Menggagas Konsep Madani

Sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah penduduk terbanyak dan juga memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Indonesia sudah sangat mencukupi untuk dikatakan sebagai sebuah negara yang makmur dan sentosa. Indonesia memiliki banyak hal yang lebih unggul dibandingkan dengan bangsa lain. Keanekaragaman hayati, budaya, ras, dan suku yang memiliki jumlah banyak dan tersebar di seluruh nusa adalah sebuah asset berharga negeri ini.


Seandainya keseluruhan potensi tersebut dikembangkan dan ditambah lagi dengan pemanfaatan yang tepat, niscaya Indonesia mampu menjadi bagian dari negara-negara berpengaruh yang memimpin dunia. Akan tetapi, hal yang demikian kini perlahan sirna. Segala sesuatu menjadi hilang dan tanpa jejak. Kepentingan yang didasari motif keserakahan sebagai tabiat asal manusia yang seharusnya mampu menjaga bumi pertiwi ini justru malah menjadikan bangsa ini berada dalam posisi terpuruk. Indonesia semakin dilanda krisis yang berkepanjangan, dan menyebar keseluruh aspek kehidupan sehingga sangat akrab diistilahkan dengan krisis multidimensi.

Ironis memang, ditengah kemajuan pesat perkembangan dunia, Indonesia kini justru pada beberapa hal mengalami penurunan bukan kemajuan yang diharapkan. Padahal dengan jumlah mayoritas beragama muslim yang demikian itu dapat diasumsikan adanya kesamaan dan keseragaman dalam tujuan kehidupan berkenegaraan. Sehingga banyak orang yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara madani.

Istilah negara madani sendiri jika didefinisikan secara bebas ialah bermakna masyarakat yang menjunjung tinggi peradaban, bangsa yang mampu mandiri, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Hal demikian menjadi harapan beberapa pemikir-pemikir muslim bangsa ini. Namun semakin jaman berganti, semakin pula realisasi hilang tanpa arti. Dari sisi peradaban, negeri ini semakin jauh akan peradaban yang dicita-citakan seiring keluhuran moral, etika, dan budaya yang perlahan hilang. Dari sisi kemandirian, nampaknya pelan tapi pasti bangsa ini dirundung tagihan hutang tiada henti dari bangsa-bangsa lain. Sedangkan dari menghargai nilai kemanusiaan, beberapa kali Indonesia menjadi sorotan negara lain terkait banyaknya aksi-aksi yang menjurus kepada pelanggaran hak asasi manusia.
Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita cermati bersama untuk mewujudkan masyarakat madani yang diidam-idamkan. Jika perwujudan masyarakat madani meminta peran dan sumbangsih besar dari kaum muslimin. Maka hal dibawah ini sekiranya dapat menjadi sumbang saran untuk terciptanya masyarakat madani.

Pertama, bangun bangsa ini bersama dengan kesamaan visi dan karakter. Pancasila apabila diimplementasikan secara riil tentu akan mampu membawa bangsa ini kepada kemajuan dan penciptaan kepada masyarakat mandiri. Sebagai sebuah negara, Pancasila sudah di desain oleh para pendiri bangsa untuk mampu menjawab tantangan yang akan datang. Pancasila juga sudah disiapkan untuk menjadi karakter khas bangsa Indonesia. Namun perlahan perwujudan kepada nilai-nilai Pancasila hilang tanpa arti. Pancasila hanya menjadi langganan dibacakan saat upacara bendera di sekolah-sekolah negeri, di perhelatan hari nasional, dan diulang hafalkan saat ada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Ide-ide Pancasila sebagai sebuah gagasan pembentukan karakter bangsa pun memiliki kesamaan dengan ide-ide keislaman. Bila kita menilik sejarah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menempatkan landasan loyalitas dan ikatan kepada para sahabat-sahabatnya seperti yang terjadi pada saat Nabi membangun kembali peradaban di jazirah arab dengan agama Islam.

Kesamaan visi sangat penting untuk membangun sebuah bangsa. Dan sebagai seorang muslim, visi yang mengikat kita satu sama lain adalah apa yang disebut sebagai syahadat. Disana terpatri komitmen bersama untuk menjadikan Allah sebagai Sesembahan satu-satunya, dan menjadikan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan kehidupan satu-satunya dan itulah yang disebut sebagai tali agama Allah yang oleh Dia di dalam firmannya, “Berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali Imran : 103). Oleh karena itu visi bangsa ini adalah semangat kebersamaan membangun bangsa. Maka dibutuhkan solidaritas dan kebersamaan untuk membangunnya. Kesatuan dalam prinsip serta ideologi, dan kesamaan dalam bingkai kebangsaan.

Kedua, menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi. Hal ini penting ditengah arus kepentingan individu yang semakin banyak belakangan ini. Dimana pun hari ini kita jumpai keadaan pengaturan dari sistem negara ini tak terlepas dari adanya kepentingan baik pribadi maupun golongan. Padahal Islam sudah mengatur hal ini dengan baik, agar hendaknya seorang muslim itu senantiasa memperhatikan kepentingan bersama yang menghadirkan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan kepentingan individu atau golongan. Ingatlah setiap muslim adalah bersaudara sebagaimana penegasan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Juga pada hadits, “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan sulit tidur dan turut merasakan sakitnya.” (HR. Muslim).

Begitu tingginya kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan kedua orang sahabatnya sampai menyempatkan diri untuk bergadang seperti penuturan Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di dalam Sunan-nya, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bergadang bersama Abu Bakar untuk urusan kaum muslimin. Dan saya bersama keduanya.” Seandainya semangat itu ada, kelak bangsa ini akan kuat dan sejahtera dikarenakan munculnya rasa kasih sayang diantara sesama.

Ketiga, berusahalah untuk senantiasa berada dibawah naungan pemimpin. Karena sebagai sebuah bangsa kiprah pemimpin adalah kiprah yang memiliki urgensi nyata. Pemimpin yang mengatur, mengendalikan, dan bertanggungjawab atas masyarakat di suatu negara. Oleh karena itu dengan adanya kepatuhan di bawah naungan pemimpin yang sah dan telah dipilih bersama, maka biarkanlah ia bekerja dan mengatur segala hajat rakyatnya. Tugas seorang anak bangsa ialah mengikuti pemimpin bangsa. Sebagaimana ayah dengan putranya. Adapun apabila pemimpin tersebut melakukan kesalahan, maka diluruskan dengan cara bijaksana, tidak mencelanya di depan umum dan menjadikan harga diri serta kehormatannya rendah. Ini penting, sebab ketaatan kepada pemimpin yang telah diserahi amanah dari masyarakatnya merupakan pilar terwujudnya kehidupan masyarakat yang madani. Lihatlah apa yang ada pada masa dinasti-dinasti Islam. Berada dalam kesatuan pemimpin yang sah. Maka ketika pemimpin tersebut dijatuhkan secara paksa, dikritik habis dan dicela. Akhir kesudahannya justru membawa kepada kerusakan dan kehancuran sebuah peradaban. Alangkah mulianya ucapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ketaatan kepada pemimpin muslim seperti sabda beliau, “Barangsiapa memisahkan diri dari penguasa muslim dan merendahkan pemerintah maka ia akan menjumpai Allah sementara tidak ada wajah yang ia miliki di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad).

Keempat, hendaklah diantara kita senantiasa melakukan introspeksi. Sebab, bisa jadi tidak terwujudnya tata masyarakat madani hari ini dikarenakan adanya dosa diantara kita yang dengannya tertahan keberkahan dari Allah Ta’ala. Sehingga dengan senantiasa introspeksi akan memunculkan harapan untuk senantiasa memperbaiki keadaan bangsa ini dan Allah menyelamatkannya dari rangkaian adzab yang tak berkesudahan. Introspeksi sangat penting bagi warga negeri ini, untuk menyerahkan segala urusan dan meminta segala hajat perbaikan semata-mata kepada Allah Ta’ala. Kesalahan yang ada pada setiap individu jika terjadi secara bersama kelak akan memunculkan malapetaka. Maka hendaknya diantara kita untuk saling mengintrospeksi dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, senantiasa haus akan pengetahuan yang dengannya kelak akan saling berbagi manfaat. Pengetahuan dan keilmuan haruslah selaras dengan manfaat yang diberikan. Hal demikian dapat menjadikan rasa kepemilikan akan negeri ini serta terwujudnya nilai-nilai solidaritas dan cinta satu sama lain. Saling berbagi kepada saudaranya merupakan wujud kongkrit untuk membangun bersama negeri ini. Alangkah bahagianya kita sebagai seorang muslim ketika mendengar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah menjadikan  berseri-seri (dengan kebaikan dan kenikmatan) seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu menghafalnya kemudian menyampaikan kepada yang lainnya. Bisa jadi orang mempunyai pemahaman tetapi tidak tergolong orang yang faqih (paham dan mengamalkan), dan bisa jadi orang yang mempunyai pemahaman menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya….” (HR. Ahmad).

Berbagi pengetahuan akan meletakkan sendi-sendi kebersamaan dan merekatkan nilai-nilai persatuan. Jika sudah memiliki semangat ini, kelak optimisme kita akan terwujud. Sebab kesejahteraan bukan hanya untuk kita hari ini, tapi juga anak cucu kita dikemudian hari. Maka hendaklah jangan satu sama lain pelit akan ilmu dan pelit akan wawasan yang dimiliki. Janganlah hanya bisa mengkritik dan mengkomentari dengan keilmuan yang dimiliki namun tidak memberikan kontribusi riil selain provokasi kepada saudara-saudara lainnya sendiri. Pemerintah atau pihak terkait pun yang memiliki kekuasaan tentunya dengan tangan terbuka akan menampung aspirasi bila didalamnya terkandung manfaat bagi rakyat.

Semoga kelima langkah tersebut dapat menjadi sebuah sarana sumbang saran dari anak bangsa yang berharap perwujudan negara madani sebagaimana cita-cita para intelektual muslim yang menginginkan hal tersebut sejak lama. Tentunya apa yang disampaikan diatas hanyalah sebuah usaha dan upaya agar bisa menjadi bahan perenungan bersama. Semata-mata untuk menyadarkan dan mengingatkan kita bahwa perwujudan masyarakat madani ialah bukan satu atau segolongan orang saja. Cita-cita masyarakat madani haruslah menjadi impian bagi setiap anak-anak negeri. Kerja dengan satu persepsi, berbuat dengan satu semangat. Semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang subur dan makmur sebagai negeri yang terlimpah atasnya keberkahan, kejayaan, keamanan, dan kesejahteraan. Wallahu ‘Alam bii Shawwab. (Bekasi, 21 Maret 2012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s