang tidak dicermati oleh kebanyakan wanita. Terlebih lagi disebutkan dalam hadits selain riwayat Muslim bahwa si mukhannats ini mensifatkan/ menggambarkan wanita dengan detail sampai-sampai ia menggambarkan kemaluan wanita dan sekitarnya, wallahu a’lam.( Al Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, 14/164).

Bagaimana Mengatasinya ?

Sebuah kebiasaan tentunya tak bisa hilang lenyap hanya dengan sedikit usaha. Realitanya semua selalu butuh waktu penyelesaian. Kuatnya usaha adalah berpengaruh besar dari kuatnya kesungguhan dan keyakinan. Kesemuanya membutuhkan keteguhan dan kesabaran, menatap ke depan dan mencoba untuk berpikir kemudian akan bagaimana seseorang berhadapan dengan Tuhan. Nilai jual memang selalu mahal untuk harga-harga penyimpangan. Kiri kanan jalan selalu punya peluang untuk menjatuhkan. Maka bersama berpikir untuk mengatasi rintangan demi tercapainya sesuatu yang mencong menjadi lurus dan tidak kembali lagi tertukar. Ada beberapa hal yang sangat terkait untuk meluruskan sesuatu yang telah mencong. Seketika kemencongan bisa lebih parah jika tidak ada niat atau tekad untuk meluruskannya. Diantara kiat-kiat tersebut adalah :

  1. Mempertajam niat dan memperbaharui tekad akan sebuah konsistensi dalam kehidupan di dunia ini. Terkadang mereka-mereka yang mengalami kemencongan karena adanya sebuah orientasi dasar perubahan dari arah lurus. Perubahan tersebut karena adanya nilai-nilai pencapaian dalam pergaulan dan dengan siapa ia bergaul. Maka mempertajam niat mesti dikedepankan agar bisa mencapai hasil yang sempurna. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niati dan usaha yang ia lakukan. Maka bila Al Mukhannats merasakan bahwasanya bukan disana hakikat identitas dirinya. Mulailah untuk berubah dengan niat yang tepat. Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907).
  2. Hijrah atau berpindah dari tempatnya ia berada. Bias jadi seseorang merasakan bahwa lingkungan telah membentuk ia menjadi seseorang yang menyimpang dari arah hakikat diri yang sebenarnya. Karena sebagian besar adik dan kakaknya adalah wanita maka seorang yang semestinya jantan bias menjadi betina, begitu pula sebaliknya. Maka setelah ia menemukan dan mengetahui bagaimana identitas diri yang sebenarnya dan bagaimana ia harus bersikap dan bersifat. Dibutuhkan bagi dirinya untuk berhijrah. Hijrah yang bermakna berpindah dari lingkungan pembentukan sebelumnya ke lingkungan yang sesuai dengan kodrat diri. Akan banyak kebaikan yang didapat bila hakikat ini telah terpenuhi. Jangan pernah merasa takut bila berpindah ke lingkungan selanjutnya, karena yakinlah bahwasanya hal yang demikian merupakan sebuah tipu daya dari hawa nafsu yang diikuti. Cobalah untuk menembus batas dan ruang yang selama ini menjadi selaput pembatas. Makanya makna dan hakikat hijrah ini sangat berkaitan dengan niat yang telah dirumuskan di awal. Sungguh sebuah kisah indah seperti yang dipaparkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi. Lalu ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya? “tidak ada!!”, tukas si rahib. Maka orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si rahib menjadi 100 nyawa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama’) seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada taubat baginya. Orang yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan taubat? “Berangkatlah engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia yang menyembah Allah -Ta’ala- . Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek”, kata orang yang beilmu itu. Orang itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia di datangi oleh kematian. Maka para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang itu. Malaikat rahmat berkata, “Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta’ala-”. Malaikat adzab berkata, “Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu kebaikan”. Lalu mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim. Malaikat (yang menjadi hakim) berkata, “Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu”. Mereka mengukurnya; ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’, bab: Am Hasibta anna Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah, bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu’min Taubah (2622)].
  3. Mencari teman pergaulan yang baik adalah syarat perubahan berikutnya. Agar kelak niat dan hijrah bisa menjadi hasil. Maka diperlukan teman dan sahabat yang mau serta membantu untuk berubah. Pilihlah teman yang sebenar-benarnya. Bukan teman yang menjerumuskan dan menjadikan diri berpindah dari satu kesalhan menuju cabang-cabang kesalahan lainnya. Awali pemilihan teman itu dengan sifat dan sikap yang menunjukkan bahwa anda adalah sudah bukan anda yang dahulu lagi. Sudah menjadi sosok yang sesuai dengan kodratnya. Sama dengan pria yang lain, yang berpenampilan jantan. Sama dengan wanita lain yang berpenampilan feminin. Maka pilihlah teman yang tepat. Karena pilihan mempengaruhi sebuah akhiran yang menyenangkan. “Seorang itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani”. (At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2378). HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (927).
  4. Berusaha dan bertawakal. Agar semua itu tidak menjadi hampa dan berakhir nestapa maka kesemuanya mesti membutuhkan usaha yang maksimal.
  5. Berdoa. Urusan ini merupakan urusan pamungkas bagi setiap hamba. Dalam pepatah, tiada kata seindah doa. Tak ada ucapan yang lebih baik dibandingkan sebuah realitas pengharapan. Maka doa adalah eksistensi pengaharapan sebenarnya. Untuk hidup yang lebih baik. Maka buatlah harapan demi sebuah perubahan lebih indah lagi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s