Muslimah Dalam Ruang Penuh Berkah

Tidak ada sebuah negara dalam perkembangan dan kemajuannya yang tidak melibatkan wanita di dalamnya. Hampir sebagian besar negara-negara di dunia menjadikan para wanitanya memiliki peran penting dalam memajukan dan ikut serta berpartisipasi membangun dan memajukan kesejahteraan sebuah bangsa. Wanita kini bukan hanya sosok nomor dua setelah pria dalam peranannya, terlebih di negara Indonesia. Melainkan peran pria dan wanita telah sama dan segala sesuatu harus memfasilitasi eksistensi keberadaan dan peranan wanita di dalamnya. Salah satu contohnya adalah kebebasan berserikat dan berkumpul yang tercantum dalam UUD. Disana di jelaskan bahwa perserikatan dan perkumpulan tersebut tidak hanya dominasi kaum pria. Oleh karena itu Indonesia pun pernah pula memiliki seorang kepala negara yang dipimpin oleh wanita.

Peran wanita dalam sebuah negara sangatlah vital. Sama halya dengan peranan wanita dalam keluarga. Ia tidak hanya sekedar melahirkan anak, akan tetapi membesarkan, merawat, mengasuh, dan membimbing anaknya hingga usia dewasa. Bahkan tak jarang ada wanita yang tengah renta pun masih mengasuh anaknya yang telah dewasa bahkan paruh baya. Peran wanita dalam keluarga juga sangat penting, sebab seorang wanita ialah ujung tombak dalam sebuah benteng rumahtangga. Ia mendampingi suami, mengatur anggaran dan pembelanjaan keluarga, serta menjalin komunikasi dengan sanak kerabat juga tetangga. Pun halnya disebuah negara, oleh karena itu negara Indonesia hari ini juga memberikan wahana yang luas bagi kaum wanita dalam keterlibatan dan partisipasinya untuk bangsa. Mengingat negara memerlukan jasa wanita dalam kemajuannya.

Pada masa jahiliyah sebelum Islam datang, wanita hanya diperlakukan sebagai alat pemuas kenikmatan dan memiliki anak wanita merupakan sebuah aib tersendiri. Oleh karena itu seperti pengakuan Umar bin Khattab sebelum ia masuk islam dahulu, bahwasanya ia pernah mengubur anak wanitanya hidup-hidup di masa jahiliyah. Sehingga ketika hidayah telah merasuk ke dalam dirinya dan kuat keimanannya, acapkali ia menangis kala mengingat perlakuan yang pernah diberikan kepada anak wanitanya ketika itu.

Saudaraku, Islam pun tidak memberikan batasan yang ketat terkait kiprah wanita dalam negara. Sebab Islam meyakini dan menganjurkan setiap pemeluknya untuk saling memberikan manfaat satu sama lain. Islam tidak melarang secara mutlak wanita untuk berkarya dan bekerja. namun, Islam hanya memberikan aturan dan penjelasan sejauhmana seorang wanita berkiprah dan berkecimpung dalam urusan yang di dalamnya menghasilkan manfaat bagi semua ummat. Namun, anjuran dan penjelasan tersebut juga tidak mengekang eksistensi wanita sebagai tiang negara yang dengannya sebuah fondasi kenegaraan tegak. Hal tersebut muncul karena Islam juga turut serta memuliakan wanita. Ada beberapa hal yang menjadi perspektif Islam dalam memberikan anjuran serta norma dan nilai syariat yang ditetapkan melalui beberapa firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, hendaklah kiprah wanita tidak melalaikan tanggungjawabnya sebagai fungsi utama yakni mengasuh, membesarkan, mendidik anaknya, mendampingi dan menghormati suaminya dalam keadaan suka maupun duka. Seorang wanita pun hendaklah tetap mentaati dan melaksanakan kewajibannya kepada Allah Ta’ala, sebab yang demikian akan mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala. Anjuran ini telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena  mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisaa : 34).

Ayat tersebut tentunya hadir untuk menegaskan batasan jelas soal sejauhmana kiprah wanita dan mulianya wanita dalam Islam. Dukungan itu pula muncul dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki’.” (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami; no 660). Ketahuilah, bagi keluarga wanita atau ibu merupakan pemimpin dan ujung tombak. Maka saudaraku msulimah hendaknya tidak menyia-nyiakan urusan pendidikan keluarga dikarenakan ambisi atas kehidupan dunia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah, suami, dan anaknya.” (HR. Bukhari)

Kedua, hendaklah kaum wanita tidak melanggar kodratnya dalam berkarya dan berkecimpung dalam kemajuan dan perkembangan negara. Hal demikian agar semata-mata batasan kesetaraan itu jelas. Kodrat seorang wanita ialah ia berkarya dan bekerja sesuai dengan kemampuan fisik yang ia miliki serta kehormatan dan kemuliaan-kemuliaan yang ia harus jaga sebagai wanita muslimah. Oleh karena itu Allah memberi ruang lingkup ideal kepada kaum wanita atas kiprah mereka agar tidak iri hati kepada kaum pria. Hal tersebt disebabkan kaum pria memang Allah lebihkan diatas kaum wanita seperti firman Allah, “Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (QS. Al Baqarah : 228). Oleh karena itu hendaklah wanita tidak berkarya dan bekerja melampaui kodrtanya atau berusaha ingin mengungguli kaum pria pada pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan rusaknya kemuliaan dan kehormatan wanita. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 32). Ada banyak lapangan amal yang menuntut seorang wanita dalam berkiprah seperti ia menjadi tenaga kesehatan untuk sesame wanita, ia menjadi pendidik, dan lain sebagainya.

Ketiga, hendaklah setiap wanita mendedikasikan dirinya pula tidak hanya bagi dirinya. Melainkan ia mendedikasikan dirinya juga bagi sesama hamba Allah. Dari sana wanita mendapatkan pahala kebaikan yang dihitung sebagai pahala sedekah atas dirinya. Sebab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada setiap wanita untuk senantiasa mensedekahkan harta yang mereka miliki dalam sabda yang beliau ucapkan disaat Haji Wada’ (Haji Perpisahan) beliau: “Wahai sekalian kaum wanita, bershadaqahlah! Karena aku melihat bahwa kalianlah orang terbanyak yang menghuni neraka. Lantas para wanita tersebut bertanya: ‘Dengan sebab apa wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘(karena) kalian banyak melaknat dan seringkali  ingkar terhadap kebaikan (yang diberikan oleh para suami). Aku belum pernah melihat diantara orang-orang yang minim dalam hal agama dan akal yang dapat mengendalikan jiwa seorang lelaki (suami) yang tangguh melainkan seseorang dari kalian.’ Mereka (para wanita) berkata: ‘Sisi apakah yang menunjukkan minimnya agama dan akal kami wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?’ lantas beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Bukankah persaksian wanita setengah dari persaksian lelaki?’ mereka berkata: ‘Ya’. Kemudian beliau menimpali: ‘Maka itulah diantara keminiman akalnya. Bukankah ketika dating masa haidhnya seorang wanita tidak melakukan shalat dan puasa?’ mereka (para wanita) pun menjawabnya: ‘Ya’. Dan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, disana letak keminiman agamanya.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu hendaklah setiap wanita mendermakan diri dan harta semampu yang dimiliki. Disebabkan wanita adalah salah satu makhluk yang lemah dari sisi akal dan amal. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas menjelaskan keminiman akal wanita dalam Islam yakni persaksian mereka ialah setengah disbanding pria. Dan minim dalam iman yakni ketika setiap pria bisa melakukan segala amal ibadah setiap waktu, akan tetapi bagi wanita tidak. Sebab mereka terhalang oleh tamu bulanan.

Wanita sebagai tiang negara ialah pondasi kokoh jika mereka memadukan antara tuntutan dan batasan syariat. Islam sama sekali tidak menghalangi dan membatasi secara ketat dengan larangan berat sebagaimana umat-umat terdahulu atau sosok-sosok wanita di masa Persia, yunani, dan peradaban kuno lainnya. Islam memuliakan wanita dengan cara-cara yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits dan ayat diatas.

Peran wanita semakin urgen lagi ketika ia mematuhi apa yang diperintahkan oleh suaminya selain ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dan Rasulnya. Agar kelak semakin bertambahnya jumlah kedurhakaan tidak menurunkan adzab dan bencana yang dating dari Allah Ta’ala. Seperti kisah umat terdahulu yang terjadi pada Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam firman Allah: “Allah membuat istri Nuh dan Luth erumpamaan orang-orang kafir. Keduanya dibawah pengawasan dua orang hamba yang shalih diantara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan kepada keduanya (yakni istri Nabi Nuh dan Nabi Luth disebabkan kedurhakaan mereka) : ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.” (QS. At Tahrim : 10).

Sosok wanita tiang negara salah satunya yang paling tepat dalam penerapan urgensi sehari-hari ialah ia melahirkan dan menjadikan anak-anaknya sebagai anak-anak bangsa yang mampu memajukan negara. Sebab tidak ada seorang anak yang tumbuh kembang tanpa didikan dari orangtuanya. Wanita dalam Islam ialah tempat pendidikan pertama bagi anak dan keluarganya. Keluarga hebat taat syari’at.

Wallahu ‘alam bii shawwab.

(Purwokerto, 31 Maret 2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s