Garis Batas Orientasi

Tulisan ini merupakan tulisan lama yang pernah ditulis oleh kami saat masih kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri ini.  Kami mengira tulisan ini memang tidak lebih penting dari tulisan-tulisan sebelumnya. Namun, kami berharap dapat memberikan proses kematangan dan kedewasaan berfikir dalam menggores garis-garis kehidupan. Untuk lebih memperindah waktu, silahkan disimak tulisan kami yang ditulis pada medio 2008 silam.

Suatu ketika saya pernah memberikan sedikit pekerjaan rumah bagi seseorang soal apa itu keinginan, impian, khayalan, dan harapan, serta angan-angan. Saya memberikan itu bukan berarti ingin Suatu ketika saya pernah memberikan sedikit pekerjaan rumahmengetes orang tersebut, melainkan memang saya ingin tahu pandangan orang lain serta sudut pandang tentang kelima kata itu berdasarkan persepsi masing-masing pihak. Kali ini saya mencoba memberikan gambaran bagi beliau yang meminta sedikit clue tentang ini. Ini semua murni pendapat saya yang tentunya bisa digugat dan dikritik secara lebih mendalam. Namun nampaknya ini bukan sekedar clue melainkan menjadi jawaban paripurna atas pertanyaan saya sendiri, saya melontar pertanyaan, saya pula yang menjawab.

Mari kita berikan peristilahan satu persatu dari kelima kata itu, saya mencoba memulainya dari apa persamaan kelima kata itu. Dalam pandangan saya kelima kata itu sebenarnya menunjuk kepada satu kata yakni orientasi, namun dalam menurunkan bentuk-bentuk orientasi kelimanya pun punya penyikapan yang berbeda. Kata pertama ialah keinginan, orang-orang seringkali mengatakan bahwasanya keinginan itu bersifat sebuah kehendak dan memiliki dua buah kutub. Kutub pertama disebut sebagai kutub kepastian sedangkan kutub kedua disebut kutub keraguan. Seseorang yang telah berada pada tahap keinginan ada kemungkinan besar ia berdiri pada dua kutub itu, sangat kecil kemungkinan ia berada pada level selain dua itu.

Sebab keinginan ialah garis yang jelas untuk memetakan jalan, ia bisa dipersamakan dengan cita-cita. Ambil contoh, ketika kecil mungkin anda adalah seseorang yang pernah punya keinginan tiap kali ditanyakan jika sudah besar ingin menjadi apa? Sebagian besar menjawab dengan satu perkataan dan sebuah kepastian, seorang anak bila ditanya demikian maka ia cenderung berpegang pada satu jawaban. Seperti ia ingin menjadi dokter atau pilot, maka ia tetap mempertahankan jawaban demikian sampai batas waktu dimana hal itu sepertinya sudah sulit untuk direalisasikan maka ia akan beralih kepada pilihan lain yang sesuai dengan keahlian serta bakatnya seiring sejalan dengan penambahan wawasan dan pengalaman serta ilmu pengetahuan. Nah, inilah yang bagi saya disebut sebagai suatu keinginan.

Kata kedua ialah impian, sebuah perkataan yang punya garis tipis dengan keinginan tersebut, namun bagi saya impian itu lebih memiliki makna yang mendalam. Impian bisa digaris dari asal katanya yakni mimpi. Idealnya dalam kehidupan seseorang saat ia tidur lantas dalam tidurnya tersebut terkadang dibeberapa kesempatan ia mengalami suatu dejavu, yakni sebuah peristiwa dimana seseorang mengalami kesamaan dalam kehidupan nyata dengan apa yang pernah diimpikannya. Impian ialah sebuah garis jalan yang sebelumnya pernah dipikirkan tanpa sadar dan dinikmati tanpa beban lantas terkadang hal demikian menyiratkan sebuah kenyataan tersendiri tanpa terduga akan terjadi hal demikian. Impian bersifat realita kejutan sebagai suatu hadiah ataupun anugrah disaat garis jalan tersebut sudah dijalani dan mengalir mengikuti arus kehidupan yang telah ditentukan.

Suatu contoh, mungkin anda sebelumnya pernah merasakan impian dapat menikah di usia muda. Ketika itu anda hanya sekedar memimpikan saja yang tidak setiap hari hal demikian menyita pikiran anda. Sehingga terkadang hal tersebut berupa lontaran atau pernyataan bersifat tidak serius. Dengan berbagai dalih misalkan anda ketika itu sedang berkuliah atau anda saat itu belum memiliki sebuah pekerjaan yang mencukupi untuk anda dapat menikah. Maka tanpa anda kehendaki perjalanan hidup anda memiliki ketetapan takdir yang tak dapat diduga sebelumnya. Tiba-tiba seseorang ingin menikah dengan anda bagaimanapun keadaan anda. Nah hal inilah disebut impian yang terwujud. Sehingga sesuatu mimpi itu disebut sebagai sebuah impian terwujud jika memang sudah terjadi sebuah realisasi.

Pada bagian ketiga ini saya ingin menyatukan saja antara khayalan dan angan-angan. Sebab diantara keduanya bagi saya sulit untuk menemukan titik perbedaan secara mendalam, titik perbedaan keduanya tersebut berada bila dihadapkan dengan harapan yang nanti insya Allah akan kita bahas bersama-sama. Khayalan seringkali di deskripsikan sebagai sebuah angan-angan, dan angan-angan seringkali tertukar dengan khayalan. Keduanya ini terkadang bergaris edar pada nilai-nilai hampa dan sebagai pembuang waktu. Sehingga bagian ini biasanya terjadi ketika seseorang sedang melamun ataupun bengong menunggu sesuatu. Khayalan dan angan-angan ini sesuai dengan tempatnya yakni sebuah pembuang waktu dan nilai-nilai gambaran kehampaan tepatnya dilakukan oleh seseorang saat ia berada dalam kamar mandi atau WC. Sebab, hal ini merupakan salah satu tipu daya syaithan agar seseorang betah berlama-lama di kamar mandi atau WC, dan membuang waktunya secara percuma. Sehingga bukan barang yang basi lagi jika seseorang dapat berkhayal dan berangan-angan secara wonderful dan amazing ketka di toilet namun ketika mereka keluar dari toilet tiba-tiba semua hilang lenyap seiring dengan leganya usus besar kita yang telah berkomunikasi interpersonal secara efektif dengan anus dalam mengeluarkan feses. Atau seseorang yang sedang menunggu bis kota disalah satu halte lantas ia terkesima dengan suatu objek yang dilihatnya menarik mata, lantas ia memodifikasi objek tersebut sedemikian rupa dalam alam bawah sadar pikirannya.

Sebagai contoh selain feses tadi, saat seseorang berada di halte ia melihat sepeda motor automatic yang sedang marak dimodifikasi belakangan ini di berbagai kota besar, sepeda motor tersebut bergaya retro klasik dengan warna-warna matching berpadu padan dengan dominasi hitam atau putih. Maka seketika ia menangkap objek tadi, pikirannya langsung menambahkan modifikasi motor tersebut dengan tambahan seperti seharusnya yang mengendarai berpakaian seperti ini agar lebih klasik lagi, seharusnya di jok motornya itu diseragamkan warnanya atau dibedakan agar ada diferensiasi dengan bodi motornya, seharusnya bagus sekali jika box belakangnya itu diberikan sedikit ornamen atau alas karpet biar terlihat tidak menyerupai box dan sepadan dengan motor. Serta berbagai penambahan lain yang hal tersebut berkisar pada pemikirannya saja dan notabene ia tidak memilikinya terlebih memegangnya. Maka ketika bus yang dinantinya tiba, khayalan itu menguap sebagaimana knalpot bis penuh timbal menghitamkan langit kota dan menodai pakaian seorang wanita berkemeja putih bayclin.

Beranjak kepada harapan, nah harapan ini adalah tingkatan tertinggi yang menyita ragam usaha, saya teringat ketika membaca buku salah satu pendekar kecerdasan yang paham soal bahasa kehidupan dan pakar hati jempolan yaitu Ibnul Qayyim dalam bukunya kalau tidak salah Al Jawabul Kaafi, Limaan Sa’ala Anid Dawaaisy Syafi’. Beliau rahimahullah menegasikan bahwasanya harapan itu punya tiga konstruk bangunan dasar, atau lebih tepatnya pondasi. Ketiga konstruk itu jika seseorang memiliki harapan seharusnya ia, (pertama) mencintai harapan tersebut, (kedua) ia akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang diharapkannya, (ketiga) ia sangat akan kecewa bila harapannya tersebut tidak dapat ia raih. Bila ketiga konstruk itu tidak dapat terpenuhi maka hal demikian tidaklah disebut sebagai harapan melainkan lagi-lagi kembali kepada angan-angan. Nah hal inilah yang membedakan antara angan-angan dan harapan. Harapan itu adalah sebuah proses dengan perencanaan matang dan memiliki nilai keyakinan akan keberhasilan cukup tinggi. Berbeda dengan impian ataukah keinginan.

Suatu contoh hebat soal harapan ini ialah, betapa orang No 1 di paling populer di dunia yakni Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam ketika diawal dakwahnya ia mendakwahkan dan menyeru kaum kafir ketika itu untuk dapat masuk kedalam Islam. Ujian dan cobaan bukan terjadi tiap bulan, tapi tiap menit bahaya seakan-akan mengintai dirinya baik dalam kesepian maupun dalam keramaian. Ia mendakwahkan Islam dengan usaha besar dan keyakinan atas kebenaran yang besar membuncah dalam dada. Padahal ia seorang yang tak bisa baca tulis serta seorang yatim piatu. Namun kesemua itu tidak menjadi aral penghalang atas dirinya. Hingga suatu ketika ia beristirahat disalah satu pohon setelah menyerukan kaum kuffar kepada Islam namun tidak menampakkan hasil secara signifikan. Sehingga ia dihampiri oleh malaikat penjaga gunung (akhsyabain) lantas memberikan opsi atas dirinya jika ia mau, sang malaikat bisa saja menimpakan gunung yang dijaga kepada mereka para penolak dakwah dan penghina Allah dan Rasul. Namun inilah kekuatan harapan, kekuatan harapan ialah tidak semata karena sebuah nilai usaha yang dilakukan, namun kekuatan harapan juga terletak pada titik kesabaran. Berbeda dengan keinginan yang bergaris ada nilai usaha dan impian yang bertumpu pada kesabaran agar kejutan datang. Namun harapan itu berbeda, harapan itu memadukan keduanya. Sehingga ketika itu Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, hanya mengatakan “sesungguhnya aku berharap dari keturunan mereka ada orang-orang yang akan menyembah kepada Allah saja”. Sungguh kalimat luar biasa yang menjadikan ia mengapa punya kedudukan hebat, selain banyak perjalanan hidup lainnya. Jikalau contoh ini saja setidaknya bisa membuka mata kita soal harapan dan mencukupkan dirinya shalallahu ‘alayhi wa sallam agar menjadi teladan, maka itu adalah suatu kehebatan bukan?

Sehingga sewajarnya seorang muslim itu lebih meningkatkan dirinya pada derajat pengharapan, oleh karena itu mengapa seorang berdoa pada waktu-waktu dikabulkan seperti sepertiga malam punya kehebatan dan lebih banyak dikabulkan harapannya. Sebab mereka telah berusaha penuh untuk bangun disaat orang lain tertidur pulas, mengapa doa dikabulkan itu terletak pada waktu-waktu tak diduga oleh manusia, seperti setelah ashar dihari jumat yang bagi orang Indonesia waktu jumat setelah ashar sudah dijalan dan bergegas pulang sebab keesokan hari adalah weekend, mengapa doa diantara adzan dan iqamah juga dikabulkan, sebab hal demikian menyimpan usaha agar pria tidak meninggalkan shalat jamaah sebagai bagian dari usaha dan bentuk ketawakalannya kepada Tuhan, mengapa doa juga dikabulkan saat dua khutbah, agar kita lebih bersiap dengan doa apa yang menjadi prioritas bagi kita dan sangat mendesak sehingga wajib untuk disegera dengan waktu yang cepat. Dan doa saat sahur dikala saat ini semua orang sahur berdoa kepada televisi dan handphone, saat berbuka puasa pun demikian, sebab di waktu itu banyak orang yang telah terbunuh oleh hawa nafsu seharian. Dan masih banyak hikmah lainnya yang mungkin bisa menjadi rahasia besar soal harapan.

Demikianlah apa yang bisa saya utarakan soal keinginan, impian, khayalan, angan-anagan dan harapan. Semoga pembaca mendapatkan pelajaran yang juga luar biasa sebagaimana mereka-mereka yang luar biasa menjadi hebat padahal mereka melakukannya dengan sebuah kebiasaan. Mari kita menggaris edar kehidupan yang hanya sebentar.

Wallahu ‘Alam bi Shawwab

(Ciputat, 24 Ramadhan 1429 H)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s