Dimensi Kepemimpinan Dalam Islam

Seorang pemimpin ialah sosok yang memberikan bimbingan, pengaturan, pengawasan, keamanan, dan kenyamanan. Seorang pemimpin pada banyak keadaan merupakan cerminan dari rakyat. Bila kita melihat ada seorang pemimpin yang baik, maka bisa diisyaratkan bahwa rakyat di daerah kekuasannya baik pula. Bila pemimpin buruk, maka bisa jadi di daerah tersebut buruk. Sebab pemimpin dilahirkan dari rakyat, pemimpin tidak muncul dengan sendirinya pada masa kini. Saudaraku, sesungguhnya tidak akan kuat seseorang untuk mengendalikan hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak kecuali dengan kekuatan dan keteguhan kepemimpinan. Hajat hidup tersebut terkait dengan kebijakan, keputusan, program, dan pelaksanaan kesejahteraan serta kehidupan orang banyak. Dalam Islam tata laksana penerapan syariat Islam juga membutuhkan adanya kepemimpinan, sebab banyak bagian dalam syariat Islam yang harus diputuskan oleh seorang pemimpin, salah satunya ialah penentuan dan penetapan awal ramadhan dan penentuan Idul Fitri.


Kedudukan seorang pemimpin dalam perspektif syariat merupakan tempat mulia. Sehingga setiap rakyat harus memuliakan kedudukan para pemimpin dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala. Sebab para pemimpin itu yang kelak akan mengurusi urusan kaum muslimin secara keseluruhan.

Beberapa diantara kemuliaan tersebut ialah Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk patuh dan taat kepada seorang pemimpin yang dibersamai dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya. Serta ulil amri (pemimpin) diantara kalian.” (QS. An Nisaa : 59). Batasan ketaatan seorang hamba kepada pemimpin yang berkuasa atasnya ialah kewajiban selama pemimpin tersebut tidak mengajak kepada hal-hal yang berkaitan dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.

Kemuliaan lain yang harus diperhatikan seorang rakyat kepada pemimpinnya ialah, dilarang mencela dan menghinakan kesalahan mereka, akan tetapi hendaklah setiap kesalahan yang meeka lakukan diluruskan dengan cara yang bijak serta penuh kebajikan. Sebagaimana perkataan salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik yakni: “Kalangan tua dari para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami (mencela penguasa). Mereka berkata, ‘Janganlah kalian mencela pemerintah kalian, janganlah melakukan tipudaya terhadapnya, jangan pula membencinya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya (keputusan) urusan itu sangat dekat.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 2/488).

Pemimpin yang adil juga mengantarkan dirinya untuk mendapatkan naungan dari Allah selama mereka memutuskan segala sesuatunya berlandaskan nilai dan syariat Islam. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah ada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari beberapa uraian tersebut maka sepatutnyalah seorang pemimpin berlaku adil dan berlaku jujur dalam melaksanakan kepemimpinannya. Ada beberapa perspektif Islam soal kepemimpinan ideal.

Pertama, sudah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang pemimpin untuk takut dan taat kepada Allah serta menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai keteladanan dalam melakukan kepemimpinannya. Sebab tidaklah sebuah kepemimpinan di dunia ini yang lebih baik selain kepemimpinan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. seorang tidak melaksanakan kepemimpinannya diatas hawa nafsu dan cenderung kepada kebutuhan pribadi dan keluarganya. Sebab pemimpin yang meletakkan Allah dan Rasul-Nya sebagai tujuan maka ia akan mendapat kemenangan, firman Alllah Ta’ala, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatrikan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah : 24).

Ia mementingkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia mendapatkan pertolongan dari Allah dengan cara ia menolong agama Allah, ia mementingkan urusan kaum muslimin dan ia juga memberikan hak-hak umat agama lain.  Dengan adanya pemimpin yang menjadikan keimanan dan ketakwaaan sebagai landasan, maka kelak rakyat akan mengikuti keimanan dan ketakwaan yang ada pada diri pemimpinnya. Karena semangat itu akan saling menular, demikian halnya dengan keimanan. Jika sudah terwujud keselarasan antara pemimpin dan rakyatnya dalam hal keimanan dan ketakwaan maka Allah akan menurunkan keberkahan diatasnya wilayah mereka pun sebaliknya dengan keburukan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf : 96).

Kedua, hendaklah seorang pemimpin menegakkan hukum Allah dalam melaksanakan kepemimpinannya dan tidak mengajak kemaksiatan kepada para rakyatnya. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi  wa sallam, “Hai orang-orang Muhajirin; lima perkara, jika kami ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. (1) Tidaklah muncul perbuatan keji pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang sebelum mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan hidup, dan kezaliman penguasa terhadap mereka. (3) Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan pula dari mereka turunnya hujan dari langit, kalaulah bukan karena hewan niscaya Allah tidak akan menurunkan hujan diantara mereka. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allah dan Rasul-Nya melainkan Allah akan memberi kekuasaan kepada musuh atas mereka lalu merampas sebagian apa ang mereka miliki. (5) Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan hukum Allah dan memilah-milih hukum melainkan Allah akan turunkan perselisihan dari kalangan mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah).

Ketiga, pemimpin yang baik adalah adil dan tidak menegakkan kezaliman atas rakyatnya, mereka dekat kepada para rakyatnya. Hidup ditengah rakyat dan menunaikan hak-hak yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah pemimpin umat ketika itu, kekuasaanya meliputi beberapa bagian di dunia. Akan tetapi beliau adalah orang yang membaur dengan rakyatnya. Ia berada di pasar, membantu istrinya, duduk mengajarkan pelajaran-pelajaran penting bagi kaum muslimin kala itu, berjuang dan berjihad bersama rakyatnya, serta menafkahi dan bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.

Potret seorang Nabi sekaligus pemimpin umat kala itu ketika berada ditengah rakyatnya terekam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallohu ‘anhu. Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada ditengah para sahabat yang menjadi rakyat beliau dan mendapingi serta memberikan nasehat sebagaimana dijelaskan oleh penyampai hadits ”Rasulullah telah menasehati kami dengan nasihat yang menyentuh sehingga bercucuran air mata dan bergetar hati-hati. Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah berilah kami wasiat, seakan-akan ini adalah wasiat perpisahan.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah; dan mendengar serta taat, walaupun kepada budak Habasyi….” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Sejatinya masih banyak kewajiban pemimpin dalam bingkai syariat Islam atas setiap rakyatnya. Begitu juga belum terbahas bagaimana rakyat menyikapi kepemimpinan yang berada di wilayahnya ketika keadaan sulit maupun senang. Menjadi penguasa itu adalah mulia selama ia mampu mengemban amanah yang telah diberikan kepadanya. Menjadi penguasa pun bisa menjadi hina jika selama ia memimpin rakyat dipenuhi dengan bencana dan celaka. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Penguasa itu naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah akan menghinakannya pula.” (HR. Ibnu Abi Ashim).

Oleh karena itu dibutuhkan hubungan sinergis antara pemimpin dengan rakyat. Pemerintahan yang harmonis mendatangkan berkah, faedah, dan maslahah (kebaikan) bagi bangsa yang dipimpinnya. Pemimpin-pemimpin tersebut ialah pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bijak dalam memimpin, dan dekat dengan rakyatnya. Wallahu ‘alam bii shawwab. (Purwokerto, 31 Maret 2012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s