Salah Siapa? Dosa Siapa?

Musibah bencana senantiasa akan mengiringi kehidupan manusia. Namun suka serta bahagia juga mengiringi disela-sela silih berganti diatasnya. Hal demikian itu tidak terlepas dari ketetapan dan ketentuan Allah Ta’ala, sebagai bentuk representasi pula terhadap rukun iman yang terakhir yakni mengimani qadha dan qadar Allah Ta’ala. Allah pun menegaskan dalam firmannya bahwa musibah dan bencana ialah bagian dari perjalanan manusia yang kesemuanya telah ditetapkan di lauhul mahfudz beberapa ribu tahun sebelum manusia diciptakan. Sehingga adanya musibah dan bencana itu tentunya selalu dsertai denmgan izin Allah Ta’ala, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At Taghabun : 11)

Sebagai seorang muslim kita wajib meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengatur alam semesta beserta seisinya. Adakalanya Allah menurunkan suatu musibah namun itu ternyata yang terbaik bagi orang tersebut, namun adakalanya Allah menurunkan suatu kenikmatan, namun kenikmatan tersebut ternyata adalah kenikmatan semu yang membinasakan. Hanya Allah yang Maha Mengetahui atas apa yang dikehendakinya sedangkan manusia baru mengetahui hikmahnya bisa jadi setelah lewat beberapa kejadian atau anugerah yang telah diterimanya, itulah rahasia Allah atas setiap kejadian, sebagaimana firman Allah, “…Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216). Setiap manusia hanya diberikan kekuatan oleh Allah Ta’ala yakni kemauan untuk bertawakal, dalam setiap ikhtiar harus diikuti dengan sabar, dalam setiap sabar selalu dibarengi dengan permintaan hasil yang terbaik dari Allah Ta’ala.

Musibah memang silih berganti menjejaki bumi pertiwi ini, Negara yang gemah ripah loh jinawi dan terkenal dengan nirwana dunia ketika dahulu, kini menjadi daerah rawan bencana. Setiap tahun selalu ada anggaran dana Negara yang keluar khusus untuk mengantisipasi peristiwa atau kejadian yang diakibatkan oleh bencana. Jika dipelajari lebih dalam, apakah alam yang semakin menua, ataukah karena ulah tangan manusia semua ini ada.

Takdir Allah tentunya sudah pasti ada dalam setiap peristiwa baik bahagia maupun duka, sebab takdir itu telah tertulis jauh hari sebelum Allah menciptakan kehidupan di alam semesta ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22-23).

Ketahuilah saudaraku, bisa jadi musibah yang diterima di negeri ini disebabkan karena lalainya penduduk negeri ini dari mengingat kepada Allah. Dibuai oleh dunia dan dibiaran hawa nafsu terikat dengan dunia. Bagaimana tidak, telah menjadi rahasia umum di perkantoran besar, kesibukan telah menyergap banyak pegawai disana. Shalat ditunda hingga akhir waktu, sedangkan gaji minta disegera. Ketika aurat dipertontonkan dengan bebas disetiap jalan-jalan ibukota, ketika masjid menjadi sepi melainkan hanya diisi kalangan tua saja, ketika para orangtua telah tidak dibaktikan lagi oleh anaknya, dan ketika para pembantu telah melahirkan anak majikannya. Semua itu mudah dan bisa sangat biasa, sebab begitulah kemungkaran, semakin banyak yang mengamalkan, maka semakin legal pula pelaksanaannya. Tata nilai dan etika telah jauh dari kehidupan bernegara, korupsi dibiarkan tumbuh subur, kemiskinan dibiarkan menurun ke anak cucu, kesejahteraan hanya berputar di gedung perwakilan-perwakilan dan pemerintahan yang rakyat tidak boleh masuk kedalamnya apatah lagi mengetahui apa yang terjadi disana.

Ketika Allah telah dijadikan yang kedua sehingga harta dan tahta menjadi utama, ketika pesan Nabi dikalahkan oleh pesan-pesan atasan dalam bekerja giat dan bekerja cepat tepat. Maka dimanakah agama diletakkan selain di masjid saja, dimana agama menunjukkan eksistensinya selain hanya pada perayaan hari besarnya saja, dan dimana pula kita dapat melakukan ketaatan kala disekeliling justru mengkalkuasi pendapatan atas kecurangan yang dilakukan.

Memang tidak semua demikian, namun sedikitnya bisa menjadi sebagian besar jika budaya kerusakan dibiarkan. Luar biasanya lagi justru musibah datang ke tempat yang jauh dari kota besar, jangankan politik dipikirkan, urusan perut sehari-hari saja masih belum terbayang untuk beberapa hari kedepan. Masyarakat dari bagian bangsa ini, yang memilih para pejabat negeri ini, meskipun tak kenal siapa mereka dan darimana hubungan saudara. Datang ketika ada acaranya saja, dan ketika telah terpilih justru memilih asyik diatas tumpukan uang yang berbentuk pipih.

Begitulah fenomena kerusakan yang telah tampak di muka bumi, maka mudah bagi Allah untuk menimpakan semua bala petaka dan musibah gulana kehadapan hambanya, tentu ini semua untuk kebaikan hamba itu sendiri seandaninya hamba tersebut mau mengambil pelajaran diatasnya. Sungguh benar perkataan Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah kala mengomentari firman Allah Ta’ala, “Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah : 155) lalu ditafsirkan oleh Ibnu Qayyim dengan ucapan, “Andaikan tidak ada cobaan dan musibah di dunia ini, niscaya manusia akan tertimpa penyakit sombong, bangga diri, dan kerasnya hati. Semua itu akan membawa kebinasaan baik di dunia dan akhirat. Maka dengan rahmat-Nya yang agung, Allah memberi musibah pada sekali waktu, sebagai penjagaan dari penyakit berbahaya ini. Maha Suci Allah dengansegala rahmat-Ny atas ujian dan cobaan ini.” (Zaadul Maad fii Hadyi Khairil Ibaad 4/179).

Sungguh kita telah melihat semua bencana dan musibah terjadi dihadapan mata telinga kita, banyak korban berjatuhan, dan itu semua semestinya menjadikn kita lebih mengetahui eksistensi untuk apa kita hidup dan diciptakan oleh Allah Ta’ala. Sudah saatnya kita membenahi dari diri sendiri, dari lingkungan dan kebiasaan kita, serta dari nilai ibadah dan ketaatan kita kepada Maha Pencipta, Allah Ta’ala. Agar apa yang terjadi benar-benar menyiratkan pesan mendalam seperti pesan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam Tashliyah Ahli Mashaib hlm 226, “Musibah yang engkau terima dari Allah adalah lebih baik bagimu daripada kenikmatan yang melalaikanm dari mengingat Allah.”

Maha Benar Allah atas firmanNya, “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum : 41). Wallahul musta’an wa ilaihil musytaka. (Abu Usamah, 14 Dzulhijjah 1431 H)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s