Sekalipun Awalnya Keterpaksaan

Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita saja yang berbahagia ataupun yang nelangsa.

Abu Sufyan, ketika situasi tidak memungkinkan dirinya untuk berbuat banyak demi menghancurkan Islam pupus, ketika makar Darun Nadwah dan persekongkolan penuh konspirasinya hilang hangus, ketika ia lolos dari terbunuhnya di tangan seorang kaum muslimin yang menjadikan dirinya tidak bisa mengikuti jejak Abu Jahl kawan satu levelnya, ketika pergulatan batinnya untuk membungkam Muhammad musuh nomor wahidnya tak tembus. Allah Maha Berkehendak atas dirinya. Fathu Makkah menjadi saksi bahwa segala yang Allah kehendaki terjadi maka akan terjadi atas izin Allah Ta’ala. Keterjadian yang juga pernah dirasakan oleh Abu Hafsh Umar bin Khattab.

Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abdullah bin Abi Umayyah dan Ibnu Harits. Namun beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya, betapa sengitnya, betapa kerasnya permusuhan dan kejahatan yang mereka lakukan dari masa ke masa, darah ke darah, dan perang ke perang kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam serta kaum muslimin. Namun Ummu Salamah berkata kepada beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam: “janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang celaka karena anda.”

Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar radhiyallahu ‘anhu sebagai penjaga.

Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.

“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan

“Itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.

Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,

“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”

Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”

Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”

Abu Sufyan mengatakan,“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”

Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!” Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.

Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.” Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”

Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.” Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”

Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.” Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata, “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”

Ketika ketemu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau pun menjawab, “Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:

“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Qs. Al Fath: 1)

Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah, “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49)

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.

Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”

Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam.

Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:

“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Sementara itu Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah dari depan. Berkatalah kepadanya seperti perkataan-perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alayhis salam: “Mereka berkata: “Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas Kami, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf : 91). Maka Abu Sufyan pun melakukannya.

Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ (QS. Yusuf : 92) Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Setelah itu Abu Sufyan pun melantunkan syairnya penuh makna:

Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera

Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad

Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimutiu kegelapan malam

Inilah waktuku ketika hidayah dating lalu aku menyambutnya

Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi Hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki

Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya.

Mendengar hal ini, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.” Sejak saat itulah Nabi mendoakan Abu Sufyan “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah –radhiyallahu ‘anhu-” dan menjadi baiklah sang arsitek penghancur ketika kafirnya menjadi sang pembela Allah beserta Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan ketika wafatnya, Abu Sufyan berpesan pada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku, karena demi Allah! Aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”

Begitulah Sapaan Hidayah

Begitulah sapaan hidayah, kala kemusykilan dihapus oleh cahaya kebenaran dan keimanan. Berawal dari situasi yang tak ada pilihan lain selain mengambil hidayah tersebut, menjadi akhir dari sebuah jawaban yang indah untuk sosok terjahat sekalipun. Yakinlah, terkadang anggapan buruk yang tersematkan pada seseorang yang dibenci bisa menjadi sebuah jalan betapa jika Allah telah berkehendak atas sesuatu menjadi mudah terbalik segalanya. Tak masuk akal memang. Namun kenyataan terkadang berbicara lain dari apa yang direncanakan. Sejarah telah mencatat bagaimana manusia-manusia terjahat menamatkan riwayatnya dengan bejana kebaikan dan janji surga, sejarah Islam telah terpenuhi dengan sosok-sosok Umar bin Khattab serta Abu Sufyan yang keburukannya terhapus oleh doa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Maka begitulah hidayah, adakalanya suatu keterpaksaan menjadi sebuah keindahan, dan sebuah kebencian ditutup oleh haru kebahagiaan.

Maka sudah sepantasnyalah sosok-sosok yang mengerti hari-hari ini untuk mengajak dengan penuh kesabaran dan doa-doa terpanjatkan penuh keihlasan atas apa yang diharapkan dari yang dicinta. Kala orang tua belum memahami Islam dengan sebaik-baiknya, kala suami atau istri tercinta masih jauh dari apa yang diharapkan atas keimanannya, kala anak menjauh dari perencanaan kehidupan beragama, atau kala diri sendiri merasa gersang dengan aktivitas. Tak hanya sekedar untuk merenungi realita di depan mata akan kebobrokan suatu masa, tapi mencoba bergerak dengan perlahan dan punya tujuan pasti. Setiap orang memiliki fitrah yang condong kepada kebaikan. Ajaklah dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki, “Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (Kebaikan) maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan pahala tersebut tidak kurang sama sekali. “ (HR. Muslim).

Yakinlah, bahwa setiap usaha akan mendapatkan hasil, dan terkadang usaha itu membutuhkan waktu yang lama. “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS. Al Kahfi : 30)

Pelajaran tadi telah menjadi bukti kerasnya hati Abu Sufyan dapat takluk dengan kelembutan usaha-usaha orang-orang yang sabar disekitarnya, disana ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib dan Ali bin Abi Thalib. Sekali lagi, perubahan selalu membutuhkan bimbingan, dan setiap perubahan selalu memiliki hajat atas kesabaran. Sekeras batu yang terkikis oleh air.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s