Kesibukan Membunuh Ketersegeraan

Dunia memang selalu menggoda, isinya penuh dengan hamparan perwujudan cara bagaimana memuaskan ambisi di dada. Dunia selalu penuh dengan warna yang menghadirkan pencitraan-pencitraan berbeda. Manusia sebagai anggota didalamnya pun memiliki peran besar dalam kehidupan di dunia. Hal ini terkait dengan untuk apa dirinya diciptakan, dan apa yang semestinya dilakukan di dunia. Seorang yang di dalam hatinya memiliki keimanan pasti tahu apa yang semestinya ia lakukan di dunia, seseorang yang di dalam dirinya terdapat kejahilan pun tahu bagaimana cara memuaskan kejahilannya lebih dalam lagi di dunia. Tak sampai disana, seseorang yang menggunakan klaim bahwa dirinya beriman pun tahu bagaimana cara menggunakan klaim tersebut untuk menempatkan dirinya pada posisi aman yang diinginkan.

Seorang sahabat mulia, Hudzhaifah Ibnul Yaman. Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi kepercayaan Nabi, pengemban amanah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjadi mata-mata pertama dalam Islam di barisan para musyrikin. Seorang sahabat yang acapkali bertanya soal keburukan dikala ketika itu sahabat lainnya menanyakan soal-soal kebaikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzhaifah bin Yaman radhiyallohu ‘anhu berkata,

“Kelak akan datang satu masa dimana Islam menjadi usang seperti usangnya kain. Manusia membaca al-Qur’an, akan tetapi dia tidak merasakan manisnya. Mereka tidur di malam hari dan di pagi hari. Dia telah meninggalkan al-Qur’an seakan-akan belum pernah ada satu kitab pun yang diturunkan. Dia tidak tahu lagi waktu shalat, waktu shaum, waktu haji dan dia pun tidak mengetahui satu kewajiban pun yang diberikan kepadanya.”

Perkataan yang sama pun pernah terlontar dari lisan Al Faruq Umar bin Khattab, yakni tali Islam yang pertamakali terlepas adalah kepemimpinan dan hingga akhirnya seorang tidak tahu kewajiban lain dalam Islam melainkan hanya shalat saja.

Ya, masa yang dikatakan dua sahabat mulia tadi sudah tiba kini. Betapa banyak kaum muslimin yang mudah melalaikan bukan lagi perkara-perkara yang sifatnya anjuran ataupun sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan lebih dari itu, yakni banyaknya kewajiban ditengah-tengah ummat yang hilang atau tak diabaikan secara sengaja.

Mungkin kita bisa melihatnya, betapa miris ketika tak jauh dari suara masjid yang terdengar adzannya hingga jarak beberapa kilometer, beberapa pengayuh becak tetap acuh saja diatas besi mata pencahariannya. Tak jauh pula darisana pengemudi angkutan umum terus menikmati kopi hangat disuguhi lantunan dendang dangdut di kedai milik seorang janda yang nakal menggoda. Disekitarnya lagi seorang tukang ojek tetap setia melihat wajahnya di depan kaca spion sembari mencabut kumis dan memencet jerawat genitnya, belum lagi di warung makan, belum lagi di perusahaan besar tempat peredaran uang berputar kencang, tak terkecuali disela rapat sidang pemimpin rakyat. Panggilan Allah yang sudah hilang sirna hingga nantinya, tidaklah ada suatu masjid yang ketika waktu shalat tiba hanya diisi tiga orang saja setiap jamaahnya.

Begitulah kenyataan. Selalu berakibat karena ada sebab yang menuntunnya. Betapa bersegera itu telah hilang. Betapa rindu telah hilang dari dada karena beberapa potong kue kenikmatan dunia. Kesegeraan untuk menempuh jalan kebaikan dan menjadi penyebab dari keberkahan harta yang di setiap harinya selalu berusaha sekuat tenaga. Jauhlah bila kita membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh generasi-generasi penuh kemuliaan. Bagi generasi itu, harta bukanlah semata alat pengekang hingga menjadi pemasung dari terhalangnya kenikmatan mengadu kepada Rabbnya. Disana ada Adi bin Hatim yang berkata, “Tidaklah waktu shalat itu datang melainkan aku telah siap dengan perlengkapan untuk shalat, dan aku sangat merindukan waktu tersebut.” Atau perkataan Said bin Musayyib yang berkata, “Selama tiga puluh tahun aku telah bearada di masjid sebelum muadzin mengumandangkan adzan.”

Atau sebuah teguran lembut dari Imam Ashim bin Abi An Nujud Al-Asadi dimana setiap kali beliau berangkat ke masjid, ia senantiasa berkata kepada orang-orang disepanjang jalannya itu “Sudahlah, mari ikut kami, sebab apa yang menjadi kebutuhan kalian tidak akan hilang.” Kemudian beliau masuk kedalam masjid dan melakukan shalat.

Masa ini memang bukanlah masa-masa kejayaan dalam Islam, akan tetapi lihatlah perkataan Imam Ashim tadi, betapa pesan yang ia berikan sangat tepat penyampaiannya. Meninggalkan sejenak aktivitas kesibukan untuk memnuhi panggilan Allah tidaklah akan menghilangkan rizki seseorang. Apatah lagi tak ada kesibukan bagi dirinya untuk bersegera memnuhi panggilan Allah Azza wa Jalla.

Merunut kesibukan tidaklah akan ada habisnya. Namun yang terbaik bagi seseorang ialah hendaknya kesibukan tidak menjadi alasan setiap kali panggilan dari Allah Ta’ala hadir ditelinga. Kesibukan dimiliki oleh semua orang, dan tak sepantasnya seseorang mengeluh secara berlebihan diatas kesibukannya yang menjadikan alasan untuk tidak menunaikan ketaatan. Tak ada yang lebih sibuk dari Allah Ta’ala, dengan rahmat dan kasih sayangnya, Dia tetap memelihara langit dan bumi. Rabb yang tak pernah lelah serta tak pernah tidur. Sedangkan manusia, betapa ingkarnya ia dari perjanjian yang telah dibuat Rabbnya untuk taat dan menjalankan aturan Allah yang telah ditentukan hanya dengan alasan kesibukan mengejar harta dunia. Sangat gembira bila berjumpa dengan harta, akan tetapi sangat ingkar terhadap Pemilik dan Pemberi harta sesungguhnya.

Wallahu ‘alam bii shawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s