Sampaikan Dengan Elegan

Namanya adalah Thalhah bin Ubaidillah, banyak gelar tersematkan pada dirinya. Seorang syuhada yang masih hidup, begitu kata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya. Pujian itu tentunya tidak keluar tanpa ada peristiwa yang melatar belakangi. Sebuah kejadian dimana ia membela Nabi hingga sabetan pedang, lemparan tombak, tancapan anak panah telah menghampiri jasadnya berbilang tujuh puluhan. Peristiwa itu terjadi pada peperangan Uhud. Disaat kaum muslimin menjauh dari Rasulullah, dan Nabi hanya dibersamai oleh belasan orang saja dari kaum Anshar dan dari kalangan Muhajirin ialah Thalhah bin Ubaidillah.

Namun bukan kisah patriotiknya yang kali ini dihadirkan, melainkan kisah yang darisana tersematkanlah julukan bagi Thalhah bin Ubaidillah lainnya, yakni Thalhah Al Khair, Thalhah sang dermawan. Thalhah bin Ubaidillah adalah sosok intelektual di masanya, pandai nan cerdik di masa belia sehingga mampu menandingi kecerdikan pedagang lebih senior dari dirinya. Ia masuk Islam dimasa-masa awal kenabian Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bersahabat erat dengan Ash Shidiqul Akbar yakni Abu Bakar, bahkan ia menikah dengan anaknya yakni Ummu Kultsum bintu Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia akrab dengan Abu Bakar dan pernah mengalami kekejaman orang-orang dungu Quraisy yang penuh dengan kejahiliyahan. Ia diikat bersama Abu Bakar dalam satu ikatan dan disiksa.

Thalhah menikah dengan anak Abu Bakar Ash Shiddiq yakni Ummu Kultsum. Thalhah tumbuh menjadi seorang saudagar handal dengan kekayaan mengagumkan. Ia hidup dengan suksesnya perniagaan dan nyali pahlawan penuh pengorbanan. Hingga suatu ketika salah satu episode hidupnya memiliki momentum mencengangkan dan penuh pelajaran.

Suatu ketika ia mendapat laba luar biasa atas perniagaannya. Hartanya dari keuntungan cabang Hadhramaut telah datang di hadapnya. Jumlahnya bukan sembarang ketika itu, tujuh ratus ribu dirham! Berbeda Thalhah dengan pekaya-raya di masa ini mungkin. Dengan tumpukan uang dirham itu justru menjadikan Thalhah tak bisa tidur semalaman. Ia gundah dan gelisah, sedih dan penuh keluh kesah, bingung dan tercenung. Hingga sosok yang dicintainya pun memperhatikan dirinya dan memberikan solusi kepedulian itu secara seksama. Ummu Kultsum menghampiri dan berkata, “Apa yang terjadi pada dirimu wahai Abu Muhammad?! Barangkali terjadi sesuatu keburukan menimpa padamu?!!”

Thalhah pun menjawab, “Tidak, sungguh sebaik-baik teman setia bagi seorang muslim adalah dirimu wahai istriku. Akan tetapi aku memikirkan sejak semalam dan aku bertanya-tanya dalam hati,’Apa dugaan seorang terhadap Rabbnya jika ia tidur, sedang harta sebanyak ini dirumahnya?!’ (mungkin maksudnya ialah apakah harta ini adalah cobaan ataukah kenikmatan yang diberikan Rabbnya, jika kenikmatan apakah itu menipu dan semu, atau jika itu cobaan apakah akan berbuah kebaikan bagi dirinya,-pen).

Lalu sang istri balas menjawab, “Sungguh sesuatu itu telah membuatmu bingung?! Apa yang engkau akan perbuat terhadap orang-orang yang membutuhkan yang berasal dari kaummu dan kerabatmu?! Jika hari esok telah tiba, maka bagikanlah harta itu pada mereka.”

Thalhah pun mengatakan, “Sungguh Allah telah memberikan curahan kasih sayang-Nya kepadamu, sungguh engkau wanita yang telah mendapat taufiq, putri seorang yang telah mendapatkan taufiq pula…”

Maka ketika tiba waktu pagi, ia meletakkan harta ini dalam kantong dan bejana besar lantas membagi-bagikan kepada seluruh kaum fakir dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Berdialoglah Secara Elegan

Diskusi antara Thalhah dan istrinya merupakan diskusi elegan. Diskusi penuh dengan rasa saling memahami antara kedua insan tersebut. Dan bisa jadi diskusi itu tidak kita dapatkan hari-hari belakangan ini. Soal banyaknya harta dimiliki, belum tentu membuahkan ruang diskusi hangat antara sepasang suami istri. Justru bisa jadi, diskusi yang ada berkisar pada bagaimana memanfaatkan harta itu untuk sebuah asset bergerak atau tabungan berjangka untuk anak cucu di masa akan tiba saatnya. Pikiran yang menggelayut adalah pikiran keuntungan hari ini, pikiran keduniaan, padahal dunia tidak lebih hina dari seekor kambing cacat maupun seekor lalat maupun nyamuk sejatinya.

Keluarga adalah kerja bersama, di dalamnya semua sendi saling sinergi, didalamnya pembicaraan berkutat pada banyak strategi, dan tentunya pula disetiap sela-sela luang waktu terselip banyak cerita dan pengalaman yang hadir dari tiap-tiap anggota. Wadah bertukar pikiran, bejana berbagi banyak hal, saling tukar wawasan dan zona ilmu tanpa batas. Maka sungguh petaka, jika ada keluarga kaya dengan kesibukan berbeda, hingga akhirnya satu sama lain tidak saling percaya. Padahal, dari keluarga semua cerita, cita, cinta, dan tawa nada bahagia bersambung kuat terjalin erat.

Istri yang terbaik dari banyaknya kebaikan dimilikinya ialah istri yang mampu mengarahkan suaminya. Sebagaimana kisah antara Thalhah dan Ummu Kultsum diatas. Kegundahan seorang suami terselesaikan dengan cerdasnya seorang istri dan elegannya sebuah diskusi. Pembicaraan dari sekian banyak kegundahan suami tertumpah kepada istrinya, tak ditutupi sedikit pun bahwa Thalhah benar-benar resah, dan keresahannya itu membuncah pada kekayaan, bukan soal kemiskinan. Yang terjadi sekarang justru bisa jadi ketika kemiskinan mendera, sang istri memeras habis suami untuk bekerja keras bagai kuda agar dapur dan lampu tetap menyala, sedangkan pada keluarga kaya justru yang ada istri memberi rasa curiga atas suaminya, bukan karena kerjanya, akan tetapi pada lingkungan kerja dan pergaulannya.

Dilemma dan kontras memang, semua ada paradoknya masing-masing. Namun sejatinya semua itu dapat terselesaikan dengan diskusi. Saling memahami adalah kuncinya, saling membimbing dan mengarahkan tanpa ego adalah relung disiplinnya. Maka anehdot memang tatkala sang istri sangat giat membelanjakan harta suami dan membiarkan suami mengambil cara bodoh semisal korupsi. Terlebih lagi sang suami benar-benar memahami bahwa semakin kesini istrinya hanya butuh soal materi saja, bukan lagi soal kasih menyinari atau cinta menggerayangi. Ahirnya roda keluarga bahagia patah ditengah jalan, jalan pintas banyak terhalalkan, dan pembicaraan diskusi hanya soal berapa rupiah terkumpulkan dan asset apa yang kini menjadi incaran. Investasi itu hanya investasi dunia, investasi berjangka yang belum terjamin hasilnya. Spekulasi tanpa henti dan akhirnya habis untuk biaya tak tentu arah.

Maka, sudah saatnya bagi suami dan istri merapikan sendi komunikasi. Meluangkan waktu untuk saling apresiasi, dan jangan pernah lupa, kritik itu selalu dibutuhkan dalam sebuah perjalanan. Agar semakin mengerti dan arah tujuan tersampaikan. Bilakah harta sebagai patokan, yakinlah bahwa justru bisa menjadi penyebab kebinasaan. Bukan sekedar penyampaian apatis dan pragmatis, tapi hanya pengingat bagi kelalaian yang bisa jadi telah menderu lebam.

Marilah menapaki dan saling menopang antara suami dan istri, agar kesemua harmonisme terjalin indah dalam naungan penuh berkah. Hingga saling jumpa dalam jannah sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin 56 – 58)

Bukankah kita tidak ingin jika sebagai istri menjadi layaknya istri Nabi Nuh dan Nabi Luth alaihimushalatu wa sallam seperti yang Allah firmankan, “Allah menjadikan istri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianatkepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (QS. At Tahrim : 10). Wallahu ‘alam bii shawwab. (Bekasi, 15 Dzulhijjah 1431 H)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s