Tambah Usia Dengan Saling Silaturahmi

Tidak ada yang lebih indah bagi seorang muslim selain ia selalu diperhatikan oleh saudara muslim lainnya. Manusia sebagai sosok social yang senantiasa membutuhkan manusia-manusia lain disekitarnya senantiasa selalu butuh banyak hal untuk melengkapi kehidupannya. Tak ada kesuksesan tanpa ada dukungan lingkungan sekitar, tak ada kegagalan tanpa ada sebab dari factor lingkungannya. Oleh karena itu nasihat dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah hendaklah seorang muslim dapat memilih saudaranya yang terbaik dan dapat saling memberikan manfaat bagi dirinya, serta dirinya pun dapat memberikan manfaat bagi orang yang berhubungan dengannya. Seperti perkataan seorang alim bernama Malik bin Dinar, “Setiap saudara, teman dan sahabat yang tidak bisa memberikan nilai tambah dalam urusan agama anda, maka putuskanlah persahabatan dengannya.” (Abu Nu’aim Al Ashfahaniy dalam Hilyatul Auliyaa’ 6/248) lagi-lagi, sebuah indicator yang semestinya kita letakkan dalam berhubungan dengan orang lain ialah, apakah hubungan tersebut dapat memberikan manfaat agama gabi kita. Manfaat agama disini bukan berarti setiap saat bertemu selalu ada petuah nasihat, manfaat ini bisa pula berupa wasilah atau perantara-perantara kepada ketakwaan.

Salah satu wasilah dan perantara itu bernama silaturahim. Silaturahmi memiliki banyak manfaat dari sisi agama tentunya. Bisa jadi ketika silaturahim seseorang mendapatkan rezeki dari orang lain, yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allah atas rezekinya tersebut, bisa jadi pula silaturahim tersebut menjadi sebab ia mendapatkan jodoh yang dengannya ia dapat membina mahligai rumah tangga diatas bingai keimanan dan penghambaan kepada Allah, dan seterusnya.

Silaturahmi merupakan salah satu dari sekian banyak perintah Allah Ta’ala. Allah berfirman tentang silaturahmi ini, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An Nisa : 36). Dari ayat tersebut Allah memesankan bahwasanya menjalin kekerabatan menjadi perintah yang utama setelah penyembahan kepada Allah, dan dengan silaturahim itu sifat dan karate seseorang dapat terlihat sebagaimana diakhir ayat yang Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri yang bisa jadi disebabkan ia tak pernah menjalin silaturahim dengan mereka-mereka yang disebutkan ayat diatas, pertemanan yang dijalin hanya dengan golongannya saja sehingga menyebabkan mereka terjerumus dalam kesombongan dan bangga diri serta merendahkan orang tua, anak yatim, maupun fakir miskin. Wallahu ‘Alam

Jalinan silaturahim merupakan bagian dari rantai ukhuwwah yang apabila disatukan dapat menyatukan hati banyak pihak dan kalangan. Dengan silaturahim kepekaan hati dapat diasah, ketajaman pikiran dapat dicerahkan, serta merasa adanya diri ini juga karena berkat adanya eksistensi orang lain. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun jauh-jauh hari telah memesankan akan pentingnya silaturahim dan menempatkan silaturahim juga dapat menjadi sebab masuknya seseorang kedalam surga, sebagaimana ketika ada seoranglaki-laki dating kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang amalan yang dapat memasukanku ke surge dan menjauhkanku dari neraka?” lantas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali kekeluargaan.” (HR. Bukhari dari jalan Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al Anshari)

Nabi menyandingkan mulianya silaturahim dengan shalat, dan zakat. Berarti ini menampakkan bahwasanya silaturahim adalah amalan mulia. Amalan yang tak hanya menambah rezeki seseorang, melainkan juga sebagai sebuah amalan yang dapat memperpanjang umur. Sebab dalam silaturahim biasanya kebahagiaan dan kegembiraan akan muncul, dan panjangnya umur disini bukan bermakna keluar dari garis takdir yang telah Allah tetapkan, melainkan panjanganya umur ini bisa jadi berupa sebuah makna akan kebahagiaan yang menyelimuti jiwa dan dengannya seseorang merasa sehat raga dan pikirannya.

Silaturahmi pun juga tidak hanya saling membalas kunjungan satu sama lain. Melainkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun mendefinisikan silaturahim dengan bahasa lainnya pula yakni, “Bukanlah penyambung silaturahim dengan yang sesuai. Akan tetapi, penyambung silaturahim adalah yang apabila telah terputusnya hubungan kekeluargaan lantas ia menyambungnya kembali.” (HR. Bukhari)

Sungguh silaturahim dapat menjadi episentrum yang luar biasa dalam sejarah hidup dan kehidupan manusia, dengannya kedekatan dan keakraban kembali terikat, rasa hasad dan dengki dapat sirna dan hilang, segala kebencian dan dendam permusuhan dapat diredam, dan segala bentuk tuduhan dapat terselesaikan dengan meluruskan kesalahpahaman sekiranya ada hal demikian. Silaturahim adalah sebuah gerakan yang mesti bergerak ditengan arus globalisasi tanpa henti, tekhnologi yang semakin memudahkan semestinya menjadikan silaturahim tak terbatas lagi dengan kendala jarak maupun waktu. Seseorang bisa saja bersilaturahmi dan saling sapa melalui media digital yang ada, akan tetapi tetap tatap muka adalah sesuatu yang lebih utama.

Perlu pula diketahui bersama, bahwasanya silaturahmi bisa juga menjadi penangkal datangnya bencana yang kini marak di negeri kita. Silaturahmi menumbukan rasa saling empati dan simpati dalam kehidupan seseorang tentunya. Maka jika silaturahmi digalakkan ditengah ilklim kenegaraan bumi pertiwi ini, niscaya bencana bisa jadi Allah tak timpakan diatasnya. Sebab bencana dan musibah bisa jadi ada dengan tak pernahnya kita menjalin silaturahmi disebabkan apatisme kehidupan pribadi serta idealism ego diri. Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih disegerakan siksaannya oleh Allah terhadap pelakunya di dunia serta yang disimpan untuknya diakhirat yaitu tindakan aniaya (kedhaliman) dan memutuskan hubungan kekeluargaan.” (HR. Abu Faud dan Tirmidzi serta dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya).

Maka, marilah kita memaksimalkan silaturahmi kepada kerabat kita, sdahkah kita memperhatikan keperluannya, sudahkah pula kita mengetahui keadaan rekan maupun saudara dari orangtua kita yang terupa kabarnya padahal dahulu memiliki hubungan erat, sudahkah pula kita menepis curiga dan kebencian terhadap saudara kita dengan mengunungi kediamannya, sudikah kita untuk meluangkan sedikit waktu dari banyaknya kesibukan yang dimiliki hanya untuk bertatapmuka dengan sanak saudara kita sebentar saja. Marilah saudaraku kita mulai amal mulia ini, sebab yakinlah silaturahmi yang mengantarkan kita kepada adanya kita di dunia, dan silaturahmi pula yang mengantarkan kita ke liang lahat akhir dunia ini. Sebab manusia tidaklah dapayt hidup seorang diri saja. Terakhir sungguh indah ucapan Baginda Nabi Muhamad shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekerabatn.” (HR. Muslim). Wallahul Waliyyut Taufiq. (Abu Usamah, 14 Dzulhijjah 1431 H)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s