Penerapan Nilai Toleransi Demi Terwujudnya Pendidikan Persatuan

Pendidikan adalah sebuah instrumen kesadaran. Substansi pendidikan ialah transformasi pengetahuan dari ketidaktahuan menjadi paham atau bahkan profesional, sehingga dengan demikian pembelajaran dalam sebuah elemen pendidikan merupakan suatu aktifitas membangun kesadaran dan sebuah gerakan untuk menggali potensi atas nilai-nilai kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu upaya-upaya normatif untuk melepas banyak hal negatif dari dalam diri seseorang kepada seseorang lainnya.

Secara lugas pendidikan adalah mencetak sosok bermartabat, memiliki harga diri, serta kemuliaan. Hal itulah yang dimaksudkan oleh Paulo Fraire yang dikutip oleh Firdaus M. Yunus, pendidikan adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Bagi Fraire pula, oleh karena manusia yang menjadi pusat pendidikan, maka manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat. (Yunus: 2004).

Di Indonesia, pendidikan menjadi sebuah kebutuhan, sebuah penentu keberhasilan, dan secara umum pendidikan mampu mencitrakan sejauhmana karakteristik kepribadian individu. Bahkan pendidikan menjadi salah satu indikator berfikir seseorang. Pendidikan  membutuhkan  upaya timbal balik dan respon berbalas. Sebab pendidikan tidak hanya bersandar pada sebuah paradigma keilmuan, akan tetapi juga harus memiliki praksis pengamalan dan implementasi secara berkelanjutan.

Definisi pendidikan secara sepakat sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, yakni, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Nilai-nilai pendidikan luhur itu sendiri haruslah merujuk kepada nilai-nilai kebhinekaan sebab Indonesia merupakan  sebuah negara yang besar di mata dunia dengan berbagai macam suku bangsa serta adat budaya. Indonesia memiliki keanekaragaman suku, ras, dan agama pula. Sehingga pendidikan di Indonesia harus diterapkan sesuai dengan corak demografis dan topografis negara ini.

Pendidikan sesuai dengan apa yang di definiskan oleh pemerintah sebagaimana UU No. 20 Tahun 2003 SISDIKNAS diatas adalah pendidikan dengan tujuan berkualitas dan perlu bagi masyarakat, bangsa dan negara. Terlebih hari ini, Indonesia diliputi oleh krisis multidimensi.

Mewujudkan Pembelajaran Bertoleran

Berbagai macam keadaan sosial dan kejadian alam di Indonesia, menuntut generasi-generasi yang mampu merawat dan memajukan hasil pembangunan bangsa Indonesia yang telah dicapai hingga saat ini. Bangsa ini membutuhkan generasi-generasi yang memiliki kompetensi bukan hanya mampu menciptakan dan membangun, namun mampu untuk merawat, mempertahankan, dan mengembangkan penciptaan yang bermanfaat, mensejahterakan rakyat, serta muatan positif yang sangat diperlukan untuk berkembangnya suatu bangsa.

Generasi-generasi tersebut harus matang dan memiliki rasa persaudaraan yang kokoh satu sama lain. Sebab, sebuah pembangunan membutuhkan sebuah persatuan, dan setiap persatuan menuntut adanya toleransi diatas setiap perbedaan yang ada. Pendidikan adalah wujud fasilitas untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada menjadi sebuah kekuatan dan ketahanan untuk menyatukan perbedaan, dalam sebuah bingkai toleransi.

Maka, dibutuhkan pula elemen-elemen pendidikan yang sadar akan adanya sebuah perbedaan. Elemen pendidikan yang paling asasi adalah kehadiran seorang pengajar. Dalam realitanya, seorang pengajar dituntut untuk mampu menjadi sebuah pusat pengembangan potensi setiap anak didiknya. Pendidikan masa kini ialah pendidikan yang menuntut seorang pengajar memberi porsi besar sebagai fasilitator, bahkan sebagai inspirator dan motivator, bukan hanya sebagai diktator otoritarian dalam sistem pembelajaran yang menyebabkan peserta didik tertekan dan tidak bisa memiliki kekuatan untuk unjuk kecerdasan yang dimiliki.

Guru-guru dengan kemampuan interpersonal yang baik serta memiliki kesesuaian latar belakang kompetensi, sangat mungkin untuk memberikan perhatian dan pengaruh kepada siswanya sehingga pembelajaran dapat hidup, dan setiap anak didik memiliki kesempatan untuk melihat sebuah pendidikan dari berbagai sisi. Bukan hanya soal nilai akademis, keluhuran etika, kelurusan moral, akan tetapi kesadaran untuk mentoleransi sebuah nilai-nilai perbedaan dalam suatu ranah pembelajaran.

Untuk mewujudkan pendidikan yang peka dan toleran, setidaknya dibutuhkan beberapa poin-poin yang dapat dilakukan sebagai wujud acuan seorang pengajar. Poin-poin tersebut kelak bila diimplementasikan dengan bijak, akan mampu meretas persoalan-persoalan kebangsaan dalam sekup sederhana yang dimulai dari generasi tunas bangsa. Beberapa poin yang dapat diperhatikan antara lain;

Pertama, seorang pendidik haruslah sosok yang memiliki semangat dan keinginan untuk senantiasa belajar. Seorang guru harus menjadi inisiator pembelajaran yang optimal dan mampu memberikan pembelajaran lagi mudah diterapkan bagi para muridnya. Hal demikian, tidak bisa di dapatkan melainkan dengan banyaknya pembelajaran-pembelajaran dari aktifitas kehidupan dan pengalaman. Wawasan menjadi bagian penting, agar pola pembelajaran kepada murid tidak hanya selalu dibatasi atas bingkai persepsi nilai akademis. Dengan adanya wawasan guru yang senantiasa di optimalisasi, tentu akan meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik anak didik. Guru dengan wawasan melimpah ruah tentunya akan menjadi sebuah pilihan atas ketenangan dan kenyamanan bagi setiap anak didik untuk mencurahkan berbagai bentuk apresiasi yang dimilikinya. Sehingga, guru yang demikian tidak hanya didatangi oleh peserta didik di waktu tertentu, akan tetapi menjadi guru yang perlu ada serta senantiasa dinanti kehadirannya oleh anak didik.

Kedua, seorang pendidik dalam hal ini ialah guru, dituntut untuk memiliki kepekaan. Bukan hanya kepekaan secara psikologis, akan tetapi kepekaan secara sosiologis. Seorang guru adalah agen perubahan, sebab tidak ada kata yang diucapkan guru, melainkan senantiasa membekas dalam setiap anak didik serta mempengaruhi perasaan dan perkembangan anak didik.

Kepekaan secara psikologis bagi seorang guru ialah mengetahui dan memahami kompetensi individual dalam diri seorang anak, baik dari sisi karakter, kemampuan diri, potensi imajinasi, daya kreasi, reaksi psikomotori atau kognisi dengan berbagai aspeknya seperti visualisasi, auditori maupun kinestesi. Sedangkan kepekaan sosiologis dapat diterjemahkan sebagai kemampuan seorang guru untuk melakukan identifikasi kehidupan sosial setiap anak didik. Hal ini penting, mengingat para peserta didik berasal dari banyak latar belakang yang berbeda, mereka dibentuk dengan budaya dan agama yang memiliki tingkat perbedaan satu sama lain. Sehingga sebagai sebuah agen pendorong toleransi dalam kehidupan dan moda kebhinekaan di Indonesia, sosok guru menjadi sosok tumpuan untuk mampu memberikan segala bentuk konfirmasi dan informasi untuk melakukan perwujudan pembelajaran yang saling toleran dan tidak diskriminan.

Ketiga, seorang guru sangat dituntut untuk memberikan nilai seimbang dan tidak membedakan dalam hal pemberian penghargaan atas peserta didiknya. Hal ini dibutuhkan, sebab sebuah toleransi harus mampu melibatkan sisi objektifitas dalam penilaian individu secara baik dan berkesinambungan. Objektifitas seorang guru akan senantiasa dilihat oleh setiap muridnya, terlebih pada tingkat jenjang pendidikan dasar yang di wajibkan oleh pemerintah. Seorang peserta didik sangat mudah menilai apakah gurunya berat sebelah dalam memperlakukan teman-temannya, tidak adil dalam memberikan hukuman atau penghargaan, serta wujud-wujud diskriminatif lainnya. Penilaian tersebut apabila telah dilakukan oleh seorang murid akan menimbulkan nilai sensitifitas tersendiri dan mencuatkan stigma negatif diantara sesama murid. Sehingga tidak bisa tidak, sebuah konflik dalam pertemanan di sebuah sekolah bisa menjadi masalah tersendiri.

Keempat, sebagai agen perubahan yang dituntut untuk menjadikan para generasi muda memiliki nilai toleransi ialah nilai-nilai penghormatan dan menghargai. Hal ini ada agar terwujud sebuah resolusi kedamaian dalam sekup sederhana yakni di sebuah instansi pendidikan. Apabila seorang guru mampu menjaga dirinya dan menghargai perbedaan yang dimiliki oleh setiap muridnya, kelak setiap siswa akan memiliki nilai toleransi secara sama atau bahkan lebih baik dibanding gurunya. Jika seorang guru dapat membekali dirinya, maka kelak ucapan-ucapan sindiran yang keluar dari lisannya dapat dikendalikan. Sehingga guru tidak mudah mengucapkan kepada siswa yang memiliki warna kulit hitam dengan ucapan, “hei kamu si papua..” atau menghardik siswanya dengan ras tertentu seperti, “dasar kamu orang cina..!”, maupun sindiran-sindiran lainnya yang melunturkan nilai-nilai kebangsaan serta disintegrasi sosial.

Sebab, tidaklah ucapan-ucapan sindiran sesama teman sebaya lahir jika tidak ada contoh yang mendahului.contoh-contoh tersebut, bisa jadi lingkungan tempat tinggal, atau pun keluarga. Maka guru harus mampu memberikan klarifikasi demi menjaga sebuah persatuan dan kesatuan, hal demikian tak akan terwujud jika gurunya sendiri mengajarkan muridnya bermudah-mudahan mencela ras atau golongan tertentu.

Kelima, seorang guru harus mengedepankan semangat kebangsaan dan menanamkan kecintaan kepada tanah air. Hal ini tidak mesti menunggu pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau Ilmu Pengetahuan Sosial. Pembelajaran kebangsaan dan semangat kecintaan dapat dihadirkan ditengah atmosfer murid melalui komunikasi-komunikasi atau dialog-dialog yang dapat memunculkan daya pikir kritis siswa. Seperti seorang guru melontarkan isu-isu kebangsaan, lantas murid membentuk kelompok diskusi dan mengkaji permasalahan tersebut sesuai dengan konteks budaya dan lingkungan yang ada. Pembelajaran model ini dapat dikaitkan dengan pelajaran apapun, bahkan pada pelajaran eksakta, para siswa dapat dibawa untuk menanamkan nilai semangat kebangsaan dengan menumbuhkan nilai-nilai toleransi menghargai pendapat satu siswa dengan siswa lainnya.

Demikianlah beberapa hal yang menjadikan guru setidaknya mampu melakukan sebuah inisiasi perubahan dalam mewujudkan generasi Indonesia penuh toleransi. Toleransi hadir untuk mewujudkan kebersamaan dan diharapkan menjadi faktor utama terwujudnya Indonesia yang lebih maju dan berkembang. Dalam sebuah ranah sederhana, toleransi muncul tidak hanya memiliki cakupan luas, akan tetapi toleransi dalam menghargai setiap hak bicara dan hak pendapat setiap warga negara.

Para pelajar adalah generasi pelanjut masa datang, dibutuhkan arahan dan penyampaian persepsi secara teratur dan tepat sasaran. Sikap, perilaku, perbuatan, dan penyampaian yang diberikan pun harus sesuai masanya. Guru adalah bagian dari pelaku pendorong perubahan. Tidak hanya sekedar kesejahteraan yang sesuai untuk mereka dapatkan, tapi pembelajaran dan pengembangan karakter profesionalitas guru menjadi faktor tak kalah penting demi terwujudnya transformasi pendidikan penuh harapan. Pemerintah telah memberikan alokasi perhatian secara baik kepada pendidikan di Indonesia, anggaran yang telah dinaikkan menjadi 20% serta pemenuhan pemerataan kesejahteraan guru dengan tanpa melihat status kepegawaian, merupakan sebuah dukungan moril dan realistis dari pemerintah. Hanya saja, hal tersebut wajib untuk dikontrol baik dari sisi konsepsi maupun sisi aplikasi.

Sebuah perubahan membutuhkan para agen-agen untuk merealisasikannya, sudah saatnya anak-anak bangsa memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk kembali memikirkan bangsa ini dengan perbuatan nyata. Tentunya, hal tersebut tidak cukup apabila mengandalkan sosok guru dengan segala keterbatasan yang mungkin dimiliki oleh mereka. Perubahan menuju negeri toleran adalah proses panjang dan bukan hanya cukup dengan wacana-wacana perbincangan. Wacana, ide, dan gagasan tersebut harus dijabarkan dengan konsep matang dan terintegrasi dengan wawasan kebangsaan yang dimiliki secara variatif oleh orang-perorang di Indonesia. Sebuah perubahan membutuhkan kerjasama dan persatuan dengan menghargai nilai-nilai perbedaan yang ada demi sebuah tujuan dan prioritas lebih besar, seperti yang dipaparkan oleh Williams, Woodward & Dobson (2002), ”Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerjasama dari semua pihak”.

Semoga kedepan, Indonesia menjadi maju dan dapat bersaing dengan terwujudnya persatuan serta kesatuan bangsa secara kongkrit. Mengembalikan kejayaan yang pernah diraih dengan kebersamaan sebagai satu bagian tubuh dibawah keragaman suku, ras, agama, dan adat istiadat.

Iklan

4 pemikiran pada “Penerapan Nilai Toleransi Demi Terwujudnya Pendidikan Persatuan

    • terimakasih mas, semoga ada faidah dari tulisan yg saya kedepankan tsb dan menjadi sumbang saran utk pemikiran di masa datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s