Tergesa Hingga Salah Proses Tujuannya

Saya cukup bergeming dan mengernyitkan dahi tatkala membaca buku yang ditulis oleh Amrozi bin Nur Hasyim. Eksekutor yang memiliki kebanggaan ketika dirinya melakukan operasi Bom Bali Jilid 1. Sebuah operasi yang mengantarkan dirinya menjadi pesakitan dengan dakwaan eksekusi mati. Sebelum pelaksanaan, beliau dan dua orang lainnya menyusun sebuah buku yang menjadi sebuah trilogi tersendiri. Salah satu buku yang ditulis dari ketiganya ialah buku yang ditulis oleh Amrozi berjudul Senyum Terakhir Sang Mujahid.

Ada sebuah hal yang menggelitik saya ketika membaca tulisan tersebut. Bagi kita yang paham akan agama sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu akan memahami bagaimana kaidah dan tata cara amar ma’ruf yang benar. Bagaimana melakukan tashfiyah dan tarbiyah serta memahami tata cara dan konsekuensinya dalam mendakwahkan ajaran Islam. Seseorang pun mesti mengetahui dan memahami siapa yang dihadapinya dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Tak dinafikan bahwa dakwah memang penting dan memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Islam.

Amrozi di usia mudanya mengisahkan dalam buku tersebut secara panjang lebar. Namun dari sekian ulasan yang panjang lebar tersebut saya mendapati hal yang menarik soal tata cara ia melaksanakan amar maruf di masa mudanya. Ia belajar agama Islam dari kakaknya yang juga terpidana mati hukuman mati yakni Ali Ghufron alias Mukhlas. Ia memahami mana syirik, khurafat, bid’ah, dan takhayul yang menjadi penyakit serta parasit bagi akidah lebih banyak juga ditimbanya di bawah asuhan Ali Ghufron.

Dalam bukunya, Amrozi menceritakan di hal 93 – 99 dibawah sub judul ‘Kembali ke Tenggulun lagi’, bahwa setelah ia memahami dan mengetahui hakikat penyimpangan akidah dari ilmu agama yang ia pelajari selama ini. Menggugah dirinya untuk menghancurkan sebuah bangunan keramat di daerahnya. Bangunan keramat tersebut berupa cungkup yang diyakini terdapat dibawahnya makam orang shalih bernama Kyai Senari. Sebuah bangunan dimana banyak penduduk memberikan sesaji dan meminta banyak hal atas kubur tersebut.

Singkat cerita setelah belajar agama, Amrozi muda berharap bisa menghancurkan bangunan tersebut. Dua kali kesempatan ia sempat gagal mengeksekusi, kepulangan dari Malaysia mengantarkan ia menjadi seorang montir sepeda motor hingga akhirnya disuatu malam yang telah direncanakan bersama temannya, Amrozi melakukan aksi yang telah dipendamnya selama ini. Bersama dengan temannya, Amrozi berupaya untuk menghancurkan cungkup keramat tersebut. Berbekal beberapa galon minyak tanah dan bensin, maka aksi pun dimulai pukul 11.

Ia dan temannya tersebut pun sukses untuk membakar cungkup tersebut. Ya! Sebuah cungkup kebanggan warga setempat sukses dibakar oleh Amrozi. Kabar yang menggemparkan warga sekitar bahkan masuk ke surat kabar lokal. Namun lihatlah pembaca, apa yang dikisahkan Amrozi tersebut justru tidak mendatangkan kemaslahatan. Nahi Munkar yang dilakukannya justru mengantarkan warga mengumpulkan ung kembali dan berencana untuk membangun dengan bentuk yang permanen!

Perhatikanlah wahai pembaca sekalian, Amrozi menghancurkan bangunan keramat sederhana tersebut. Terbukti sukses! Yaa sebuah kesuksesan yang mengantarkan kemadharatan berikutnya. Karena penduduk sekitar berencana membangun kembali dengan bangunan permanen yang sebelumnya hanya terbuat dari bambu.

Amrozi berkata dalam bukunya, “Ternyata aksi pembakaran bangunan cungkup yang telah saya lakukan belum berhasil menyadarkan sebagian warga untuk menghentikan tindakan mereka dalam mengeramatkan cungkup. Terbukti bahwa mereka hendak membangunnya kembali bahkan dengan cara permanen pula.” (Amrozi : 2009, hal 96).

Terbukti hingga akhirnya pada tanggal 13 Mei 1983 tepatnya Kamis dini hari. Amrozi beserta seorang temannya berupaya untuk melakukan sebuah penghancuran kembali atas makam tersebut. Kali ini aksinya ialah membongkar tanah makam tersebut. Ia dan temannya berbekal linggis dan berhasil meratakan tanah pada makam tersebut. Namun ternyata ia tak menemukan bekas mayat satupun yang disebut-sebut sebagai Kyai Senari.

Amrozi sukses membongkar kebohongan makam tersebut tapi hanya untuk dirinya sendiri, seandainya ia menjadikan itu sebagai bukti salahnya pengkeramatan masyarakat atas makam tersebut. Bisa jadi hal tersebut lebih masuk logika masyarakat dan menjadikan masyarakat terbuka nuraninya sebab selama ini mereka melakukan sebuah kesalahan.

Namun Amrozi muda yang penuh semangat nahi munkar tersebut justru membawa batu nisan pada makam tersebut dan membuangnya ke rawa. Keesokan harinya masyarakat pun bertanya-tanya serta menjadi perbincangan kembali setelah aksi pertamanya.

Lihatlah, tak ada manfaat yang didatangkan dari apa yang telah dilakukan oleh Amrozi di aksinya tersebut, yang ada justru menjadikan Amrozi masuk bui (polsek Paciran) selama beberapa hari lamanya akibat ulahnya. Lalu apakah yang dilakukan Amrozi sukses? Ternyata sama sekali tidak, justru ia mendapatkan sebuah kejengkelan kembali sebagaimana perkataannya:

“Ternyata peristiwa pembongkaran yang saya lakukan terhadap kuburan ini tidak menyurutkan keinginan sebagian penduduk desa untuk melanjutkan renovasi. Apalagi bahan-bahan material sudah terlanjur tersedia. Di tengah-tengah proyek renovasi ini mereka berusaha untuk mencari pelaku pembongkaran kuburan yang mereka keramatkan…” (Amrozi : 2009, hal 99).

Salah Cara Maka Salah Hasilnya

Begitulah ketergesa-gesaan yang mendatangkan sebuah kehancuran. Tergesa-gesa ketika semangat sudah menyala dalam dada. Hanya dengan berbekal pemahaman seadanya tanpa guru yang benar-benar mumpuni keilmuannya menyebabkan seseorang tergelincir pada sebuah kesalahan dalam memahami dakwah yang sebenarnya. Amar Maruf dan Nahi Munkar merupakan perkara mulia, namun ketika sebuah perbuatan nahi munkar dilaksanakan dengan jalan yang salah maka hilanglah kemuliaan berganti menjadi sebuah kenistaan. Maksud hati adalah kebaikan, namun cara yang dilakukan menuai kesalahan. Bukan hanya sekedar keburukan yang terjadi namun masuk ke dalam lembah kehancuran yang menanti.

Justru bisa jadi ketergesa-gesaan dengan maksud untuk sebuah pengabdian kepada Allah Ta’ala justru menjadikan seseorang jatuh kepada sifat yang merupakan tipu daya syaithan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR. Baihaqi dan Abu Ya’la dan dihasankan oleh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir).

Sungguh kisah Amrozi diatas sebaiknya menjadikan seseorang agar tidak hanya mengandalkan semangat. Sebuah hikmah dalam berdakwah disertai dengan tata caranya kepada masyarakat akan lebih efektif dibandingkan tindakan gegabah. Sebuah bangunan keramat dihancurkan maka muncullah ide untuk membuat bangunan tersebut menjadi permanen. Bukan kemenangan Islam melainkan kemenangan kultus yang berada diatas kemusyrikan menjadi merajalela. Padahal seandainya seseorang mau belajar lebih baik, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak. Ada sebuah perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga bagi kita agar tidak berbuat tergesa-gesa dalam bertindak hanya bermodal pada pengetahuan yang didapatkan secara spontan dan konsisten.“Wahai ‘Aisyah, andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang yang baru (meninggalkan) kekufuran, niscaya saya merobohkan Ka’bah kemudian saya akan menjadikannya dua pintu: pintu tempat manusia masuk dan pintu mereka keluar . (Diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim).

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Rasulullah disaat kaumnya baru masuk Islam. Beliau seharusnya lebih berhak untuk melakukan apa yang seharusnya beliau lakukan ketika itu, namun beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan penghancuran atau perubahan terhadap Ka’bah tersebut dikarenakan ketika itu mereka muallaf yang masih memberikan penghormatan atas Ka’bah. Mereka ketika itu masih mengagunggkan Ka’bah disebabkan ratusan berhala pernah berada di sekitarnya. Namun Nabi tidak menghancurkan. Nabi tidak melakukan perubahan terhadap Ka’bah. Akan tetapi Nabi merubah kaumnya terkebih dahulu dengan tashfiyah dan tarbiyah secara sempurna.

Dari Amrozi kita belajar, bukan karena aksi eksekusi matinya yang mengagumkan istri serta anaknya. Namun dari betapa ketergesa-gesaan dapat menghancurkan. Ketergesa-gesaan dapat mengundang kemudharatan. Masyarakat kita hari ini adalah masyarakat yang butuh dengan cahaya ilmu. Masyarakat yang membutuhkan sebuah pembersihan akidah. Dengan cara yang tepat, niscaya masyarakat akan menyambut dengan baik apa yang disampaikan. Bahkan dapat meresap kedalam dada dan terkenang sepanjang masa, sebagaimana harumnya nama Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam menentang sebuah kemusyrikan di masanya.

Terakhir saya bawakan ucapan Amrozi yang tak lagi mengernyitkan dahi melainkan membuat saya menyunggingkan senyum diatasnya,

“Yach…beginilah nasibnya orang yang melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di negeri ini.” (Amrozi : 2009, hal 99)

Wallahu ‘Alam bii Shawwab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s