Begitu Lalu Cerita Itu

Entah kapan waktu itu, sekitar medio 2008 seingat saya. Dimana akses internet tidak semeriah dan semurah hari ini. Friendster sebagai media sosial yang paling berjaya dan bisa jadi sebagai gong media sosial pertama seantero Indonesia berhasil menyedot perhatian mereka-mereka yang baru pertama kali belajar soal internet. Hingga identik buka internet pasti buka Friendster. Sempat mengalami jaya hingga kurun waktu 2 tahun, lalu tenggelam karena berbagai macam pendatang dari banyak media social lain muncul satu-persatu.

Entah bagaimana cerita itu bermula, namun suka atau tidak, satu sama lain diantara pemilik akun yang memiliki satu semangat dan satu pemahaman. Semangat untuk berteman dan pemahaman dalam beragama serta pemahaman bahwa menikah hanyalah dengan lawan jenis. Seru memang, darisana ada sebuah jalinan persahabatan yang hingga hari ini bertahan sekalipun satu sama lain juga sibuk dengan urusan masing-masing.

Ketika itu, mungkin kami bisa berinteraksi sangat dekat. Bahkan hingga mengetahui kartu masing-masing. Euforia menikah menjadi topik dan tema yang senantiasa menarik. Dimana pun berkomentar disana pula kata nikah pasti selalu terucapkan. Lantas persahabatan itu bukan sebatas pada interaksi online saja, melainkan sudah menembus saling jumpa satu sama lain, saling jelas melihat kepribadian, dan ada beberapa pula saling kecewa walaupun hal tersebut tak berlangsung lama.

Usai jejaring sosial semakin banyak peminatnya, semakin pula sahabat bertambah. Maka semakin itu pula inovasi untuk ekspresi di dunia maya bermunculan. Saya masih ingat ketika ada seorang yang buka akun di Multiply, maka berbondong-bondong akun Multiply dipatok. Seorang buka akun blog di WordPress maka temannya pun membuka akun di WordPress bahkan ada yang memiliki beberapa akun.  Walaupun akhirnya di Multiply kembali berteman dengan teman yang sama, walaupun akhirnya di WordPress pun di komentari oleh teman yang sama. Tapi itulah persaudaraan. Satu sama lain saling menunggu postingan, menanti digosipkan dan berharap gosipnya menjadi kenyataan, serta menanti datangnya kajian dimana satu sama lain saling berjumpa tatap muka atau sedikit mentraktir makanan dan minuman untuk saudaranya.

Benarlah teman, ukhuwah itu mahal. Tak dapat dibeli dengan uang, tak dapat digadai dengan janji, namun bisa terbalas dengan senyuman dan sedikit obrolan ringan setelah kajian di salah satu pojok rumah makan. Mahal teman.

Hari ini, cerita sudah berubah, jaman sudah berganti, usia sudah bergerak, kedewasaan semakin bertambah. Diantara kami sudah saling memiliki pasangan hidupnya masing-masing. Ada yang menikahi apa yang pernah di-isukan sebelumnya, ada yang menikah karena hadirnya perantara satu sama lain, ada yang menikah karena memang seringkali ia menyebut-nyebut nama pasangannya hari ini ketika itu, dan ada pula yang menikah karena memang telah menjadi incaran sejak lama.

Hari ini pula apa yang dicita-citakan dan diungkapkan sekalipun tidak tersiar pada beberapa kalangan menjadi jelas. Sebagian diantara kami telah mendapatkan setengah dari kesuksesannya, sebagian diantara kami masih juga ada yang memendam cita-cita lama untuk beristri lagi, sebagian diantara kami ada yang ternyata bekerja di area yang sama. Itulah rahasia Allah yang hanya Dia-lah Mengetahui dan Menghendaki.

Apapun itu, hari ini diantara kami telah menjadi ayah, calon ayah, ibu, suami, istri, dan calon ibu. Begitulah kehidupan. Mungkin suatu nanti akan terulang banyak pelajaran, satu sama lain saling menikahkan anak mereka, satu sama lain saling membantu saudaranya yang dahulu adalah sahabatnya. Meringankan beban mereka, menjadikan apa yang pernah kita luangkan kala itu dengan waktu interaksi lama menjadi sebuah cerita dan rajutan nostalgia.

Izinkan saya mencolek sebagian diantaranya :

Ibu Dokter yakni Istri saya sendiri, Al Akh Andita Sely Bestoro dan Mamahnya Naura si Penjual Labella, Al Akh Muhammad Bahron dan Istri yang semoga Allah memberikan balasan dengan ganti yang terbaik atas kehilangan anak ke-2nya, Al Akh Yaufani Adam beserta Ibu yang masih suka kucingkah hingga hari ini?, Al Akh Zevian dengan Ibu Guru,  Al Akh Barkan Hadi bersama dengan Ibu Guru Mariana, Al Akh Hermansyah dengan Bu Dokter Gigi. Dan beberapa ibu-ibu lain yang tidak bisa saya sebutkan namun saya yakin diantara kita tahu persis siapa mereka. Serta beberapa bapak-bapak yang saya terlupa untuk menyebutnya sekalipun saya teringat akan Al Akh Adi Abdullah, Al Akh Rikhal Mutanabbi, Al Akh Didit Fitriawan, Al Akh Aulia Abu Hanif dan teman-teman lainnya.

Semoga apa yang pernah dilalui menjadi bagian dari sedikit cerita untuk anak cucu kita. Semoga Allah memperkenankan kepada kami untuk menjadi bagian dari tujuh golongan yang Dia naungi di hari ketika itu setiap manusia mengharapkan naungan dari Allah.

Wallahu ‘Alam bii Shawwab

*siapa yang sampai sekarang masih suka Online malam di YM dan masih bertukar foto..cung..tunjuk tangan…

(Bekasi, 17 Maret 2012. 10:59)

Iklan

4 pemikiran pada “Begitu Lalu Cerita Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s