Menggelitik Dengan Kritik

Pada salah satu kesempatan, khalifah kedua dari sejarah khulafaur rasyidin, yakni Umar bin Khattab radhiyallohu anhu pernah mengatakan, “Janganlah engkau memberikan sangkaan yang buruk pada kalimat yang muncul dari saudaramu, selama engkau bisa membawanya kepada maksud yang baik.” (Syu’abul Iman 6/323 karya Al Imam Baihaqi).

Sungguh indah perkataan tersebut, perkataan yang mengalir dari lisan seorang Umar bin Khattab. Seorang khalifah yang bergelar Al Faruq, sosok yang sangat ditakuti syaithan dimana apabila syaithan dan dirinya bertemu dalam satu gang niscaya syaithan akan memilih jalan lain dibandingkan harus bertemu dengan seorang Umar.

Perkataan tersebut mengajak kita untuk selalu dapat berfikir positif dari apapun yang keluar dari lisan teman bicara kita. Menganggap positif itu adalah senantiasa menjadi pendengar yang baik dan berusaha semaksimal mungkin memahami isi dari perkataannya. Sosok yang baik ialah sosok yang dapat membawa ucapan setiap teman bicara kepada hal positif, tidak memotong pembicaraan maupun menyergah secara tiba-tiba.

Namun di masa kini, sosok-sosok pendengar yang baik seakan hilang dari bumi pertiwi. Setiap orang seakan-akan mengambil bagian untuk mengomentari banyak hal, sekalipun ia tidak memiliki ilmu dan memahami konteks dari setiap perkara yang dikritiknya. Dengan leluasa dari lisan meluncur kata kritik, adakalanya pedas dan menghabiskan cela tanpa sisa namun tak sedikit pula kritiknya menggugah jiwa, atau parahnya lagi kritikannya membawa petaka luar biasa.

Sejatinya dalam Islam, kritik itu dibolehkan. Para ulama di generasi emas agama ini senantiasa melakukan kritik. Salah satu metode kritik terkemuka adalah metode kritik dalam hal perawi hadits dan terkait dengan permasalahan sanad (rantai periwayatan) hadits. Banyak kitab yang dikarang oleh para ulama tentang penjabaran sosok-sosok pembawa hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Metode kritik tersebut bernama al jarh wa ta’dil, jarh diistlah kan sebagai celaan, sedangkan ta’dil diistilahkan sebagai pujian.

Kritik dibenarkan dan merupakan salah satu kebaikan jika menghasilkan kemaslahatan atau kemanfaatan bagi banyak orang. Namun kritik sangat diharamkan tentunya jika menyangkut kewibawaan seseorang dan ditujukan kepada selain kebenaran, seperti ia mengkritik sesuatu hanya untuk membeberkan aib seseorang. Sehingga fitnah tersebar dan merajalela. Padahal para ulama terdahulu apabila satu sama lain saling diskusi dan didalamnya terdapat perkara-perkara yang memungkinkan adanya kritik, mereka akan mendahulukan kebenaran. Bukan ego pribadi dan ambisi sementara semata. Contoh yang indah adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Syafi’I dalam perkataannya, “Tidak ada seorang pun yang mendebatku melainkan aku tidak memperdulikan munculnya kebenaran apakah dari lisanku atau dari lisannya.” Perkataan Imam Syafi’I tersebut menyiratkan makna bahwa sebuah kebenaran harus menjadi panglima dalam setiap perbedaan pendapat.

Sunnguh sekarang ini kata kritik seakan berkonotasi negative. Kritik lebih banyak diartikan dengan membeberkan atau mengoreksi suatu masalah namun tidak menghasilkan suatu solusi. Diantaranya ialah muncul orang-orang yang bisa jadi hanya mengedepankan kata ‘seharusnya’ dan ‘mestinya’, kata-kata ‘sebaiknya’ dan ‘jika saja’ itu seakan hilang, padahal kritik yang baik ialah kritik yang tak hanya menjabarkan masalah, namun juga harus merinci sebuah solusi. Fenomena itu ditambah lagi dengan munculnya sosok-sosok yang gemar mengkritik namun tidak mau dikritik. Sosok-sosok tersebut adalah sosok yang berkeras hatinya dan menganggap dirinya sempurna. Menganggap kritikan sebagai cela dan mengkritik sebagai celah. Lidah memang tak bertulang, namun sungguh fatal jika disalahgunakan.

Kaidah yang terbaik tentunya adalah merubah kata kritik menjadi nasihat. Sebab, dalam Islam, nasihat lebih bermakna dibandingkan dengan sekedar kritikan. Terlebih lagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita dalam sabdanya, “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para shahabat) bertanya. “Untuk siapa (wahai Rasulullah)? Beliau bersabda, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi umumnya kaum muslimin.” (HR. Muslim 1/74).

Sungguh indah ajaran Islam, kesempatan terbuka luas bagi siapapun untuk senantiasa memberi nasihat. Dan tentunya nasihat lebih bermanfaat dibandingkan kritikan. Secara bahasa nasihat memiliki kekuatan menarik dan daya positif. Sedangkan kritik biasanya lebih diasumsikan sebagai suatu hal negative. Sudah saatnya kita untuk dapat lapang dada dalam menerima kritik. Kebenaran harus dikedepankan diatas segalanya. Jangan sampai kita bagai penonton sepakbola, mengomentari pemain satu persatu seakan-akan dirinya lebih jago dibandingkan dengan yang bermain sepakbola tersebut.

Sebagai penutup, alangkah indahnya nasihat Imam Ahmad bahwasanya seseorang juga mesti memiliki daya kritik jika dihadapannya terdapat tindakan kemungkaran atau kesalahan. Karena kritik akan lebih efektif dibandingkan hanya diam dan menggerutu atas keadaan yang penuh penyimpangan. Imam Ahmad pernah ditanya, “wahai Imam sesungguhnya aku berat untuk mengatakan fulan demikian dan demikian. Maka imam ahmad menjawabnya dengan jawaban, jika engkau diam dan aku juga diam maka kapan seorang yang bodoh dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang keliru. (Al Kifayah fii Ilmi Riwayah 1/46) Sebagai insan yang memiliki kesalahan, maka penulis menerima kritik selapang-lapangnya selama hal tersebut diatas konstruksi kebenaran bukan sekedar perdebatan tanpa kejelasan sudah saatnya pula bagi kita untuk mau menerima kritikan, selama kritikan tersebut membantu diri kita untuk menjadi lebih baikl lagi. wallahu ‘alam bii shawwab. (Abu Usamah di Banyumas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s