Memberi Makna Pada Pembelajaran Agama Bagi Penerus Nusa


Situasi di Indonesia beberapa dekade terakhir mengundang banyak keprihatinan dari berbagai pihak. Indonesia acapkali menjadi bahan pembicaraan di mata Internasional, bukan saja karena prestasinya, akan tetapi juga karena carut-marutnya kondisi sosial-politik di negara ini. Selain itu, didukung pula dengan keamanan yang dirasa sudah tak lagi kondusif. Munculnya fenomena disintegrasi bangsa, pudarnya semangat nasionalisme, tergesernya kerangka sosial-moral berlandaskan budaya, hingga fenomena radikalisme, dan fundamentalisme, yang kesemua itu dilakukan oleh para generasi pelanjut nusa.

Kekerasan, seakan menjadi bahan pemberitaan yang tak pernah surut dari masa ke masa. Antar suku, agama, golongan, bahkan lebih miris lagi ialah antar pelajar. Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah adalah rumah besar bagi sebuah orientasi kedamaian. Citra-citra rumah besar tersebut tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dimana seseorang tumbuh dan berkembang mengecap manisnya perjalanan kehidupan.

Agama seharusnya menjadi rumah menentramkan bagi pemeluknya, namun kini agama di eksploitasi menjadi barang multi kepentingan. Agama menjadi benda berdimensi banyak, sehingga pola pikir dan pola tafsir menjadi beragam, selaras dengan berkembangnya para penafsir-penafsir yang bukan ahlinya. Diperparah lagi, kini agama menjadi saran pencocokan aksi radikalisme ditubuh nusantara. Benih-benih radikalisme menjalar melalui medium agama.

Islam, sebagai agama mayoritas di negeri ini menjadi sasaran. Padahal jelas, Islam sama sekali tak pernah mengajarkan kekerasan, pemberontakan, bahkan Islam sejatinya adalah agama rahmatan lil ‘alaamin, agama menentramkan dan penuh kedamaian. Sebab memang itu yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala tentang diri Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam selaku utusan Allah, “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).

Aktor-aktor radikalisme mengintepretasikan Islam menjadi agama penuh ancaman, sehingga stigma Islam menjadi negatif di mata bangsa-bangsa dunia. Seakan apa yang mereka lakukan telah direstui oleh Islam. Padahal, sungguh Islam mengajarkan nilai-nilai ajaran kebaikan. Jauh dari kesan ancaman dan teror menakutkan seperti yang dilakukan oleh para aktor-aktor radikalisme. Bagaimana mungkin Islam mengajarkan kekerasan, sedangkan Nabi mereka, bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam kepadanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.” (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 5200).

Peranan institusi pendidikan menjadi sangat penting, sebab korbannya adalah anak-anak bangsa. Anak-anak muda dijadikan alat untuk menembus suksesi radikalisme sejalan dengan visi dan misi yang diinginkan oleh para aktor-aktor radikalisme. Ditinggalkannya ideologi dan filosofi Pancasila sebagai landasan kebhinekaan, lagi-lagi menjadi pelampiasan bahwa Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika serta sila-sila di dalamnya tak lagi selaras dengan nilai-nilai agama.

Mengembalikan Pemuda Kepada Pendidikan Penuh Makna

Seorang guru adalah pemimpin bagi muridnya, ia adalah panglima dan perancang strategi, oleh karena itu setiap guru memiliki senjata pamungkas dalam memasuki kelas, baik itu rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus pembelajaran dengan uraian kompetensi dasar, hingga buku untuk memastikan bahwa ia paham dan serius untuk menularkan ilmu. Ia tidak boleh masuk dengan tangan dalam keadaan hampa dan kebingungan harus melakukan apa. Ia harus datang dengan jutaan pengetahuan, ribuan pengalaman, dan uraian-uraian pembelajaran mengagumkan.

Proses transformasi ilmu pengetahuan yang paling utama dalam ranah pendidikan formal di Indonesia ditentukan oleh sejauhmana profesionalitas dan kualitas guru. Tanpa memiliki itu, maka seorang guru artinya harus siap untuk tidak mempunyai wibawa, siap untuk tak pernah dihargai nilai-nilai kebijaksanaannya, dan siap untuk ditinggalkan murid-muridnya dengan banyak alasan klasik. Dalam melakukan proses transformasi pembelajaran, seorang guru harus didukung dengan kecakapan skill dan karakter juga kompetensi yang kelak dapat diterapkan untuk melakukan proses pembelajaran di kelas.

Sistem-sistem pembelajaran senantiasa datang silih berganti, baik itu dikembangkan oleh para ahli dari luar maupun dalam negeri, tak kurang pula Kementerian Pendidikan Nasional pun menaruh banyak perhatian untuk moda pengembangan setiap sistem pembelajaran agar pembangunan manusia di Indonesia lebih terarah dan tepat guna. Akan tetapi, kesemua itu ditentukan oleh pemain sederhana sebuah institusi pendidikan dengan episentrum luas, yakni seorang guru.

Guru tak ubahnya ladang ilmu, mereka sumur tak mengenal jemu untuk memancarkan air jernih dan segar bagi para pengambil ilmu dan para calon penemu. Sebaran-sebaran tanggungjawab yang dimiliki seorang guru tidaklah memiliki citraan kecil, akan tetapi sebaran yang diberikan oleh para guru adalah stigma berfikir luas. Sebab ditangan guru, luas dunia dapat menjadi sebuah ikhtisar dalam genggaman. Guru di Indonesia adalah sosok insan mulia. Sejarah mengenal bahwasanya guru tidak hanya sebagai aktor intelektual disaat hidup, sebab di saat wafat pun seorang guru mendapatkan penajukan hebat, yakni pahlawan tanpa tanda jasa.

Para pendidik wajib mengetengahkan pendidikan penuh makna untuk para siswanya, mereka mampu membangun karakter dan kepribadian serta jati diri anak-anak muda yang kian hari tergerus nilai-nilai moral dan sosial, sebagian diantara mereka kehilangan jatidiri. Lari kepada ekstrim kiri dengan dunia penuh hura-hura bahkan narkoba, atau lari kepada ekstrim kanan dan menjadi anak-anak binaan para fundamental belabel keagamaan.

Kebanyakan institusi pendidikan hingga hari ini, masih mempertahankan bahwa nilai-nilai akademis adalah segalanya. Kebanggaan bila anak didiknya menjadi insan-insan cendikia dengan banyak beasiswa yang diterima menjadi sebuah kontras tersendiri. Namun, perhatian terhadap anak-anak muda dengan pola berfikir berbeda dari biasanya, anak-anak muda yang tak memiliki prestasi lebih baik dibanding penerima beasiswa, bahkan anak-anak muda dimana mereka sejatinya juga pantas untuk diperlakukan sama dengan para penerima beasiswa justru dipandang sebelah mata.

Hingga akhirnya, mereka yang tak mampu memberikan ‘kebanggaan’ sesuai dengan kriteria gurunya, malah dianggap menjadi generasi tak berdaya guna. Begitu miris, bila potret pendidikan hanya diukur dengan biaya mahal, lalu prestasi membanggakan, hingga nilai akademis melampaui harapan. Justru tujuan pendidikan negeri ini untuk menghadirkan generasi bermartabat dan bertanggung jawab menjadi bias terhapus dengan satu tujuan pendidikan yakni insan-insan penuh kecerdasan tapi banyak dipertanyakan tanggung jawab serta keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab dekadensi moral hari ini dengan munculnya korupsi di berbagai lini, bukan dilakukan oleh insan-insan buta kecerdasan, akan tetapi para pelakunya justru mereka-mereka yang mengenyam pendidikan bahkan hingga tingkat tertinggi di negeri ini.

Padahal sebagaimana yang diungkapkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab II pasal 2 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sedang pada pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi, guru yang hebat adalah guru yang mampu menangkap peran-peran hebat setiap siswa dalam proses pembelajaran, sebagaimana penuturan Thomas Ehlrich “Great teachers have great expectations about what students can do. But they are careful to let students know what is expected of them. Students like the rest of us, want to be appreciated, and great teachers show a real interest in their students.”

Mendamba Guru Agama Paham Generasi Muda

Peran institusi pendidikan dalam hal ini sekolah, setidaknya dituntut optimal. Sekolah bukan hanya sebagai wadah pendidikan yang mengedepankan kemampuan berfikir secara kritis, akan tetapi dituntut untuk mampu membekali lulusannya dengan kemampuan analitis. Guru sebagai panglima dalam kelas adalah sahabat bagi siswa untuk memfasilitasi kemahiran siswa dalam berfikir analitis menghadapi keadaan bangsa.

Jika setiap guru mampu memahami kondisi dan keadaan bangsa diluar beban pekerjaan mereka yang memang patut untuk dimaklumi betapa banyaknya, ditambah lagi dengan beban keluarga yang ada dalam diri mereka sehari-hari. Tentulah setiap guru akan menerapkan fungsi kontrol secara optimal atas setiap anak muridnya. Namun hal ini mesti mendapat dukungan dan kemudahan dalam segi praktek. Sebab, sejauh ini slogan-slogan penentangan radikalisme tidak mengakar hingga dapat dipahami secara praktis oleh para pendidik. Padahal peran para pendidik sangat dibutuhkan dalam mendukung kemajuan pendidikan suatu bangsa.

Pendidikan agama ditengah sekolah menjadi moda yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Sebab, generasi muda membutuhkan bimbingan dan arahan sesuai dengan tingkat kecerdasan masing-masing. Peranan guru agama di sekolah, tidak hanya aktif dalam kelas, akan tetapi arahan dan bimbingan mereka dibutuhkan di keseharian para anak didiknya. Suka atau tidak, kebutuhan setiap manusia terhadap nilai-nilai spiritual bukan hanya terjadi sepekan sekali, akan tetapi setiap hari. Terlebih, dalam satu sekolah memiliki jumlah masyarakat yang sangat banyak. Sehingga, sudah sewajarnya revitalisasi pendidikan keagamaan harus diimplementasikan dengan corak berkesinambungan. Bukan lagi hafalan dan tugas serta ulangan harian. Namun, pendidikan agama pun semestinya ditambah porsi pembelajarannya secara kontinu dengan menyisipkan nilai-nilai moral, etika, dan pemahaman dalam mengimplementasikan ajaran agama.

Peranan guru khususnya pada mata pelajaran agama Islam sangat besar pengaruhnya untuk mengajarkan kepada peserta didik bagaimana ber-Islam secara baik dan benar. Ber-Islam penuh dengan kedamaian dan senantiasa mengedepankan nilai-nilai kasih sayang. Ada beberapa hal yang harus menjadi catatan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agama Islam ditengah para peserta didik.

  1. Meningkatkan tingkat penguasaan iptek dari para guru agama Islam

Hari ini para guru agama Islam baik yang dibawah kesejahteraan Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan Nasional diberbagai sekolah Indonesia memiliki porsi minimal terhadap penguasaan aksesori digital seperti internet dan berbagai macam aplikasi di dalamnya. Padahal banyak diantara peserta didiknya yang sudah melek akan teknologi informasi, diperparah lagi bahwa penyebaran ideologi-ideologi radikalisme dan terorisme sangat bertebaran disajikan di berbagai laman internet. Baik propaganda dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Bentuk-bentuk propaganda tersebut sebagian memang sudah terbantahkan oleh mereka-mereka kaum muslimin yang peduli terhadap generasi bangsa, sehingga tak jarang propaganda tersebut menjadi lemah. Namun jumlahnya tidak banyak, ditambah lagi kebijakan penutupan website-website berideologi radikalisme dan terorisme melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika lebih banyak hanya didasarkan pada asumsi laporan masyarakat. Sehingga, peranan guru agama Islam untuk memahami penguasaan dan penggunaan internet serta konten-konten di dalamnya dapat menjadi penyaring bagi anak didiknya, guru dapat menjelaskan kepada anak didik bukan lagi secara teoritis bahwa terorisme dan radikalisme adalah tindakan terlarang, akan tetapi bila guru sudah paham penguasaan dan penggunaannya, apa yang disampaikan kepada murid sudah terimplikasi dalam bentuk contoh, penanganan secara praktis, dan ajakan menjauhi konten-konten tersebut disertai pembahasan lebih rinci.

Hal demikian bersesuaian dengan apa yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari Malik bin al Huwairits radhiyallohu ‘anhu, “Kami pernah mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu kami adalah para pemuda sedang usia kami berdekatan. Lalu kami bermukim bersama beliau (di Madinah) selama dua puluh hari. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat lembut. Tatkala beliau melihat kami begitu menginginkan untuk bertemu keluarga kami, atau kami merindukan mereka, beliau pun menanyakan perihal keluarga yang kami tinggalkan, lalu kami menceritakannya. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Kembalilah kepada keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka, dan perintahkanlah mereka –dan beliau menuturkan beberapa perkara yang dapat aku hafal atau tidak dapat aku hafal- dan shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat. Jika waktu shalat tiba, hendaklah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam kalian.’ (HR. Bukhari no 7246)

Hadits diatas menjelaskan tentang kemengertian beliau terhadap dunia anak muda, serta memahami apa yang anak muda pahami sesuai masanya dan memberikan pengarahan disertai dengan pembahasan secara rinci. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, bagi seorang guru agama Islam dalam mengenal lebih dalam peserta didiknya, setidaknya ia mesti menguasai apa yang menjadi trend secara global terhadap peserta didiknya.

  1. Hendaknya para guru agama Islam lebih pro-aktif dalam melihat kondisi anak didiknya.

Selama ini memang pembelajaran agama Islam lebih dititik beratkan kepada hal yang bersifat normatif, namun tidak menyentuh sisi aplikatif. Guru agama Islam hanya mengajak, akan tetapi minim memberikan contoh. Padahal dari sekian banyak para pelaku radikalisme dan terorisme tak sedikit dari mereka disebabkan oleh dorongan sosial ekonomi yang lemah. Para guru pun sebaiknya memiliki kemampuan untuk memahami karakter psikologis siswa didiknya, agar ia mampu memberikan penilaian bila dijumpai karakter-karakter yang mengarah kepada bentuk-bentuk resistensi anak didiknya dalam pengajaran agama.

Penilaian terhadap karakter peserta didik diperlukan guna menemukan bagaimana pembelajaran tepat dapat diterapkan, sebab setiap manusia diciptakan dengan kondisi berbeda, sehingga dibutuhkan penguasaan berbeda pula dalam memahami pribadi-pribadinya. Tidak sama tentunya antara mereka yang berasal dari ekonomi lemah diajarkan dengan model pembelajaran seperti anak-anak orang berada. Mereka yang hidup di desa dan seakan terisolasi, tentunya tidak bisa diberikan pendidikan ala anak-anak kota, dan seterusnya.

Maka, sudah sepatutnya pemahaman terhadap karakter stiap anak didik menjadi poin yang patut diperhatikan. Betapa hebatnya pemaparan Augusto Cury (2003) yakni, beri kepribadian anak anda makanan kebijaksanaan dan ketenangan. Ceritakan petualangan anda, saat-saat kegalauan hati dan lembah emosi yang telah anda lalui. Jangan biarkan tanah memori anda menjadi pulau mimpi buruk; jadikan sebidang kebun yang diidamkan oleh merka. Ingatlah bahwa biasanya kita tersandung batu kecil, bukan sebuah gunung batu. Batu kecil ketidaksadaran ini dapat menjadi gunung besar.

Memahami kondisi siswa didik ini telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, selaku guru besar pendidikan agama Islam di seluruh dunia. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no 1145, “Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengutusku ke Yaman, aku berkata: ‘Bagaimana mungkin engkau akan mengutusku, sedangkan usiaku masih muda, dan aku tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai masalah peradilan.’ ‘Ali melanjutkan ucapannya: “Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda: ‘Pergilah, sesungguhnya Allah akan memantapkan lidahmu dan menunjuki hatimu.’” ‘Ali berkata:”Setelah itu, memutuskan perkara diantara dua orang bukanlah hal yang berat untukku.”

  1. Ajarkan anak didik dengan teladan dan perbuatan

Pembelajaran dengan teladan serta perbuatan dapat menjadi magnet penting bagi anak didik. Bahkan peribahasa mengatakan, actions speaks louder. Hal tersebut mengesankan secara jelas betapa contoh perbuatan dari seorang pengajar adalah hal penting untuk membantu mempertegas pelajaran yang diberikan. Imam Ibnu Abi Jamrah dalam Bahjatun Nufus jilid I hal 187 pernah mengatakan, “Mengajari dengan perbuatan dan contoh lebih mengena daripada ucapan semata.”

Guru agama Islam dituntut untuk pro aktif dan memberikan porsi besar untuk peduli terhadap anak didiknya. Perhatian serta arahan disertai dengan teladan adalah contoh-contoh pengajaran yang dilakukan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu oleh Imam An Nasa’i dalam Sunan-nya di jilid V no 269, ia berkata: “Pada pagi pelemparan Jumrah ‘Aqabah, Rasulullah berkata ketika beliau berada di atas kendaraan: ‘Pungut dan bawakan untukku.’ Lalu aku memungut beberapa batu kerikil untuk beliau gunakan melontar. Setelah itu, aku meletakkannya di tangan beliau, dan beliau mulai menggerak-gerakkan kerikil-kerikil yang ada di tangannya itu”

  1. Berikan pembelajaran penuh inspirasi dan motivasi.

Sejauh ini pembelajaran agama Islam mendapat sorotan untuk melakukan revitalisasi dalam menghalau aksi kaderisasi radikalisme. Namun, seakan hal tersebut sulit dilakukan, mengingat pelajaran agama Islam yang diajarkan dibangku sekolah terlebih sekolah negeri dan sekolah swasta dengan standar nasional hanya memiliki pelajaran agama Islam tidak lebih dari 4 jam setiap pekan. Kalah dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran umum lainnya. Namun apabila seorang guru pandai memainkan perannya ketika pembelajaran berlangsung. Sewajarnya guru dapat menyuguhkan pelajaran dinamis dan memiliki nuansa penuh inspirasi dan motivasi dengan bahasa mudah dimengerti. Ia dapat mendesain pembelajaran agama Islam untuk tak lagi dianggap sebagai pelajaran membosankan dan pelengkap jadwal mata pelajaran.

Pelajaran agama Islam mampu unggul ditengah pelajaran umum lainnya, walaupun hari ini indikator keluhuran agama dan budi pekerti seseorang sudah jarang menggunakan standar nilai akademis. Berbeda halnya dengan dahulu, dimana pelajaran agama menjadi primadona. Hari ini justru orangtua murid lebih khawatir bila nilai matematika mendapatkan 5 dibandingkan nilai pelajaran agama Islam.

Pembelajaran penuh inspirasi dan motivasi dapat memberikan semangat dan pengaruh positif bagi peserta didik. Jika guru menyampaikan secara seru, mengagumkan, penuh ekspresi, dan tentunya dengan luapan energi dan wawasan yang selalu dinanti murid. Kelak transformasi Islam dengan wajah dan rona damai akan sangat mendapatkan penerimaan serta membekas di hati siswa. Tentu kelak siswa tak segan lagi apabila mengutip ucapan guru agamanya di tahun-tahun mendatang kala ia tak lagi berseragam.

Model pembelajaran tersebut telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ada seorang laki-laki mendatangi beliau dan berkata: ‘Aku tidak dapat menghafal Al Qur’an sedikit pun, karenanya ajarkanlah aku bacaan yang dapat menggantikannya.’ Lalu beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Bacalah, subhanallahi, walhamdulillahi, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billahi ‘aliyyil adzhim.’ Lantas orang itu berkata:’Wahai Rasulullah, bacaan ini untuk Allah, lalu apa untukku?’ Beliau menjawab: ‘Bacalah: Allahumma arhamni wardzuqnii wahdinii.’ Tatkala orang itu berdiri, dia berisyarat dengan tangannya (kedua tangannya) seperti ini (bahwa ia menyampaikan telah menghafal kalimat tersebut). Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Kedua tangan orang itu telah dipenuhi dengan kebaikan.’

Begitulah pembelajaran mengagumkan, seorang guru agama tidak lagi mencari alas an akan kurangnya jam mengajar yang ia dapatkan, selama ia mampu mengemasnya dengan atraktif serta membekas dalam dada muridnya. Kelak kenangan dan pelajaran akan selamanya tersimpan dalam sanubari. Demi pembelajaran agama yang rahmatan lil ‘alaamin.

Proses pembelajaran agama Islam menjadi garda terdepan untuk menghalau aksi radikalisme bila disampaikan secara tepat. Fasilitas yang memadai selain dari kesejahteraan yang telah ditingkatkan juga menjadi hal istimewa bila pemangku kepentingan bersungguh-sungguh dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Para guru agama Islam, suka atau tidak, mereka juga adalah para dai atau penyeru kebaikan ditengah masyarakatnya. Bukan di sekolah saja, sebab stigma masyarakat berkembang bahwa para pendidik agama Islam adalah sekaligus juru dakwah ditengah komunitas masyarakat Islam. Etika dan moral patut untuk dikedepankan bagi mereka para pendidik agama Islam, sebab kelak mereka adalah contoh yang tidak hanya diambil ucapannya, akan tetapi ditiru pula perbuatannya. Jika akhlak dan kecerdasan telah berpadu dengan kepekaan sosial, bukan tidak mungkin guru agama Islam dapat menjadi agen misi penebar ajaran Islam lebih sopan, tertib, indah, dan damai. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s