Pemuda Dalam Serbaneka Berbhinneka

Indonesia adalah negeri yang penuh dengan keanekaragaman suku dan budaya, banyaknya perbedaan seperti budaya, agama, ras, suku, dan golongan. Di Indonesia semua hidup bersama saling bertoleransi dalam bingkai persatuan. Satu semangat dalam naungan Bhinneka Tunggal Ika, yakni berbeda-beda tetapi satu. Adanya perbedaan justru bukan untuk menimbulkan konflik satu sama lain. Melainkan untuk menyemai saling menghargai satu diantara sesama warga negara Indonesia.

Dari masa ke masa, Indonesia berada dalam satu kesatuan dan satu semangat. Itu sudah dibuktikan sejak jaman pra-kemerdekaan hingga jaman pasca kemerdekaan. Generasi bangsa saling bersatu untuk memerangi penjajah sekalipun ada perbedaan diantara mereka. Kita tentu ingat bagaimana peristiwa sumpah pemuda itu ada, bagaimana anak-anak muda Surabaya bergerak dalam pertempuran 10 November hingga mampu mengusir penjajah kala itu, semangat pemuda yang tergabung dalam Boedi Oetomo dan juga semangat Sarekat Islam. Menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menyatukan. Justru dengan perbedaan itu pula muncul sebuah kekuatan.

Hal demikian bukan hanya terjadi di Indonesia, jauh sebelumnya di masa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika Islam hadir dan turun ditengah banyaknya perselisihan dan pertentangan antar kabilah (kelompok) suku Arab masa itu. Muhammad muda hadir menyatukan barisan kabilah Arab. Dimana peristiwa penting kala itu sebagaimana yang diungkap dalam banyak kitab-kitab sejarah Rasulullah, yakni beliau berhasil menyatukan 4 suku yang berselisih mengenai siapa yang lebih berhak untuk memindahkan Hajar Aswad ketempatnya semula pasca dicuri oleh bangsa lain. Dengannya Muhammad muda diberi gelar Al Amin atau yang dipercaya.

Seharusnya semangat kebhinekaan diantara pemuda Indonesia hari ini harus senantiasa hadir dan dipertahankan. Benar lawan kita bukan lagi penjajahan secara fisik, namun lawan kita ialah globalisasi, arus budaya luar, dan juga serangan-serangan baik dari dalam maupun luar negeri yang menginginkan bangsa ini mengalami disintegrasi. Serangan bertubi-tubi tanpa kendali, pelan tapi pasti mulai menggerus kebudayaan negeri ini dari kelestarian.

Sulit mencari pemuda yang peduli terhadap bangsanya, akan tetapi tidak sedikit pula pemuda yang tergerak dengan kesadaran mereka masing-masing untuk berbuat dan menyelamatkan negeri ini dari hal-hal yang merusak stabilitas dan peradaban negeri. Mereka yang sadar, ialah mereka yang berbuat dan mau berletih-letih agar semata-mata negeri ini tetap kokoh berdiri. Mereka ialah pemuda yang terpanggil untuk berbuat dan menjaga negeri beserta elemen di dalamnya untuk tetap kokoh berdiri.

Indonesia membutuhkan pemuda berbhineka, yang tidak terkungkung dalam jerat suku ataupun agama. Sebab bangsa ini lahir dari keanekaragaman, oleh karena itu sejatinya keanekaragaman pula yang menjadi penyebab persatuan hingga hari ini.

Pemuda berbhineka atau pemuda yang toleran terhadap perbedaan adalah sesuatu yang juga dianjurkan oleh Islam. Selama hal demikian tentunya tidak melanggar syariat. Menghargai perbedaan untuk menjadikan sebuah bangunan, karena bangunan itu ada disebabkan adanya bahan-bahan yang saling berbeda. Mengokohkan dan member manfaat yang lebih besar bagi negeri.

Saudaraku, setidaknya ada beberapa proses yang mungkin bisa menjadi sumbang saran untuk menjadikan kebhinekaan itu bersamaan dengan apa yang diinginkan oleh Islam. Terlebih hal tersebut disasarkan kepada pemuda. Beberapa hal tersebut bila dilaksanakan secara konsekuen tentu akan menimbulkan persatuan bangsa.

Pertama, tidak saling melakukan diskriminasi sesama pemuda negeri. Sebab sampai kapan pun Islam menentang keras diskriminasi. Saling mencela antar suku dan rasa atau agama, sehingga memunculkan konflik bahkan pertikaian, jelas hal tersebut sangat dilarang oleh Islam. Maka dibutuhkan upaya untuk saling menghargai dan menghormati. Hal demikian juga bersesuaian dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya.(HR. Muslim no. 2564).

Tentu kita, para pemuda hari ini adalah bersaudara satu dengan lainnya. Maka sudah selayaknya kita memberi perhatian khusus kepada saudara lainnya tersebut. Dengan tidak saling melukai hati dan berjauhan atau membedakan satu dengan lainnya. Sungguh tidak selayaknya seorang muslim mengoyak kehormatan dan kemuliaan saudaranya sesama anak negeri bahkan sesama agama.

Kedua, meninggikan persamaan dan merajut persaudaraan serta memperlakukan satu sama lain dengan tabiat yang baik. Islam mengajarkan hal demikian, dalam Islam sekalipun seseorang berbeda madzhab selama ia masih menganggap ia masih saudaranya maka berhaklah atas hak saudaranya pula. Allah Ta’ala mengajak kaum mukminin untuk satu sama lain saling bersaudara, sebagaimana dalam ayat: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu…” (QS. Al Hujurat: 10).

Ketiga, janganlah saling berlaku kedzaliman antara seorang dengan orang lainnya terlebih ia adalah seorang muslim. Perhatikanlah bahwa Islam sangat membenci perbuatan dzalim. Sebab Islam sangat menjunjung tinggi persatuan diantara kaum mukminin sebagaimana di ayat sebelumnya. Dengan adanya persatuan niscaya rahmat Allah kelak akan turun kepada negeri ini dan berakibat pada keselamatan dan kesejahteraan berbangsa dan bernegara. Perhatikanlah bahwasanya islam membenci kedzaliman sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi.” Maka para sahabat berkata, “Orang yang terzalimi jelas kami tolong, lalu bagaimanakah cara menolong orang tersebut kalau dia yang melakukan kezaliman?” Beliau pun mengatakan, “Yaitu dengan cara mencegahnya dari perbuatan zalim itu.” (HR. Bukhari).

Keempat, saling menasehati satu sama lain. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda bahwa agama ini adalah nasihat, sebagaimana sabda beliau: “Agama (Islam) itu adalah nasehat.” (mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.” (HR. Muslim). Dengan nasihat maka akan muncul ide atau gagasan yang mengantarkan saudaranya kepada jalan kebaikan. Nasehat pun memiliki banyak adab dan tatacara, salah satunya ialah dengan tidak menasehati atau menegur kesalahan saudaranya di tempat umum, karena bisa jadi saudaranya tersebut akan merasa malu dan justru nasehat yang disampaikan tidak berguna bagi orang yang di nasehati atau malah menjadikan luas kesalahan saudaranya tersebut.

Kelima, bila ia melihat saudaranya salah atau berlaku khilaf baik itu disengaja atau tidak maka hendaknya sebagai seorang muslim ia memaafkan kesalahan saudaranya tersebut. Sebab bisa jadi dalam interaksi dan komunikasi ada kata yang terucap maupun salah. Ada hal yang menjadikan kecewa dan membuat marah saudaranya. Oleh karena itu saling memaafkan kesalahan dan meminta maaf adalah bentuk memuliakan saudaranya dan menyemai benih persatuan diantara perbedaan. Alangkah indahnya sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim).

Memaafkan merupakan sikap yang mulia di hadapan Allah, seperti firmannya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy Syuura: 40). Juga di dukung pula oleh sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf.” (HR. Muslim).

Keenam, hendaklah saling mendoakan diantara sesama, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10).

Ketujuh, berakhlak baik kepada saudaranya dengan sebaik-baiknya akhlak, akhlak yang baik merupakan cerminan seorang muslim. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memuji seseorang yang berakhlak baik sebagai seorang yang sempurna imannya, “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq-nya” (HR. Tirmidzi ). Merajut persatuan ialah bagaimana kita berinteraksi dan komunikasi dengan sesama. Demikian itu menuntut adanya akhlak yang baik. Karena akhlak baik akan mendatangkan ketenangan dan kerukunan.

Akhlak yang baik bisa berupa senyuman kepada saudaranya yang sejak dahulu hingga sekarang senyum masih menjadi budaya bagi masyarakat negeri ini. Hal tersebut juga merupakan kebaikan yang di dukung oleh sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu” (HR. Muslim). Akhlak baik juga bisa ditunjukkan melalui ringan tangan atau upaya untuk saling membantu saudaranya seperti sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan diantara bentuk perbuatan baik itu adalah bermuka cerah kepada saudaramu, serta menuangkan air ke bejana saudaramu” (HR. Tirmidzi).

Demikianlah semoga beberapa hal diatas dapat menjadikan para pemuda Indonesia berada diatas persatuan dibawah bendera kebhinekaan, persatuan yang solid dan kokoh akan menyelamatkan bangsa ini dari gerbang kebinasaan. Hal-hal diatas juga masih membutuhkan banyak dukungan lain, salah satunya ialah peran pemerintah secara khusus. Akan tetapi bukan disini pembahasannya. Insya Allah pada pembahasan berikutnya. Semoga Allah menjadikan negeri ini sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik, aman dan senantiasa mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala). Wallahu ‘Alam bii Shawwab. (Bekasi, 23 Maret 2012).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s