Guru Idaman, Pendidikan Harapan

Setiap kita tentu mengetahui betapa banyak jasa dan pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru terhadap muridnya. Berkat kiprah seorang guru, sebuah bangsa mampu menjadi maju. Berkat peran guru pula, suatu negara menjadi lebih bijaksana dan berbudaya, karena usaha guru para tunas-tunas muda mendapatkan kedewasaannya dalam menjalani kehidupan mereka. Peranan dan kiprah itu adalah sebuah amunisi dalam negara dan bangsa. Peran serta guru adalah bukan partisipasi minim hasil, akan tetapi justru peranan utama dalam mengemban cita-cita sebuah kata merdeka.

Guru adalah pendekar bangsa, meretas kebutaan dan kegelapan dalam sebuah masa demi generasi yang kelak akan cerah masa depannya. Bukan lagi hambatan dan rintangan dalam memberikan pengajaran yang diperhitungkan oleh para guru, akan tetapi sebuah nilai pengabdian, kesabaran, tanggung jawab, dan perhatian yang lebih menjadi titik temu mengapa seorang guru mau untuk berjibaku menaklukkan medan dan kenyataan dalam sebuah keadaan yang menyulitkan sekalipun.

Siapapun kita, tentu wajib menghormati jasa guru, sebab dengan tangan-tangan mereka, seorang manusia mereguk pengalaman, menjadi para pimpinan, meraih kebahagiaan, dan menetapkan kedewasaan. Bakti guru terhadap negeri akan terus ada dan mengalir hingga dunia menutup seluruh muaranya.

Menjadi Guru Idaman

Mungkin sudah banyak diantara kita memahami dan mengerti akan jasa setiap guru. Banyak buku dan media-media pembelajaran yang telah kita reguk untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman berharga. Menjadi guru ialah soal ketulusan dan kesadaran. Panggilan-panggilan itu senantiasa hadir demi menjadikan sosok-sosok guru sebagai teladan serta panutan.

Hampir di seluruh penjuru negeri ini, setiap institusi dalam sebuah provinsi menggelar pendidikan untuk jenjang sebagai tenaga pengajar atau yang erat kaitannya dengan ilmu-ilmu kependidikan. Banyak sudah fasilitas-fasilitas untuk menciptakan guru disediakan oleh pemerintah negeri ini, antusiasme mereka dalam memajukan bangsa melalui pendidikan adalah pilihan yang sama sekali tak ada kesalahan di dalamnya. Buku-buku bertema pendidikan dan pengajaran dari level sederhana hingga tingkat luar biasa tersedia dengan mudah di berbagai media ruang. Tingkat pendidikan untuk jenjang ini disediakan hingga tak ada gelar lagi selain pakar. Kompetensi, kompetisi, dan kualifikasi diujikan untuk mendapatkan tenaga pengajar dan pendidik sesuai dengan tingkat penguasaan tertentu dan di fasilitasi secara total oleh pemerintah. Sungguh berbahagia tentunya menjadi seorang guru. Jasa dikenang, bakti diteladan, cinta disimpan.

Akan tetapi, perjuangan menetapkan nilai-nilai ideal belum mendapatkan hasil apabila tidak dilanjutkan untuk menjadi sosok idaman. Standarisasi menghasilkan tenaga pendidik ideal seringkali dilakukan, akan tetapi standarisasi menjadikan guru idaman hingga kini belum ditemukan format formulanya. Sebab menjadi guru idaman ialah soal menyenangkan, menenangkan, dan memenangkan.

Seorang guru idaman itulah potret guru penuh dengan penerimaan.dalam hal menyenangkan, mereka selalu berusaha untuk menjadikan murid sebagai sosok-sosok penuh harapan di masa depan. Memberikan pengajaran tanpa jemu dengan reaksi-reaksi hasil menyenangkan dari muridnya. Bukan berarti pembelajaran menjadi tak efektif sebab hanya bersenang-senang saja. Akan tetapi justru pembelajaran yang dihasilkan ialah pembelajaran penuh inspiratif. Siswa belajar tanpa tekanan, dan siswa memiliki banyak imajinasi dan penggambaran. Dalam hal ini seorang guru bukan lagi sebagai sosok menakutkan dengan membawa mistar kayu panjang, atau membawa pukulan terbuat dari bambu. Guru justru datang dengan banyak ide dan gagasan yang siap untuk mendapatkan penerimaan dari setiap siswanya.

Guru idaman adalah sosok menenangkan, mereka sadar bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Kegagalan memiliki konsekuensi, keberhasilan pun demikian. Sehingga memacu setiap guru untuk tenang adalah tugas penuh konstan. Ketenangan adakalanya terusik dengan ganguan-ganguan dari luar maupun dalam diri guru itu sendiri, ketenangan adakalanya kalah dengan gejolak emosi yang berasal dari lingkungan. Akan tetapi begitulah seni dari ketenangan, ia harus dipertahankan. Sebab apabila seorang guru mampu menampilkan sosok dengan penuh ketenangan, kelak setiap siswa akan menghargai, mengikuti, dan meniru apa yang diperbuat. Kebanyakan problem besar muncul adalah bukan karena masalah itu besar, akan tetapi problem itu muncul karena bisa jadi seseorang tidak memiliki jiwa-jiwa penuh dengan ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan. Sehingga untuk menjadi guru idaman, bakat dan kompetensi saja tidak cukup, sebelum dilengkapi dengan ketenangan yang akan menjadikannya siap menghadapi berbagai macam rintangan dan keberhasilan.

Seorang guru idaman akan senantiasa memenangkan hati setiap muridnya dalam keadaan apapun. Dalam posisi ini setiap murid adalah sosok penting, setiap murid memiliki andil dan peran sama dalam kelas maupun lingkungan sosialnya, dalam keadaan ini setiap siswa memiliki kesejajaran. Guru yang memenangkan, ia tidak pernah berat sebelah, membedakan murid dalam mendapatkan pengajaran, apakah ia cerdas atau tidak, berasal dari keluarga kaya maupun miskin, meskipun yatim ataupun pengusaha, dhuafa atau pegawai swasta orangtuanya. Tidak, akan tetapi guru yang memenangkan hanya memiliki satu indikator kemenangan dari muridnya. Yakni setiap murid menjadi apa yang mereka inginkan ketika mereka telah dewasa nanti dan melakukan apapun untuk apa yang mereka inginkan tersebut dengan sebaik-baiknya. Begitulah guru yang senantiasa memenangkan hati setiap muridnya, mereka berdiri untuk sebuah sejarah di masa mendatang. Guru-guru tersebut ada hari ini, untuk anak-anak masa depan. Sehingga bagi seorang guru dengan karakter senantiasa memenangkan muridnya, kata kesulitan sudah terhapus dalam kamus hidupnya berganti menjadi ketulusan.

Memberikan Pembelajaran Optimal

Guru kini tidak hanya cukup bermodal dengan gaya mengajar tradisional dan konvensional, seorang guru dituntut untuk memberikan pembelajaran penuh visi disertai pengembangan strategi sesuai dengan tuntutan lingkungan serta kondisi jaman. Pola pembelajaran atas bawah sebagaimana layaknya komandan dengan prajurit mungkin dinilai sudah tak lagi relevan dengan keadaan hari ini. Pendidikan egaliter atau penuh dengan kesetaraan menjadi tuntutan yang harus disegerakan. Sebab setiap anak hari ini adalah anak-anak yang berbeda zamannya dengan seorang guru kini. Maka, langkah praktis adalah bukan lagi bagaimana seorang anak mengikuti gurunya, akan tetapi bagaimana seorang guru dapat menyejajarkan posisi dengan muridnya pada beberapa keadaan tertentu di sebuah proses pembelajaran. Model-model pembelajaran terus mengalami kemajuan secara kontinu, evolusi dari setiap formula di uji coba dengan eksperimen-eksperimen sederhana untuk mendapatkan kualitas pembelajaran optimal dan hasil pendidikan maksimal.

Untuk mendapatkan pembelajaran optimal dibutuhkan sumberdaya, alat, media, serta pendukung-pendukung lainnya. Dengan terpenuhinya hak-hak dasar pendidikan tersebut, kelak setiap guru akan mampu mengembangkan metodologi pembelajaran dengan hasil maksimal. Tidak lagi guru merasa sulit untuk menerangkan pelajaran bersifat eksakta apabila laboratorium IPA terpenuhi dengan alat peraga, tidak lagi guru kesulitan untuk melakukan observasi kondisi sosial pada pelajaran IPS apabila perlengkapan untuk terjun ke lapangan sudah memiliki kemampuan dan pengalaman, tidak ada lagi guru yang kesulitan mengucapkan tatabahasa serta aksara bila laboratorium bahasa diberikan dukungan secara maksimal. Seorang guru adalah seorang regulator yang menghubungkan medium-medium alat dengan objek pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu memberikan dukungan maksimal demi majunya pendidikan di Indonesia.

Hasil-hasil maksimal yang didapatkan oleh para siswa bukan hanya sekedar nilai-nilai akademis semata, akan tetapi hasil-hasil dari pendidikan ialah terkait dengan kecakapan hidup, pola pikir anak didik, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, serta memiliki karakter yang baik serta luhur budi pekerti. Tujuan-tujuan itu pula yang menjadikan Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan misi untuk sebuah kecerdasan dan kebaikan karakter.

Peranan guru juga dituntut untuk menghadirkan pembelajaran interaktif dan mampu mengasah daya kritis setiap siswanya. Hal ini juga merupakan hasil dari metodologi pendidikan yang baik dan tepat guna. Untuk mendapatkan hasil tersebut, tak salah bila kita mengutip prinsip dari pakar Quantum Teaching yakni Bobby de Porter terkait bagaimana menerapkan pola pembelajaran kreatif bagi siswa untuk mendapatkan hasil yang dibangga nantinya. Falsafah prinsip tersebut terimplementasi dalam rancangan kurikulum yang ia buat untuk diterapkan di SuperCamp miliknya, dengan tujuan belajar adalah sebuah proses menyenangkan, maka tiga unsur pendukung harus disertakan, yakni keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup, dan tantangan-tantangan fisik (Bobby de Porter, 1992).

Unsur-unsur tersebut relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Sebuah negara yang memberikan kebebasan dalam menentukan format dan ide-ide pendidikan. Sudah saatnya anak-anak muda di Indonesia diberikan bekal pendidikan sesuai dengan tingkat kemampuannya, paradigma pendidikan dasar yang elementer seperti agama, moral, dan kecakapan hidup tetap menjadi utama. Jika demikian, suksesi dari kesemua itu ialah terwujudnya cita-cita pendidikan yang tertuang dalam amanat dasar negara Indonesia.

Tuntutan untuk memberikan pembelajaran optimal dengan hasil maksimal ialah proses penyesuaian dari sebuah efektivitas pembelajaran. Model-model yang kaku, jenuh serta menegangkan menjadi sajian sepi manfaat dan sarat tekanan. Kreatifitas dalam mengemas ide-ide pembelajaran kini menjadi sesuatu yang dituntut oleh para guru. Bagaimana caranya agar ide-ide murid memiliki kesesuaian dengan ide para pendidik. Bagaimana psikologi dapat dijadikan sebagai sebuah rumusan identifikasi, bagaimana imaji dapat menjadi sebuah nilai tatanan potensi. Semua itu terpusat dalam sebuah kerja-kerja kreatif yang dilakukan oleh seorang guru.

Dari awal, setiap guru harus memahami bahwa ia adalah lakon bagi banyak kerja-kerja profesi. Seorang guru adalah aktor kala memerankan pembelajaran penuh dengan konsentrasi utama, seorang guru juga dokter kala muridnya terluka dalam sebuah istirahat di sekolah, seorang guru adalah supir dikala anak didiknya tak kunjung dijemput, seorang guru adalah teknisi dikala salah satu alat tulis milik muridnya rusak, dan seorang guru pun kadang dapat bertukar jenis kelamin kala guru wanita secara sontak naluri mengerjakan pekerjaan pria dan sebaliknya. Kerja-kerja kreatif adalah kerja-kerja memukau, guru adalah sosok yang from possible to be impossible.

Lantas bagaimana menyajikan agar bayangan-bayangan implementasi kreatif tersebut hadir ditengah pembelajaran, Bobby de Porter mengejawantahkan formulanya dalam buku fenomenalnya, Quantum Learning. Pertama, ingatlah sukses-sukses anda di masa lalu baik yang biasa maupun yang menakjubkan, kedua yakinlah ini dapat menjadi terobosan, ketiga latihlah kreativitas anda dengan permainan mental, keempat ingatlah bahwa kegagalan membawa keberhasilan, kelima raihlah impian dan fantasi anda, keenam biarkan kesenangan memasuki kehidupan anda, ketujuh kumpulkan pengetahuan dari tempat lain, kedelapan pandanglah situasi dari segala sisi, kesembilan bersihkan pikiran anda dari asumsi-asumsi, dan terakhir ubahlah posisi anda sesering mungkin.

Jika pembelajaran kreatif telah menemui muara maknanya, mengharapkan siswa menjadi figur-figur yang kritis dan pembelajaran interaktif pun otomatis akan dicapai dengan sendirinya. Namun jika guru masih menempatkan posisinya pada usaha-usaha stagnan dari jaman lampau dan di modifikasi hanya sebatas penyesuaian. Yakinlah, hal demikian hanya akan menihilkan usaha yang telah dibangun lama dalam sebuah bangku-bangku sekolah.

Menakar Efektifitas Pembelajaran

Pembelajaran interaktif sebagai usaha awal menghadirkan pola pikir kritis tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selain usaha-usaha kreatif diatas, pembelajaran interaktif hadir dengan memperlakukan para manusia didik sesuai dengan kondisinya, bukan dengan dilema atau bias belajar. Oleh karena itu dibutuhkan guru yang mampu mengajar secara efektif.

Guru yang efektif adalah mereka yang selalu memperdalam keahliannya dalam pengajaran agar pengajaran yang dilakukannya bermanfaat untuk murid luar biasa yang dididiknya. Keefektifan para guru dapat dilihat dalam dua aspek, yaitu banyaknya tujuan pembelajaran yang dicapai oleh murid dan pola pengajaran yang berhubungan dengan pembelajaran seperti waktu, tenaga, dan usaha yang dicurahkan oleh guru. (Jamila, 2005).

Dari keefektifan pengajaran maka akan menunjukkan guru yang mengajar adalah orang efisien dengan ciri-ciri sebagai berikut; mempunyai kemandirian yang tinggi, mempunyai pendidikan yang baik, mempunyai pengetahuan dan minat dalam bidang yang diajar, memahami prinsip dasar dalam proses pembelajaran, mementingkan keberhasilan murid, bersikap adil, menjelaskan suatu hal dengan terperinci dan jelas, berpikiran terbuka, menyenangkan murid, menggunakan teknik dan metode pengajaran yang efektif, dan dapat menjaga jalannya proses pembelajaran dalam kelas. (Olivia & Henson, 1980 dalam Jamilah, 2005).

Sudah saatnya pembelajaran efektif dikemukakan, efektif dan kreatif menjadi penghubung temu dengan interaktif secara positif. Suasana akrab dapat tumbuh, kondisi hangat dapat terus bertambah, serta apapun yang diurai serta dipaparkan oleh seorang guru tentu akan mendapat penerimaan penuh dari para murid. Menjadi guru interaktif adalah menjadi guru yang mampu meramu rencana, dan menyaji cara. Semua di dasarkan pada instink dan feeling guru tersebut dalam melakukan pola pikir bijaksana untuk dianalisa dan di kritisi oleh para siswa.

Jangan harap, pola pikir kritis dapat hadir jika seorang guru tak bijaksana di depan para muridnya. Jangan harap pola pikir kritis dapat ada jika para guru masih bergaya menjemukan layaknya para penjaga kuburan dengan pacul dan sekop ditangan dan tugas yang tak pernah ada perubahan. Guru merupakan sosok multitalenta, banyak cerita dengan seduhan tawa, duka serta lara untuk memompa semangat juga inspirasi, dan banyak memberi makna bagi para siswa.

Bagaimana Nabi Mengajarkan Sahabat

Berbicara soal pembelajaran interaktif dan pola pikir, ada baiknya bila diakhir tulisan ini mengetengahkan bagaimana seorang Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh di dunia memberikan pengajaran dan pembelajaran. Sejatinya apa yang beliau lakukan ialah berasal dari bimbingan wahyu. Sehingga perbuatan, ucapan, dan tindakan beliau adalah postulat mutlak yang tak membutuhkan aksioma untuk meruntuhkannya. Dalam pembahasan terakhir ini akan diketengahkan bagaimana sosok Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengajaran terhadap sahabatnya, yang semoga dapat menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita yang hari ini ingin menyajikan pembelajaran interaktif dan penuh dengan asahan pola pikir kritis siswa.

Beliau memberikan pengajaran sesuai dengan keadaan dan dengan siapa pelajaran itu diberikan, hal ini agar mendapatkan hasil yang baik dan dapat dipahami oleh setiap mereka yang menghadiri majelis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu tatkala para sahabat Nabi bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada Hari Kiamat?” Rasulullah bersabda, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat bulan di malam purnama?” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapat gangguan ketika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihatNya seperti yang demikian itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman, ‘Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah mengikutinya…-dan seterusnya-.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Ad Darimi).

Begitulah pembelajaran yang dilakukan Rasulullah terhadap para sahabatnya, benar-benar menampilkan pola pengajaran penuh interaktif dan memberikan keleluasaan untuk mengajak para sahabat berfikir dan menggali lebih dalam wawasan yang mereka miliki. Nabi bukanlah sosok yang mudah untuk menyalahkan seseorang, akan tetapi beliaulah sosok yang justru senantiasa sabar membimbing dan mendampingi para sahabat-sahabatnya yang kala itu menjadi murid beliau. Hal tersebut pun ditiru oleh para sahabat tatkala mereka memberikan pengajaran kepada murid-murid mereka dikemudian hari.

Salah satu hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyajikan pola pikir kritis dari para sahabat selaku murid beliau serta menghadirkan pembelajaran interaktif adalah sebagaimana yang diketengahkan oleh hadits melalui jalur periwayatan Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya dan dia seperti orang Muslim, beritahukan kepadaku pohon apakah itu?” maka orang-orang langsung teringat kepada jenis pohon yang ada di pedalaman. Abdullah bin Umar berkaa, “Maka terbetik di hatiku bahwa pohon itu adalah kurma, namun aku merasa malu.” Kemudian mereka berkata, “Beritahukan kami pohon apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dia adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).

Tekhnik pembelajaran yang benar-benar memberikan hiburan dan mampu mengajak setiap orang yang hadir secara seksama menuangkan apa yang diketahuinya. Tidak memainkan satu peran pembelajaran, tapi komunikasi dua arah diketengahkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran bagi para muridnya.

Penutup

Metode pembelajaran untuk memberikan nuansa interaktif dan mampu mengasah pola pikir kritis anak didik takkan terwujud bila setiap guru tidak memahami perencanaan, cara, dan hasil yang diinginkan dari pembelajaran yang dilakukan. Untuk menjadikannya demikian dibutuhkan pengajaran efektif serta kreatf sebagai bekal utama dan dilanjutkan dengan pengembangan model-model pembelajaran. Hal tersebut diupayakan agar mendapatkan hasil maksimal untuk kemajuan bangsa secara umum dan secara khusus menjadikan pendidikan lebih bermutu, berbudi, berkarakter, dan memiliki cita rasa tinggi. Kedepan dibutuhkan sebuah satuan standar mutu untuk menjadikan sosok guru bukan hanya ideal, akan tetapi idaman dengan berpijak pada dasar menyenangkan, menenangkan, dan memenangkan.

Iklan

6 pemikiran pada “Guru Idaman, Pendidikan Harapan

  1. Realitanya kini, banyak para guru yang inginnya serba instan. Melanjutkan pendidikan S1 di PT yang memudahkan asal ada uang. Yang penting dapat gelar Sarjana. Duhh…. miris sekali ya. Saya rasa sulit mencari guru idaman di zaman sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s