Meniti Gerbang Hidayah

Hidayah, bukan kata tanpa makna. Justru darisanalah semua keindahan bermulai jumpa. Hidayah menemukan antara penantian dan perjalanan usaha yang dijalani seseorang. Hidayah senantiasa mengakrabi hati tiap hamba datang dan pergi silih berganti siapapun dia. Sejatinya hidayah sesuai dengan arti katanya adalah menunjukkan kepada sesuatu. Ibnul Qayyim menegasikan bahwasanya hidayah adalah bayan (penjelasan) dan dilalah (bimbingan), serta taufiq dan ilham.

Kadangkala seseorang menunggu suatu perubahan dalam dirinya dengan perkataan, ‘saya belum dapat hidayah’. Atau ketika ingin melakukan suatu kebaikan padahal sudah melintas di hati dan pikirannya dengan ucapan, ‘saya masih menunggu hidayah untuk melakukannya’. Sahabat, momentum hidayah adalah momentum terindah. Segala keindahan itu sejatinya adalah tempuhan suatu usaha yang dijalankan. Setelah perintah untuk menyegerakan kebaikan menyeru dalam hati, selanjutnya adalah adakah diri untuk melaksanakan. Hidayah adalah situasi bahagia, tidak ada yang memiliki harga termahal selain mahalnya sebuah hidayah bagi seseorang yang telah merasakannya, dan tak ada yang dapat menandingi cahayanya terkecuali bagi mereka yang sebelumnya barada dalam kejahatan salah pintu kesesatan. Benarlah apa yang diucapkan oleh Ibnul Qayyim takkala mengambil faidah mengapa dalam setiap shalat seseorang diwajibkan mengucapkan “ Tunjukilah kami jalan yang lurus ” (QS. Al Fatihah : 6), karena hidayah yang telah Allah berikan kepada seseorang telah banyak jumlahnya. Takkala seseorang dapat mengetahui bagaimana adab makan dan minum yang benar, bagaimana adab buang hajat yang sesuai Islam, bagaimana seseorang paham tentang tata cara penyelenggaraan jenazah. Maka kesemua itu adalah hidayah. Semua tak terlepas dari doa yang terpanjatkan dalam tiap shalat tersebut dan Allah telah menunjukkannya.

Allah Ta’ala banyak menjelaskan soal kemuliaan jalan-jalan raihan hidayah ini di banyak ayat. Salah satunya adalah, “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al A’raaf : 43).

Ibnu Katsir menjelaskan salah satu dari makna ayat tersebut adalah sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Setiap penghuni surga menyaksikan tempatnya di neraka, lalu berkata : ‘Jikalau Allah tak memberi hidayah kepada kami niscaya kami akan celaka maka bagi-Nya syukur’.” (HR. An Nasai, di-hasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Al Jami’ 4514).

Disebabkan hidayah terbagi menjadi dua, ada hidayah yang sifatnya taufiq sebagai salah satu bentuk kekhususan milik Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashshash : 56), dan ada pula hidayah yang sifatnya penjelasan serta pengarahan seperti yang dilakukan oleh para penyeru dijalan Allah seperti yang Allah firmankan “Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syuura : 52).

Ibnul Qayyim mengatakan, Taufiq dan ilham datang setelah adanya penjelasan dan petunjuk. Penjelasan dan bimbingan hanya bisa diperoleh melalui diutusnya para rasul. Setelah datang penjelasan, petunjuk dan bimbingan, hidayah taufiq akan datang kemudian. Yakni dengan diciptakannya iman dalam hati sehingga menjadi hiasannya, membuatnya menjadi suka dan menyukai petunjuk tersebut. (Badai’ut Tafsir I : 116)

Panggilan hidayah adalah sebuah panggilan jiwa yang menyelusup halus kedalam dada dengan penuh makna. Selalu punya cerita bagi setiap hasil, dan selalu indah dikenang setiap momentum yang digapai. Begitulah hidayah selalu menunjukkan eksistensinya. Ada keberadaan yang tak terlepas dari harapan dan dukungan. Ada sebuah tekad untuk memenuhi fitrah setiap manusia sebagaimana ia dilahirkan,  “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

Insya Allah dalam kesempatan berikutnya akan disampaikan beberapa sebab hidayah tersebut datang kepada seseorang. Diantaranya adalah adanya sebuah pengaruh lingkungan, kesadaran dalam diri, dan tak ada pilihan lain yang harus diambil atau keterdesakan. Insya Allahu Ta’ala dalam kesempatan berikutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s